Terpopuler

Minggu, 12 Agustus 2018

Sesuatu Yang Aku Suka

Dari dulu aku selalu bertanya-tanya. Kenapa aku selalu menangis karena sesuatu yang sebetulnya tidak terlalu harus di tangisi. Seperti, saat lampu dimatikan dan suasana menjadi gelap, atau saat kucing tetangga yang biasa main ke rumah tiba-tiba mati karena makan tanaman beracun, atau karena jariku seperti jari laki-laki, dan aku juga pernah menangisi kepergian seseorang yang sebenarnya tidak terlalu aku kenal.
Aku sering menangis sebenarnya. Bahkan saat orang lain membicarakanku di belakang atau saat sedang dibohongi. Aku bisa saja menangis. Saat takut dan gugup, saat akan di cabut gigi, saat tanganku terjepit pintu mobil, atau saat aku kehilangan buku diary. Tapi kenyataanya aku menangis sembunyi-sembunyi. Kadang sambil memeluk guling, atau bersembunyi di balik tembok, atau menyalakan air di kamar mandi kemudian menangis. Aku enggan menangis dan terlihat oleh orang lain. Makannya, ada beberapa orang yang kaget ketika melihat aku menangis. Ya, hanya beberapa orang saja. Tidak semua.
Namun, saat kepergianmu. Aku menangis berlarut-larut. Aku lupa untuk bersembunyi saat menangis. Sebab setelah kepergianmu, sesakku tak mengenal ruang dan waktu. Tolong aku untuk itu.
Kau bilang, aku kekanakan. Memang, aku selalu tidak bisa merubah sesuatu yang itu. Sebab aku anak satu-satunya yang bahkan oleh mama dan papa saja segala inginku masih sering mereka usahakan. Namun faktanya, aku tidak sekanak-kanakan itu saat menjalani sebuah hubungan yang memang pasanganku lebih kekanak-kanakan dariku.
Entah apa sebenarnya yang membuatku tak bisa untuk melepaskan diri. Mungkin karena kamu lebih banyak sejalan dengan apa yang aku yakini. Seperti halnya sesekali kita bertukar pikiran, bertengkar kemudian saling berpelukan. Hal seperti itu saja yang kita lakukan, aku suka.
Karena aku tidak suka pasangan yang selalu menuruti perkataanku, seseorang yang selalu menemani kemanapun aku pergi, seseorang yang meng-iya kan perkataanku yang salah, seseorang yang mengutamakan aku dari keluarganya, seseorang yang tidak mau lepas dari pandanganku, seseorang yang terus menerus mengutanakan duniaku, seseorang yang apapun terserah padaku, dan aku tidak suka seseorang yang segala halnya ia lakukan sendiri.
Aku butuh orang yang memperbaiki sikap atau perkataanku yang salah. Aku butuh seseorang yang meminta pendapatku dan bertukar pikiran, aku suka seseorang yang sibuk bekerja dan membiarkan aku menyibukan diri dengan pekerjaanku, seseorang yang mencintai keluarganya dan belajar mencintai keluargaku juga, aku suka seseorang yang mau berbaur dengan teman-temannya tapi tetap tidak melupakan aku begitu saja, aku suka pasangan yang menerima duniaku dan mengajakku berbagi dunianya juga, akupun suka dengan seseorang yang mau melakukan sesuatu hal denganku, entah itu sulit atau mudah baginya. Aku hanya ingin dianggap sebagai rekan yang istimewa, bukan seorang ratu yang dipuja. Dengan keinginanku yang seperti itu apakah aku terlalu kekanakan?
Aku mau bertengkar kemudian mencari jalan keluar bersama atau saling berpelukan sesudahnya. Aku mau diajak bercerita tentang apapun yang ada diisi kepalanya. Aku ingin menjadi seseorang yang pertama dia kirim pesan "Tunggu aku pulang". Aku senang diajak ketempat manapun yang ingin ia singgahi. Aku orang yang bisa sebahagia itu saat membayangkan hal-hal sederhana dalam suatu hubungan. Bukankah dalam islam laki-laki adalah imam ? Terutama laki-laki yang mampu memimpin dan bertanggung jawab, siapa yang tidak ingin memiliki pasangan seperti itu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar