Terpopuler

Rabu, 31 Mei 2017

Aku Tahu Kita Berdua Berawal Dari Asing



Aku tahu tidak mudah menjadi dua orang dengan perbedaan. Tapi aku mau kita tetap saling berdampingan. Kau, tidak perlu menjadi oranglain untuk bisa bersamaku. Sebab aku mencintaimu, saat kau menjadi dirimu sendiri. kita tidak perlu saling bersebrangan untuk bisa saling memandang, karena saling bersebelahanpun bisa menciptakan banyak kenangan. 

Perbedaan memang seperti jurang yang melintang. Namun kita bisa menciptakan jembatan diantaranya untuk saling terhubung. Sesekali, kau bisa masuk ke duniaku. Bagaimana cara aku mencintai hidupku sebelum dan sesudah ada kamu. Dan aku bisa memahamimu dengan cara hal yang sama, ikut mencintai duniamu. 

Aku tahu sulit bagimu untuk melangkah bersebelahan denganku, karena kau selalu melangkah lebih cepat. Namun, tidak ada yang salah saat kita saling berjalan berdampingan. Banyak hal yang bisa kita nikmati. Kita bisa saling bertukar cerita seperti biasa, kita bisa melihat banyak orang dan menjadikannya bahan perbincangan, dan kita bisa berbicara dengan nyaman kemudian tertawa. 

Seperti saat kita sedang bertemu teman-temanmu, tak masalah jika kamu terfokus pada perbincangan mereka. Karena pada jeda obrolan, kita bisa saling menatap lalu saling tersenyum. Atau saat kita sedang bertemu teman-temanku, jangan hanya diam dan berpura-pura dengan gadgetmu. Aku tidak akan melarangmu ikut berbincang dengan kami. Aku bahkan senang melihatmu bisa sama akrabnya dengan teman-temanku dan mereka bisa menerimamu hingga suasana tidak terasa canggung. Karena aku tidak suka keadaan yang kaku.

Atau saat kita sedang membeli makanan, jangan malah berdiam diri. Kita bisa saling berbicara dan menertawakan hal yang sebelumnya tidak kita tertawakan. Karena aku suka mendengan tawamu. Aku suka melihat raut wajah bahagiamu. Karena kamu lucu. 

Aku tahu kau tidak suka keramaian, akupun tidak begitu menyukai keramaian. Tapi kita harus belajar, bahwa kadang keramaian memberi kita banyak pemahaman. Bukankah kita harus saling memahami? Jadi biarkan cinta yang membuat kita sama-sama berani, kita akan saling menerima dengan lapang.

Kita selalu akrab saat sedang berdua, tapi bisakah kita juga terlihat akrab dihadapan orang lain? Bisakah kita saling menyapa saat lewat, walau kau tidak dalam keadaan akan menemuiku? Bisakah kita membiarkan oranglain mengetahui tentang siapa kau dan aku? Dan bisakah kita berjalan berdampingan tanpa khawatir akan ada yang terluka melihat kita? 

Aku tahu hal itu asing bagimu dan aku tahu kau tidak terbiasa dengan hal itu. namun denganku, maukah kau melakukannya? Pelan-pelan saja dan kita bisa menyesuaikan diri agar kita bisa nyaman satu sama lain. Aku tahu kita perlu waktu untuk terbiasa dengan hal-hal seperti itu. Tidak masalah selama kau mau mencoba, karena kau bersamaku.

Aku tahu kita berawal dari dua orang yang asing. Namun setelah saling mengenal kita harus berusaha saling menyamankan keadaan. Kamu, terimakasih sudah hadir. Kita akan sama-sama menjadi pembanding, antara kekuranganku dan kelebihanmu – pun sebaliknya.

#RST2017 (bulan ke 6)

Minggu, 02 April 2017

KITA MASIHLAH AWAL




16 Maret, saat dimana aku menguatkan perasaanku kembali padamu. Pernah dulu aku begitu memendam karena tidak tahu harus berbuat apa terhadap perasaanku. Namun setelah melewati berbagai hal, kau menemuiku dan menawarkan telapak tanganmu untuk ku genggam.

Dengan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi aku berusaha untuk menjalaninya saja. Aku meraih tanganmu dan perlahan menggenggam erat jemarimu. Kau berani memasukanku kedalam kisah hidupmu, mengapa aku tidak? 

Namun hari-hari sulit berganti dan memaksa untuk dilalui. Dengan fikiran yang kadang kalut dan hati yang takut. Aku pernah kecewa begitu dalam karena pernah mempercayakan harapan pada manusia. Sampai saatnya kau datang dan membuatku kembali harus percaya bahwa hidup tak selamanya sama. 

Aku bahagia bisa melewati banyak hal selama bersamamu. Aku senang diberi pengetahuan selama aku berbincang denganmu. Aku juga suka caramu menilai apa saja yang kau lihat dan yang kamu ketahui. Sebagai seorang pendengar, aku memahami apa yang kamu sampaikan.

Namun, rasa untuk membandingkan antara aku dan dia selalu saja ada. Kita memang tidak pernah benar-benar membicarakan dia. Bagaimana perjalanan kamu dan dia, apa saja yang pernah kalian lakukan, janji apa saja yang kalian tautkan, dan lain sebagainya. Tapi aku selalu merasa bukan apa-apa dibandingkan dengan dia yang sudah lebih dulu mengenalmu. 

Kau benar, kisah kita biar kita saja yang jalani. Aku juga tidak ingin banyak mengetahui tentang kamu dan dia. Tapi tetap saja rasa bersalah selalu muncul di ulu hatiku. Ketika dia berusaha meyakinkanku bahwa kamu adalah miliknya, dan aku diam saja sebab keputusan kembali lagi pada kamu yang memulai semuanya. 

Aku tidak memaksa membuka handphonemu hanya untuk mengetahui hal yang tidak aku ketahui. Dan aku juga tidak ingin memaksa membuka laptop yang mungkin saja isinya adalah foto kalian berdua selama beberapa tahun ini. Aku mengerti batas privasi meskipun kamu adalah kekasihku

Mungkin, aku tidak lebih dewasa dari dia. Umurnya lebih tua dariku dan sudah pasti pola fikirnya lebih matang dariku. Pengalamannya dalam hidup sudah lebih dulu dari pada aku yang baru memulai semuanya. Mungkin dia tidak pernah melakukan kesalahan dalam hal apapun, berbeda denganku yang segalanya harus benar-benar ku benahi agar jalan hidupku tetap lancar. 

Aku terheran-heran saat melihat dia berjalan seolah menghindariku. Padahal aku tak ingin melakukan apapun padanya, bahkan kalau bisa aku dan dia berteman saja. Meskipun tak akan mudah berbagi cerita tentang orang yang sama. 

Seperti kata bung Fiersa, “Jadi selama ini, saat aku berharap, mungkin saja kau dan dia sedang bermalam mingguan. Saat aku terbuai, mungkin saja kalian sedang bergandengan tangan. Saat aku hendak membantu masalahmu, sudah ada dirinya yang menjadi pahlawan untukmu.” Mungkinkah kita seperti itu juga?

Saat kau berjanji menjadikanku satu, saat itu aku juga berfikir mungkin kau mengatakan hal yang sama terhadapnya. Saat kau menatapku seolah kau tak ingin aku pergi dari sampingmu, mungkin hal itu juga yang kau lakukan saat kau menatapnya. Atau bahkan peluk yang aku rasakan juga dia rasakan saat bersamamu. 

Saat semua orang mengetahui tentang kita, apa kata mereka tentang foto yang kau apload di media sosialmu yang pada kenyataanya itu bukan aku seperti mereka lihat? Saat kita sering menghabiskan waktu bersama alasan apa yang kau berikan padanya? 

Sayang, banyak pertanyaan yang ada di kepalaku saat kau tersenyum padaku. Dan banyak kata yang ingin aku ungkapkan saat tangan kita saling menggenggam. Mungkin kau akan paham saat melihat balasan senyumku padamu. Dan mungkin kau juga merasakan saat aku terdiam dalam pelukanmu.

Aku tetap mencitaimu meskipun dia sudah tau tentang kita. Ini bukan keegoisan kita, namun rasa tetaplah penyempurna kisah hidup kita. Banyak hal yang tidak aku ketahui, namun bersamamu segala yang kita lewati menjadi pelajaran. Bagaimana mungkin aku bisa melepaskanmu juga?

Jika memang benar kau meyakini aku adalah akhir dari pencarianmu lalu kenapa kau masih menyimpan 2 hati dalam tubuhmu? Sayang, kenyataan kau melihat aku atau dia baik-baik saja itu tidak benar. Salah satu pasti ada yang terluka. Tapi sebagai pribadi yang merasakannya, aku seperti orang yang terluka karena tak bisa melakukan apapun hanya karena aku menghargai perasaannya. 

Kau masih menjaga perasaannya. Kau masih menemuinya dan menenangkan hatinya. Aku mengetahui semuanya dan bersikap biasa saja. Tapi jauh dari hal itu, aku sangat tidak baik-baik saja. Bukan karena cemburu kau menomor satukan dia. Hanya saja aku kebingungan dengan hal apa yang harus aku lakukan agar tidak membuatnya tersakiti terus-menerus. 

Kau yang seharusnya menegaskan untuk membuatku tetap ada atau bahkan membuatku hilang saja. Namun kau tidak melakukannya. 

Aku bukan tidak mau melakukannya, hanya saja jantungku masih belum siap menahan sakit ketika harus melepaskan manusia yang bisa ku lihat namun tak bisa ku bisiki kata cinta. Sejujurnya aku sangat tidak siap. Iya, aku paham kata-kataku berbelit disini. Karena aku memang kebingungan sendiri. 

Kita masihlah awal untuk sebuah hubungan, dan kamu sudah banyak menawarkan harapan. Aku ingin percaya, ingin sekali. Namun selama ada dia di hatimu, aku masih belum bisa meyakini itu. Sebab bagaimanapun, janji dan mimpi hanya perihal kau dan aku tanpa siapapun didalamnya. 

Sekarang, biarkan kita melewati ini semua. Namun aku tetap memiliki batas waktu pada percayaku. Kamu bisa menggunakan waktu itu untuk berfikir. Karena hidup adalah pilihan sayang. 

Maaf karena selama ini aku tidak cukup berani untuk menjabarkan hal yang sepatutnya kau ketahui seperti perasaanku. Karena bagiku, mungkin beberapa rasa mungkin lebih baik dibiarkan menjadi rahasia. Bukan untuk diutarakan, namun untuk disyukuri keberadaanya. 

Aku mencintaimu, bahkan saat aku belum juga mengetahui di mana sebenar-benarnya hatimu bermukim.

#RST2017

Sabtu, 11 Maret 2017

Benar Kata Ibu.



Akhir-akhir ini, aku lebih sering memeluk ibu. Mencium pipi, kening bahkan bibirnya tanpa ragu. Ibu selalu tersenyum karena melihat raut wajahku yang selalu bahagia. Awalnya aku malu mengatakan hal apa yang terjadi, namun ku beranikan diri untuk mengungkapkan semuanya.

“Ibu, aku jatuh cinta.” Kataku dengan nada malu.

Aku menyandarkan kepalaku di pangkuannya. Nyaman sekali rasanya ada di keadaan seperti ini. Setiap harinya hatiku merasakan letupan-letupan kecil. Ibu mengusap lembut rambutku. Betapa detakan jantungku terasa lebih nyaman dari biasanya. 

“Syukurlah jika sudah ada lelaki yang bisa membuatmu sebahagia ini.”

Tak pernah aku berhenti bersyukur kepada Tuhan yang maha segalanya. Karena dia menempatkan kamu dibalik alasan Ia membahagiakanku. Ibu juga tau, aku tidak pernah sebahagia itu sebelumnya. Sampai-sampai aku bercerita dengan mata yang tak kuasa menahan haru. 

“Aku jatuh cinta padanya karena dia patuh pada perintah Allah, aku jatuh cinta pada cara dia mendewasakan dirinya. Aku dan dia jarang sekali saling menatap, aku tidak mau menatap matanya terlalu lama karena aku takut mencintainya dengan berlebihan. Namun, alasan terbaiknya adalah aku mencintainya karena Allah. Mudah-mudahan.”

Selepas mengatakan perasaanku yang sebenarnya, ibu mulai menatapku dengan khawatir. Aku tau, aku menampakan wajah yang memang bisa dibilang menyedihkan. Kenapa? Karena halaman tengah dari kisahku adalah, dia sudah bersama dengan yang lain.

“Apa yang menghalangi jalanmu nak?” kata ibu. 

“Tidak bu, aku hanya menunggu Tuhan meridhoi niat baikku mencintainya.” Kataku berusaha tersenyum untuknya. Meskipun sebenarnya perih saat menyadari bahwa Tuhan masih belum memastikan hadirmu sebagai apa dihidupku. 

“Kita tidak bisa memaksakan apapun dalam hidup. Baik-buruknya kisah yang kau terima nanti, ibu harap kau tetap ikhlas menjalani hidup.”

Benar kata ibu. Aku hanya memiliki niat yang baik dan berharap semuanya berjalan dengan baik. Aku tidak pernah ingin memaksakan apapun selagi Tuhan belum mengizinkannya. Aku selalu yakin kalau memang seharusnya terjadi, maka sesulit apapun prosesnya maka tetap akan berakhir dengan cara yang seharusnya. 

Jadi aku tidak perlu khawatir dengan cemoohan orang lain perihal perasaanku atau cibiran orang lain mengenai diriku. Aku tidak pernah memiliki maksud yang buruk selagi jalanku tetap benar. Karena aku mencintainya tanpa berlebihan, karena selebihnya hanya rasa sayang yang selalu ingin melihat dia bahagia. Bagaimanapun caranya.

Selasa, 07 Maret 2017

HATI YANG KERAS KEPALA.



Sejujurnya aku tidak memahami perihal konspirasi alam semesta dalam hidupku. Apalagi perihal perasaanku. 

Aku hanya wanita dengan angan dan harapan. Aku belum paham hal apa yang harus aku syukuri di setiap hari. Aku belum paham hal apa yang pantas aku nantikan setelah terbangun dari mimpi.

Belum.

Sampai akhirnya kau hadir. Menjadi alasan terindah dari apa saja yang aku bayangkan. Walau harapan untuk memilikimu adalah hal yang tabu bagiku. Tapi aku tidak mau tau, meskipun aku tau.

Aku hanya membiarkan hatiku yang merasakannya sendiri. biarlah. Memilikimu atau tidak aku tidak peduli.


Entah sudah berapa ribu kata yang sudah mengendap dikepalaku. Namun aku tak kunjung menuliskan secarik suratpun untukmu. Semuanya, segala cerita yang aku punya. Hanya bisa aku nikmati sendiri.


Harusnya cerita tentang-“mu”, ku jadikan sebuah buku tebal penuh dengan kalimat cinta. Sebab, secarik kertas saja tak akan cukup membuatku merasa puas dengan kerinduan yang selama ini menjadi milikku saja. 

Bahkan, ketika musim hujan baru saja dimulai. Namun kau sudah ada menjadi tokoh di beberapa halaman dari cerita itu.


 Waktu itu, saat hari terasa lelah untuk di lalui. Aku berjalan dengan langkah kaki yang berat untuk ku seret pulang. Sebenarnya tak jauh, hanya sampai ke kosan teman dan aku akan langsung beristirahat.

Saat itu setelah gerimis. Saat-saat dimana kamu masih ada menjadi bagian dari hari-hariku, dan menjadi alasan aku merebut ponsel temanku untuk menanyakan kabarmu. Ditengah percakapan kita via bbm temanku, kau bertanya. 

“Sudah makan?” 

Sontak ku katakana belum. Dan kau menjanjikan bertemu untuk makan bersama. Aku mau, mau sekali. Berlari ke kamar mandi dan meminjam pakaian terbaik sahabatku karena tidak mungkin rasanya menemuimu dengan pakaian yang tadi ku pakai ke kampus. 

Aku berdandan, hal yang biasanya aku lakukan dengan setengah hati. Saat itu kulakukan sepenuh hati, kenapa? Entahlah. Aku juga melatih gaya bicaraku dan menentukan sikap bagaimana yang harus aku tunjukan padamu agar pertemuan kita terkesan manis. 

Menunggumu, aku suka. Memikirkannya saja sudah membuat aku tersenyum berkali-kali. Menunggumu aku tak mengenal jenuh. Sebab aku bahagia memikirkan bagaimana caranya aku menyapamu.

30 menit berlalu. Aku masih asyik menatap layar handphone dengan senyuman terbaikku. Walau sudah larut, tapi aku tetap berdiri menunggumu di ambang pintu.

Aku suka hal-hal yang aku lakukan saat menunggumu. Aku suka saat melihat cermin dan bayangan di dalamnya tersenyum. Aku suka pisang yang ku kupas dan ku beri susu di atasnya. Aku suka teh hangat dengan gula yang ku seduh di dapur kosan. Dan aku suka suara dengkuran sahabatku yang tertidur karena kelelahan menungguku. 

Lalu, aku menunggu siapa?

Pria yang menjanjikan makan bersama tidak kunjung datang walau sudah 2 jam setengah berlalu. Aku fikir ini sudah larut, sebaiknya aku pamit saja.


Sejak saat itu aku harus pamit juga dari hidupmu. Membiasakan diri tak peduli dengan keadaanmu. Meski aku tersiksa sendirian saat menyadari bahwa senyumanmu masih jadi bahan bakar bagi semangatku untuk terus melangkah mau.

Aku mencoba menjauhimu sebisa dan semampuku. Tapi aku tetap menangis sendirian saat jantungku tak kunjung berhenti berdetak cepat saat raga merindukan temu denganmu.

Pada akhirnya aku menyerah pada keadaan. Walaupun aku berusaha untuk tidak mencintai, aku tidak bisa menahan perasaanku. Seberapa besarpun rasa kecewa yang aku dapatkan lagi nanti, aku tidak bisa berhenti mencintai. Karena bagiku rasa cinta mengatasi segalanya, termasuk kekecewaan.

 Aku harap kau tak melupakan, bahwa aku akan tetap menunggumu sendirian. Sampai nanti kamu akan menemukanku di garis terdepan. Menunggu dengan senyuman dan bertepuk sebelah tangan.

Meskipun mengingatmu, otakku harus berdarah karena tersakiti terus menerus. Namun itu lebih baik dari pada aku harus melupakanmu. Aku sadar karena kau tak bisa hidup disampingku. Maka dari itu ku biarkan kau hidup dalam otakku dan tetap dicintai oleh hatiku. Karena mencintaimu, sama dengan membuatku tetap memiliki alasan kenapa aku mempertahankan hidupku. 

Sebagian kehidupan harus didasari dengan alasan, maka aku akan memilihmu sebagai alasan dari setiap jawaban. Karena kamu adalah segala jawaban dari segala pertanyaan bahkan dari yang tak pernah aku fikirkan. 

Kita akan sampai di titik paling beku. Dimana semua penantian terasa semu. Aku luluh lantah. Seperti tak berarah. Mencari titik temu denganmu, aku lelah. 

Ajari aku untuk bersabar lebih tangguh menunggumu agar tanpa jenuh. Sebab di persimpangan sana, saat pelukmu bukan lagi dia. Saat ingatanmu menghapus segala tentangnya. Izinkan aku menjadi genggaman yang menarikmu dari ketidak pastian dunia.

Izinkan aku menjadi pengganti mimpi-mimpimu yang hancur berantakan. Tak apalah aku sebagai penghuni baru yang menggantikannya sebagai penopang keluh kesahmu. Karena tak selamanya menyakitkan juga menjadi seorang pemeran pengganti.

#RST

Minggu, 05 Februari 2017

Perasaan Macam Apa Ini?



 Harusnya, saat itu tak ku biarkan kau hanya sekedar menitip salam lewat teman. Harusnya, aku tak menerima perhatianmu. Bahkan seharusnya, aku tidak perlu memiliki perasaan ini. 

Namun sebagian jiwaku tak bisa membiarkanmu berlalu begitu saja, bahkan sampai saat ini. Aku mungkin sembunyi disini, namun kedua mataku tetap mencari-cari wajah yang tak bisa aku lupakan. Kau mungkin tak akan percaya betapa rindu ini menggema sampai ke luar jendela kamarmu. Namun kau tak akan pernah mendengar karena hatimu kau tutup untukku.

Kesalahan ku adalah membiarkanmu terhapus hujan kala itu. Aku menangis, mengutuk diriku sendiri. Biarlah aku hadir sebagai ‘yang ada diantara’ dari pada harus kehilanganmu seperti ini. Kini aku terjebak oleh perasaan yang setiap harinya menetap dan tak bisa pudar. Aku kehabisan akal untuk menghapus bayangmu dari isi kepalaku.

Bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu? Sementara hatiku meyakini bahwa kamu adalah mahluk Tuhan termanis yang pernah hadir dalam hidupku. Dan aku meyakini bahwa Tuhan sedang berbahagia saat menciptakanmu.

Maka dari itu aku tidak pernah bisa berhenti memikirkan bagaimana cara agar aku berhenti jatuh cinta pada orang yang memilih jalan sendiri dan bukan aku pilihannya. Ini menyakitkan, sungguh. Tapi percayalah aku tetap menyayangimu, meskipun keadaan tiba-tiba menjungkir balikkan segala akal warasku.

Dan dari hari ke hari aku mencoba berjalan, menapaki setiap ruang yang mungkin saja ada kamu diantaranya. Seperti wanita tegar yang tidak pernah pincang aku berjalan mencari dirimu. Kau bisa panggil aku si ‘dungu’ saat berpapasan denganmu. Sebab saat aku bahagia bisa melihatmu, namun aku berlalu karena tak sanggup menahan perihnya perasaanku. 

Dia disana, jauh dari rengkuhmu. Namun kau merindukannya. Kau merindukannya saat senyummu kau beri padaku. Saat harapku tumbuh pada sosok lelaki seperti kamu, yang sudah memiliki cinta dari jauh-jauh hari. Kau tersenyum padaku bahkan saat isi kepalamu hanyalah dia yang jauh disana. 

Aku benar-benar tak habis fikir. Berarti selama ini, saat aku sedang merindukanmu. Bisa saja kau sedang menggandeng tangannya. Mungkin saat aku sedang membayangkan dapat melewati hari indah bersamamu, bisa saja kau sedang makan malam atau berbicara tentang masa depan dengannya.
Selamat ! kau berhasil menjadi api bagi perasaanku. Yang awalnya kau nyalakan hanya untuk menjadikannya abu. 

Aku harusnya membenci dirimu dan pergi saja. Namun aku tetap berdiri di baris paling depan dengan senyuman, harapan, dan bertepuk sebelah tangan.