Terpopuler

Minggu, 02 April 2017

KITA MASIHLAH AWAL




16 Maret, saat dimana aku menguatkan perasaanku kembali padamu. Pernah dulu aku begitu memendam karena tidak tahu harus berbuat apa terhadap perasaanku. Namun setelah melewati berbagai hal, kau menemuiku dan menawarkan telapak tanganmu untuk ku genggam.

Dengan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi aku berusaha untuk menjalaninya saja. Aku meraih tanganmu dan perlahan menggenggam erat jemarimu. Kau berani memasukanku kedalam kisah hidupmu, mengapa aku tidak? 

Namun hari-hari sulit berganti dan memaksa untuk dilalui. Dengan fikiran yang kadang kalut dan hati yang takut. Aku pernah kecewa begitu dalam karena pernah mempercayakan harapan pada manusia. Sampai saatnya kau datang dan membuatku kembali harus percaya bahwa hidup tak selamanya sama. 

Aku bahagia bisa melewati banyak hal selama bersamamu. Aku senang diberi pengetahuan selama aku berbincang denganmu. Aku juga suka caramu menilai apa saja yang kau lihat dan yang kamu ketahui. Sebagai seorang pendengar, aku memahami apa yang kamu sampaikan.

Namun, rasa untuk membandingkan antara aku dan dia selalu saja ada. Kita memang tidak pernah benar-benar membicarakan dia. Bagaimana perjalanan kamu dan dia, apa saja yang pernah kalian lakukan, janji apa saja yang kalian tautkan, dan lain sebagainya. Tapi aku selalu merasa bukan apa-apa dibandingkan dengan dia yang sudah lebih dulu mengenalmu. 

Kau benar, kisah kita biar kita saja yang jalani. Aku juga tidak ingin banyak mengetahui tentang kamu dan dia. Tapi tetap saja rasa bersalah selalu muncul di ulu hatiku. Ketika dia berusaha meyakinkanku bahwa kamu adalah miliknya, dan aku diam saja sebab keputusan kembali lagi pada kamu yang memulai semuanya. 

Aku tidak memaksa membuka handphonemu hanya untuk mengetahui hal yang tidak aku ketahui. Dan aku juga tidak ingin memaksa membuka laptop yang mungkin saja isinya adalah foto kalian berdua selama beberapa tahun ini. Aku mengerti batas privasi meskipun kamu adalah kekasihku

Mungkin, aku tidak lebih dewasa dari dia. Umurnya lebih tua dariku dan sudah pasti pola fikirnya lebih matang dariku. Pengalamannya dalam hidup sudah lebih dulu dari pada aku yang baru memulai semuanya. Mungkin dia tidak pernah melakukan kesalahan dalam hal apapun, berbeda denganku yang segalanya harus benar-benar ku benahi agar jalan hidupku tetap lancar. 

Aku terheran-heran saat melihat dia berjalan seolah menghindariku. Padahal aku tak ingin melakukan apapun padanya, bahkan kalau bisa aku dan dia berteman saja. Meskipun tak akan mudah berbagi cerita tentang orang yang sama. 

Seperti kata bung Fiersa, “Jadi selama ini, saat aku berharap, mungkin saja kau dan dia sedang bermalam mingguan. Saat aku terbuai, mungkin saja kalian sedang bergandengan tangan. Saat aku hendak membantu masalahmu, sudah ada dirinya yang menjadi pahlawan untukmu.” Mungkinkah kita seperti itu juga?

Saat kau berjanji menjadikanku satu, saat itu aku juga berfikir mungkin kau mengatakan hal yang sama terhadapnya. Saat kau menatapku seolah kau tak ingin aku pergi dari sampingmu, mungkin hal itu juga yang kau lakukan saat kau menatapnya. Atau bahkan peluk yang aku rasakan juga dia rasakan saat bersamamu. 

Saat semua orang mengetahui tentang kita, apa kata mereka tentang foto yang kau apload di media sosialmu yang pada kenyataanya itu bukan aku seperti mereka lihat? Saat kita sering menghabiskan waktu bersama alasan apa yang kau berikan padanya? 

Sayang, banyak pertanyaan yang ada di kepalaku saat kau tersenyum padaku. Dan banyak kata yang ingin aku ungkapkan saat tangan kita saling menggenggam. Mungkin kau akan paham saat melihat balasan senyumku padamu. Dan mungkin kau juga merasakan saat aku terdiam dalam pelukanmu.

Aku tetap mencitaimu meskipun dia sudah tau tentang kita. Ini bukan keegoisan kita, namun rasa tetaplah penyempurna kisah hidup kita. Banyak hal yang tidak aku ketahui, namun bersamamu segala yang kita lewati menjadi pelajaran. Bagaimana mungkin aku bisa melepaskanmu juga?

Jika memang benar kau meyakini aku adalah akhir dari pencarianmu lalu kenapa kau masih menyimpan 2 hati dalam tubuhmu? Sayang, kenyataan kau melihat aku atau dia baik-baik saja itu tidak benar. Salah satu pasti ada yang terluka. Tapi sebagai pribadi yang merasakannya, aku seperti orang yang terluka karena tak bisa melakukan apapun hanya karena aku menghargai perasaannya. 

Kau masih menjaga perasaannya. Kau masih menemuinya dan menenangkan hatinya. Aku mengetahui semuanya dan bersikap biasa saja. Tapi jauh dari hal itu, aku sangat tidak baik-baik saja. Bukan karena cemburu kau menomor satukan dia. Hanya saja aku kebingungan dengan hal apa yang harus aku lakukan agar tidak membuatnya tersakiti terus-menerus. 

Kau yang seharusnya menegaskan untuk membuatku tetap ada atau bahkan membuatku hilang saja. Namun kau tidak melakukannya. 

Aku bukan tidak mau melakukannya, hanya saja jantungku masih belum siap menahan sakit ketika harus melepaskan manusia yang bisa ku lihat namun tak bisa ku bisiki kata cinta. Sejujurnya aku sangat tidak siap. Iya, aku paham kata-kataku berbelit disini. Karena aku memang kebingungan sendiri. 

Kita masihlah awal untuk sebuah hubungan, dan kamu sudah banyak menawarkan harapan. Aku ingin percaya, ingin sekali. Namun selama ada dia di hatimu, aku masih belum bisa meyakini itu. Sebab bagaimanapun, janji dan mimpi hanya perihal kau dan aku tanpa siapapun didalamnya. 

Sekarang, biarkan kita melewati ini semua. Namun aku tetap memiliki batas waktu pada percayaku. Kamu bisa menggunakan waktu itu untuk berfikir. Karena hidup adalah pilihan sayang. 

Maaf karena selama ini aku tidak cukup berani untuk menjabarkan hal yang sepatutnya kau ketahui seperti perasaanku. Karena bagiku, mungkin beberapa rasa mungkin lebih baik dibiarkan menjadi rahasia. Bukan untuk diutarakan, namun untuk disyukuri keberadaanya. 

Aku mencintaimu, bahkan saat aku belum juga mengetahui di mana sebenar-benarnya hatimu bermukim.

#RST2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar