Terpopuler

Minggu, 26 Juni 2016

Jangan ada kata "Mantan" di antara kita.



Diakhir sekolah ini, akhir juga perasaan ku padanya. 3 tahun sudah aku bersamanya dan segala macam cerita di dalamnya. Dulu, saat pertama kali jatuh cinta padanya. Aku rela menunggunya hingga akhirnya dia mau menerima ku. walau aku selalu diacuhkan akhirnya. Walau aku selalu dilupakan pada akhirnya.
Dia memang seseorang yang begitu aku cintai. Namun aku tetaplah wanita yang lelah jika akhirnya selalu di abaikan. Dia tidak bisa membagi waktu antara aku dan kegiatannya. Dia selalu mengabaikan aku. Aku memang kuat, tapi kekuatanku terbatas.
Hari ini, di perpisahan sekolah aku harus mengatakan semuanya. Entahlah bagaimana jadinya aku tanpa dia. Aku tidak benar-benar yakin bisa tidak jatuh cinta dan melupakannya begitu saja. Aku tidak bisa hidup tanpa dia sebenarnya. Namun aku memang harus melatih hatiku sendiri.
“Bunga, foto bareng yuk !” aku menghampirinya.
“Ciiissss..”
“Kamu hari ini cantik.” Dia berbisik. Aku sempat mengurung maksudku. Namun seperti ini, hanya kali ini saja. Besok, bisa jadi dia berubah lagi. menjadi manusia dingin yang tidak mau peduli.
“Za, bisa ngomong sebentar?”
“Boleh, apa?”
“Nggak disini. Ke luar dulu yuk.” Aku berjalan ke samping gedung dan dia dibelakangku.
“Za..” aku berbalik.
“Kenapa?”
“Baiknya kita udahan aja. Aku cape terus-terusan ngadepin sikap kamu yang sama sekali nggak bisa mengargai perasaan aku. Ditambah lagi, sekarang kita akan terpisan jarak dan ruang. Aku nggak bisa membayangkan hal lain selain kamu akan tetap seperti ini.”
“Tapi Bunga, aku beneran sayang sama kamu.”
“Sayang itu tidak mengabaikan, Reza. Sayang itu memperjuangkan. Berjuang sama-sama untuk mempertahankan hubungan. Tetap sejalan. Tapi kamu?”
“Apa kamu udah nggak sayang lagi?”
“Aku sayang kamu lebih dari apapun. Tapi aku juga harus menyayangi diri aku sendiri Za.”
“Apa ini yang terbaik untuk kita?”
“Kamu akan selalu baik-baik saja tanpa aku.” Meski aku tak yakin aku akan bisa berjalan tanpa kamu.
“Ya sudah. Aku terima. Jaga diri kamu baik-baik yah.”
“Selalu.” Aku mengelus pundaknya untuk yang terakhir. Memastikan bahwa hatiku masih akan tersimpan rapi untuknya. Menjaga perasaan jika suatu saat dia berjanji akan memperbaiki semuanya.

 2 years later.
Aku sudah dengan keadaan yang baru. Lebih membaik namun rindu yang semakin memburuk. Ini masih lah awal dari segala jalan. Setelah rumit berkepanjangan, aku mencoba membuka hati pada manusia yang baru. Namun semuanya tetap saja hanya sekedar angin sapaan.
Entah apa yang Tuhan fikirkan saat Dia membawamu lagi padaku. Entah apa yang sedang Tuhan rencanakan dengan menghadirkan kamu kembali dihidupku. Aku kembali mengingat satu nama paling rindu.
“Reza?” dan kamu berdiri tepat di sebrang jalan itu dengan tatapan bahagia ke arahku.
Nama itu tak kunjung hilang dari segala bidang. Sejujurnya, dia masih menjadi apa saja yang aku cari. Dia masih menjadi orang yang sama, yang hidup dalam tulisan-tulisanku. Dia masih menjadi manusia yang selalu aku tunggu kepulangannya.
Meski dia seacuh itu. Meski dia masih sebungkam dulu. tapi aku yakin, perasaan kami masih terikat sekuat dulu. Rasa sayang yang tak akan pernah berpura-pura. Dan otakku yang akan terus menyimpan apa-apa saja yang hatiku ingat.
“Bunga? Ngapain disini?”
“Hmmm, aku lagi ada projek di Jepang. Kebetulan jalan-jalan.”
“Kangen banget. Kamu apa kabar?”
“Aku baik Za.”
“Eh nggak enak kita malah ngobrol di pinggir jalan begini. Yuk ke caffe tuh sebelah sana.” Dan aku berjalan di sampingnya.
Bahkan embunpun memilih bisu saat kau dan aku dipertemukan kembali. Kita menuai rindu yang busuk karena waktu.
“Sepagi ini sendirian?”
“Iya, managerku masih tidur kayaknya. Jadi aku jalan-jalan aja dulu.”
“Emmh. Berapa hari kamu di sini?”
“Sekitar satu minggu. Ini hari terakhir aku di Jepang. Tapi manager ku bilang aku bisa ngambil cuti sebulan buat lanjut nulis disini.”
“Waahh keren-keren. Kesampaian juga yah jadi penulis. Aku juga koleksi buku kamu kok.”
“Kamu juga akhirnya kesampean kuliah di Jepang. Ah masa? Kamu dari mana tau nama pena aku?”
“Tau dong. Dulu kan kamu sering bikin puisi atau cerpen di madding pake nama pena yang sama.”
“Loh, aku nggak pernah cerita kan kalo aku sering nempel sesuatu di madding?”
“Emang, tapi aku sering liat dan aku baca semuanya.”
Bagaimana mungkin tulisanku hanya sekedar kata yang ku rangkai? Aku benar-benar membuktikan betapa aku tak pernah bisa lupa apa-apa saja dari kamu. Karena semua angan-angan tentangmu menari lepas di ulu hatiku. Kamu terlambat tau, bahwa kataku tak hanya catatan yang tersimpan. Namun, ini adalah tentang perasaan yang biasa ku simpan.
“Bunga?”
“Hmmm?” pesanan kita datang dan aku meminum chocolate cheese kesukaanku.
“Kamu masih sendiri?”
“Uhukkuhukkk..”
“Ehh pelan-pelan.”
“A..aku, emm..maaf.. sorry tadi kamu nanya apa?”
“Emm.. kamu masih sendiri? maksudnya, kamu belum punya pacar lagi kan?”
Dulu, kamu adalah penyebab luka paling parah. Berbulan-bulan, sampai akhirnya aku bisa menerima apa saja yang sudah patah. Namun, perasaan tetaplah perasaan. Meskipun kembali membaik, tetapi tetap saja. Kamulah orang yang kembali aku cari.
“Aku lagi deket sama seseorang sih sebenernya. Cuma yaa gitu, aku nggak bisa bener-bener jatuh cinta.”
Kamu menghembuskan nafas dalam.
“Kenapa?”
“Maaf karena dulu pernah berpura-pura rela melepaskanmu, padahal aku tidak sanggup. Sebelum kamu memilih pergi, aku memilih untuk mencintai kamu sepenuhnya. Menjadi seseorang yang benar-benar mencintaimu. Namun saat kamu memilih menyudahi semuanya. Aku tidak tau hal apalagi yang bisa aku tahan dari kelelahanmu.”
Meski pernah tertatih sebab kamu. Namun, cinta masihlah cinta yang tumbuh bersama kamu didalamnya. Tetap saja, denganmulah aku kembali merasa jatuh cinta.
“Emm.. Za?”
“hmmm?” kamu melihat mataku nanar.
Aku selalu mencoba untuk merapikan hatiku berkali-kali. aku selalu meyakinkan bahwa kamu akan kembali. Meski bukan hari ini. Besok ku kira kamu akan benar-benar bersamaku lagi, mengisi rindu yang diam-diam membeku dan kemudian memeluk tubuh yang pernah tertatih tanpamu.
“Aku selalu mencoba memahami keadaan kita kali ini. dimana yang saat ini bersamaku adalah pengganti tubuhmu yang hilang. Namun, dia tetap saja bukan kamu yang aku mau.”
“Maaf karena pernah melemahkan perjuanganmu.” Kamu tertunduk.
“Sebenarnya, waktu tak pernah benar-benar membawa mu pergi. Aku masih saja menyimpan apa-apa yang mengendap di hati. Bahkan sejak keputusan bodohku di hari lalu. Karena sampai hari ini pun aku masih ingin memberikan kesempatan kedua padamu.”
Aku selalu menunggu kamu pulang. Tidak menjadi kamu yang dulu, melainkan menjadi kamu yang baru. Tubuhku masih ingin memelukmu sekali lagi. Aku mencintai kamu, sebagai orang yang dulu namun dengan perasaan yang baru.
“Jadi sudah sejauh mana kamu pergi?” dan kamu tersenyum.
“Jangan tanyakan sudah seberapa jauh aku berlari. Karena aku tak pernah benar-benar beranjak pergi dari sini” dan kamu menunjuk kedepan dadaku.
Kamu meneguk kopi cup hangat pesananmu lagi.
“Aku kira, kamu adalah orang yang paing pertama lupa tentang kita.” Aku sempat ingin tertawa saat sedang menyimpan minuman di mulutku sebelum akhirnya ku telan.
“Aku adalah orang yang paling kuat mempertahankan rasa pada manusia sepertimu.” Senyumku mengembang saat melihat wajah malumu.
Ya, karena aku tak pernah absen meminta pada Tuhan agar tetap menjagamu. Aku adalah orang yang tak lelah menunggu. Sebab aku juga orang yang tak akan berhenti jatuh cinta padamu.
“Yaaahh, aku udah baper tingkat klimaks karena mantanku. Eh maksudnya penulis novel favoritku.”
“Za !” aku menyenggol tangannya. “Jangan ada mantan di antara kita.” Aku mengedipkan mata.
“Ahahaha. Yap, kita akan bicarakan ini setelah pulang ke Negara tercinta. Tepat setelah kamu sudah menemukan cara keluar menuju kita.”
“Jalan keluar?”
“Yap. Bukannya kamu juga lagi deket sama seseorang? Pacaran?”
“Hubungan tanpa status.” Aku meminum lagi chocolate cheese ku.
“Tanpa.. sta..tus?” di tegukan terakhirmu dengan kopi itu.
“Setelah kamu pergi. Emm.. tidak, maksudku setelah rasa lelahku perihal kelakuanmu. Dia adalah orang yang meyakinkan bahwa diriku lebih layak di cintai dari pada kamu. Dia yang tak pernah mengeluh menjagaku saat kamu tak ada. Sejujurnya Za, aku nyaman dengan perlakuannya.”
“Hmm.. ya, aku melihatnya. Pada salah satu terbitan novelmu. Aku tau itu salah satu cerita tentang dia.”
“Dari mana kamu tau?”
“Dari ucapan terimakasih. Disana kamu menulis ‘Terimakasih kepada inspirasi nyata yang sudah mengembalikan tangis menjadi senyuman. Yang sudah menggantikan luka menjadi bahagia’ dan, sementara itu aku dan kamu tidak sedang saling dalam jangkauan komunikasi sekalipun. Jadi aku sadar, kamu menemukan seseorang.”
“Lalu? Kita bisa saja memulai semuanya dari awal. Aku fikir dia juga akan mengerti?”
“Bunga, tidak kah kamu mengerti perasaan lelaki. Tidak mungkin dia berjuang untukmu jika dia tidak menyimpan rasa khusus untukmu. Begitu pula kamu. Selama perpisahan kita, meski relung hatimu untukku. Aku tau ada sebagian perasaan yang kau simpan untuknya, meski tak sebesar padaku. Bukan aku merasa terlalu percaya diri, tapi aku juga merasakan semuanya.”
“Reza, akuuu…”
“Bunga, aku tidak pernah pergi dari tempat itu sebab aku tau. Suatu saat nanti Tuhan mengembalikan lagi pintu yang tiba-tiba saja kau tutup dari ku. Meski tidak terkunci, namun aku tidak bisa masuk karena ada tamu di dalam sana. Aku bisa saja masuk dan mengusirnya pergi dari hatimu sebab yang kau tunggu masuk adalah aku.”
“Ya kalau begitu masuk saja.” Tapi kau mengelus pipiku.
“Karena aku tau dia akan terluka. Dan akan ada perasaan tak enak dari hatimu yang akan membuat kamu selalu ingat padanya. Aku tidak ingin dia menjadi bayang-bayang di antara kita nantinya.”
Kamu tumbuh menjadi laki-laki dewasa. Aku tau, luka membuatmu berfikir lebih luas. Kamu membuat aku percaya padamu lagi. kamu tidak ingin ada yang lain di hatiku sebab kamu mencintai ku lebih dalam. Rasa kasih sayang yang mengakar dari hatimu tumbuh untukku.
“Tapi, memangnya kamu akan menunggu aku lebih lama?” Aku menyusulmu yang beranjak, dan kamu membayar pesanan kita di kasir lalu menggenggam tanganku berjalan keluar.
“Sudah ku bilang dulu. perasaan ku biar hanya aku yang tau. Kamu hanya perlu paham bahwa aku menunggu. Bukanya dulu aku pernah mengatakan bahwa bersenang-senanglah hari ini dengan siapapun, karena pada akhirnya kamu akan bahagia bersamaku. Ingat?”
“Iya aku ingat.” Dan aku merangkul tangan kiri mu.
Kamu masih sewangi dulu. Kamu memang selalu hangat, meski sikap mu dingin. Tapi berada di sampingmu adalah segala hal yang aku mau. Sebab caramu mencintaiku, aku temukan sesudah perpisahan kita dulu.
“Za?”
“Hmmm?” Kita berbelok di gang yang sepi ke arah tempat sementaraku.
“Akan aku fikirkan cara keluar menuju kamu. Setelah itu, aku berjanji akan menunggu kamu tanpa henti. Aku akan berjanji menerimamu kembali. Jadi, aku mohon beri aku bukti. Beri aku pemahaman agar percaya padamu sekali lagi. Aku akan menerima kurang dan lebihmu, dan mencintaimu dengan sabar seperti dulu. Dengan berjanji kamu tidak akan mematahkan hatiku lagi.” aku menatapmu dengan harapan.
Kamu berhenti berjalan. Kau melihat mataku dengan tersenyum. Kau menyingkirkan rambut yang menghalangi pipiku dan menarik wajahku untuk maju.
“Bunga, ingat ini. Kita bukan Mantan. Kita hanya dua orang muda yang menanti waktu kembali agar bisa bersama dan menua berdua.” Lalu aku mengangguk dengan pipi memerah.
Kau mencium bibirku. Bukan menampar mu karena tiba-tiba, namun aku malah terbawa hangatnya kecupan itu. Ini bukan akhir dari segalanya. Kamu memang satu-satunya sejak dulu. Meski dia pernah menjadi pengganti mu sesaat.
Kita menuai rindu yang busuk karena waktu. Tapi senja tetap menjadi mata yang membuat milikmu jingga. Angin tak henti meniupkan kata yang tersimpan di relung hati. Kamu dan aku ingin tetap berlama-lama. Menunggu hujan yang tak kunjung datang.
Setelah ini, aku akan kembali menggenggam tanganmu. Dan kau akan kembali merapikan apa-apa yang hilang semenjak kau beranjak. Kemudian, kita mengubah rindu menjadi cumbu yang candu. Karena disitulah, aku merasa asa menjadi nyata.

END.
#RST2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar