Harusnya, saat itu tak ku biarkan kau hanya sekedar menitip
salam lewat teman. Harusnya, aku tak menerima perhatianmu. Bahkan seharusnya,
aku tidak perlu memiliki perasaan ini.
Namun sebagian jiwaku tak bisa membiarkanmu berlalu begitu
saja, bahkan sampai saat ini. Aku mungkin sembunyi disini, namun kedua mataku
tetap mencari-cari wajah yang tak bisa aku lupakan. Kau mungkin tak akan
percaya betapa rindu ini menggema sampai ke luar jendela kamarmu. Namun kau tak
akan pernah mendengar karena hatimu kau tutup untukku.
Kesalahan ku adalah membiarkanmu terhapus hujan kala itu. Aku
menangis, mengutuk diriku sendiri. Biarlah aku hadir sebagai ‘yang ada diantara’
dari pada harus kehilanganmu seperti ini. Kini aku terjebak oleh perasaan yang
setiap harinya menetap dan tak bisa pudar. Aku kehabisan akal untuk menghapus
bayangmu dari isi kepalaku.
Bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu? Sementara hatiku
meyakini bahwa kamu adalah mahluk Tuhan termanis yang pernah hadir dalam
hidupku. Dan aku meyakini bahwa Tuhan sedang berbahagia saat menciptakanmu.
Maka dari itu aku tidak pernah bisa berhenti memikirkan
bagaimana cara agar aku berhenti jatuh cinta pada orang yang memilih jalan sendiri
dan bukan aku pilihannya. Ini menyakitkan, sungguh. Tapi percayalah aku tetap
menyayangimu, meskipun keadaan tiba-tiba menjungkir balikkan segala akal
warasku.
Dan dari hari ke hari aku mencoba berjalan, menapaki setiap
ruang yang mungkin saja ada kamu diantaranya. Seperti wanita tegar yang tidak
pernah pincang aku berjalan mencari dirimu. Kau bisa panggil aku si ‘dungu’
saat berpapasan denganmu. Sebab saat aku bahagia bisa melihatmu, namun aku
berlalu karena tak sanggup menahan perihnya perasaanku.
Dia disana, jauh dari rengkuhmu. Namun kau merindukannya. Kau
merindukannya saat senyummu kau beri padaku. Saat harapku tumbuh pada sosok
lelaki seperti kamu, yang sudah memiliki cinta dari jauh-jauh hari. Kau tersenyum
padaku bahkan saat isi kepalamu hanyalah dia yang jauh disana.
Aku benar-benar tak habis fikir. Berarti selama ini, saat
aku sedang merindukanmu. Bisa saja kau sedang menggandeng tangannya. Mungkin saat
aku sedang membayangkan dapat melewati hari indah bersamamu, bisa saja kau sedang
makan malam atau berbicara tentang masa depan dengannya.
Selamat ! kau berhasil menjadi api bagi perasaanku. Yang awalnya
kau nyalakan hanya untuk menjadikannya abu.
Aku harusnya membenci dirimu dan pergi saja. Namun aku tetap
berdiri di baris paling depan dengan senyuman, harapan, dan bertepuk sebelah
tangan.