Sejujurnya aku tidak memahami perihal konspirasi alam
semesta dalam hidupku. Apalagi perihal perasaanku.
Aku hanya wanita dengan angan dan harapan. Aku belum paham
hal apa yang harus aku syukuri di setiap hari. Aku belum paham hal apa
yang pantas aku nantikan setelah terbangun dari mimpi.
Belum.
Sampai akhirnya kau hadir. Menjadi alasan terindah dari apa
saja yang aku bayangkan. Walau harapan untuk memilikimu adalah hal yang tabu
bagiku. Tapi aku tidak mau tau, meskipun aku tau.
Aku hanya membiarkan hatiku yang merasakannya sendiri.
biarlah. Memilikimu atau tidak aku tidak peduli.
Entah sudah berapa ribu kata yang sudah mengendap dikepalaku. Namun aku tak kunjung menuliskan secarik suratpun untukmu. Semuanya, segala cerita yang aku punya. Hanya bisa aku nikmati sendiri.
Harusnya cerita tentang-“mu”, ku jadikan sebuah buku tebal
penuh dengan kalimat cinta. Sebab, secarik kertas saja tak akan cukup membuatku
merasa puas dengan kerinduan yang selama ini menjadi milikku saja.
Bahkan, ketika musim hujan baru saja dimulai. Namun kau sudah
ada menjadi tokoh di beberapa halaman dari cerita itu.
₪
Waktu itu, saat hari
terasa lelah untuk di lalui. Aku berjalan dengan langkah kaki yang berat untuk
ku seret pulang. Sebenarnya tak jauh, hanya sampai ke kosan teman dan aku akan
langsung beristirahat.
Saat itu setelah gerimis. Saat-saat dimana kamu masih ada menjadi
bagian dari hari-hariku, dan menjadi alasan aku merebut ponsel temanku untuk
menanyakan kabarmu. Ditengah percakapan kita via bbm temanku, kau bertanya.
“Sudah makan?”
Sontak ku katakana belum. Dan kau menjanjikan bertemu untuk
makan bersama. Aku mau, mau sekali. Berlari ke kamar mandi dan meminjam pakaian
terbaik sahabatku karena tidak mungkin rasanya menemuimu dengan pakaian yang
tadi ku pakai ke kampus.
Aku berdandan, hal yang biasanya aku lakukan dengan setengah
hati. Saat itu kulakukan sepenuh hati, kenapa? Entahlah. Aku juga melatih gaya
bicaraku dan menentukan sikap bagaimana yang harus aku tunjukan padamu agar
pertemuan kita terkesan manis.
Menunggumu, aku suka. Memikirkannya saja sudah membuat aku
tersenyum berkali-kali. Menunggumu aku tak mengenal jenuh. Sebab aku bahagia
memikirkan bagaimana caranya aku menyapamu.
30 menit berlalu. Aku masih asyik menatap layar handphone
dengan senyuman terbaikku. Walau sudah larut, tapi aku tetap berdiri menunggumu
di ambang pintu.
Aku suka hal-hal yang aku lakukan saat menunggumu. Aku suka
saat melihat cermin dan bayangan di dalamnya tersenyum. Aku suka pisang yang ku
kupas dan ku beri susu di atasnya. Aku suka teh hangat dengan gula yang ku
seduh di dapur kosan. Dan aku suka suara dengkuran sahabatku yang tertidur
karena kelelahan menungguku.
Lalu, aku menunggu siapa?
Pria yang menjanjikan makan bersama tidak kunjung datang
walau sudah 2 jam setengah berlalu. Aku fikir ini sudah larut, sebaiknya aku
pamit saja.
₪
Sejak saat itu aku harus pamit juga dari hidupmu. Membiasakan
diri tak peduli dengan keadaanmu. Meski aku tersiksa sendirian saat menyadari
bahwa senyumanmu masih jadi bahan bakar bagi semangatku untuk terus melangkah
mau.
Aku mencoba menjauhimu sebisa dan semampuku. Tapi aku tetap
menangis sendirian saat jantungku tak kunjung berhenti berdetak cepat saat raga
merindukan temu denganmu.
Pada akhirnya aku menyerah pada keadaan. Walaupun aku
berusaha untuk tidak mencintai, aku tidak bisa menahan perasaanku. Seberapa
besarpun rasa kecewa yang aku dapatkan lagi nanti, aku tidak bisa berhenti
mencintai. Karena bagiku rasa cinta mengatasi segalanya, termasuk kekecewaan.
Aku harap kau tak
melupakan, bahwa aku akan tetap menunggumu sendirian. Sampai nanti kamu akan
menemukanku di garis terdepan. Menunggu dengan senyuman dan bertepuk sebelah
tangan.
Meskipun mengingatmu, otakku harus berdarah karena tersakiti
terus menerus. Namun itu lebih baik dari pada aku harus melupakanmu. Aku sadar
karena kau tak bisa hidup disampingku. Maka dari itu ku biarkan kau hidup dalam
otakku dan tetap dicintai oleh hatiku. Karena mencintaimu, sama dengan
membuatku tetap memiliki alasan kenapa aku mempertahankan hidupku.
Sebagian kehidupan harus didasari dengan alasan, maka aku
akan memilihmu sebagai alasan dari setiap jawaban. Karena kamu adalah segala
jawaban dari segala pertanyaan bahkan dari yang tak pernah aku fikirkan.
Kita akan sampai di titik paling beku. Dimana semua
penantian terasa semu. Aku luluh lantah. Seperti tak berarah. Mencari titik
temu denganmu, aku lelah.
Ajari aku untuk bersabar lebih tangguh menunggumu agar tanpa
jenuh. Sebab di persimpangan sana, saat pelukmu bukan lagi dia. Saat ingatanmu
menghapus segala tentangnya. Izinkan aku menjadi genggaman yang menarikmu dari
ketidak pastian dunia.
Izinkan aku menjadi pengganti mimpi-mimpimu yang hancur
berantakan. Tak apalah aku sebagai penghuni baru yang menggantikannya sebagai
penopang keluh kesahmu. Karena tak selamanya menyakitkan juga menjadi seorang
pemeran pengganti.
#RST
Tidak ada komentar:
Posting Komentar