Terpopuler

Selasa, 07 Maret 2017

HATI YANG KERAS KEPALA.



Sejujurnya aku tidak memahami perihal konspirasi alam semesta dalam hidupku. Apalagi perihal perasaanku. 

Aku hanya wanita dengan angan dan harapan. Aku belum paham hal apa yang harus aku syukuri di setiap hari. Aku belum paham hal apa yang pantas aku nantikan setelah terbangun dari mimpi.

Belum.

Sampai akhirnya kau hadir. Menjadi alasan terindah dari apa saja yang aku bayangkan. Walau harapan untuk memilikimu adalah hal yang tabu bagiku. Tapi aku tidak mau tau, meskipun aku tau.

Aku hanya membiarkan hatiku yang merasakannya sendiri. biarlah. Memilikimu atau tidak aku tidak peduli.


Entah sudah berapa ribu kata yang sudah mengendap dikepalaku. Namun aku tak kunjung menuliskan secarik suratpun untukmu. Semuanya, segala cerita yang aku punya. Hanya bisa aku nikmati sendiri.


Harusnya cerita tentang-“mu”, ku jadikan sebuah buku tebal penuh dengan kalimat cinta. Sebab, secarik kertas saja tak akan cukup membuatku merasa puas dengan kerinduan yang selama ini menjadi milikku saja. 

Bahkan, ketika musim hujan baru saja dimulai. Namun kau sudah ada menjadi tokoh di beberapa halaman dari cerita itu.


 Waktu itu, saat hari terasa lelah untuk di lalui. Aku berjalan dengan langkah kaki yang berat untuk ku seret pulang. Sebenarnya tak jauh, hanya sampai ke kosan teman dan aku akan langsung beristirahat.

Saat itu setelah gerimis. Saat-saat dimana kamu masih ada menjadi bagian dari hari-hariku, dan menjadi alasan aku merebut ponsel temanku untuk menanyakan kabarmu. Ditengah percakapan kita via bbm temanku, kau bertanya. 

“Sudah makan?” 

Sontak ku katakana belum. Dan kau menjanjikan bertemu untuk makan bersama. Aku mau, mau sekali. Berlari ke kamar mandi dan meminjam pakaian terbaik sahabatku karena tidak mungkin rasanya menemuimu dengan pakaian yang tadi ku pakai ke kampus. 

Aku berdandan, hal yang biasanya aku lakukan dengan setengah hati. Saat itu kulakukan sepenuh hati, kenapa? Entahlah. Aku juga melatih gaya bicaraku dan menentukan sikap bagaimana yang harus aku tunjukan padamu agar pertemuan kita terkesan manis. 

Menunggumu, aku suka. Memikirkannya saja sudah membuat aku tersenyum berkali-kali. Menunggumu aku tak mengenal jenuh. Sebab aku bahagia memikirkan bagaimana caranya aku menyapamu.

30 menit berlalu. Aku masih asyik menatap layar handphone dengan senyuman terbaikku. Walau sudah larut, tapi aku tetap berdiri menunggumu di ambang pintu.

Aku suka hal-hal yang aku lakukan saat menunggumu. Aku suka saat melihat cermin dan bayangan di dalamnya tersenyum. Aku suka pisang yang ku kupas dan ku beri susu di atasnya. Aku suka teh hangat dengan gula yang ku seduh di dapur kosan. Dan aku suka suara dengkuran sahabatku yang tertidur karena kelelahan menungguku. 

Lalu, aku menunggu siapa?

Pria yang menjanjikan makan bersama tidak kunjung datang walau sudah 2 jam setengah berlalu. Aku fikir ini sudah larut, sebaiknya aku pamit saja.


Sejak saat itu aku harus pamit juga dari hidupmu. Membiasakan diri tak peduli dengan keadaanmu. Meski aku tersiksa sendirian saat menyadari bahwa senyumanmu masih jadi bahan bakar bagi semangatku untuk terus melangkah mau.

Aku mencoba menjauhimu sebisa dan semampuku. Tapi aku tetap menangis sendirian saat jantungku tak kunjung berhenti berdetak cepat saat raga merindukan temu denganmu.

Pada akhirnya aku menyerah pada keadaan. Walaupun aku berusaha untuk tidak mencintai, aku tidak bisa menahan perasaanku. Seberapa besarpun rasa kecewa yang aku dapatkan lagi nanti, aku tidak bisa berhenti mencintai. Karena bagiku rasa cinta mengatasi segalanya, termasuk kekecewaan.

 Aku harap kau tak melupakan, bahwa aku akan tetap menunggumu sendirian. Sampai nanti kamu akan menemukanku di garis terdepan. Menunggu dengan senyuman dan bertepuk sebelah tangan.

Meskipun mengingatmu, otakku harus berdarah karena tersakiti terus menerus. Namun itu lebih baik dari pada aku harus melupakanmu. Aku sadar karena kau tak bisa hidup disampingku. Maka dari itu ku biarkan kau hidup dalam otakku dan tetap dicintai oleh hatiku. Karena mencintaimu, sama dengan membuatku tetap memiliki alasan kenapa aku mempertahankan hidupku. 

Sebagian kehidupan harus didasari dengan alasan, maka aku akan memilihmu sebagai alasan dari setiap jawaban. Karena kamu adalah segala jawaban dari segala pertanyaan bahkan dari yang tak pernah aku fikirkan. 

Kita akan sampai di titik paling beku. Dimana semua penantian terasa semu. Aku luluh lantah. Seperti tak berarah. Mencari titik temu denganmu, aku lelah. 

Ajari aku untuk bersabar lebih tangguh menunggumu agar tanpa jenuh. Sebab di persimpangan sana, saat pelukmu bukan lagi dia. Saat ingatanmu menghapus segala tentangnya. Izinkan aku menjadi genggaman yang menarikmu dari ketidak pastian dunia.

Izinkan aku menjadi pengganti mimpi-mimpimu yang hancur berantakan. Tak apalah aku sebagai penghuni baru yang menggantikannya sebagai penopang keluh kesahmu. Karena tak selamanya menyakitkan juga menjadi seorang pemeran pengganti.

#RST

Tidak ada komentar:

Posting Komentar