Terpopuler

Kamis, 21 Januari 2016

FIND YOU

"Menemukan Arah Cinta Bersamamu"
(Sepenggal Kisah Kita)

Aku sedang menatap layar laptopku dengan fokus saat seseorang ikut duduk disampingku. “Udah direfisinya? Ini aku bawain coklat bubble.” Aku bergeming begitu melihat tangannya menggenggam cup minuman dan memberikannya padaku, aku tersenyum gemas.
 Dulu aku berpaling dari seseorang yang aku cintai padanya, hanya karena aku selalu merasa sempurna saat bersamanya. Dia mempunyai senyum yang tidak mampu diartikan selain damai. Dia adalah orang yang menemukanku dengan segala keterpurukanku.
Jauh hari sebelum aku menggenggam tangannya. Aku sempat tersesat dihutan yang belum pernah aku dengar namanya. Semacam hutan yang gelap, dingin dan aku selalu menangis setiap harinya. Aku berinama Hutan Cinta. Dulu aku sempat menyerah dalam hidup karena seseorang yang aku cintai begitu dalamnya, akhirnya menghancurkan hidupku sebegitu dalam pula.
Hingga akhirnya dia menemukanku di sebuah persimpangan jalan. Dia mengulurkan tangan dan aku perlahan menyentuhnya yang kemudian aku genggam dengan segenap jiwa. Dia merangkulku dan membuatku tetap aman didalam pelukannya.
Siapa sangka kisah persahabatan berubah menjadi kisah cinta penuh harapan. Tidak, dia memberiku pembuktian dan bukan angan-angan.
Cincin yang melingkar dijari manisku kali ini adalah tanda darinya yang memintaku pada kedua orangtuaku dengan penuh janji dan kelakuan. Aku bahagia menjadi hal berharga untuknya.
“Aku pusing bagian endingnya. Kata-katanya udah pernah aku pake di novelku sebelumnya, tapi aku fikir kata-kata yang ini akan lebih cocok buat novel ini.” Aku bersandar dilengannya.
Dia mengecup poniku lembut. “Jangan terlalu terpaku sama bahasa yang itu-itu aja dong. Coba di acak ulang dimemori katanya siapa tau ketemu. Deadline nya masih dua bulan lagikan? Ga rugi kok kalau kamu fikir-fikirnya besok.”
Dia selalu membuat hal rumit menjadi tenang. “Ya udah aku coba lagi nanti.”
“Besok aku temenin ke perpustakaan mau? kebetulan besok aku free.” Aku benar-benar tidak rela dia jatuh kepada penulis lain yang mungkin memiliki 1000 kosa kata untuk membuatnya jatuh cinta lagi.
“Boleh.” Aku tersenyum girang.
Saat itu, tepat pada hari wisudaku. Dia membawa orang-orang terpenting dalam hidupnya. Dia datang ke acara wisudaku dan mempertemukanku dengan kedua orangtuanya, kakaknya yang beserta istri dan anaknya yang aku kenalkan langsung dengan kedua orangtuaku.
Semua terlihat kagum karena prestasiku sebagai mahasiswa, lumayan membanggakan. Dia dari keluarga berada yang menginginkan calon pendamping yang bisa dibanggakan pula. Dan aku berusaha untuk itu.
Sejak kami SMA dia sering menceritakan tentang keluarganya yang memiliki kriteria tersendiri untuk calon istrinya nanti. Sampai akhirnya aku berjuang karena aku ingin mendampinginya. Dialah alasan kenapa aku terus berjalan. Mamah dan papah sedari dulu mengenalnya, mereka menyukainya.
Kami makan bersama disebuah lestoran yang tidak begitu jauh dari kampusku. Rasa deg-degan itu menghampiri saat mereka menanyakan semua hal tentang diriku. Namun, dia yang duduk disampingku tetap saja meyakinkanku agar lebih santai dan aku melakukannya.
Sekejap, antara percaya dan tidak aku terbelalak saat ayahnya memintaku pada papah untuk menjadi pendamping putranya. Papah bertanya padaku. Tidak ada jawaban yang aku pilih lagi selain kata “Iya.” Dan lamaranpun terjadi disana.
Tak pernah aku rasakan damai, sedamai saat aku bersamamu. Itu yang selalu ingin aku utarakan.
Sebelum itu, bulan pertama ditahun pertama semuanya manis. Dan aku mulai benar-benar takut kehilangan dibulan pertama pada tahun kedua. Aku mulai merasa bahwa dia lebih mementingkan teman-temannya dan bukan aku. Aku juga merasa dia menjadi aneh dan menyebalkan saat kami membuat janji. Seringnya terlambat atau malah tidak jadi hanya karena hal yang aku anggap itu tidak penting sama sekali.
Kami pernah bertengkar hebat malam itu. Berkata bahwa “Aku capek kaya gini terus.” Adalah hal yang sama sekali tidak ingin aku utarakan tapi dia juga harus paham. Sikapnya tidak pernah jera. Tapi dia malah berbalik berkata “Kamu fikir aku nggak cape dengan sikap kamu yang manja dan selalu minta terus waktu aku Cuma buat nemenin kamu atau ngebuang-buang waktu dengan diam berduaan?” bayangkan jika kalian jadi diriku.
Ingin meledak rasanya. Aku hanya menatapnya bingung. Apa sebenarnya yang merasuki fikirannya? Oke pada saat itu aku akui bahwa sikap manjaku mungkin menjengkelkan siapa saja yang melihatnya. Tapi, apa salah jika wanita meminta waktu luang lelakinya untuk sekedar melewatinya berdua. Pada saat itu kami belum sama-sama dewasa.
Hingga aku memutuskan pergi dan memilih sendiri. Dia menghubungiku walau aku tidak pernah ingin menjawab, tapi dia selalu mencoba. Aku sadari dia memang mencariku. Tapi aku tidak ingin berkata apapun saat itu.
Kemudian hujan turun tiba-tiba saat aku sedang tergesa-gesa berjalan menuju sebuah toko roti untuk memesan kue ulang tahun untuk seorang teman. Aku melihat setiap rintiknya saat aku menunggu pelayan membuatkan pesananku.
Harusnya aku ingat ini sedari awal. Aku pernah melewati hujan berdua dengannya, menikmati setiap tetes dengan sama-sama tersenyum penuh arti. Saat itu aku sedang terluka. Namun saat menemukannya, aku lupa jika aku sedang dengan keluh kesahku. Dia tidak meninggalkanku, dia justru menemaniku. Aku harusnya sadar bahwa dia akan terus menemaniku.
Walaupun aku masih tidak ingin bertemu dengannya, namun aku coba untuk mencari-cari raganya. Saat ku temukan, dia terlihat putus asa dan butuh pelukan. Aku terenyuh. Kenapa juga aku setolol itu?
Dia tetap menemaniku menulis, menemaniku membaca. Walau setiap menemaniku yang dia lakukan hanyalah tidur. Tapi aku juga senang menemaninya mencari view gambar, menemani memotret, menemani mengedit picture. Walau yang aku lakukan adalah mendengarkan musik.
Hal yang kami lakukan memang membosankan bagi satu sama lain. tapi aku sadar kami masih bisa hidup berdampingan.
Karena itu aku berjalan ke arahnya walau dengan pelan. Dia menemukanku dan berlari tergesa-gesa kearahku. Ditempat itu, dia memelukku. “I Love You.” Katanya.
Sampai akhirnya kami sama-sama mengerti bahwa cinta tumbuh dewasa dengan adanya luka. Aku pernah terluka, dan dia juga. Dan kami saling menemukan jawaban untuk sampai ketitik ini. Dimana semua masalah kami lewati bersama. Dimana semua hal kami lalui berdua.
Dia ingin aku bersabar. Dan aku ingin dia mengerti. Perbedaan kami justru mempertemukan kami dengan semua ini.
“Kamu mau apa?” adalah kata yang selalu dia ucapkan saat kami pergi kemanapun.
“Aku mau mencintaimu dengan sederhana. Dengan cinta yang hanya aku yang memilikinya.” Lalu diapun akan mengacak lembut poniku.
Dari awal aku menemukannya. Aku percaya hidup ini akan aku lalui dengannya. Karena jalan cinta yang kami temukan, sama-sama searah.

END.
#RST (2016)


Selasa, 19 Januari 2016

COLOR SECRET ! (happy reading)

COLOR SECRET
(Cinta tidak pernah Amnesia)

Dimana aku?
Siapa aku?
Siapa mereka?
Saat pertama kali membuka mata, yang aku ingat hanya sebuh kata-kata ‘nggak mungkin dia amnesia dok, nggak mungkin ! Redha !!’  
Suara berat, dan suara tangisan wanita tua terdengar kala itu. Sedangkan disana ada dua orang berpakaian putih-putih. Apakah itu malaikat yang menjelma menjadi manusia? Ingin rasanya membuka mata selebar-lebarnya, namun kepala yang bersandar pada sesuatu yang empuk ini sangat berat dan sakit jika aku mencoba bergerak.
Lalu, aku kumpulkan semua tenaga yang tersisa hanya untuk memberi tahu mereka bahwa aku masih ada. Dan seseorang dengan tangan lembut menggenggam tanganku yang tulangnya terasa remuk.
“Redha? Kamu sudah sadar sayang? Ini mamah nak.” Aku membuka mata dan melihatnya dengan air yang mengalir dari mata, ke pipi, kemudian jatuh kemanapun air itu mau.
“Ma.. maa.. hh?” Sungguh kaku rasanya isi leherku, seperti belum pernah minum selama satu mingggu.
“Iyah sayang ini mamah. Dan ini kakak mu, Jingga.” Laki-laki itu maju selangkah dan aku melihatnya. Tapi, siapa dia? Siapa juga mereka? Mamah? Kakak? Apa aku pernah memiliki hal semacam itu?
“Ma.. mah? K..aa.. kak?” wanita tua itu mengangguk berkali-kali. Lalu mengecup keningku. Sementara laki-laki itu tetap saja menatapku seperti tatapan iba. Kenapa denganku?


Mereka membawaku ke sebuah rumah yang lumayan asing, rasanya aku pernah ketempat ini tapi aku tidak yakin itu kapan. Laki-laki yang harus aku panggil kakak itu mengantarkanku ke sebuah ruangan yang dia bilang “Ini kamarmu Redha.”
Aku kebingungan karena tak mengenali apapun. Di tempat ini – yang katanya adalah kamarku, banyak sekali foto-foto. Wow kereeenn. Juga ada beberapa type kamera berjajar di atas rak foto itu. Aku susuri foto yang menepel hampi disatu bagian dinding.
Sepertinya dinding ini khusus untuk galeri. Ada wajahku dan wajah seorang laki-laki. Ada seorang perempuan dengan wajah centil. Ada foto laki-laki dan wanita itu – yang katanya mamah dan kakak. Ada potret wajahku dan wajah seorang laki-laki tua. Dan masih banyak lagi.
“Redha, ini coklat panas kesukaan mu.” Kakak itu membawakanku minuman dengan mugh bertuliskan Burning Red.
“Terimakasih.” Dan dia mengangguk lalu duduk di ujung tempat tidur-ku.
“Redha, apa kamu ingat sesuatu dari foto-foto itu?” dahiku mengerut dan aku enggeleng.
“Bisa tolong kenalkan orang-orang ini?” dia mendekatiku dengan membawa kursi dari dekat meja yang penuh dengan buku-buku.
Dia mulai menunjukan satu persatu dimulai dari yang paling atas. “Yang ini, namanya Gery, dia temen kamu waktu SMP yang paling kamu benci. Kamu mengambil gambarnya saat pertama kali punya kamera Lomo dari papah. Kamu bilang, orang yang kamu benci suatu saat bisa jadi bertemu lagi dengan perasaan yang berbeda.” Aku hanya mengangguk-nangguk tidak mengerti.  Hehe
Papah itu yang ini. Papah bahagia banget punya kita. Karena buat papah, punya anak sepasang itu anugerah luar biasa. Sampai akhirnya papah meninggal karena serangan jantung.” Aku meringis.
“Ini Viola, sahabat perempuanmu saat masuk SMA. Kamu bilang dia populer karena dia centil dan feminim. Kalau ini Jendra, sahabat karib kakak yang kuliah di London. Kamu bilang suatu saat kalau kamu hunting ke sana kamu bakal hubungin Jendra.” Ooooh, jadi aku punya mimpi.
“Kalau laki-laki ini? Kenapa banyak sekali foto laki-laki ini?” aku menunjuk foto yang ekspresinya berbeda dari yang lan. Itu seperti wajah colongan.
“Dia Gray, nama aslinya Gio Rayanto. Dia tetangga kita sejak kamu TK. Kamu dan dia sangat dekat. Tapi pada akhirnya dia dan kamu harus berpisah karena dia melanjutkan study di New York. Kamu tidak suka New York karena orang-orang disana absurd. Tapi dia hanya bisa dapat beasiswa disana. Kamu selalu baik-baik saja saat bersama Gray. Tapi, kamu jadi sering badmood sejak kepergian Gray 6 bulan yang lalu.”
Apa? 6 bulan? Selama apa aku tidur? Sampai-sampai aku lupa sama sekali dan tidak ingat apapun? Apa Amnesia  itu yang membuatku seperti ini? Aku melihat mugh yang aku genggam, isinya sudah setengah habis. Rasanya manis, enak dan menenangkan.
“Apa aku dan Gray itu punya hubungan?” dia menggeeng.
“Aku nggak yakin, soalnya setiap aku tanya kamu Cuma jawab Gray itu sahabat hidup kamu. Kamu nggak pernah bilang pacaran atau yang lain semacamnya. Kamu juga lebih sering menemukan hal baru dengannya. Kamu mencintai lensa juga karena Gray. Kamu bilang, dunia paling menyenangkan adalah dunia lensa. Karena gambar adalah sesuatu keabadian yang memiliki cerita yang hanya kamu sendiri yang paham. Kamu juga sangat senang menikmati coklat panas saat hujan dengan Gray, atau sekedar makan mie rebus.” Seperti itukah?
“Aku nggak tau jelas, kamu memang sering menceritakan hal-hal yang kamu rasakan padaku. Lebih sering dari pada kamu bercerita pada mamah. Tapi hanya tentang Gray kamu tak benyak bicara. Dia cinta lensa tapi dia tidak suka menampakkan dirinya didepan lensa. Itu katamu.”
“Apa dia sering masuk kekamar ini?” kakak mengangguk.
“Lalu, berarti Gray tahu aku sering mengambil potretnya? Kenapa dia tidak marah? Bukannya dia tidak suka?” lalu kakak tersenyum. Sepertinya aku memang harus terbiasa memanggilnya kakak.
“Dia sama sekali tidak bisa marah padamu, semenyebalkan apapun kamu. Karena kamu dan dia sering melakukan hal yang sama. Dan dia hanya marah saat dia khawatir padamu. Semua orang juga begitu. Kamu mampu membuat siapa saja mudah menyayangimu.”
Benarkah? Lalu apa hal yang harus aku lakukan sekarang saat orang – yang mungkin berarti, itu tidak ada disampingku?
“Kak? Bisa tolong ceritakan apapun yang kamu tau tentangku?” dia mengangguk.


“Astaga Redhaaaa !! kangen banget tahu ! nyebelin yah ga ada kabar sama sekali ! kemana aja sih?” suara ceria laki-laki itu membuat jantungku mendadak terpompa. Disebrang sana dia memanggil-manggil nama orang yang sedang terpaku disini.
“Eh, eh, maaf.. saya, kamvreett maksudnya aku lagi ga konsen, sorry.” Dia membuang nafas.
“Loh kenapa lagi? Punya masalah? Cerita dong.....” nadanya sedikit manja, tapi dari wajah yang aku liat dari fotonya dia orang yang dewasa. Dia jua ternyata sering membuatku bahagia ternyata.
“Engga kok, aku baik-baik aja. Kamu kapan pulang?” dia berdecak.
“Belum dikasih surat free nih, masih ada tugas numpuk juga. Siang ini panas banget. Indonesia dingin?”
Dan begitu seterusnya kami berbincang-bincang.
Seperti orang yang mengetahui segalanya. Seperti orang yang tidak pernah diperban dikepala sebelunya. Dan seperti orang yang tidak sedang duduk di kursi roda. Aku tersenyum, tertawa lalu kebingungan. Untungnya Diary – yang mungkin sering kutulis, ini membuatku tidak terlihat linglung. Sampai akhirnya satu jam kami bercakap-cakap kami harus berpisah karena dia ada kelas.
“Bye, besok kalo enggak sibuk aku telfon lagi yah.” Aku terkekeh.
“Siap !”
“Ya udah, selamat malam Redha.” Aku tersenyum mendengar suara yang tiba-tiba terdengar berat untuk suasana seperti itu.
“Okey, selamat malam Gray.” Dan telfonpun ditutup.


Sunrice ditempat ini sudah limabelas kali aku temui. Itu tandanya aku masih tetap saja tak bisa ingat apapun selama ini. Damn !
Kakak selalu dengan setia mencoba membantuku mengingat apapun yang mungkin terkait dengan kehidupanku. Aku tidak ingat Viola, aku tidak ingat papah, aku tidak ingat keluarga, dan aku tidak ingat kenapa aku bisa seperti ini. Aku pernah berteriak sekencang-kencangnya saat kepalaku sakit luar biasa dan tiba-tiba bayangan aneh muncul.
Viola datang kerumah dengan membawa bucket bunga dan buah-buahan. Dia terkejut melihatku duduk dikursi roda dan selalu bertanya-tanya tentang apapun yang dia ceritakan. Apakah amnesia ini permanen? Aku ketakutan setengah mati.
Bagaimana saat Gray pulang dan melihatku seperti ini?
Tunggu kenapa juga aku harus khawatir dengan kedatangan Gray? Apa aku sudah menemukan sesuatu? Dan kenapa saat aku tidur aku juga sering melihat Gery yang ada difoto itu? Apa hubungannya dengan semua ini?
Viola mengajakku jalan-jalan ke taman dekat kompleks rumah, dan membiarkanku mencoba mengingat sesuatu dengan memotret apapun yang ada disana. Viola pernah menangis, dan aku terenyuh.
“Kita bersahabat nggak sehari dua hari Redha ! wajar gue sedih liat lo kayak gini.” Lalu aku memeluknya. Setidaknya dia bisa menangis di pundakku.
Sampai saat ini, aku masih belum tahu penyebab kecelakaan yang sebenarnya itu. Yang aku ingat sedikit demi sedikit adalah aku berlari dan mendorong seseorang. Aku tidak ingat siapa yang aku dorong dan karena apa aku mendorong orang itu?
Kakak pernah mengingatkan aku bahwa aku dan Gery satu kampus. Aku mengambil jurusan Sastra Inggris dan Gery mengambil jurusan Fisip sedangkan Viola mengambil jurusan Ekonomi Perbankan. Aku masih tidak mengerti apa yang dimaksud kami sangat dekat. Apa kami hanya bersahabat? Atau apapun itu?


Malam itu aku bermimpi lagi. Disini semuanya jelas. Tentang siapa orang yang aku dorong. Dan orang yang aku dorong adalah Viola, yang saat itu mobil silver menghantam keras kakiku dan membuatku terpental lalu jatuh dengan kepala lebih dulu. Hanya itu.
Aku menanyakan pada kakak, apakah saat aku berada dirumah sakit ada orang yang menabrakku waktu itu? Tapi dia bilang semua itu tabrak lari. Sial !
Pada hari selanjutnya, adalah hari ulang tahunku. Kami makan bersama di halaman belakang rumah yang didekor dengan sederhana namun cantik oleh kak Jingga, Viola dan mamah. Aku senang dengan nuansa merah menyala juga balon-balon yang terapung dikolam renang dengan tulisan selamat ulangtahun untukku. Yang datang hanya kak Jendra yang baru pulang dari London dan Viola.
“Malam ini adik kecilku tercinta genap berusia 20 tahun. Semoga diusianya yang semakin dewasa ini, dia jadi wanita yang tegar dan sukses. Amin” aku mengamini dan mereka menyodorkan kue blackforest dengan lilin berangka 20. Aku membuat permintaan pada Tuhan.
“Semoga Redha cepet inget semuanya Tuhan.” Aku bergumam, dan semua mata melihatku. Aku hanya bisa nyengir kuda dan meremas-remas jemariku. Kalau-kalu ada kata yang salah telah aku ucapkan. Aku meniup lilin. Semoga terkabul bersamaan dengan matinya api dililin ini.
Mamah mengecup keningku sambil meneteskan air mata. Mungkin dia benar-benar seorang ibu yang berjuang sendir membesarkan anaknya setelah papah meninggal 15 tahun yang lalu. Itu yang dikatakan kak Jingga.
Saat itu kak Jendra memberikan kado ulang tahun untukku. “Aku buka yah kak?” dia mengangguk.
“Waaaahhh.. makasih banget ya kak.” Aku bahagia walau aku tidak yakin ini wajahku atau bukan, karena aku tidak ingat kapan aku punya potret seperti ini.
“Kamu suka? Ini kakak bikin saat liat foto kamu di instagram.” Apa itu? Kenapa aku tidak tahu aku punya hal semacam ini? Damn ! aku lupa kalau aku juga tidak pernah membuka hanphone lagi selain melihat message ataupun mengangkat telfon dari Gray.
“Ini kado dari gue Red.” Aku menerima hadiah dari Viola dan membukanya.
“Oh my God, cantik banget sepatunya. Makasih yah !” lalu tanpa rasa apapun aku memeluknya. Sekali lagi melihat sepatu merah dengan highils sekitar 7 cm, sangat cantik.
“Kalo ini kado dari kakak, semoga kamu suka.” Aku tersenyum meraihnya dan tak sabar membukanya.
“What the f... ohh Tuhan, kamera 5mm. Ah kakak.” Aku memeluknya erat dan dia mencium keningku. Entahlah apa yang aku ingikan sebelumnya yang jelas aku bahagia menerimanya.
Namun tiba-tiba suara merdu yang sering aku dengar hanya disambungan signal itu tiba-tiba berasa ada di belakangku. Seperti memanggil dengan pelan, “Red..” katanya. Semua mata terbelalak kecuali aku yang belum bisa berbalik. Kakak berkata “G..” semacam ingin mengatakan sebuah nama.
Aku berbalik dengan hati-hati berharap itu bukan dia, orang yang – mungkin, aku tunggu selama ini. Dia disana dengan sekotak hadiah berwarna merah yang dia genggam ditangannya.
Tapi berapa kalipun aku mengedipkan mata, hasilnya tetap dia. Orang yang wajahnya ada difoto, ceritanya ada di Diary dan suaranya hanya ada di telfon. Dan sekarang raganya ada disini. Sejak kapan?
Dia membungkam mulutnya dan terlihat badannya gemetar, sedangkan air turun dari matanya. Kakak bilang hal seperti itu disebut menangis. Apa dia menangis? Berarti yang kakak katakan itu benar, dia sangat menyayangiku dan akan sangat terpukul saat aku terluka. Jadi selama ini aku hanya perlu merahasiakan semua ini darinya. Tapi aku tidak bisa berfikir dampaknya akan seperti ini.
Dia melangkah mendekatiku, menyentuh kursi roda yang aku duduki dan berlutut di hadapanku. Dia melihat jauh kedalam hati dan fikiranku. Mencari-cari jawaban yang mungkin saja bisa ia temukan. Namun, “Gelap.” Katanya. Sambil menyeka air mata yang juga keluar dari mataku.
Aku tidak mengerti, sepertinya aku dan dia tidak menangis kencang. Lantas suara siapa yang paling nyaring terdengar dengan tersedu-sedu. Aku dan Gray menengok ke arah Viola. Dia menangis, hingga membuat bahunya bergetar hebat. Ada apa? Gray bangun dan memegang bahu Viola, tapi dia menyembunyikan wajahnya dibalik rambut sebahunya. Kami semua bingung.
Saat itu Gray meletakkan kotak merah itu dilututku. Aku menyentuhnya dan tersenyum. Tapi, tiba-tiba kepalaku berdenyut-denyut dan bahkan semakin keras. Hingga... “Awww..”
Aku menjerit. Lalu memori itu seakan muncul bertubi-tubi di kepalaku. Aku jatuh pingsan. Yang aku dengar hanya suara Gray yang terus memanggil-manggil namaku. Aku terkulai lemas saat menyadari tubuhnya membawaku kekamar. Semua orang mengikuti, mungkin kak Jingga langsung memanggil malaikat berbaju putih itu. Sampai akhirnya aku terbangun kembali.


“Red, lo maukan jadi cewe gue? Gue nyaman Red sama lo. Kita udah kenal lebih dari bertahun-tahun Red” Orang ini terus mendesakku untuk menerimanya. Ini kali ke tiga dia menembakku. Dan sekarang, dimuka umum.
“Ger, kamu nggak ngerti juga apa? Aku gak bisa jadi pacar kamu. Kamu harusnya tahu, orang yang sayang kamu itu bukan aku !”  dia mencengkram bahuku kuat.
“Terus siapa Red? Siapa?” aku sudah berjanji akan merahasiakan pada Gery kalau sebenarnya Viola telah mencintai Gery sudah lama. Walau Gery tidak sadar bahwa yang selama ini sering membalas pesannya adalah Viola bukan aku.
Aku coba menjelaskan semuanya dari awal tanpa harus menyebutkan siapa orangnya. Aku juga mengatakan bahwa aku mencintai oranglain yang bukan dia. Dia akan bahagia jika itu tidak denganku. Aku tidak mencintai siapa-siapa selain Abu-Abuku. Aku tidak ingin menyakiti warna terangku Viola.
Dia sahabat perempuan yang selalu mengerti aku dan membantuku apapun yang aku butuhkan. Aku hanya perlu menjaganya dan perasaannya, melakukan apapun yang membuatnya bahagia. Aku hanya belajar membahagiakan orang lain yang juga selalu membahagiakanku.
Aku tidak ingat bahwa saat itu aku berada di tempat yang sangat ramai. Semua ini karena Gery yang menyatakan cinta di koridor kampus. Siapapun bisa melihat bahkan tikus got sekalipun. Saat aku mencoba menjelaskan Gery tidak ingin mendengarkan dan tetap berteriak.
“GUE NGGAK PEDULI SIAPAPUN YANG CINTA SAMA GUE. GUE CUMA SAYANG SAMA LO REDHA WIJAYA !!” Dan semua kuping mendengarkata-kata itu. Aku tertunduk, dan aku harus menerima konsekuensi jika Viola mendengar ini semua.
Dan ternyata benar, dia terpaku disana. Berdiri dan memeluk buku-buku mata kuliahnya dengan air mata yang tidak bisa ia seka. Aku melihatnya. Aku berteriak memanggil namanya dan seketika itu dia lari sekuat yang dia bisa.
Aku mengejarnya dengan menabrak siapapun yang aku lewati. Aku hanya tidak ingin kehilangan sahabatku dan mengacaukan semuanya hanya karena kesalah pahaman belaka. Dalam hati aku berteriak memanggil nama Gray. Entahlah tapi aku butuh dia saat itu.
Viola menyebrang jalanan yang penuh dengan kendaraan. Dia berhasil melewati jalan pertama, tapi di sebrang jalan sana. Ada mobil silver melaju dengan kecepatan tidak terduga. Saat itu yang aku fikirkan hanya keselamatan Viola.
Aku mendorongnya dan dia tersungkur ke trotoar. Sedangkan aku, yang aku ingat hanya aspal, darah, keram di kedua kaki, dan telinga yang mengeluarkan suara seperti mengiung yang tidak berhenti.
Aku mencari-cari sosok Viola, ingin aku berkata “Ma.. aaa.. ff.” Namun sulit karena bibirku terasa perih. Aku takut hari itu mati dan Viola tetap menyimpan dendam padaku. Aku takut tidak bisa mendengar ocehannya yang seperti suara kereta api ketika sedang bercerita tentang orang yang dia suka. Dan aku tidak segila itu untuk merebut apapun darinya.
Meskipun hanya seorang sahabat dengan kepribadian yang berbeda, tapi aku tetap menyayanginya. Sesayang aku pada kak Jingga. Dia sudah seperti saudara untukku.
Aku ingat, saat aku tertidur aku melihat Gery ada di balik kerumunan itu. Membawaku ke rumah sakit dan saat aku terbangun, aku tak ingat apapun.
Itu yang sebenarnya terjadi.


Aku membuka mata dan melihat malaikat berbaju putih itu lagi. Dia melihat keadaan ku dengan memegang pergelangan tanganku.
“Dia sudah sadar bu.” Mamah langsung memelukku.
“Kenapa kamu nggak bilang dari awal kamu gini sih.” Seorang lelaki yang selalu aku tunggu kedatangannya ada di sebelahku. Mengenggam erat tanganku dan aku tersenyum.
“Aku Cuma nggak mau bikin kamu khawatir.” Dan hanya kata itu yang keluar.
Aku mencari-cari kak Jingga, kak Jendra dan Viola. Tapi mereka tidak ada dikamarku. Senang rasanya ingatanku kembali bersama orang yang aku cintai. Sstttt aku tidak ingin dia tahu aku memiliki rasa ini.
Dokter dan mamah berbincang-bincang. Aku tidak ingin tahu karena aku lebih terfokus pada cerita Gray semasa ia disana. Dia punya waktu satu bulan free dan akan dia habiskan denganku. Lega mendengarnya.
Saat akan mengerakkan badanku, rasanya aku sudah berakar. Berat dan sakit. Kakiku masih terasa keram dan kepalaku yang terus menerus berdenyut.
“Bagaimana mungkin aku mengahabiskan waktu denganmu sementara keadaanku seperti ini?” di terkekeh. Sama merdunya saat pertama kali aku mengetahui dia punya suara tawa yang renyah.
“Enggak usah khawatir. Besok kamu udah bisa lari kok. Percaya deh !” aku mencubit hidungnya gemas.
“May I ?” dia melihat mataku lebih dalam, seperti membawaku terhanyut dalam tatapanku sendiri.
“Trust me !” dan dengan gayanya yang seperti itu, aku percaya selama bersamanya semua akan baik-baik saja.


Aku berjalan bersamanya dipinggir pantai dengan background sunset. Dia merangkul pinggangku dan terus mengecup kepalaku sampai aku merasa bibirnya memang menempel di dahi kananku. Aku meraba raba-raba benda yang melingkar di jari manis kiriku. Aku tersenyum mengingat dia yang meminta agar aku bersedia menunggunya dan tetap bersamanya sampai saat itu tiba. Mamah merestui kami seperti beliau merestui kak Jingga dan kak Senja.
“Kamu tahu kenapa aku nggak mau difoto?” aku menggeleng.
“Karena aku mau kamu kangen aku setiap saat tanpa harus puas dengan liat foto aku.” Aku terkekeh.
Dia memang sahabat hidupku. Aku senang akhirnya Viola mengerti bahwa orang yang aku pilih adalah Gray. G yang selalu aku tuliskan disetiap status media sosialku adalah Gray dan bukan Gery. Viola hanya salah paham, dan aku mengerti itu.
Aku pernah lupa dengan apapun yang pernah terjadi. Tapi aku tidak pernah bisa untuk tetap lupa kalau aku mencintai seseorang yang aku kenal sejak kecil. Aku bahkan tidak ingin menyakitinya sedikitpun.
Orang yang selalu mampu membuatku ingat tentang apapun yang aku lupakan. Orang yang akan tetap selalu aku ingat walau raganya tidak ada disampingku. Orang yang akan selalu aku pertahankan. Dan orang yang tak akan pernah aku khianati.
Cinta adalah hal yang tak bisa aku sembunyikan seberapa keraspun aku mencoba. Seperti garis koordinat, kita akan selalu kembali pada titik yang sama dari manapun arahnya.
Seperti kak Jingga yang menemukan kak Senja. Aku juga telah menemukan abu-abu dibalik merahku. Aku mengerti dia adalah rahasia dibalik warnaku.

END

#RST (2016)


Sabtu, 16 Januari 2016

I Marry You (kebahagiaan yang luar biasa)

I Marry You
Hari ini adalah hari bahagiaku. Gaun putih dengan renda-renda dan bunga-bunga. Seseorang yang telah mencoba meyakinkan ayah, aku akan baik-baik saja. Dia yang selalu berjuang. Dan aku sangat mencintainya.
Gedung, penghulu, tamu undangan, dan hidangan sudah siap. Aku hanya perlu berjalan, menggandeng tangan ayah, dan menemuinya. Tapi demi apapun itu, aku gugup ! tanganku bergetar. Hinga berkali-kali ku tatap wajahku dicermin. “Cantik.” Seseorang berdiri disampingku.
“Ayah.” Aku menatapnya sendu.
“Kamu udah di makeup dua jam loh Ta, jangan sedih. Harus ceria !” dia menguatkanku. Walau aku tahu hatinya sedang gundah dan masih ada rasa sedih karena akan melepaskan puteri semata wayangnya.
Ayah, adalah laki-laki yang sangat berhati-hati dalam hal menjagaku. Dia tidak suka aku di ganggu. Ayah selalu mementingkan apapun tentangku. Bunda bilang, ayah lebih mencintaiku dari pada dia mencintai dunia. Aku percaya itu karena dari cara ayah menyayangiku.
Tapi kali ini, dia harus pensiun dalam rangka mendampingiku. Kini, ada orang yang bersedia menemaniku dan membagi dunianya bersamaku. Menjadikan aku tanggung jawabnya dan berjanji menjagaku seperti ayah menjagaku.
Dia yang meminangku hari ini. Mendapatkan putri mahkota yang paling ayah sayangi. Aku adalah anak semata wayangnya dan ayah ingin aku mendapatkan yang terbaik. Dan laki-laki ini, menunjukan semuanya pada ayah. Ayah menyukainya walau dia masih sering over dalam hal perasaanku. Aku selalu bilang baik-baik saja walau aku sedang kesal. Aku hanya tidak ingin ayah merubah fikirannya pada orang yang juga aku cintai ini.
“Tata ayo, acaranya udah mau mulai.” Ayah mengingatkan.
“Bundaaaa.” Aku merengek seperti anak kecil, bertingkah manja agar aku tidak segugup ini.
“Kamu akan baik-baik aja sayang.” Bunda mencium keningku sekali lagi. Dan aku berjalan dengan ayah. Bunda mengikuti dari belakang bersama para pagar ayu dan keluarga yang lainnya.
Ini saatnya. Inilah waktu yang aku tunggu-tunggu. Inilah yang aku rencanakan dengan matang bersamanya. Setelah ini, aku akan memiliki kehidupan yang bukan tentang ayah dan bunda lagi. Aku dan dia akan menjadi ayah dan bunda untuk manusia yang akan terlahir dari rahimku dan akan kami sayangi sepenuh hati.
Pintu terbuka dan aku berjalan di hamparan bunga putih ini. Dia disana dengan mamah dan papahnya. Berdiri tegap dengan bunga ditangannya. Ini wedding ku dan dia, yang pertama dan terakhir.
Bunda dan ayah berdiri di sampingku. Tanganku bergetar. Aku melihat wajah calon suamiku, dia juga gugup. Dia memberikan bunga padaku dan aku menerimanya. Ayahku dan papahnya memayang kami ke depan penghulu. Dugdugdugdug..
Jantungku semakin keras saja berdetak. Dan kami sekarang duduk dihadapan penghulu. Beliau bertanya pada calon suamiku ini. “Siap?” ku lihat dia mengangguk.
“Baik, bissmillahirrohmanirrohim.......” ikrarpun di ucapkan. Lega rasanya. Dan kami pun bertukar cincin kawin. Ayah, Bunda, sekarang aku resmi menjadi istrinya. Mereka memanjatkan doa lalu mengamininya. Setiap doa yang terucap aku amini sepenuh hati. Terimakasih Tuhan.
Penyerahan mas kawin dari mempelai laki-laki ke mempelai wanita. Lalu MC melanjutkan acara dengan prakata dari mempelai. Dia menuliskan semua hal tentangku. Begitu juga aku yang menulis semua hal tentangnya dengan kata-kata dan puisi yang mungkin hanya dimengerti oleh orang yang mencintai sastra sepertiku.
Aku tidak lupa berterimakasih untuk melengkapi perbedaan kami dan menerima semua kekuranganku. Dan dia juga sangat berterimakasih padaku yang sudah menemaninya sejauh ini hingga kami bisa hidup berdampingan selamanya. Kami sudah bisa berciuman dihadapan siapapun yang menyaksikannya. Selama rentetan acara, hatiku tetap saja memanjatkan doa.
Dimulailah acara sungkem. Jantungku tak karuan karena saking gugup dan terharunya. Tidak menyangka aku masih bisa tetap dengan orang yang sama. Mempertahankan hidup dengan dia yang sedari awal aku tahu keseriusannya.
Selesai sudah sungkem. Dan aku masih terisak haru. Tuhan, panjangkan umur orangtua kami dan biarkan mereka menimang cucu yang mereka harapkan sebelumnya. Aku berterimakasih pada orangtua suamiku yang sudah membesarkannya hingga dia menjadi lelaki sehebat ini. Dan berterima kasih pada orangtua ku yang sudah menyerahkan hidup dan matinya hanya untukku. Aku mencintai kalian.
Setelah itu, crew dokumentasi dengan cepat sudah mengedit slideshow dari awal kami prawedding hinga kami sungkem. Gaun merah, dan warna-warna kesukaan ku semua tertata rapi dan menarik di ruangan ini. Akupun baru menyadari, betapa suamiku sangat mencintaiku. Hingga dia berkorban semua ini untukku.
Tak lama, lampu mati. Hanya layar itu yang terlihat dan lampu-lampu kecil saja yang hidup. Tak lama terdengar suara dentingan lagu yang sangat ingin aku dengar di acara perniahanku. Lagu favoritku. Brian MC-Knight – Marry Your Daughter. Oh My GOOODDDD !
Lalu slideshow foto-fotoku dari kecil hingga saat itu ada. Fotoku bersama suamiku, fotoku bersama bunda dan ayah, juga foto-foto culunku. Tertulis kata-kata disetiap foto itu.
Aku tak sadar kalau aku menangis mencengkram lengan suamiku. Lalu lampu hanya menyoroti kami berdua yang aku sadari ada di tengah-tengah ruangan. Lagu itu belum mati dan aku ikut bernyanyi :

Sir, I’m a bit nervous about being here today
Still not real sure what I’m going to say
So, bare with me please if I take up too much of  your time
See in this box is a ring for your oldest
She is my everything and all that I know is
It will such a relief if I know that we were on the same side
cause very soon I’m hopping that I ...

Can, Marry your daughter and make her my wife
I want her to be the only girl that I love for the rest of my life
And give her the best of me till the day that I die
I’m gonna marry your priencess and make her my queen
She’ll be the most beautifull bride if I’ve ever seen
I can’t wait to smile, when she walks down the aisle
On the arm of her father
On the day that I marry your daughter
She’s been here every step since the day that we met
( I’m scared to death to think what would happen if she ever left )
So don’t you ever worry about me ever treating her bad
I’ve got most of my vow’s done so far
So, bring on the ‘better or worse’ and ‘till death do us part’
There no doubt in my mind it’s time. I’m ready to start
I swear to you with all of my heart
Gonna marry your daughter and make her my wife
I want her to be the only girl that I love for the rest of my life
And give her the best of me till the day that I die
I’m gonna marry your Priencess and make her my Queen
She’ll be the most beautifull bride if I’ve ever seen
I can’t wait to smile, when she walks down the aisle
On the arm of her father
On the day that I marry your daughter
( The first time i saw her, i swear i knew that I’d say  “ I DO” )

Demi apapun aku terharu. Saat dia bicara :
“Ta, aku tidak akan menjanjikan hal yang tidak bisa aku nanti. Namun aku akan sangat berusaha menjadikan kamu bahagia dalam jiwa dan ragamu. Aku akan tetap menjagamu sekeras ayah menjagamu. Mencintaimu secinta bunda padamu. Didepan manusia dan Tuhan. Aku berjanji untuk menjadi pendampingmu. Aku mencintaimu”
Dia melululantahkan hatiku dengan bunga-bunga yang bermekaran di dalam otakku.
“Lang, aku ingin menjadi seseorang yang akan selalu memelukmu dan menjadi seseorang yang mendampingimu. Aku ingin menyabarimu, sesabar mamah dan papah padamu. Kamu adalah orang yang menyebalkan – aku tertawa, tapi aku mencintaimu. Dan di depan Tuhan juga manusia. Aku mencintaimu dengan segenap jiwa dan ragaku. Jadilah imam yang sholeh. Aku mencintai kamu.”
Lalu kami makan bersama. Dan acara ini adalah THE BEST MOMENT FOR WE, EVER !


#RST (2015)


TERUNTUK KAMU, RAHASIAKU


Aku adalah seorang perempuan yang selalu berdusta untuk sebuah perasaan yang selalu aku sembunyikan. Sedangkan kamu adalah orang yang selalu hidup dalam khayalan. Aku jatuh cinta pada tatapanmu waktu itu, juga sampai kamu menutupkan matamu.
 Keindahanmu hanya mampu aku rasakan dengan senyuman yang diam-diam terukir disudut bibir ini. Meski sering menatapmu dengan tajam, namun yang aku rasakan adalah kelembutan.
Aku mendustakanmu dalam peluhku. Aku yang melululantahkan perasaanku sendiri. Cinta itu aku tanam dan aku siram dalam diam. Aku terhalang oleh sosok yang begitu sering mengerti aku. Jauh sebelum aku mengenal kamu. Meskipn aku yang menemukan tatapan itu lebih dulu dari pada dia.
Kekecewaan sempat merambat dan membuatku merasa semua ini terlalu sulit untuk dipermasalahkan. Dia mencintaimu. Itu yang sering dia katakan padaku. Dan kau juga merasakan hal yang sama padanya, dan bukan padaku.
Sesedih itu aku hingga tak dapat membedakan mana senyum palsu dan yang mana senyumku. Tentang kamu, tidak pernah ada yang tahu itu. Karena sesungguhnya aku, adalah orang yang paling mau kamu.
Pertamakali dengan perasaan ini, aku merasa bahagia. Dia menjadi temanku disetiap hari dan menjadi alasanku mencari wajahmu disetiap sudut ruangan itu. Aku selalu mencarimu dimanapun tempat yang sering kamu singgahi, walau sedang bersamanya.
Hingga akhirnya aku tertusuk duri asmaraku sendiri. Kau menjadikannya teman hidupmu. Memintanya mendampingimu didepan lensa mataku yang syarapnya terhubung denga otakku dan merangsang sampai ke ulu hatiku. Ingatkah kau aku meyakinkan sahabatku sesuai permintaanmu?
Aku melakukannya karena kamu. Saat dia menganggukkan kepala aku meremas jemariku dan berharap aku terbangun saat itu. Tapi hasilnya, dunia tetap saja berjalan. Dia semakin mencintaimu dan kamu yang tetap ingin menjaganya.
Walau akhirnya dia tidak perduli lagi denganmu, walau sering dia tidak ingin lagi mencarimu, walau dia selalu berbohong padamu, dan meski dia tidak membahagiakanmu. Kamu tetap ingin bersamanya. Aku berfikir kenapa tidak aku yang menggantikannya? Tapi kamu ingin raganya dan bukan ragaku.
Aku faham betul kamu, dengan mimpi-mimpimu, dengan sejuta harapanmu. Kamu bilang telingaku dirancang Tuhan untuk selalu bersedia menemani siapapun membicarakan keluh kesahnya termasuk kamu. Walau dalam rencana kehidupanmu, kamu selipkan dia didalam masa depanmu.
Sering kali aku tertawa melihat betapa bodohnya aku, yang tidak pernah bisa berkata tanpa dusta. “Kamu harus berusaha menjaganya, dia sangat mencintaimu.” Dengan terjemahan seperti : Apa kamu tidak lihat? Dia tidak mencintaimu secinta aku padamu.
Tapi aku yakin, cinta memang menjaga. Aku menunggu dengan putaran roda dunia. Dalam gelap, aku rasakan kertas dan pena. Tanganku merenung hingga terguratlah namamu. Ini bukan yang aku maksud. Tapi wajahmu memang ada dikelopak mataku. Sejahat inikah aku?
Rasanya ingin ku bunuh rasa ini juga segala pemikiran tentangmu yang lebih sering muncul dari pada pemikiranku tentang negara ini.
Seharusnya aku sakit hati dan pergi, tapi aku tetap saja ingin kamu. Tanpa menyakiti sahabatku, tanpa menyisakan dia dalam hatimu. Tapi aku terlalu egois jika itu terjadi.
Kamu selalu menelfonku sepuluh kali dalam sehari, hanya untuk menanyakan dia. Dan aku terkekeh geli dengan jantung yang tak pernah bisa diam saat aku mendengar suaramu. Walau sering tercekat nafasku saat kamu menyebut namanya dan bukan namaku.
Semestinya hatimu sesensitif kulit bayi. Agar kamu bisa sadar ada cinta rahasia yang aku bungkam didada.
Pernah sekali kamu bersandar pada pundakku dan berkata “kenapa disampingnya tidak senyaman saat aku ada disampingmu?”
Semuanya jelas, karena dia tidak menginginkanmu seingin aku padamu. Kamu tidak pernah mengerti makna dari kata “Hay” ku yang sering terdengar nyaring saat pertama kali tefonmu ku angkat. Dan kamu tidak tahu makna dari kata “bye” ku  yang terdengar lesu saat percakaan kita selesai. Kamu tidak mengerti serindu apa aku padamu. Jauh dari sesakit apa aku melihatmu merangkul pundaknya dan bukan aku.
Bertahun-tahun dengan rahasia ini, aku masih saja hidup. Bahkan aku menciptakan kamu didunia baruku. Dengan berbagai cerita dan puisi yang aku tulis sendiri. Kemanapun kamu, dan dengan siapapun kamu. Kamu tetap rahasiaku. Tidak pernah sedikitpun terbongkar orang lain selain Tuhan.
Seseorang berkata “Cinta akan menjadi akhir jika kita harus terkait dengan ikatan”. Aku mengerti, sampai aku tak mau itu terjadi. Mencukupkan kamu sebagai khayalan saja.
Sampai akhir cerita. Kamu dan dia berpisah karena orang ketiga. Bukan aku, sungguh. Sahabatku mencintai oranglain yang bukan kamu. Tapi dari tatapan itu, aku tetap melihat sorotan saat pertama kita saling bertemu. Tidak ada rancu, tidak ada ragu. Hatiku absurd seketika. Inikah saatnya?
Ku tawarkan diri untuk menemani sekedar mencari suasana hati yang lebih baik, dan kau bilang tidak perlu. Sempat menyakiti perasaanku. Padahal waktu itu, adalah hari terakhir aku bisa menemanimu.
Sahabatku datang padaku saat burung bermesin itu akan membawaku berkelana. Ku titipkan secarik kertas padanya untukmu. Dan kamu masih rahasia. Dia tidak tahu sepenting apa kamu untukku. Aku berdusta dengan berkata itu adalah hutangku padamu. Yang nyatanya itu adalah isi hatiku untukmu.
Dia berjanji memberikannya padamu tepat setelah aku terbang melewati hamparan kapas putih yang tidak pernah jatuh. Aku berpelukan, dia juga mengenalkanku pada seseorang yang kini menggantikan posisimu. Aku tersenyum dan berkata “aku pasti kembali, dan tetaplah bertukar cerita agar tak ada kegugupan saat kita bertemu nanti” dia mengangguk dan aku pergi.
Aku sudah berada di udara, melintasi setengah dunia ini dan menata perasaanku agar lebih siap untuk sebuah keadaan baru. Aku merasakan mungkin kamu sudah membuka isi tulisanku.
Aku ingin kamu mengerti bahwa aku selalu merahasiakan ini darimu, hanya karena aku sangat menyayangi sahabatku – juga kamu. Pilihan ada ditanganmu, menunggu atau berlalu. Maaf aku memulai sebelum kamu, tapi aku takut kehilangan kesempatan menatap mata itu.
Bacalah, meski tidak hari ini kamu mengerti, aku harap kelak kamu akan pahami. Ini aku yang sebenarnya. Sepatah kata, yang mungkin dapat kamu maknai perkataannya.

Teruntuk yang aku rahasiakan keberadaanya :
Kata R untuk Rindu
Menyelipkan satu maksud dariku padamu
Kata C untuk Cinta
Memiliki makna dariku untukmu
Aku berdusta untuk kediamanku
Aku mengoceh pada kesunyianku
Aku memiliki mu dalam relung khayal asmaraku
Aku mengaku rindu
Dengan mengatakan ‘tidak seperti itu’
Aku mengatakan cinta
Dengan berkata ‘mungkin bukan itu’
Aku merahasiakanmu dengan rasa ini
Agar suatu saat kamu mengerti
Cintaku mampu baik-baik saja padamu
Untuk waktu yang tak pernah kamu tau
Ingatlah aku pernah menyayangimu
Suatu saat nanti
Peluk aku saat aku kembali dan katakan apa maumu
Atau jangan temui aku dimanapun itu
Karena aku takut mencintaimu lagi
Lebih dalam dari rahasiaku kali ini

Dan saat aku membuka halaman demi halaman pada buku Diary ku, aku menemukan secarik surat berwarna merah kesukaanku. Disana ada sebuah foto dan kertas. Foto kau dan aku saat berada di sebuah tempat audisi bernyanyi. Foto ini sahabatku yang mengambilnya. Kita sama-sama tersenyum disana, betapa terkejutnya aku menyadari maksud dari tatapan kita.
Waktu itu, kita menyanyikan lagu Taylor Swift ft. Ed Sheeran – Everything Has Changed. Kamu yang meminta kita membawakannya, kamu bilang kita sama-sama menyukai Taylor Swift, dan sahabatku lebih suka Ellie Goulding.
Dan kita memenangkannya, menjadi juara ke 2 ‘The Best Couple’ hingga membuatku semakin merahasiakan cinta ini dan kamu. Ingin ku peluk kamu waktu itu, walau akhirnya kamu hanya mengacak-ngacak pelan poniku dengan senyuman yang membuatku selalu jatuh cinta padamu.
Dan secarik kertas itu aku baca, entah sejak kapan surat ini ada disana namun tulisan sederhanamu tertera disana. Sempat aku tak percaya dengan apa yang ada di sana. Mencari kata-kata yang mungkin bisa ku cerna. Namun semuanya tetap saja membuatku menjadi mabuk cinta, kamu menulis :
Teruntuk rahasia yang kutunggu kejujurannya:
Perasaan yang seharusnya aku berikan padamu
Waktu yang seharusnya aku tuangkan untukmu
Dan cinta yang seharusnya aku tahu itu kamu
Maaf terlambat untuk mengerti
Tapi bisakah kita membuka rahasia dihatiku saat ini?
Aku tak bisa melepaskan hati yang ingin ku miliki sekarang
Walaupun aku rahasia untuk bertahun-tahun lamanya
Tapi sekarang, aku ingin menunggumu kembali
Memelukmu dengan erat
Dan menanyakan
Sesulit apakah pengorbananmu selama ini?
Ceritakan rahasia yang Tuhan tahu padaku
Bersabarlah, rahasiakan aku sedalam kau mampu
Dan biarkan aku mencintaimu sedalam itu.

Saat aku kembali nanti, aku akan menyanyikan seratus lagu yang aku nyanyikan, menuliskan seribu puisi yang aku rahasiakan, dan sejuta kata-kata yang akan aku utarakan.

END..


#RST (2016)


Rabu, 06 Januari 2016

Real Love.


Menjadi seorang single parent tentulah tidak mudah, namun untunglah sebagai ibu, aku justru mampu membesarkan anak perempuan semata wayangku. Walau aku tau aku sibuk dengan dunia pekerjaan sebagai sekretais di sebuah perusahaan ternama, tapi anakku mampu memahami semua kerumitanku dan mengerti keadaan ini.
Teresa Agnia, itulah nama putri kecilku yang kini sudah duduk di bangku SMA. Memang terasa terlalu cepat karena mungkin aku yang tidak menyadari perputaran roda dunia.
Ayahnya meninggal saat sedang mencoba mendarat disalah satu bandara dengan pesawat yang sayapnya sudah habis terbakar. Pesawatnya lepas landas dan api terlihat di semua bagiannya. Suamiku ditemukan setelah 8 jam pencarian. Dia pilot yang baik kurasa, karena dia telah menyelamatkan 90 penumpangnya sebelum dia yang benar-benar tidak bisa diselamatkan.
Sejak saat itu, aku dan Echa putriku hidup berdua.
“Bun, hari ini bisa bolos kerja 4 jam? Ada rapat orang tua yang harus di hadiri semua orangtua tanpa terkecuali menjelang ujian kali ini.” Dia bicara dengan santai dan sopan, aku tak bisa menolak karena dialah hartaku.
Dia adalah apapun yang akan aku lakukan. “jam berapa?” Echa melihat selembar kertas di tangannya.
“jam 08.00 Waktu Indonesia Barat.” Yeaah, dia tersenyum dan kembali ke kamarnya untuk mandi dan bersiap berangkat sekolah.
Kemarin malam Echa bercerita tentang kerumitannya menghadapi pelajaran di semester ini. Aku katakan pelan-pelan saja karena aku juga tak menuntut apapun padanya. Tapi tidak dengan fikiran Teresa, yang dia inginkan hanya membuatku bahagia.
Aku pergi kesekolahnya setelah mendapat izin dari  direktur perusahaan. Seperti biasa aku selalu menjadi pusat perhatian setiap kali datang ke sekolah Echa. Betapa tidak, rambut sebahu yang kecoklatan, mata biru, tinggi badan, kulit putih, dan idung bangir. Seperti artis Holliwood bukan? tapi percaya atau tidak aku orang Indonesia ASLI !
Echa lebih seperti ayahnya dengan kulit kecoklatan dan rambut yang hitam pekat bergelombang, tapi Echa tetap memiliki gen ku seperti idung mancung dan tinggi badan yang ideal.
Dulu setiap kali ada yang mengejek warna kulit Echa, dia selalu bilang. “Aku akan cantik saat dewasa nanti, karena aku seperti Ayah yang tampan dan tidak tertanding oleh ayah-ayah kalian.” Wooww, aku selalu terkesan dengan keberanian anakku. Dan aku selalu bangga padanya untuk apapun yang dia lakukan.
Acara sekolah ini dimulai, tunggu... ini bukan acara orangtua menjelang ujian, tapi ini malah lebih ke pembagian hasil pembelajaran siswa di semester ini. Sial ! Echa menipuku, tapi aku tau maksud anakku. Setelah beberapa saat pembagian nilaipun dimulai dengan siswa berprestasi di angkatannya, semacam  pararel tertingggi dari sekitar 15 kelas siswa kelas 3.
Aku melihat sekitar dan tidak menemukan salah satu siswapun disana, ternyata benar. Ini hanya pertemuan orangtua dan konseling tentang lanjutan pergururan tinggi.
“Pararel ketiga teratas diduduki oleh... Fania Sinta Faridha dari kelas 12-E!” semua orang bertepuk tangan. Aku tersenyum saat menyadari ibunya adalah orang yang sedari tadi berada di sebelahku.
“Selamat ya jeng.” Kataku padanya dan diapun maju ke podium. “Dan pararel kedua teratas diduduki oleh... Joe Karlo Reivicky dari kelas 12-I!” hahaha, mereka memang anak yang berbakat dan hebat. Tapi itu tak sedikitpun membuatku minder pada buah hatiku. Bodoh atau pintar, dia adalah cahaya dalam hidupku.
“Daaannn, pararel pertama teratas diraih olehhhh.. ee, ee, ee, eeh tunggu sebentar. Agar bapak dan ibu lebih tegang, saya akan memberi sebuah gambaran tentang anak ini.” Okee aku mengenal anakku sangat detile, sedetile-detilenya.
“Baik, siswa ini perempuan. Berasal dari kelas 12-C.” Hah? Ada yang aku lupakan, Echa kelas apa yaa? “Dia cantik dan bertalenta di bidang musik juga teknologi.”
Apa yang Eca bisa? Bernyanyi? Yaa, ayahnya pandai bernyanyi dan Echa juga. Echa hanya bisa memainkan gitar aku rasa. “Ada yang merasa bahwa itu adalah kriteria putri anda?”
Damn! Aku ini ibu yang baik atau bukan sih? Teresa maafkan Bunda. “Tidak ada? Baiklah langsung saja karena mungkin orangtua memiliki segudang pengetahuan tentang semua hal tetapi hanya secuil pengertian untuk anaknya. Tapi maaf, karena sayapun merasa demikian hehe."
 Pernyataan guru itu benar dan aku memang buka ibu yang baik. “Daannn, pararel pertama semester ini di raih oleeehh... TERESA AGNIA dari 12-C !!!”
Sesaat kemudian terdengar suara merdu dentingan piano yang mengalun dengan lembut dan selanjutnya adalah suara yang sangat aku kenal..

Satu hal yang terindah untukku, kau ada didalam hidupku
Kau anugerah terhebat untukku, aku ada karena cintamu
Tiada pernah kau lelah untukku, senymmu selalu menemaniku
Walau aku suka semauku, dan terkadang kecewakanmu
Ku tahuuu
Mama, I thankyou for you loving me
Mama, jangan pernah worry-worry
 Mama, ku agakan nakal lagi
Mama ku sayang kamu

Saat itu tubuhku bergetar hebat, saat dia tersenyum kearahku dan semua orang bertepuk tangan.
Degggg...  perasaan ini?
Aku memeluk erat anakku dan membawanya pulang ke rumah. Dengan rasa haru, dengan rasa bangga. Aku tak bisa berkata, sedikitpun. Dia menatapku canggung. Aku rasa wajahnya pucat?
“Cha, mungkin kamu cape? Istirahat  sana. Nanti Bunda bawain makanan ke kamar.” Dia mengangguk seperti biasa dan kembali ke kamarnya. Aku siapkan  sandwich kesukaannya dengan susu coklat.
Tiba-tiba handphoneku berdering dan aku mengambilnya. Boss?
“Ya pak?.. oh iya-iya.. baik, ya.. saya kesana sekarang.” Dan aku meninggalkan anakku di rumah, hanya tak ingin menganggunya.
Aku datang ke kantor untuk meeting bersama klien yang datang dari Singapura. Ini kesempatan emas untuk perusahaan kami dan aku tak ingin menyia-nyiakannya. Kami memulai meeting namun fikiranku tak tertuju pada apapn yang dibicarakan atasanku disana. Aku sibuk mencari-cari hal ganjil yang aku rasakan sejak kejadian tadi siang.
Tunggu..  aku tidak mengeahui banyak hal tentang anakku, aku melupakan hal-hal penting dalam hidupnya dan hanya sekedar merayakan hari ulang tahun. Aku memberinya apapun yang dia butuhkan dan dia selalu sehat. Aku tidak pernah membawa Echa ke dokter atau rumah sakit seperti orang lain dan tidak pernah mengchekup keadaan Echa.
Aku tidak pernah membawanya jalan-jalan karena diapun tidak pernah meminta dan aku berfikir, everything’s gonna be okay. Apa aku yang bodoh karena tidak menyadari apapun tentang Echa?
Tiba-tiba degupan jantungku tidak menentu, semacam ada yang tercekik ditenggorokanku. Aku membukakan mata dan mereka semua menatapku. “maaf.” Hanya itu yang aku katakan.
Aku pulang dengan tergesa-gesa dan masih melihat makanan yang aku siapkan masih ada di meja itu, dan itu berarti Echa belum bangun. Aku meletakan tas kerja dan membawa makanan nya ke kamar Echa.
Knoq.. knoq.. knoq..
Ku ketuk pintunya dengan  hati-hati. Tidak ada yang bergeming didalam. “Echa, chaaa? Ini makanannya sayang buka dulu pintunya.” Apa Echa benar-benar lelah?
Ku pegang handle pintu dan,
 kreeett..
Tidak dikunci?
Aku masuk dan melihatnya tidur di karpet bawah dan memeluk boneka pemberianku saat ulangtahunnya dengan badan meringkuk.
Tuhan, mungkin Echa kesakitan. “Cha bangun yuu, kamu sakit?” tidak ada jawaban. “Echa?” aku membalikan badannya. Glekkk.. badannya terkulai lemas
 “Oh My God.. Echa !! Teresa ! bangun Cha ! please jangan buat Bunda takut chaa !!” aku panik dan berasa ingin menjerit sekencang-kencangnya. 
Blangkar di dorong oleh para suster dengan wajah mereka yang serius.
Aku takut saat memegang nadinya yang sama sekali tak bisa aku rasakan. Tuhaaann, jangan ambil Echa. Aku menangis saat suster membawanya ke dalam ruang Instalasi Gawat Darurat.
Setelah beberapa saat dokter keluar dengan memijat-mijat jidatnya. Aku berlari mendekatinya dan menanyakan keadaan putriku. Dia menggeleng dan aku berteriak sekali lagi. Dia mengajakku keruangannya dengan seorang suster yang memayangku.
“Kenapa dok? Kenapa...” suaraku benar-benar bergetar dan aku tak bisa  berbicara lagi. “maaf apa anak ibu tidak pernah mengatakan apapun?” aku menggeleng.
“dia sudah  3 kali terapi dirumahsakit ini.” Aa.. apa? Dokter itu mengangguk “Dia mengalami Kanker Otak yang ganas dan kami tidak dapat menahannya karena dia tidak ingin kehilangan rambutnya dengan kemoteraphi dan membuat anda curiga. Jadi dia hanya menjalani terapi untuk tetap bertahan sampai waktu ini. Saya menahan untuk semua planingnya. Tapi dia bilang dia merindukan ayahnya tapi dia tidak ingin membuat anda sedih.”
Bagaimana? Bagaimana aku sesibuk ini tuhaaannn !
Sejak saat itu aku hidup sendiri dan benar-benar sendiri. Sepulangnya dari pemakaman ada seorang lelaki tampan seumuran Echa yang mengantarku pulang.
Dia habis menangis, aku bisa melihatnya. “Maaf tante, saya Gaga teman terdekatnya Teresa. Mungkin bisa dibilang kami menjalin hubungan akrab. Teresa sering cerita tentang tante dan saya mengagumi tante walau hanya tau dari sebuah cerita. Teresa orang yang hebat, kuat, cantik dan segalanya untuk saya. Maaf tante, tapi saya mencintai putri tante.” Anak laki-laki itu menjatuhkan air mata didepanku.
“ternyata putriku seluar biasanya itu sampai bisa membuat seorang lelaki tampan menangis? Terimakasih sudah menemani, menjaga dan mungkin menghibur anak saya nak Gaga.” Dia mengangguk dengan meremas-remas tangannya.
“Panjang umur tante. Saya pamit.” Aku menepuk bahunya pelan dan mengangguk.
Aku masuk lagi ke ruangan ini, istana bagi Echa. Tempatnya menangis dan tertawa tanpa sempat aku ketahui kebenarannya. Aku duduk di ujung tempat tidurnya dan melihat sekitar.
“Anakku rapi juga ternyata menata semua barang.” Aku mulai berdiri dan melihat ke kaca riasnya. Banyak note kecil tertempel di tembok samping kaca riasnya. Dan hanya satu kertas putih yang terlipat. Aku membawanya dan kubuka.
“Surat?” aku duduk dikursi riasnya dan menatap kaca sekejap, merasakan betapa dunia benar-benar berputar dan membuatku gila. Mataku mulai terfokus pada kata demi kata di kertas itu.

Untuk Bunda,
Bun, semesta tau betapa aku sangat mencintai bunda lebih dari hidupku. Saat aku benci dengan kesibukan bunda, aku berfikir tentang bagaimana bunda membuatku tetap hidup dengan mempertaruhkan segalanya. Dan aku sadar yang aku punya hanyalah pengertian dan kasih sayang untuk bunda. Tapi bun, beberapa malam terakhir aku menangis kesakitan. Aku ngin dipeluk tapi bunda tak ada, aku ingin mengatakannya tapi aku tak terbiasa dikhawatirkan bunda, jadi aku bingung dan benci dengan semuanya. Aku tau saat memulai aku harus mengakhirinya. Jadi bun, maafkan aku.
Tapi sebelum aku benar-benar membuat bunda sedih, aku ingin membuat bunda bahagia dan bangga padaku. Harapan bunda, meski hanya sekali saja aku ingin bisa mewujudkannya. Biarkan aku mengakhiri kebencian pada dunia ini bun, bunda harus bahagia dan aku akan menjaga bunda dari manapun tempatku. Tetaplah tersenyum karena aku nggak suka bunda muram. Ingatlah selalu kalau aku pernah menjadi yang terindah untuk bunda.
Xoxo

Teresa Agnia
Aku sadar tentang kebencianku pada dunia dan aku berusaha melupakannya, tapi yang aku mengerti setelahnya adalah.. Hanya karena terjadi di masalalu, bukan berarti itu akan lenyap.

End.


#RST (2015)