COLOR SECRET
(Cinta tidak pernah Amnesia)
Dimana aku?
Siapa aku?
Siapa mereka?
Saat pertama
kali membuka mata, yang aku ingat hanya sebuh kata-kata ‘nggak mungkin dia amnesia dok, nggak mungkin ! Redha !!’
Suara berat,
dan suara tangisan wanita tua terdengar kala itu. Sedangkan disana ada dua
orang berpakaian putih-putih. Apakah itu
malaikat yang menjelma menjadi manusia? Ingin rasanya membuka mata selebar-lebarnya,
namun kepala yang bersandar pada sesuatu yang empuk ini sangat berat dan sakit
jika aku mencoba bergerak.
Lalu, aku
kumpulkan semua tenaga yang tersisa hanya untuk memberi tahu mereka bahwa aku
masih ada. Dan seseorang dengan tangan lembut menggenggam tanganku yang
tulangnya terasa remuk.
“Redha? Kamu
sudah sadar sayang? Ini mamah nak.” Aku membuka mata dan melihatnya dengan air
yang mengalir dari mata, ke pipi, kemudian jatuh kemanapun air itu mau.
“Ma.. maa..
hh?” Sungguh kaku rasanya isi leherku, seperti belum pernah minum selama satu
mingggu.
“Iyah sayang
ini mamah. Dan ini kakak mu, Jingga.” Laki-laki itu maju selangkah dan aku
melihatnya. Tapi, siapa dia? Siapa juga mereka? Mamah? Kakak? Apa aku pernah
memiliki hal semacam itu?
“Ma.. mah? K..aa..
kak?” wanita tua itu mengangguk berkali-kali. Lalu mengecup keningku. Sementara
laki-laki itu tetap saja menatapku seperti tatapan iba. Kenapa denganku?
☬
Mereka
membawaku ke sebuah rumah yang lumayan asing, rasanya aku pernah ketempat ini
tapi aku tidak yakin itu kapan. Laki-laki yang harus aku panggil kakak itu
mengantarkanku ke sebuah ruangan yang dia bilang “Ini kamarmu Redha.”
Aku
kebingungan karena tak mengenali apapun. Di tempat ini – yang katanya adalah
kamarku, banyak sekali foto-foto. Wow
kereeenn. Juga ada beberapa type kamera berjajar di atas rak foto itu. Aku
susuri foto yang menepel hampi disatu bagian dinding.
Sepertinya dinding ini khusus untuk galeri. Ada
wajahku dan wajah seorang laki-laki. Ada seorang perempuan dengan wajah centil.
Ada foto laki-laki dan wanita itu – yang katanya mamah dan kakak. Ada potret
wajahku dan wajah seorang laki-laki tua. Dan masih banyak lagi.
“Redha, ini
coklat panas kesukaan mu.” Kakak itu
membawakanku minuman dengan mugh bertuliskan Burning Red.
“Terimakasih.”
Dan dia mengangguk lalu duduk di ujung tempat tidur-ku.
“Redha, apa
kamu ingat sesuatu dari foto-foto itu?” dahiku mengerut dan aku enggeleng.
“Bisa tolong
kenalkan orang-orang ini?” dia mendekatiku dengan membawa kursi dari dekat meja
yang penuh dengan buku-buku.
Dia mulai
menunjukan satu persatu dimulai dari yang paling atas. “Yang ini, namanya Gery,
dia temen kamu waktu SMP yang paling kamu benci. Kamu mengambil gambarnya saat
pertama kali punya kamera Lomo dari papah. Kamu bilang, orang yang kamu benci
suatu saat bisa jadi bertemu lagi dengan perasaan yang berbeda.” Aku hanya
mengangguk-nangguk tidak mengerti. Hehe
“Papah itu yang ini. Papah bahagia
banget punya kita. Karena buat papah, punya anak sepasang itu anugerah luar
biasa. Sampai akhirnya papah meninggal karena serangan jantung.” Aku meringis.
“Ini Viola,
sahabat perempuanmu saat masuk SMA. Kamu bilang dia populer karena dia centil
dan feminim. Kalau ini Jendra, sahabat karib kakak yang kuliah di London. Kamu
bilang suatu saat kalau kamu hunting ke sana kamu bakal hubungin Jendra.”
Ooooh, jadi aku punya mimpi.
“Kalau
laki-laki ini? Kenapa banyak sekali foto laki-laki ini?” aku menunjuk foto yang
ekspresinya berbeda dari yang lan. Itu seperti wajah colongan.
“Dia Gray,
nama aslinya Gio Rayanto. Dia tetangga kita sejak kamu TK. Kamu dan dia sangat
dekat. Tapi pada akhirnya dia dan kamu harus berpisah karena dia melanjutkan
study di New York. Kamu tidak suka New York karena orang-orang disana absurd.
Tapi dia hanya bisa dapat beasiswa disana. Kamu selalu baik-baik saja saat
bersama Gray. Tapi, kamu jadi sering badmood sejak kepergian Gray 6 bulan yang
lalu.”
Apa? 6 bulan?
Selama apa aku tidur? Sampai-sampai aku lupa sama sekali dan tidak ingat
apapun? Apa Amnesia itu yang membuatku seperti ini? Aku melihat
mugh yang aku genggam, isinya sudah setengah habis. Rasanya manis, enak dan
menenangkan.
“Apa aku dan
Gray itu punya hubungan?” dia menggeeng.
“Aku nggak
yakin, soalnya setiap aku tanya kamu Cuma jawab Gray itu sahabat hidup kamu.
Kamu nggak pernah bilang pacaran atau yang lain semacamnya. Kamu juga lebih
sering menemukan hal baru dengannya. Kamu mencintai lensa juga karena Gray.
Kamu bilang, dunia paling menyenangkan adalah dunia lensa. Karena gambar adalah
sesuatu keabadian yang memiliki cerita yang hanya kamu sendiri yang paham. Kamu
juga sangat senang menikmati coklat panas saat hujan dengan Gray, atau sekedar
makan mie rebus.” Seperti itukah?
“Aku nggak
tau jelas, kamu memang sering menceritakan hal-hal yang kamu rasakan padaku.
Lebih sering dari pada kamu bercerita pada mamah. Tapi hanya tentang Gray kamu
tak benyak bicara. Dia cinta lensa tapi dia tidak suka menampakkan dirinya
didepan lensa. Itu katamu.”
“Apa dia
sering masuk kekamar ini?” kakak mengangguk.
“Lalu,
berarti Gray tahu aku sering mengambil potretnya? Kenapa dia tidak marah?
Bukannya dia tidak suka?” lalu kakak tersenyum. Sepertinya aku memang harus
terbiasa memanggilnya kakak.
“Dia sama
sekali tidak bisa marah padamu, semenyebalkan apapun kamu. Karena kamu dan dia
sering melakukan hal yang sama. Dan dia hanya marah saat dia khawatir padamu.
Semua orang juga begitu. Kamu mampu membuat siapa saja mudah menyayangimu.”
Benarkah?
Lalu apa hal yang harus aku lakukan sekarang saat orang – yang mungkin berarti,
itu tidak ada disampingku?
“Kak? Bisa
tolong ceritakan apapun yang kamu tau tentangku?” dia mengangguk.
☬
“Astaga
Redhaaaa !! kangen banget tahu ! nyebelin yah ga ada kabar sama sekali ! kemana
aja sih?” suara ceria laki-laki itu membuat jantungku mendadak terpompa.
Disebrang sana dia memanggil-manggil nama orang yang sedang terpaku disini.
“Eh, eh,
maaf.. saya, kamvreett maksudnya aku
lagi ga konsen, sorry.” Dia membuang nafas.
“Loh kenapa
lagi? Punya masalah? Cerita dong.....” nadanya sedikit manja, tapi dari wajah
yang aku liat dari fotonya dia orang yang dewasa. Dia jua ternyata sering
membuatku bahagia ternyata.
“Engga kok,
aku baik-baik aja. Kamu kapan pulang?” dia berdecak.
“Belum
dikasih surat free nih, masih ada tugas numpuk juga. Siang ini panas banget.
Indonesia dingin?”
Dan begitu
seterusnya kami berbincang-bincang.
Seperti orang
yang mengetahui segalanya. Seperti orang yang tidak pernah diperban dikepala
sebelunya. Dan seperti orang yang tidak sedang duduk di kursi roda. Aku
tersenyum, tertawa lalu kebingungan. Untungnya Diary – yang mungkin sering
kutulis, ini membuatku tidak terlihat linglung. Sampai akhirnya satu jam kami
bercakap-cakap kami harus berpisah karena dia ada kelas.
“Bye, besok
kalo enggak sibuk aku telfon lagi yah.” Aku terkekeh.
“Siap !”
“Ya udah,
selamat malam Redha.” Aku tersenyum mendengar suara yang tiba-tiba terdengar
berat untuk suasana seperti itu.
“Okey,
selamat malam Gray.” Dan telfonpun ditutup.
☬
Sunrice
ditempat ini sudah limabelas kali aku temui. Itu tandanya aku masih tetap saja
tak bisa ingat apapun selama ini. Damn !
Kakak selalu
dengan setia mencoba membantuku mengingat apapun yang mungkin terkait dengan
kehidupanku. Aku tidak ingat Viola, aku tidak ingat papah, aku tidak ingat
keluarga, dan aku tidak ingat kenapa aku bisa seperti ini. Aku pernah berteriak
sekencang-kencangnya saat kepalaku sakit luar biasa dan tiba-tiba bayangan aneh
muncul.
Viola datang
kerumah dengan membawa bucket bunga dan buah-buahan. Dia terkejut melihatku
duduk dikursi roda dan selalu bertanya-tanya tentang apapun yang dia ceritakan.
Apakah amnesia ini permanen? Aku ketakutan setengah mati.
Bagaimana saat Gray pulang dan melihatku
seperti ini?
Tunggu kenapa
juga aku harus khawatir dengan kedatangan Gray? Apa aku sudah menemukan
sesuatu? Dan kenapa saat aku tidur aku juga sering melihat Gery yang ada difoto
itu? Apa hubungannya dengan semua ini?
Viola
mengajakku jalan-jalan ke taman dekat kompleks rumah, dan membiarkanku mencoba
mengingat sesuatu dengan memotret apapun yang ada disana. Viola pernah
menangis, dan aku terenyuh.
“Kita
bersahabat nggak sehari dua hari Redha ! wajar gue sedih liat lo kayak gini.”
Lalu aku memeluknya. Setidaknya dia bisa menangis di pundakku.
Sampai saat
ini, aku masih belum tahu penyebab kecelakaan yang sebenarnya itu. Yang aku
ingat sedikit demi sedikit adalah aku berlari dan mendorong seseorang. Aku
tidak ingat siapa yang aku dorong dan karena apa aku mendorong orang itu?
Kakak pernah
mengingatkan aku bahwa aku dan Gery satu kampus. Aku mengambil jurusan Sastra
Inggris dan Gery mengambil jurusan Fisip sedangkan Viola mengambil jurusan
Ekonomi Perbankan. Aku masih tidak mengerti apa yang dimaksud kami sangat dekat. Apa kami hanya
bersahabat? Atau apapun itu?
☬
Malam itu aku
bermimpi lagi. Disini semuanya jelas. Tentang siapa orang yang aku dorong. Dan
orang yang aku dorong adalah Viola, yang saat itu mobil silver menghantam keras
kakiku dan membuatku terpental lalu jatuh dengan kepala lebih dulu. Hanya itu.
Aku
menanyakan pada kakak, apakah saat aku berada dirumah sakit ada orang yang
menabrakku waktu itu? Tapi dia bilang semua itu tabrak lari. Sial !
Pada hari selanjutnya,
adalah hari ulang tahunku. Kami makan bersama di halaman belakang rumah yang
didekor dengan sederhana namun cantik oleh kak Jingga, Viola dan mamah. Aku
senang dengan nuansa merah menyala juga balon-balon yang terapung dikolam
renang dengan tulisan selamat ulangtahun untukku. Yang datang hanya kak Jendra
yang baru pulang dari London dan Viola.
“Malam ini
adik kecilku tercinta genap berusia 20 tahun. Semoga diusianya yang semakin
dewasa ini, dia jadi wanita yang tegar dan sukses. Amin” aku mengamini dan
mereka menyodorkan kue blackforest dengan lilin berangka 20. Aku membuat
permintaan pada Tuhan.
“Semoga Redha
cepet inget semuanya Tuhan.” Aku bergumam, dan semua mata melihatku. Aku hanya
bisa nyengir kuda dan meremas-remas jemariku. Kalau-kalu ada kata yang salah
telah aku ucapkan. Aku meniup lilin. Semoga terkabul bersamaan dengan matinya
api dililin ini.
Mamah
mengecup keningku sambil meneteskan air mata. Mungkin dia benar-benar seorang
ibu yang berjuang sendir membesarkan anaknya setelah papah meninggal 15 tahun
yang lalu. Itu yang dikatakan kak Jingga.
Saat itu kak
Jendra memberikan kado ulang tahun untukku. “Aku buka yah kak?” dia mengangguk.
“Waaaahhh..
makasih banget ya kak.” Aku bahagia walau aku tidak yakin ini wajahku atau
bukan, karena aku tidak ingat kapan aku punya potret seperti ini.
“Kamu suka?
Ini kakak bikin saat liat foto kamu di instagram.” Apa itu? Kenapa aku tidak
tahu aku punya hal semacam ini? Damn ! aku lupa kalau aku juga tidak pernah
membuka hanphone lagi selain melihat message ataupun mengangkat telfon dari
Gray.
“Ini kado
dari gue Red.” Aku menerima hadiah dari Viola dan membukanya.
“Oh my God,
cantik banget sepatunya. Makasih yah !” lalu tanpa rasa apapun aku memeluknya. Sekali
lagi melihat sepatu merah dengan highils sekitar 7 cm, sangat cantik.
“Kalo ini
kado dari kakak, semoga kamu suka.” Aku tersenyum meraihnya dan tak sabar
membukanya.
“What the
f... ohh Tuhan, kamera 5mm. Ah kakak.” Aku memeluknya erat dan dia mencium
keningku. Entahlah apa yang aku ingikan sebelumnya yang jelas aku bahagia
menerimanya.
Namun
tiba-tiba suara merdu yang sering aku dengar hanya disambungan signal itu
tiba-tiba berasa ada di belakangku. Seperti memanggil dengan pelan, “Red..”
katanya. Semua mata terbelalak kecuali aku yang belum bisa berbalik. Kakak
berkata “G..” semacam ingin mengatakan sebuah nama.
Aku berbalik
dengan hati-hati berharap itu bukan dia, orang yang – mungkin, aku tunggu
selama ini. Dia disana dengan sekotak hadiah berwarna merah yang dia genggam
ditangannya.
Tapi berapa
kalipun aku mengedipkan mata, hasilnya tetap dia. Orang yang wajahnya ada difoto,
ceritanya ada di Diary dan suaranya hanya ada di telfon. Dan sekarang raganya
ada disini. Sejak kapan?
Dia
membungkam mulutnya dan terlihat badannya gemetar, sedangkan air turun dari
matanya. Kakak bilang hal seperti itu disebut menangis. Apa dia menangis?
Berarti yang kakak katakan itu benar, dia sangat menyayangiku dan akan sangat
terpukul saat aku terluka. Jadi selama ini aku hanya perlu merahasiakan semua
ini darinya. Tapi aku tidak bisa berfikir dampaknya akan seperti ini.
Dia melangkah
mendekatiku, menyentuh kursi roda yang aku duduki dan berlutut di hadapanku.
Dia melihat jauh kedalam hati dan fikiranku. Mencari-cari jawaban yang mungkin
saja bisa ia temukan. Namun, “Gelap.” Katanya. Sambil menyeka air mata yang
juga keluar dari mataku.
Aku tidak
mengerti, sepertinya aku dan dia tidak menangis kencang. Lantas suara siapa
yang paling nyaring terdengar dengan tersedu-sedu. Aku dan Gray menengok ke
arah Viola. Dia menangis, hingga membuat bahunya bergetar hebat. Ada apa? Gray
bangun dan memegang bahu Viola, tapi dia menyembunyikan wajahnya dibalik rambut
sebahunya. Kami semua bingung.
Saat itu Gray meletakkan kotak
merah itu dilututku. Aku menyentuhnya dan tersenyum. Tapi, tiba-tiba kepalaku
berdenyut-denyut dan bahkan semakin keras. Hingga... “Awww..”
Aku menjerit.
Lalu memori itu seakan muncul bertubi-tubi di kepalaku. Aku jatuh pingsan. Yang
aku dengar hanya suara Gray yang terus memanggil-manggil namaku. Aku terkulai
lemas saat menyadari tubuhnya membawaku kekamar. Semua orang mengikuti, mungkin
kak Jingga langsung memanggil malaikat berbaju putih itu. Sampai akhirnya aku
terbangun kembali.
☬
“Red, lo
maukan jadi cewe gue? Gue nyaman Red sama lo. Kita udah kenal lebih dari
bertahun-tahun Red” Orang ini terus mendesakku untuk menerimanya. Ini kali ke
tiga dia menembakku. Dan sekarang, dimuka umum.
“Ger, kamu
nggak ngerti juga apa? Aku gak bisa jadi pacar kamu. Kamu harusnya tahu, orang
yang sayang kamu itu bukan aku !” dia
mencengkram bahuku kuat.
“Terus siapa
Red? Siapa?” aku sudah berjanji akan merahasiakan pada Gery kalau sebenarnya
Viola telah mencintai Gery sudah lama. Walau Gery tidak sadar bahwa yang selama
ini sering membalas pesannya adalah Viola bukan aku.
Aku coba menjelaskan
semuanya dari awal tanpa harus menyebutkan siapa orangnya. Aku juga mengatakan
bahwa aku mencintai oranglain yang bukan dia. Dia akan bahagia jika itu tidak
denganku. Aku tidak mencintai siapa-siapa selain Abu-Abuku. Aku tidak ingin
menyakiti warna terangku Viola.
Dia sahabat
perempuan yang selalu mengerti aku dan membantuku apapun yang aku butuhkan. Aku
hanya perlu menjaganya dan perasaannya, melakukan apapun yang membuatnya
bahagia. Aku hanya belajar membahagiakan orang lain yang juga selalu
membahagiakanku.
Aku tidak
ingat bahwa saat itu aku berada di tempat yang sangat ramai. Semua ini karena
Gery yang menyatakan cinta di koridor kampus. Siapapun bisa melihat bahkan
tikus got sekalipun. Saat aku mencoba menjelaskan Gery tidak ingin mendengarkan
dan tetap berteriak.
“GUE NGGAK
PEDULI SIAPAPUN YANG CINTA SAMA GUE. GUE CUMA SAYANG SAMA LO REDHA WIJAYA !!”
Dan semua kuping mendengarkata-kata itu. Aku tertunduk, dan aku harus menerima
konsekuensi jika Viola mendengar ini semua.
Dan ternyata
benar, dia terpaku disana. Berdiri dan memeluk buku-buku mata kuliahnya dengan
air mata yang tidak bisa ia seka. Aku melihatnya. Aku berteriak memanggil
namanya dan seketika itu dia lari sekuat yang dia bisa.
Aku
mengejarnya dengan menabrak siapapun yang aku lewati. Aku hanya tidak ingin
kehilangan sahabatku dan mengacaukan semuanya hanya karena kesalah pahaman
belaka. Dalam hati aku berteriak memanggil nama Gray. Entahlah tapi aku butuh
dia saat itu.
Viola
menyebrang jalanan yang penuh dengan kendaraan. Dia berhasil melewati jalan
pertama, tapi di sebrang jalan sana. Ada mobil silver melaju dengan kecepatan
tidak terduga. Saat itu yang aku fikirkan hanya keselamatan Viola.
Aku
mendorongnya dan dia tersungkur ke trotoar. Sedangkan aku, yang aku ingat hanya
aspal, darah, keram di kedua kaki, dan telinga yang mengeluarkan suara seperti
mengiung yang tidak berhenti.
Aku
mencari-cari sosok Viola, ingin aku berkata “Ma.. aaa.. ff.” Namun sulit karena
bibirku terasa perih. Aku takut hari itu mati dan Viola tetap menyimpan dendam
padaku. Aku takut tidak bisa mendengar ocehannya yang seperti suara kereta api
ketika sedang bercerita tentang orang yang dia suka. Dan aku tidak segila itu
untuk merebut apapun darinya.
Meskipun
hanya seorang sahabat dengan kepribadian yang berbeda, tapi aku tetap
menyayanginya. Sesayang aku pada kak Jingga. Dia sudah seperti saudara untukku.
Aku ingat,
saat aku tertidur aku melihat Gery ada di balik kerumunan itu. Membawaku ke
rumah sakit dan saat aku terbangun, aku tak ingat apapun.
Itu yang
sebenarnya terjadi.
☬
Aku membuka
mata dan melihat malaikat berbaju putih itu lagi. Dia melihat keadaan ku dengan
memegang pergelangan tanganku.
“Dia sudah
sadar bu.” Mamah langsung memelukku.
“Kenapa kamu
nggak bilang dari awal kamu gini sih.” Seorang lelaki yang selalu aku tunggu
kedatangannya ada di sebelahku. Mengenggam erat tanganku dan aku tersenyum.
“Aku Cuma
nggak mau bikin kamu khawatir.” Dan hanya kata itu yang keluar.
Aku
mencari-cari kak Jingga, kak Jendra dan Viola. Tapi mereka tidak ada dikamarku.
Senang rasanya ingatanku kembali bersama orang yang aku cintai. Sstttt aku
tidak ingin dia tahu aku memiliki rasa ini.
Dokter dan
mamah berbincang-bincang. Aku tidak ingin tahu karena aku lebih terfokus pada
cerita Gray semasa ia disana. Dia punya waktu satu bulan free dan akan dia
habiskan denganku. Lega mendengarnya.
Saat akan
mengerakkan badanku, rasanya aku sudah berakar. Berat dan sakit. Kakiku masih
terasa keram dan kepalaku yang terus menerus berdenyut.
“Bagaimana
mungkin aku mengahabiskan waktu denganmu sementara keadaanku seperti ini?” di
terkekeh. Sama merdunya saat pertama kali aku mengetahui dia punya suara tawa
yang renyah.
“Enggak usah
khawatir. Besok kamu udah bisa lari kok. Percaya deh !” aku mencubit hidungnya
gemas.
“May I ?” dia
melihat mataku lebih dalam, seperti membawaku terhanyut dalam tatapanku
sendiri.
“Trust me !”
dan dengan gayanya yang seperti itu, aku percaya selama bersamanya semua akan
baik-baik saja.
☬
Aku berjalan
bersamanya dipinggir pantai dengan background sunset. Dia merangkul pinggangku
dan terus mengecup kepalaku sampai aku merasa bibirnya memang menempel di dahi
kananku. Aku meraba raba-raba benda yang melingkar di jari manis kiriku. Aku
tersenyum mengingat dia yang meminta agar aku bersedia menunggunya dan tetap
bersamanya sampai saat itu tiba. Mamah merestui kami seperti beliau merestui
kak Jingga dan kak Senja.
“Kamu tahu
kenapa aku nggak mau difoto?” aku menggeleng.
“Karena aku
mau kamu kangen aku setiap saat tanpa harus puas dengan liat foto aku.” Aku
terkekeh.
Dia memang
sahabat hidupku. Aku senang akhirnya Viola mengerti bahwa orang yang aku pilih
adalah Gray. G yang selalu aku tuliskan disetiap status media sosialku adalah
Gray dan bukan Gery. Viola hanya salah paham, dan aku mengerti itu.
Aku pernah
lupa dengan apapun yang pernah terjadi. Tapi aku tidak pernah bisa untuk tetap
lupa kalau aku mencintai seseorang yang aku kenal sejak kecil. Aku bahkan tidak
ingin menyakitinya sedikitpun.
Orang yang
selalu mampu membuatku ingat tentang apapun yang aku lupakan. Orang yang akan
tetap selalu aku ingat walau raganya tidak ada disampingku. Orang yang akan
selalu aku pertahankan. Dan orang yang tak akan pernah aku khianati.
Cinta adalah
hal yang tak bisa aku sembunyikan seberapa keraspun aku mencoba. Seperti garis
koordinat, kita akan selalu kembali pada titik yang sama dari manapun arahnya.
Seperti kak
Jingga yang menemukan kak Senja. Aku juga telah menemukan abu-abu dibalik
merahku. Aku mengerti dia adalah rahasia dibalik warnaku.
END
#RST (2016)