Terpopuler

Minggu, 16 Oktober 2016

Sepucuk Mimpiku Bersamamu.


apa hubungannya kisah kita dengan omongan orang lain? mereka hanya penonton yang harusnya mengambil pesan dan kesan dari jalan kita. mereka berhak berkomentar karena kita juga tidak sempurna.

aku masih senang bernyanyi lantang di jok belakang motormu sambil memeluk pinggangmu dan menyandarkan kepala di bahumu. aku masih senang mendengar tawamu karena tingkah konyolku. aku masih senang tersenyum didepan kamera yang kau atur untuk mengambil gambar terbaikku. aku masih senang menjadi pencerita heboh yang membuatmu sesekali menggeleng kecil karena mendengarkan celotehan anehku saat bercerita.

mimpiku terlalu tinggi dan hanya kamu yang bisa mengimbanginya. mimpiku banyak, dan hanya bersamamu aku ingin mewujudkan semuanya. aku ingin izin Tuhan untuk kita. aku ingin kita menjalani alur yang sudah Tuhan sediakan.

sekuat hatiku, akan ku genggam percayamu dan menjadi pendamping hidupmu. di tahun-tahun berikutnya, aku tidak ingin menjadi seseorang yang baru lagi, aku tidak suka membenahi diri untuk manusia yang lain lagi. aku ingin kau melengkapi sisa-sisa perjalanan kita. aku pahami kamu seperti kamu yang tak bisa berhenti memahami bagaimana aku.

disegala lelah yang kita jalani, jangan pergi hanya karena arahku tak sejalan. aku hanya tulang rusukmu yang tak bisa lurus. maka dari itu jadilah penuntun dan penyabarku.

aku tidak senang dengan akhir jika ujungnya kamu bukan denganku. aku ingin kita menata mimpi untuk hari-hari berikutnya. tertawa seperti hari-hari sebelumnya. biarlah aku menangis karena mencemaskanmu, biarkanlah kamu marah karena mengkhawatirkan aku. biarlah kita bertengkar karena saling tidak ingin kehilangan.

aku hanya ingin menerjang hujan denganmu, dan biarkan aku menjadi kehangatan untuk dinginmu. seperti kamu yang selalu menjadi teduh dari panasku dan meredupkan silauku.
aku hanya ingin jatuh cinta padamu saja setiap detiknya. menjadi lebih baik untuk masa depan kita. tak apa jika Tuhan mencoret apa saja yang sudah kita ajukan. setidaknya Dia akan membetulkan apasaja yang salah dari kita.

karena aku selalu bahagia menjadi alasan dari perjuanganmu selama ini. aku bahagia karena masih diberikan manusia yang selalu perduli sepertimu. aku bahagia menjadi seseorang yang kau cari dari sepimu. aku merasa bangga karena menjadi seorang yang kau cari peluknya saat hatimu terlelah.
aku sudah tak bisa membuat puisi tentangmu, karena sudah tak ada lagi kata yang bisa mewakilkan bagaimana bahagianya aku dicintai oleh manusia sepertimu.

kau tahu? aku selalu suka duduk disampingmu berbincang tentang mimpi, suka, dan duka perjalanan kita. aku selalu suka saat menangis lalu kau tenangkan aku dengan mencubit pipi dan mencium keningku. aku selalu suka dengan pelukan yang membuatku nyaman saat terluka gundah. aku suka genggaman tangan yang kuat saat berjalan di keramaian. aku suka berlari lebih depan darimu dan kau kejar karena takut aku menjauh darimu.

aku ingin minta maaf karena sabarmu pernah aku remehkan. aku minta maaf karena perjuangan mu pernah aku abaikan. akupun minta maaf karena cinta sempat ku bagi. tapi seberapa kali ku fikirkan, tak ada yang mampu mengerti aku sebaik kamu. dan aku faham bahwa Tuhan memberikanmu lebih cepat dari yang seharusnya.

karena Tuhan tahu aku sendirian, karena Tuhan tahu aku seseorang yang rentan terluka, karena Tuhan tahu aku harus dilindungi dari kesakitan. dan bersamamu, aku merasa aman. bersamamu mimpiku tak berantakan. bersamamu, 'suatu hari nanti' yang aku nantikan menjadi 'suatu hari' yang kita rencanakan.

#RST

Curahan Hati untuk Nique.




Aku melanjutkan hidupku di SMA dengan berbagai macam cerita cinta. Oh percayalah, aku tak ada bedanya dengan anak-anak remaja SMA pada umumnya. Aku memang tidak berubah, hanya saja aku lebih senang menyibukan diri di sekolah. Aku sering berlayar di jejaring sosial untuk sekedar update status atau bahkan mencari tahu apapun yang ingin aku tahu. Seperti halnya perguruan tinggi mana yang akan menjadi pelabuhanku nanti.
Awal masuk ke SMA swasta ini, aku tidak pernah punya fikiran akan menjadi sesibuk ini. Menjadi orang yang populer di sekolah dan semua guru juga murid banyak yang membicarakanku. Entahlah, aku tidak begitu peduli dengan topik pembicaraan mereka. Aku rasa aku hanya ingin menjalani masa-masa SMA dengan baik-baik saja – seperti datang kesekolah tepat waktu, belajar, istirahat dan pulang. Tapi kenyataannya banyak kegiatan yang ingin aku ikuti hingga membawaku bertemu dengan seorang Pengurus OSIS senior, panggil saja Hilman. Dia memang dikenal oleh hampir semua siswa-siswi disini. Dia tidak berbeda dengan laki-laki pada umumnya menurutku, hanya saja bisa aku akui dia memang, manis.
Sebelumnya, dia kakak kelas yang baik dan senior yang perhatian. Aku menyukainya hey, sungguh. Alis tebal yang di kedua sisinya hampir beradu dan sering terangkat sebelah saat dia penasaran. Oh itu benar-benar yang aku sukai dari apapun yang aku pernah lihat. Kamu pun memilikinya Niq, dan maka dari itulah aku mencari sesuatu yang mungkin bisa mengobati rinduku padamu, dari oranglain.
Saat aku adalah calon peserta didik baru yang mengikuti MOPDB (Masa Orientasi Peserta Didik Baru) di sekolah itu. Aku menyukainya saat kami bertukar senyum dan mereka – kakak OSIS, membawa HP kami. Handphone para peserta di kumpulkan semuanya tanpa terkecuali. Dia mengambilnya dari genggamanku, tidak seperti snior yang lain – tidak acuh tapi tetap saja aku takut.
Tiga hari MOPDB berlalu, dan aku sangat bersyukur karena bisa cepat-cepat memasuki kelas baruku dengan teman-teman baru tentunya. Aku masuk ke sekolah ini tidak sendiri karena ada teman ku dari sekeolah sebelumnya yang masuk ke SMA ini. Ya ada Wanda yang masuk ke sekolah ini karena mengejar cintanya pada Alfan. Dan Alfan yang masuk ke sekolah ini karena memang menyukai teknologi berikut perkembangannya, dan sekolah ini menyediakannya. Aku? Kenapa aku masuk sekolah ini? Emmhh, karena... karena apa yah? Oh, karena dulu om ku pernah bersekolah disini dan dia keren.
Konyol !
Aku tidak punya alasan apapun, aku masuk sekolah ini karena memang ya aku akui sekolah ini seperti om ku, keren. Atau mungkin karena aku ingin membuka lembaran baru dengan berharap melupakanmu.
Tunggu, apa aku sudah menceritakan sekolah ini? Baiklah siapa tau mungkin ada yang berminat. Aku tinggal di kota kecil bernama Ciamis, di Jawa Barat yang Ibu Kotanya adalah Bandung. Kau bisa melewati kotaku saat akan pergi ke Yogyakarta melalui jalur darat dari arah Jakarta atau Bandung.
Aku asli anak kota, malah aku lahir di sebuah rumah 200 meter dari pusat kota. Karena waktu kecil aku selalu berjalan kaki saat akan pergi ke pusat perbelanjaan atau taman hiburan. Tapi saat ada sebuah perubahan fikiran, mama mengajakku pindah ke sudut kota yang jauh dari kehidupan kecilku dulu. Aku pindah dan masuk ke sekolah menengah pertama yang berbeda, mereka berbasis keagamaan. Yah semacam MTs dan bangunannya bagus, tiga lantai membentuk letter U. Bersatu dengan MA dan STAI. Dan aku memang jenuh, bukan tidak menyukai agama lebih dalam. Hanya saja teman-teman disana menganggapku aneh hanya karena aku pindah dari kota yang notabennya selalu berbahasa Indonesia atau bahasa Sunda halus. Sedangkan mereka? Aku fikir bukan tidak bisa sopan, mereka hanya terlalu meremehkan budaya bahasa.
Hingga saatnya aku masuk SMA dan memilih SMA yang berada di kota itu dengan beralasan pada mama dan papa aku bisa jadi lebih baik. Dan mereka memasukkan ku di salah satu SMA tapi Swasta. Mereka berbasis ilmu keinformatikaan seperti teknologi dan komunikasi. Mama bilang itu baik untukku.
“Karena pergaulan di SMA swasta sangat berbeda dengan SMA negri.”
Bukan membandingkan, hanya saja aku tidak ingin melawan karena aku sudah beruntung sekali masuk di SMA keren ini. Namanya SMA Informtika Ciamis, walaupun berbasis SMA tapi sekolah ini memiliki plus, yang tidak dimiliki SMA lain, kita adalah gabungan SMA dan SMK. Tahukan perbedaan SMA dan SMK? Yap, SMA cenderung memiliki jurusan yang lebih ke pendidikan inti yang bisa di bilang Ilmu Alam, Ilmu Sosial, dan Bahasa yang membuat para lulusannya meneruskan ke Universitas yang diinginkan. Tapi SMK cenderung berkejurusan dimana mereka lebih menekankan pada kejuruan yang membuat mereka langsung memiliki lapangan pekerjaan atau bekerja intinya, dan SMK memiliki program semacam Praktik Kerja Lapangan ( PKL ) yang nantinya memberikan pengalaman bekerja pada setiap lulusannya.
Dan sekolahku ini, kami punya keduanya. Kami bisa melanjutkan kuliah ke Universitas mana pun yang kami mau, atau langsung bekerja karena kami pun memiliki Program Aplikasi Keinformatikaan dan Kewirausahaan (PAKK) yang semacam PKL. Jangan aneh, kami kan berbasis keinformatikaan. Jadi wajar ada Praktik kerjanya.
Abaikan.
Masuk ke sekolah ini aku dekat dengan kaka senior itu. Aku ikut kepengurusan OSIS dan aktif di beberapa ekstrakulikuler seperti Pramuka, Jurnalis, Bocah Lab (anak-anak pecinta semacam labolatorium komputer dan senang bermain-main dengan teknologi) dan lain-lain.
Suatu saat aku diajaknya makan bakso di dekat sekolah karena pulang malam sehabis mempersiapkan sebuah acara. Waktu itu aku kegugupan asli, tapi aku merasa mungkin ini karena jatuh cinta atau yang semacamnya.
Aku menuangkan sambal dan saus ke mangkukku, dan dia bilang “Hey, jangan makan pedes, nanti perutnya sakit. Besokkan ada acara.” Hahaha terasa konyol saat aku menurut saja. Dia menanyakanmu Niq, menanyakan masalaluku.
“Kamu udah punya pacar dek?” aku menggeleng saat mengunyah potongan bakso.
“sempet suka sama seseorang, udah deket banget malah. Tapi dia ngilang gitu aja. Hehe” aku mendengar degupan jantungkku saat kemudian wajahmu terbayang di antara potongan bakso dalam mangkuk dihadapanku.
“sabar yah, mungkin aja Tuhan bakal ngasih yang terbaik buat kamu daripada dia.” Dia tersenyum untukku. Aku membalas senyumannya saja, walau hatiku berharap kamu kembali disini.
Dia mengikuti pencalonan ketua OSIS di sekolah sebagai kandidat pertama. Aku merasa dia keren karena berani mencalonkan sebagai pemimpin walaupun aku tahu dia sendiri juga bingung. Di acara pemilihan itu ada bagian Unjuk Bakat Calon Ketua OSIS. Dia menyanyi, dan membawakan lagu Afgan – Terimakasih Cinta. Dia berkata “Lagu ini saya persembahkan untuk seseorang yang mau menunggu saya disana.” Aku tidak yakin itu pada siapa, tapi aku rasa hatiku tersentuh. Meski akhirnya Wijaya Permana dan Eka Putri Cahyati-lah yang terpilih.
Waktu terus berjalan dan delapan bulan dari sana aku dan dia jadian pada tanggal 25 maret 2014. Dia mengantarku pulang kedepan gang dan bilang “Hari ini, kita jadian yah.” Tersenyum, lalu pergi. Aku tidak percaya, akhirnya orang yang selalu aku perhatikan, kini berstatus ‘Pacar’an denganku.
 Menakjubkan saat  dia menjadi acuh dan aneh. Maksudku, dia bilang mencintaiku dan menyayangiku, tapi sikapnya sama sekali tak menunjukkan itu. Dia berjalan lebih depan saat bersamaku, dan tidak memegang tanganku saat kami menyebrang. Menyebalkan bukan? Terlebih saat dia selalu mengatur apapun hal yang aku tidak suka sedangkan dia suka, untuk aku lakuakan. Aku tidak paham tapi aku tetap mencobanya. Walau akhirnya aku mulai tidak nyaman dengan keadaan. Dia terlalu mengekang dan mengatur. Dia melarang tapi dia melakukan. Itu tidak pernah adil dalam sebuah hubungan.
Tapi aku sabar, sungguh. Karena mungkin aku memang mencintainya. Hingga aku dan dia sama-sama ikut sebuah komunitas pecinta karya dan semacamnya yang berawal dari Bocah Lab.
Oh ya, aku belum menceritakan sahabatku Agustindan Jun. Mereka yang mengajakku masuk ke komunitas itu. Aku ikut-ikut saja. Sampai akhirnya Heri masuk juga ke komunitas itu karena di ajak oleh – dia bilang sahabatnya, Putri Cahyati.
Aku dekat dengan sahabat-sahabatku, sangat dekat malah. Sebelum itu aku fikir Agustin dan Jun lebih dekat, tapi mungkin hanya untuk beberapa saat. Hingga Agustin jatuh cinta pada ketua Bocah Lab pada waktu itu, Setiawan. Dan hari-hari menjadi sangat menjengkelkan saat Agustin mulai lebih fokus dengan abang sayangnya ketimbang dengan kami. Tapi yah seperti biasa aku acuh saja. Aku menikmati hidupku dengan komunitas ini, Melody Cinema namanya. Kami menghabiskan waktu bersama dengan hal-hal konyol dan aku menyukainya.
Mama menerimaku bergabung dengan komunitas ini, dia bilang asalkan hal yang dilakukan positif dan aku dapat pengalaman berharga, kenapa tidak. Mama benar, aku menemukan pengalaman paling berhargaku. Kebersamaan, kekompakan, kekeluargaan semuanya ada. Ibnu, sutradara berumur 25 jalan dan masih bujang dengan rambut kribonya yang membuat dia lucu. Dia sama sepertiku, memiliki jidat lebar dan selalu gatal hidung saat gugup. Kami memanggilnya Babeh karena memang dia paling tua. Hilman dan Putri sebagai Produser, mereka banyak memiliki waktu berdua. Apa? Cemburu? Haha yang benar saja? Memang, sangat cemburu. Jun kameramen dan asisten setianya Tata, aku. Febi dan Agustin sebagai wardrobe, mereka lucu dengan kecentilan mereka dan pasangan mereka yang menjadi editing yakni Adhi dan Setiawan. Dan ada dua orang paling aneh di antara kami, Gugun dan Purnama sebagai Programer.
Sejenak berfikir bahwa mungkin semua programer lebih fokus ketimbang anak MIPA, mereka cenderung bergelut dengan bahasa komputer dari pada bahasa manusia. Haha mereka sering membentak-bentak komputer atau laptopnya saat ada salah satu titik atau koma yang salah atau ketinggalan. Jelas saja, karena bahasa pemrograman lebih rumit jika didalami dari pada bahasa asing. Aku bahagia dengan mereka.
Sampai suatu saat, aku benar-benar merasa tidak punya pacar sama sekali karena Hilman benar-benar acuh. Aku tidak sakit hati karena aku fikir aku punya sahabat yang selalu ada untukku. Memang benar kok aku punya. Jun, dia tidak pernah membiarkan aku sendirian.
Jika Hilman lebih sering menghabiskan waku bersama teman wanitanya itu, maka aku lebih sering menghabiskan waktu dengan Jun, yah bukan aku balas dendam. Hanya saja memang Jun orang yang selalu mendengarkanku.
Oh ya, apa aku sudah bercerita tentang prestasiku? Yah, awal masuk sekolah ini aku sama sekali tidak masuk peringkat 10 besar. Mengecewakan. Padahal di MTs, aku bahkan tidak pernah merosot dari 5 besar. Mama menyalahkanku, karena dia bilang aku seperti ini karena terlalu memikirkan laki-laki. “Mama nggak mau tau, kalo nilai kamu anjlok kaya gini lagi. Kamu ga boleh ikut ekstra apapun dan fokus belajar !”
Aku takut setiap kali mama berkata seperti itu. Mama sudah susah dengan masalah keluarga papa. Bisa dibilang mama tidak akur dengan mereka, dan harapan mama hanya aku. Agar mama bisa memperlihatan pada mereka bahwa mama tidak akan pernah kalah karena memiliki anak yang masa depannya cerah. Dan berbeda dengan mereka. Mama ingin sekali memperlihatkan itu. Mama juga marah kalau aku hanya memikirkan cinta, cinta, dan cinta. Karena kata mama. “Cinta akan mencarimu saat kamu sukses nanti. Mau yang seperti apapun kamu tinggal pilih. Jadi mama mohon untuk kali ini kamu fokus sama masa depan kamu, Ta !” Dan aku menurut. Cinta memang bisa melemahkan siapapun. Tapi tidak setelah aku bersama Gilang.
Aku merasa pacaran ini konyol Niq, kurasa aku memang tidak bisa benar-benar mencintainya seperti saat aku mencintaimu dulu. Hingga membawaku melintasi waktu untuk tetap menunggumu seperti ini.
Pernah, suatu waktu saat aku bertahan dengannya kurang-lebih 8 bulan. Kami ada semacam project membuat film pendek. Kami mulai menggarapnya dengan tugas masing-masing. Tapi semakin aku lihat semain tidak kuat rasanya. Aku berjanji pada mama, apapun yang aku rasakan tentang cinta aku akan mengabaikannya. Sekuat apapun elemen itu menyedot perasaanku. Aku akan tetap, acuh.
Semakin aku mencoba, rasanya semakin aku tak mampu lebih lama menjalin hubungan ini dengannya. Salah satu alasan aku akan melepaskannya adalah, aku terlalu kecewa.
Aku mengerti, dan sangat mengerti kalau dia merasa cemburu melihat aku yang lebih akrab dengan Jun dari pada dengannya. Memang dia fikir dia saja? Hah.
Sebelum memulai scedule ini, Adhi dan Setiawan membuat perjanjian padaku, dan hanya padaku. “Pokoknya kalau lo nangis Ta, lo hutang sebungkus rokok sama kita.” Aku terkekeh. “Emang siapa yang mau nangis, wleee.” Aku merasa tidak akan baik-aik saja, tapi aku memang tidak akan menangis. Saat sedang casting mencari pemeran untuk film tersebut yang bertempat di Taman Lokasana. Dia marah padaku, dan tidak berbicara bahkan disaat dia butuh. Aku paham, dan akupun diam. Untuk apa dilayani? Toh aku tidak salah, karena memang aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Jun, kami hanya sekedar.. yah kau tahu – sahabat, dan bukankah dia dan Putri juga begitu?
Dia sama sekali tidak bicara padaku. Aku memperhatikannya, sungguh. Dia hanya tidak bicara padaku – saja. Dia bahkan sangat akrab dengan yang lainya. Aku fikir wajar, dia marah padaku dan aku tetap diam. Saat jam makan siang aku menawarkan diri untuk pulang dan membuat sesuatu di rumah untuk mereka. “Mau diantar?” aku fikir Hilman, tapi.. “Oh engga usah Jun, aku cuma mau pinjem motor kamu boleh? Biar aku berangkatnya sama Utin yah.” Dia mengangguk dan memberikan kunci motornya.
Aku membuat nasi goreng, praktis dan memang hal yang paling sering aku buat. Jun pernah bilang kalu nasi goreng buatanku enak dan berbeda dengan nasi goreng buatan siapapun. Aku tersipu, untuk itu aku semangat membuatnya berharap Hilman juga menyukainya. Satu jam kurang mungkin aku pergi.
Dan saat aku kembali, aku melihat teman kost Putri pergi dengan temannya dengan motor mio kalau tidak salah. Mereka perempuan tentunya. Saat aku datang berasa ada hal yang ganjal, tapi aku tidak terlalu menggubrisnya. “Guys makan dulu yuk ! nasi goreng bikinan Tata nih !” Agustin berteriak dan kami makan bersama. Posisi yang selalu kita gunakan, melingkari makanan dengan gaya menyerong agar semuanya kebagian. Menyenangkan bukan memiliki teman-teman seperti ini.
Aku kembali pada tugasku menemani Jun mengcasting mereka, sisanya. “Oh ya Jun, cewe yang pulang tadi itu siapa?” Jun menggaruk kepalanya yang tidak gatal kurasa. “Kalo nggak salah temen kostnya Putri namanya Safira sama temennya, mereka abis photobooth disini, diajak Putri.” Aku penasaran. “Coba liat dong?” Jun terlihat aneh. “Hey, boleh aku liat hasilnya?” aku menekan nada bicaraku dengan lembut, tapi dia terlihat bingung “Siapa tau kalo bagus aku juga ajak temen.” Dan aku merebut kamera Canon 30D dari tangannya. Foto-foto itu aku geser hingga menemukan satu foto yang membuatku mengerti kenapa Jun bersikap seperti itu. “Oh yang beginian.” Kataku selanjutnya dan meihatnya menatapku, lega. Aku mengembalikan kamera itu ke tangannya – dengan tersenyum.
Niq, aku sakit hati sekarang. Aku rasa, aku tidak bisa menerimanya. Bisakah aku bertahan? Huh.
Semuanya selesai dan hendak kembali ke markas kami. Aku mendekati Hilman dengan maksud mengajaknya pulang bersama. “Mau pulang bareng?” Aku paling tidak suka merendah pada laki-laki. Tapi karenanya, aku mencoba. “Terserah.” Dengan angkuhnya dia bicara seperti itu. Bahkan wajahnya tidak menghadapku, sama sekali. Kau tau. Damn ! rasanya ingin meledak saat itu juga. Aku lari dari sana dan terus berlari sambil menghapus ingus dan air mata yang sama-sama keluar.
Tuhan apa salahku? Beraninya dia seperti ini padaku? Beraninya dia mengabaikan ku? Aku memang jatuh cinta padanya tapi tidak untuk seperti ini. Aku mendengar teriakan samar-samar dan aku berhenti lalu membungkuk, tak sanggup menahan pengap laju nafasku dan aku menahan tangisanku. Dia datang mengejarku dengan motornya. Tunggu ini bukan suara motor Hilman, ini suara motor metik. “Kaya anak kecil deh lari-lari gak jelas mau kemana. Ini udah mau maghrib, kalo ada yang nyulik gimana?” aku melihat ke arah Hilman berdiri, sangat jauh disudut sana. Tapi aku mampu melihatnya. Dia melihat ke arah sini dan aku naik ke motor Jun. “Ayo pulang duluan, kita tunggu mereka di rumah Babeh aja.”
Handphone ku berdering dan aku angkat. “Hallo Tin?” aku menghapus air mata yang jatuh sementara Jun menstater motor. Aku lihat ke arah sudut itu lagi dan mereka semua melihat ke arahku, Agustin, Babeh, Putri, Hilman, dan semuanya. “Aku nunggu di rumah babeh, bilangin aku kebelet pipis.” Bodoh ! bukannya di taman ini ada toilet. Hah sad ending. Dan aku masih punya hutang satu bungkus rokok pada Adhi dan Setiawan. Damn !
Sepanjang perjalanan aku memeluk Jun. Benar-benar sulit bagiku menjaga keseimbangan tubuh yang mungkin akan tumbang. Aku tidak suka laki-laki seperti itu Niq. Aku tidak bisa nyaman dengan keadaan ini. Bagiku dia egois.
Tunggu, ada hal yang aku sadari disini. Aku merasa, nyaman.
Pertamakalinya, sungguh. Aku tersadar aku sedang memeluk siapa. Dia terlihat cemas, dan aku melihatnya dari kaca sepion. Aku tetap menangis karena merasa sesak. Dan dia seperti terburu-buru menjalankan motornya. Setelah sampai aku duduk di teras dan menangis sejadi-jadinya. Dia memegang tanganku dan menyandarkan kepalaku ke pundaknya.
Niq, aku ingin menceritakan bahwa ini adalah kenyamanan yang pertama kali aku rasakan. Mungkin yang belum pernah aku rasakan darimu. Dia adalah laki-laki yang menjagaku dan benar-benar tidak ingin aku terluka. Dan dia orang yang pertamakali melakukannya.
Mereka datang setelah mungkin setengah jam aku menangis disana. Adhi duduk disampingku dan mengusap pundakku. Mataku sembab dan tidak bisa melihat dengan jelas. Tapi  aku sadar, tidak ada tanda-tanda kehadiran Hilman disana. Aku tau dia bukan laki-laki penggantimu yang bisa aku harapkan.
Jun tau aku suka Cocacola, dia membawaku kerumahnya di Sadananya hanya untuk membawa Cola dari lemari esnya. Dan pergi ke Cikoneng mengantar Adhi pulang setelah aku membayar hutangku padanya dan Setiawan.
Kau tau, Jun berusaha menghiburku Niq. Dan dia melakukannya hanya karena aku sahabatnya. Lalu bagaimana ceritanya jika aku adalah kekasihnya? Hahaha
Untuk hari-hari selanjutnya aku merasa baik-baik saja dan tetap menjalani semuanya dengan ceria. Aku bukan hanya sekedar dekat dengan Jun, tapi aku bahkan bisa mengabaikan Hilman. Walau semua orang tahu aku berdusta pada Hilman. Aku bilang kalau aku dan Jun biasa saja, yang nyatanya aku merasakan hal yang aneh darinya. Dia memberiku Novel yang aku mau saat hari ulang tahunku. Sengaja datang ke rumah membawa coklat saat aku sedih dengan masalahku. Membawaku jalan-jalan di akhir pekan. Menyempatkan waktu untuk mengantarku kemanapun. Selalu mengantar saat pulang sekolah. Menjagaku dan menghabiskan waktu denganku. Apakah itu tidak aneh? Tentu aku mengerti kemana arah perasaannya. Hanya aku masih belum bisa mengakui sampai akhirnya – untuk yang kedua kalinya, dia memberiku novel pada malam tahun baru. Novel itu sengaja dia beli untukku. Aku benar-benar terkesan. Tidak seperti – yang orang lain katakan, pacarku. Huh.
Niq, aku tidak tahan lagi dengan Hilman. Benar-benar tidak tahan setelah aku menemukanfoto ‘mesranya’ dengan teman kost Putri itu.
Saat itu kami semua ada acara meet-up. Aku akan pergi ke rumah babeh dengan menunggu Jun menjemput. Tapi Agustin bilang, Hilman yang akan menjemputku. Jam 8.00, dan dia memintaku menunggu Hilman di depan jalan, karena rumahku masuk gang. Aku memperhitungkan jalan dari rumah babeh ke rumahku sekitar, 15 menit. Setelah jam menunjukan 8.16 barulah aku pergi ke depan. Ada semacam poskamling disana. Dan aku duduk menunggunya. Aku message dia tapi tidak ada jawaban, bahkan saat aku misscall nomornya tidak aktif.
Ada seseorang yang sudah kedua kalinya lewat kesana dalam jangka waktu yang lumayan lama dan dia melihat kearahku mungkin heran. Karena sejak pertama dia lewat aku tidak beranjak sama sekali. Entah sudah berapa lama aku menunggunya. Yang jelas dengan bodohnya aku tetap menunggu. Berapa kali aku tanyakan pada Agustin memastikan dia sudah pergi dari sana tapi Utin bilang dia sudah berangkat dari 1 jam yang lalu. What? Selama itukah?
Aku mulai khawatir dengan bayangan-bayangan tidak sepantasnya aku bayangkan. Aku menyumpahi diriku sendiri kalau sampai ada sesuatu hal terjadi padanya. Berharap siapapun yang menemukan Hpnya dapat membuka dan mengetahui aku sudah menghubunginya kurang-lebih 13 panggilan.
09.20 dia baru sampai. Tunggu, dia baik-baik saja? Aku melihat mengelilinginya. “Kamu baik-baik aja?” dia mengerutkan dahi. “Emang kenapa? Aku baru aja abis mandi, jadi maaf kalo telat.” Aku terbelalak, entah lebar atau tidak mulutku terbuka. Aku benar-benar ingin menyumpahinya saat itu juga. Mataku terpejam dan hanya kata “Astaghfirullahaladzim !” yang keluar dari mulutku. Dia tidak menampakkan wajah bersalahnya. Dia memarkirkan motor dan aku masih berdiri di tempatku, berfikir kenapa dia bisa melakukan ini padaku?
“Ayo cepet, anak-anak udah nunggu tuh.” Aku berjalan ke arahnya dengan kesal. Bahkan dengan pacarpun, aku tidak pernah ingin menyentuhnya. Benar-benar tidak ingin menyentuhnya.
Aku sampai di rumah babeh dengan wajah ditekuk, semua orang bertanya tapi aku hanya mampu menggeleng. Aku duduk dekat Jun yang sedang menatap layar laptop. “Lagi apa?” aku menggeser kursornya. “nyari inspirasi foto.” Aku ber-Oh saja. Hilman sedang dengan Handphonenya yang dia charge di dekat PC. Lalu, “Beh, jemput Putri dulu yah.” Lalu pergi setelah Babeh mengangguk. “Good.” Aku bergumam yang di balas dengan tatapan aneh Jun. “Kamu tau aku tadi nunggu dia dari jam 8 di pinggir jalan dan dia dateng jam 9 lebih. Sialan gak tuh orang. Tapi sekarang jemput Putri cepet banget kaya yang kesetanan.” Jun tersenyum untukku dan hanya mengacak-ngacak poniku. “Tapi harusnya dia bilang dulu Jun, biar aku nggak harus nunggu dia selama itu. Paling engga, harusnya dia biarin aku dijemput kamu biar dia langsung jemput Putri. Pake acara mandi dulu segala lagi. Iih kampret banget tau gak.” Aku benar-benar nggak habis fikir. Dan sekarang, menjemput Putri-pun mungkin butuh waktu seharian yang padahal tempat kostnya tidak jauh dari sekolah.
Semuanya sudah kumpul disini. “Oke guys hari ini kita gak banyak kerja cuma mau ngasih surat perizinan yang udah gue print dan Hilman sama Putri yang bertugas ngasih ke pemilik lokasi, oke?” mereka menjawab “Siap.” Dan babeh melihat list tugasnya “Gugun dan Purnama mengambil gambar di Icakan.” Sisanya bebas. Dan aku memilih tetap pada posisiku, diam. “Mau nyari makan?” Jun duduk disebelahku dengan meminum air kopi dinginnya. Aku belum makan kayaknya? Haha aku suka lupa kalau udah makan atau belum. “Nyari makan aja yuk, laper.” Dia bangkit dan membawa kunci motornya.
Kami pergi ke minimarket, aku mengambil beberapa makanan. “Katanya laper, kok malah beli cemilan?” dia membawa Cola dan minuman lainnya. “setidaknya bisa menyuap cacing yang mulai nyanyi. Kamu sendiri? Dehidrasi?” dia memberikannya ke kasir. “disatuin mas?” hah? Mas? Yang benar saja. Hahaha “iya mba, aku kan beli ini buat kamu.” Dia menempelkan botol Cola ke pipiku. Dan aku hanya tertawa untuk menutupi perasaan ku yang mulai aneh.
Akupun berharap bisa seperti ini denganmu Niq. Melihat tawamu dan mengetahui apapun yang kita sukai. Aku tidak ingin membiasakan canggung denganmu. Seperti saat aku bersama sahabatku, Jun.
Kami kembali ke rumah Babeh, dan aku duduk di depan Jun yang mengunyah cemilanku. Kami sudah seperti keluarga disini, dan untuk makanan yang aku punya mereka anggap itu juga punya mereka dan begitupun sebaliknya. Setiap orang punya kenyamanannya masing-masing, dan aku merasakan kenyamanan bersama mereka.
Saat itu Agustin keluar dan izin pulang, Babeh bikin acara makan-makan dirumah Utin. Kami akan pergi ke rumahnya saat makanan sudah siap. Semua ikut dan biarkan mereka yang belum datang nanti menyusul. Aku ingat Hp Putri yang di charge, mungkin sudah selesai. Kami bersiap-siap dan aku, cewek acuh yang seneng selfie minjem Hp Putri dan mulai iseng-iseng foto sendiri. Aku orang yang PD dan tidak menghapus setiap hasil fotoku.
Saat merasa puas aku melihat mereka akan segera pergi, dan aku berjalan ke arah pintu sambil membuka galeri yang berisi hasil fotoku itu. Dan.... betapa kagetnya aku melihat hasil foto, maksudku foto-foto sebelum fotoku. Disana banyak foto Hilman dengan orang yang kemarin datang ke Taman Lokasana. Aku tidak cemburu – seharusnya begitu. Tapi aku ingin menangis, rasanya dadaku mulai sesak dengan gambar yang ada dalam Hp di genggamanku.
Jujur saja, waktu itu aku pernah foto bareng dengan Hilman, Niq. Aku bahagia sekali karena bisa berfoto bersamanya. Seperti anak muda zaman sekarang, saat berfoto mereka pasti akan saling bersebelahan. Kecuali mereka punya aturan seperti di pesantrenmu, Niq. Apalagi karena kami adalah sepasang KEKASIH – ya, jika dia menganggapku begitu. Tapi saat kami mulai berfoto, dia berkata padaku “Jangan deket-deket difotonya.” Hah, aku tersenyum seolah mengerti. Yang nyatanya aku tidak faham sama sekali padanya.
Tapi, berulang kali aku memejamkan mataku dan membukanya. Aku melihat lagi foto itu. Seorang perempuan itu bersandar di pundaknya. Tangan manja, tatapan lembut, tanpa perlawanan, suapan nasi goreng. Apa itu maksudnya? Aku benar-benar bodoh karena tidak bisa mengerti.
Aku tertegun dan Jun mencubit pipiku. Cepat-cepat aku close dan berpura-pura tersenyum. “Are you okay?” tatapan matanya mempertanyakan keadaanku. “I’m all right.” Hanya itu kebohongan yang bisa aku ucapkan sekarang.
Di perjalanan menuju rumah Agustin. Aku mengirimkan foto itu ke Hp ku. Sedih memang, mana ada orang yang mengoleksi foto ‘pacarnya’ dengan orang lain? haha, orang aku yang aneh kok. Aku memeluk Jun, benar-benar tidak habis fikir dengan perlakuan Hilman padaku. Apa aku benar-benar idiot? Yah, mungkin YA.
Betapa aku berdoa pada Tuhan untuk tetap memelihara hatiku dan agar aku bisa tetap menjaganya. Rasanya remuk redam, Niq. Aku takut aku salah memilihnya. Tapi aku mencintainya, mungkin.
Saat sampai dirumah Agustin, aku berbaring di tempat tidurnya. Kamar Utin ada di luar rumahnya, jadi seperti pafiliun. Dan mereka dengan aktivitas masing-masing. Belum aku melihat batang hidung Hilman dan Putri. Ingin rasanya aku mengamuk, tapi marahpun rasanya percuma. Aku melihat-lihat isi folder Hp Putri. Betapa banyak foto Hilman dan wanita itu. Damn !
Niq, saat itu juga yang aku lihat hanya Jun yang tetap mencoba menghiburku setelah dia merampas HP Putri. Dia tahu perasaanku dan mungkin mengerti. Dia melindungiku, Niq.
Saat Putri masuk ke kamar Agustin, cepat-cepat dia membawa Hpnya yang tergeletak di kasur bersamaku. Argh ! ingin meledak rasanya. Tapi aku tersenyum dan bangkit mencari Jun. Dia sedang mendengarkan Babeh yang bercerita tentang planingnya. Aku duduk disampingnya dan berpura-pura memainkan HP Jun tanpa mau tersenyum. Hilman melihatku dan aku tidak ingin melihatnya. Tanpa disengaja aku melihat Putri berbisik panik. Apa yang harus ditakutkan? Jika mereka tidak bersalah seharusnya tidak sepanik itu.
Makanan siap. Aku duduk disamping Jun tapi di tarik oleh Hilman. “Apa sih?” aku berdelik. “Duduknya disini.” Aku menurut saja. Sebenarnya perasaan ini akan tenang kalau saja aku mendengar Hilman berkata maaf. Tapi kenyataannya sampai kami pulang, Hilman tidak pernah mengatakan kata MAAF itu bahkan Putri tidak berbicara padaku. Dan aku membencinya untuk itu.
Entah menyadari perubahan sikapku atau tidak, tapi aku ingat kata-katanya “Kalo sayang sama aku biasa aja yah, aku ga suka yang berlebihan.” Oke fine. Dipikir aku Cinta Banget gitu? Kelewat PD banget sih? Aku Cuma lihat dia dari satu hal dan tidak benar-benar membuka hati. Aku sadar, itu hanya jatuh cinta dan bukan kasih sayang.
Aku bingung dengan kepercayaan dirinya. Sampai-sampai aku tidak habis fikir bagaimana aku bisa berubah sikap padanya secepat yang aku bisa. Tidak bergantung dengan kehadirannya, tidak tertarik untuk mengkhawatirkan kabarnya, tidak peduli dengan apapun yang dia lakukan. Sampai aku malah merasakan perasaan lain yang hadir.

#RST