Diakhir sekolah ini, akhir juga
perasaan ku padanya. 3 tahun sudah aku bersamanya dan segala macam cerita di
dalamnya. Dulu, saat pertama kali jatuh cinta padanya. Aku rela menunggunya
hingga akhirnya dia mau menerima ku. walau aku selalu diacuhkan akhirnya. Walau
aku selalu dilupakan pada akhirnya.
Dia memang seseorang yang begitu
aku cintai. Namun aku tetaplah wanita yang lelah jika akhirnya selalu di
abaikan. Dia tidak bisa membagi waktu antara aku dan kegiatannya. Dia selalu
mengabaikan aku. Aku memang kuat, tapi kekuatanku terbatas.
Hari ini, di perpisahan sekolah aku
harus mengatakan semuanya. Entahlah bagaimana jadinya aku tanpa dia. Aku tidak
benar-benar yakin bisa tidak jatuh cinta dan melupakannya begitu saja. Aku
tidak bisa hidup tanpa dia sebenarnya. Namun aku memang harus melatih hatiku
sendiri.
“Bunga, foto bareng yuk !” aku
menghampirinya.
“Ciiissss..”
“Kamu hari ini cantik.” Dia
berbisik. Aku sempat mengurung maksudku. Namun seperti ini, hanya kali ini
saja. Besok, bisa jadi dia berubah lagi. menjadi manusia dingin yang tidak mau
peduli.
“Za, bisa ngomong sebentar?”
“Boleh, apa?”
“Nggak disini. Ke luar dulu yuk.”
Aku berjalan ke samping gedung dan dia dibelakangku.
“Za..” aku berbalik.
“Kenapa?”
“Baiknya kita udahan aja. Aku cape
terus-terusan ngadepin sikap kamu yang sama sekali nggak bisa mengargai
perasaan aku. Ditambah lagi, sekarang kita akan terpisan jarak dan ruang. Aku nggak
bisa membayangkan hal lain selain kamu akan tetap seperti ini.”
“Tapi Bunga, aku beneran sayang
sama kamu.”
“Sayang itu tidak mengabaikan,
Reza. Sayang itu memperjuangkan. Berjuang sama-sama untuk mempertahankan
hubungan. Tetap sejalan. Tapi kamu?”
“Apa kamu udah nggak sayang lagi?”
“Aku sayang kamu lebih dari apapun.
Tapi aku juga harus menyayangi diri aku sendiri Za.”
“Apa ini yang terbaik untuk kita?”
“Kamu akan selalu baik-baik saja
tanpa aku.” Meski aku tak yakin aku akan bisa berjalan tanpa kamu.
“Ya sudah. Aku terima. Jaga diri
kamu baik-baik yah.”
“Selalu.” Aku mengelus pundaknya
untuk yang terakhir. Memastikan bahwa hatiku masih akan tersimpan rapi
untuknya. Menjaga perasaan jika suatu saat dia berjanji akan memperbaiki
semuanya.
2 years later.
Aku sudah dengan keadaan yang baru.
Lebih membaik namun rindu yang semakin memburuk. Ini masih lah awal dari segala
jalan. Setelah rumit berkepanjangan, aku mencoba membuka hati pada manusia yang
baru. Namun semuanya tetap saja hanya sekedar angin sapaan.
Entah apa yang Tuhan fikirkan saat
Dia membawamu lagi padaku. Entah apa yang sedang Tuhan rencanakan dengan
menghadirkan kamu kembali dihidupku. Aku kembali mengingat satu nama paling
rindu.
“Reza?” dan kamu berdiri tepat di
sebrang jalan itu dengan tatapan bahagia ke arahku.
Nama itu tak kunjung hilang dari
segala bidang. Sejujurnya, dia masih menjadi apa saja yang aku cari. Dia masih
menjadi orang yang sama, yang hidup dalam tulisan-tulisanku. Dia masih menjadi
manusia yang selalu aku tunggu kepulangannya.
Meski dia seacuh itu. Meski dia
masih sebungkam dulu. tapi aku yakin, perasaan kami masih terikat sekuat dulu. Rasa
sayang yang tak akan pernah berpura-pura. Dan otakku yang akan terus menyimpan
apa-apa saja yang hatiku ingat.
“Bunga? Ngapain disini?”
“Hmmm, aku lagi ada projek di
Jepang. Kebetulan jalan-jalan.”
“Kangen banget. Kamu apa kabar?”
“Aku baik Za.”
“Eh nggak enak kita malah ngobrol
di pinggir jalan begini. Yuk ke caffe tuh sebelah sana.” Dan aku berjalan di
sampingnya.
Bahkan embunpun memilih bisu saat
kau dan aku dipertemukan kembali. Kita menuai rindu yang busuk karena waktu.
“Sepagi ini sendirian?”
“Iya, managerku masih tidur kayaknya.
Jadi aku jalan-jalan aja dulu.”
“Emmh. Berapa hari kamu di sini?”
“Sekitar satu minggu. Ini hari
terakhir aku di Jepang. Tapi manager ku bilang aku bisa ngambil cuti sebulan
buat lanjut nulis disini.”
“Waahh keren-keren. Kesampaian juga
yah jadi penulis. Aku juga koleksi buku kamu kok.”
“Kamu juga akhirnya kesampean
kuliah di Jepang. Ah masa? Kamu dari mana tau nama pena aku?”
“Tau dong. Dulu kan kamu sering
bikin puisi atau cerpen di madding pake nama pena yang sama.”
“Loh, aku nggak pernah cerita kan
kalo aku sering nempel sesuatu di madding?”
“Emang, tapi aku sering liat dan
aku baca semuanya.”
Bagaimana mungkin tulisanku hanya
sekedar kata yang ku rangkai? Aku benar-benar membuktikan betapa aku tak pernah
bisa lupa apa-apa saja dari kamu. Karena semua angan-angan tentangmu menari
lepas di ulu hatiku. Kamu terlambat tau, bahwa kataku tak hanya catatan yang
tersimpan. Namun, ini adalah tentang perasaan yang biasa ku simpan.
“Bunga?”
“Hmmm?” pesanan kita datang dan aku
meminum chocolate cheese kesukaanku.
“Kamu masih sendiri?”
“Uhukkuhukkk..”
“Ehh pelan-pelan.”
“A..aku, emm..maaf.. sorry tadi
kamu nanya apa?”
“Emm.. kamu masih sendiri?
maksudnya, kamu belum punya pacar lagi kan?”
Dulu, kamu adalah penyebab luka
paling parah. Berbulan-bulan, sampai akhirnya aku bisa menerima apa saja yang
sudah patah. Namun, perasaan tetaplah perasaan. Meskipun kembali membaik,
tetapi tetap saja. Kamulah orang yang kembali aku cari.
“Aku lagi deket sama seseorang sih
sebenernya. Cuma yaa gitu, aku nggak bisa bener-bener jatuh cinta.”
Kamu menghembuskan nafas dalam.
“Kenapa?”
“Maaf karena dulu pernah
berpura-pura rela melepaskanmu, padahal aku tidak sanggup. Sebelum kamu memilih
pergi, aku memilih untuk mencintai kamu sepenuhnya. Menjadi seseorang yang
benar-benar mencintaimu. Namun saat kamu memilih menyudahi semuanya. Aku tidak
tau hal apalagi yang bisa aku tahan dari kelelahanmu.”
Meski pernah tertatih sebab kamu.
Namun, cinta masihlah cinta yang tumbuh bersama kamu didalamnya. Tetap saja,
denganmulah aku kembali merasa jatuh cinta.
“Emm.. Za?”
“hmmm?” kamu melihat mataku nanar.
Aku selalu mencoba untuk merapikan
hatiku berkali-kali. aku selalu meyakinkan bahwa kamu akan kembali. Meski bukan
hari ini. Besok ku kira kamu akan benar-benar bersamaku lagi, mengisi rindu
yang diam-diam membeku dan kemudian memeluk tubuh yang pernah tertatih tanpamu.
“Aku selalu mencoba memahami
keadaan kita kali ini. dimana yang saat ini bersamaku adalah pengganti tubuhmu yang
hilang. Namun, dia tetap saja bukan kamu yang aku mau.”
“Maaf karena pernah melemahkan
perjuanganmu.” Kamu tertunduk.
“Sebenarnya, waktu tak pernah
benar-benar membawa mu pergi. Aku masih saja menyimpan apa-apa yang mengendap
di hati. Bahkan sejak keputusan bodohku di hari lalu. Karena sampai hari ini
pun aku masih ingin memberikan kesempatan kedua padamu.”
Aku selalu menunggu kamu pulang. Tidak
menjadi kamu yang dulu, melainkan menjadi kamu yang baru. Tubuhku masih ingin
memelukmu sekali lagi. Aku mencintai kamu, sebagai orang yang dulu namun dengan
perasaan yang baru.
“Jadi sudah sejauh mana kamu pergi?”
dan kamu tersenyum.
“Jangan tanyakan sudah seberapa
jauh aku berlari. Karena aku tak pernah benar-benar beranjak pergi dari sini” dan
kamu menunjuk kedepan dadaku.
Kamu meneguk kopi cup hangat
pesananmu lagi.
“Aku kira, kamu adalah orang yang
paing pertama lupa tentang kita.” Aku sempat ingin tertawa saat sedang
menyimpan minuman di mulutku sebelum akhirnya ku telan.
“Aku adalah orang yang paling kuat
mempertahankan rasa pada manusia sepertimu.” Senyumku mengembang saat melihat
wajah malumu.
Ya, karena aku tak pernah absen
meminta pada Tuhan agar tetap menjagamu. Aku adalah orang yang tak lelah
menunggu. Sebab aku juga orang yang tak akan berhenti jatuh cinta padamu.
“Yaaahh, aku udah baper tingkat
klimaks karena mantanku. Eh maksudnya penulis novel favoritku.”
“Za !” aku menyenggol tangannya. “Jangan ada mantan di
antara kita.” Aku mengedipkan mata.
“Ahahaha. Yap, kita akan bicarakan
ini setelah pulang ke Negara tercinta. Tepat setelah kamu sudah menemukan cara
keluar menuju kita.”
“Jalan keluar?”
“Yap. Bukannya kamu juga lagi deket
sama seseorang? Pacaran?”
“Hubungan tanpa status.” Aku meminum
lagi chocolate cheese ku.
“Tanpa.. sta..tus?” di tegukan
terakhirmu dengan kopi itu.
“Setelah kamu pergi. Emm.. tidak,
maksudku setelah rasa lelahku perihal kelakuanmu. Dia adalah orang yang
meyakinkan bahwa diriku lebih layak di cintai dari pada kamu. Dia yang tak
pernah mengeluh menjagaku saat kamu tak ada. Sejujurnya Za, aku nyaman dengan
perlakuannya.”
“Hmm.. ya, aku melihatnya. Pada salah
satu terbitan novelmu. Aku tau itu salah satu cerita tentang dia.”
“Dari mana kamu tau?”
“Dari ucapan terimakasih. Disana kamu
menulis ‘Terimakasih kepada inspirasi nyata yang sudah mengembalikan tangis
menjadi senyuman. Yang sudah menggantikan luka menjadi bahagia’ dan, sementara
itu aku dan kamu tidak sedang saling dalam jangkauan komunikasi sekalipun. Jadi
aku sadar, kamu menemukan seseorang.”
“Lalu? Kita bisa saja memulai
semuanya dari awal. Aku fikir dia juga akan mengerti?”
“Bunga, tidak kah kamu mengerti perasaan
lelaki. Tidak mungkin dia berjuang untukmu jika dia tidak menyimpan rasa khusus
untukmu. Begitu pula kamu. Selama perpisahan kita, meski relung hatimu untukku.
Aku tau ada sebagian perasaan yang kau simpan untuknya, meski tak sebesar
padaku. Bukan aku merasa terlalu percaya diri, tapi aku juga merasakan
semuanya.”
“Reza, akuuu…”
“Bunga, aku tidak pernah pergi dari
tempat itu sebab aku tau. Suatu saat nanti Tuhan mengembalikan lagi pintu yang
tiba-tiba saja kau tutup dari ku. Meski tidak terkunci, namun aku tidak bisa
masuk karena ada tamu di dalam sana. Aku bisa saja masuk dan mengusirnya pergi
dari hatimu sebab yang kau tunggu masuk adalah aku.”
“Ya kalau begitu masuk saja.” Tapi kau
mengelus pipiku.
“Karena aku tau dia akan terluka. Dan
akan ada perasaan tak enak dari hatimu yang akan membuat kamu selalu ingat
padanya. Aku tidak ingin dia menjadi bayang-bayang di antara kita nantinya.”
Kamu tumbuh menjadi laki-laki
dewasa. Aku tau, luka membuatmu berfikir lebih luas. Kamu membuat aku percaya
padamu lagi. kamu tidak ingin ada yang lain di hatiku sebab kamu mencintai ku
lebih dalam. Rasa kasih sayang yang mengakar dari hatimu tumbuh untukku.
“Tapi, memangnya kamu akan menunggu
aku lebih lama?” Aku menyusulmu yang beranjak, dan kamu membayar pesanan kita
di kasir lalu menggenggam tanganku berjalan keluar.
“Sudah ku bilang dulu. perasaan ku
biar hanya aku yang tau. Kamu hanya perlu paham bahwa aku menunggu. Bukanya
dulu aku pernah mengatakan bahwa bersenang-senanglah hari ini dengan siapapun,
karena pada akhirnya kamu akan bahagia bersamaku. Ingat?”
“Iya aku ingat.” Dan aku merangkul
tangan kiri mu.
Kamu masih sewangi dulu. Kamu
memang selalu hangat, meski sikap mu dingin. Tapi berada di sampingmu adalah
segala hal yang aku mau. Sebab caramu mencintaiku, aku temukan sesudah
perpisahan kita dulu.
“Za?”
“Hmmm?” Kita berbelok di gang yang
sepi ke arah tempat sementaraku.
“Akan aku fikirkan cara keluar
menuju kamu. Setelah itu, aku berjanji akan menunggu kamu tanpa henti. Aku akan
berjanji menerimamu kembali. Jadi, aku mohon beri aku bukti. Beri aku pemahaman
agar percaya padamu sekali lagi. Aku akan menerima kurang dan lebihmu, dan
mencintaimu dengan sabar seperti dulu. Dengan berjanji kamu tidak akan
mematahkan hatiku lagi.” aku menatapmu dengan harapan.
Kamu berhenti berjalan. Kau melihat
mataku dengan tersenyum. Kau menyingkirkan rambut yang menghalangi pipiku dan
menarik wajahku untuk maju.
“Bunga, ingat ini. Kita bukan
Mantan. Kita hanya dua orang muda yang menanti waktu kembali agar bisa bersama
dan menua berdua.” Lalu aku mengangguk dengan pipi memerah.
Kau mencium bibirku. Bukan menampar
mu karena tiba-tiba, namun aku malah terbawa hangatnya kecupan itu. Ini bukan
akhir dari segalanya. Kamu memang satu-satunya sejak dulu. Meski dia pernah
menjadi pengganti mu sesaat.
Kita menuai rindu yang busuk karena
waktu. Tapi senja tetap menjadi mata yang membuat milikmu jingga. Angin tak
henti meniupkan kata yang tersimpan di relung hati. Kamu dan aku ingin tetap
berlama-lama. Menunggu hujan yang tak kunjung datang.
Setelah ini, aku akan kembali
menggenggam tanganmu. Dan kau akan kembali merapikan apa-apa yang hilang
semenjak kau beranjak. Kemudian, kita mengubah rindu menjadi cumbu yang candu. Karena
disitulah, aku merasa asa menjadi nyata.
END.
#RST2016