Terpopuler

Minggu, 26 Juni 2016

Jangan ada kata "Mantan" di antara kita.



Diakhir sekolah ini, akhir juga perasaan ku padanya. 3 tahun sudah aku bersamanya dan segala macam cerita di dalamnya. Dulu, saat pertama kali jatuh cinta padanya. Aku rela menunggunya hingga akhirnya dia mau menerima ku. walau aku selalu diacuhkan akhirnya. Walau aku selalu dilupakan pada akhirnya.
Dia memang seseorang yang begitu aku cintai. Namun aku tetaplah wanita yang lelah jika akhirnya selalu di abaikan. Dia tidak bisa membagi waktu antara aku dan kegiatannya. Dia selalu mengabaikan aku. Aku memang kuat, tapi kekuatanku terbatas.
Hari ini, di perpisahan sekolah aku harus mengatakan semuanya. Entahlah bagaimana jadinya aku tanpa dia. Aku tidak benar-benar yakin bisa tidak jatuh cinta dan melupakannya begitu saja. Aku tidak bisa hidup tanpa dia sebenarnya. Namun aku memang harus melatih hatiku sendiri.
“Bunga, foto bareng yuk !” aku menghampirinya.
“Ciiissss..”
“Kamu hari ini cantik.” Dia berbisik. Aku sempat mengurung maksudku. Namun seperti ini, hanya kali ini saja. Besok, bisa jadi dia berubah lagi. menjadi manusia dingin yang tidak mau peduli.
“Za, bisa ngomong sebentar?”
“Boleh, apa?”
“Nggak disini. Ke luar dulu yuk.” Aku berjalan ke samping gedung dan dia dibelakangku.
“Za..” aku berbalik.
“Kenapa?”
“Baiknya kita udahan aja. Aku cape terus-terusan ngadepin sikap kamu yang sama sekali nggak bisa mengargai perasaan aku. Ditambah lagi, sekarang kita akan terpisan jarak dan ruang. Aku nggak bisa membayangkan hal lain selain kamu akan tetap seperti ini.”
“Tapi Bunga, aku beneran sayang sama kamu.”
“Sayang itu tidak mengabaikan, Reza. Sayang itu memperjuangkan. Berjuang sama-sama untuk mempertahankan hubungan. Tetap sejalan. Tapi kamu?”
“Apa kamu udah nggak sayang lagi?”
“Aku sayang kamu lebih dari apapun. Tapi aku juga harus menyayangi diri aku sendiri Za.”
“Apa ini yang terbaik untuk kita?”
“Kamu akan selalu baik-baik saja tanpa aku.” Meski aku tak yakin aku akan bisa berjalan tanpa kamu.
“Ya sudah. Aku terima. Jaga diri kamu baik-baik yah.”
“Selalu.” Aku mengelus pundaknya untuk yang terakhir. Memastikan bahwa hatiku masih akan tersimpan rapi untuknya. Menjaga perasaan jika suatu saat dia berjanji akan memperbaiki semuanya.

 2 years later.
Aku sudah dengan keadaan yang baru. Lebih membaik namun rindu yang semakin memburuk. Ini masih lah awal dari segala jalan. Setelah rumit berkepanjangan, aku mencoba membuka hati pada manusia yang baru. Namun semuanya tetap saja hanya sekedar angin sapaan.
Entah apa yang Tuhan fikirkan saat Dia membawamu lagi padaku. Entah apa yang sedang Tuhan rencanakan dengan menghadirkan kamu kembali dihidupku. Aku kembali mengingat satu nama paling rindu.
“Reza?” dan kamu berdiri tepat di sebrang jalan itu dengan tatapan bahagia ke arahku.
Nama itu tak kunjung hilang dari segala bidang. Sejujurnya, dia masih menjadi apa saja yang aku cari. Dia masih menjadi orang yang sama, yang hidup dalam tulisan-tulisanku. Dia masih menjadi manusia yang selalu aku tunggu kepulangannya.
Meski dia seacuh itu. Meski dia masih sebungkam dulu. tapi aku yakin, perasaan kami masih terikat sekuat dulu. Rasa sayang yang tak akan pernah berpura-pura. Dan otakku yang akan terus menyimpan apa-apa saja yang hatiku ingat.
“Bunga? Ngapain disini?”
“Hmmm, aku lagi ada projek di Jepang. Kebetulan jalan-jalan.”
“Kangen banget. Kamu apa kabar?”
“Aku baik Za.”
“Eh nggak enak kita malah ngobrol di pinggir jalan begini. Yuk ke caffe tuh sebelah sana.” Dan aku berjalan di sampingnya.
Bahkan embunpun memilih bisu saat kau dan aku dipertemukan kembali. Kita menuai rindu yang busuk karena waktu.
“Sepagi ini sendirian?”
“Iya, managerku masih tidur kayaknya. Jadi aku jalan-jalan aja dulu.”
“Emmh. Berapa hari kamu di sini?”
“Sekitar satu minggu. Ini hari terakhir aku di Jepang. Tapi manager ku bilang aku bisa ngambil cuti sebulan buat lanjut nulis disini.”
“Waahh keren-keren. Kesampaian juga yah jadi penulis. Aku juga koleksi buku kamu kok.”
“Kamu juga akhirnya kesampean kuliah di Jepang. Ah masa? Kamu dari mana tau nama pena aku?”
“Tau dong. Dulu kan kamu sering bikin puisi atau cerpen di madding pake nama pena yang sama.”
“Loh, aku nggak pernah cerita kan kalo aku sering nempel sesuatu di madding?”
“Emang, tapi aku sering liat dan aku baca semuanya.”
Bagaimana mungkin tulisanku hanya sekedar kata yang ku rangkai? Aku benar-benar membuktikan betapa aku tak pernah bisa lupa apa-apa saja dari kamu. Karena semua angan-angan tentangmu menari lepas di ulu hatiku. Kamu terlambat tau, bahwa kataku tak hanya catatan yang tersimpan. Namun, ini adalah tentang perasaan yang biasa ku simpan.
“Bunga?”
“Hmmm?” pesanan kita datang dan aku meminum chocolate cheese kesukaanku.
“Kamu masih sendiri?”
“Uhukkuhukkk..”
“Ehh pelan-pelan.”
“A..aku, emm..maaf.. sorry tadi kamu nanya apa?”
“Emm.. kamu masih sendiri? maksudnya, kamu belum punya pacar lagi kan?”
Dulu, kamu adalah penyebab luka paling parah. Berbulan-bulan, sampai akhirnya aku bisa menerima apa saja yang sudah patah. Namun, perasaan tetaplah perasaan. Meskipun kembali membaik, tetapi tetap saja. Kamulah orang yang kembali aku cari.
“Aku lagi deket sama seseorang sih sebenernya. Cuma yaa gitu, aku nggak bisa bener-bener jatuh cinta.”
Kamu menghembuskan nafas dalam.
“Kenapa?”
“Maaf karena dulu pernah berpura-pura rela melepaskanmu, padahal aku tidak sanggup. Sebelum kamu memilih pergi, aku memilih untuk mencintai kamu sepenuhnya. Menjadi seseorang yang benar-benar mencintaimu. Namun saat kamu memilih menyudahi semuanya. Aku tidak tau hal apalagi yang bisa aku tahan dari kelelahanmu.”
Meski pernah tertatih sebab kamu. Namun, cinta masihlah cinta yang tumbuh bersama kamu didalamnya. Tetap saja, denganmulah aku kembali merasa jatuh cinta.
“Emm.. Za?”
“hmmm?” kamu melihat mataku nanar.
Aku selalu mencoba untuk merapikan hatiku berkali-kali. aku selalu meyakinkan bahwa kamu akan kembali. Meski bukan hari ini. Besok ku kira kamu akan benar-benar bersamaku lagi, mengisi rindu yang diam-diam membeku dan kemudian memeluk tubuh yang pernah tertatih tanpamu.
“Aku selalu mencoba memahami keadaan kita kali ini. dimana yang saat ini bersamaku adalah pengganti tubuhmu yang hilang. Namun, dia tetap saja bukan kamu yang aku mau.”
“Maaf karena pernah melemahkan perjuanganmu.” Kamu tertunduk.
“Sebenarnya, waktu tak pernah benar-benar membawa mu pergi. Aku masih saja menyimpan apa-apa yang mengendap di hati. Bahkan sejak keputusan bodohku di hari lalu. Karena sampai hari ini pun aku masih ingin memberikan kesempatan kedua padamu.”
Aku selalu menunggu kamu pulang. Tidak menjadi kamu yang dulu, melainkan menjadi kamu yang baru. Tubuhku masih ingin memelukmu sekali lagi. Aku mencintai kamu, sebagai orang yang dulu namun dengan perasaan yang baru.
“Jadi sudah sejauh mana kamu pergi?” dan kamu tersenyum.
“Jangan tanyakan sudah seberapa jauh aku berlari. Karena aku tak pernah benar-benar beranjak pergi dari sini” dan kamu menunjuk kedepan dadaku.
Kamu meneguk kopi cup hangat pesananmu lagi.
“Aku kira, kamu adalah orang yang paing pertama lupa tentang kita.” Aku sempat ingin tertawa saat sedang menyimpan minuman di mulutku sebelum akhirnya ku telan.
“Aku adalah orang yang paling kuat mempertahankan rasa pada manusia sepertimu.” Senyumku mengembang saat melihat wajah malumu.
Ya, karena aku tak pernah absen meminta pada Tuhan agar tetap menjagamu. Aku adalah orang yang tak lelah menunggu. Sebab aku juga orang yang tak akan berhenti jatuh cinta padamu.
“Yaaahh, aku udah baper tingkat klimaks karena mantanku. Eh maksudnya penulis novel favoritku.”
“Za !” aku menyenggol tangannya. “Jangan ada mantan di antara kita.” Aku mengedipkan mata.
“Ahahaha. Yap, kita akan bicarakan ini setelah pulang ke Negara tercinta. Tepat setelah kamu sudah menemukan cara keluar menuju kita.”
“Jalan keluar?”
“Yap. Bukannya kamu juga lagi deket sama seseorang? Pacaran?”
“Hubungan tanpa status.” Aku meminum lagi chocolate cheese ku.
“Tanpa.. sta..tus?” di tegukan terakhirmu dengan kopi itu.
“Setelah kamu pergi. Emm.. tidak, maksudku setelah rasa lelahku perihal kelakuanmu. Dia adalah orang yang meyakinkan bahwa diriku lebih layak di cintai dari pada kamu. Dia yang tak pernah mengeluh menjagaku saat kamu tak ada. Sejujurnya Za, aku nyaman dengan perlakuannya.”
“Hmm.. ya, aku melihatnya. Pada salah satu terbitan novelmu. Aku tau itu salah satu cerita tentang dia.”
“Dari mana kamu tau?”
“Dari ucapan terimakasih. Disana kamu menulis ‘Terimakasih kepada inspirasi nyata yang sudah mengembalikan tangis menjadi senyuman. Yang sudah menggantikan luka menjadi bahagia’ dan, sementara itu aku dan kamu tidak sedang saling dalam jangkauan komunikasi sekalipun. Jadi aku sadar, kamu menemukan seseorang.”
“Lalu? Kita bisa saja memulai semuanya dari awal. Aku fikir dia juga akan mengerti?”
“Bunga, tidak kah kamu mengerti perasaan lelaki. Tidak mungkin dia berjuang untukmu jika dia tidak menyimpan rasa khusus untukmu. Begitu pula kamu. Selama perpisahan kita, meski relung hatimu untukku. Aku tau ada sebagian perasaan yang kau simpan untuknya, meski tak sebesar padaku. Bukan aku merasa terlalu percaya diri, tapi aku juga merasakan semuanya.”
“Reza, akuuu…”
“Bunga, aku tidak pernah pergi dari tempat itu sebab aku tau. Suatu saat nanti Tuhan mengembalikan lagi pintu yang tiba-tiba saja kau tutup dari ku. Meski tidak terkunci, namun aku tidak bisa masuk karena ada tamu di dalam sana. Aku bisa saja masuk dan mengusirnya pergi dari hatimu sebab yang kau tunggu masuk adalah aku.”
“Ya kalau begitu masuk saja.” Tapi kau mengelus pipiku.
“Karena aku tau dia akan terluka. Dan akan ada perasaan tak enak dari hatimu yang akan membuat kamu selalu ingat padanya. Aku tidak ingin dia menjadi bayang-bayang di antara kita nantinya.”
Kamu tumbuh menjadi laki-laki dewasa. Aku tau, luka membuatmu berfikir lebih luas. Kamu membuat aku percaya padamu lagi. kamu tidak ingin ada yang lain di hatiku sebab kamu mencintai ku lebih dalam. Rasa kasih sayang yang mengakar dari hatimu tumbuh untukku.
“Tapi, memangnya kamu akan menunggu aku lebih lama?” Aku menyusulmu yang beranjak, dan kamu membayar pesanan kita di kasir lalu menggenggam tanganku berjalan keluar.
“Sudah ku bilang dulu. perasaan ku biar hanya aku yang tau. Kamu hanya perlu paham bahwa aku menunggu. Bukanya dulu aku pernah mengatakan bahwa bersenang-senanglah hari ini dengan siapapun, karena pada akhirnya kamu akan bahagia bersamaku. Ingat?”
“Iya aku ingat.” Dan aku merangkul tangan kiri mu.
Kamu masih sewangi dulu. Kamu memang selalu hangat, meski sikap mu dingin. Tapi berada di sampingmu adalah segala hal yang aku mau. Sebab caramu mencintaiku, aku temukan sesudah perpisahan kita dulu.
“Za?”
“Hmmm?” Kita berbelok di gang yang sepi ke arah tempat sementaraku.
“Akan aku fikirkan cara keluar menuju kamu. Setelah itu, aku berjanji akan menunggu kamu tanpa henti. Aku akan berjanji menerimamu kembali. Jadi, aku mohon beri aku bukti. Beri aku pemahaman agar percaya padamu sekali lagi. Aku akan menerima kurang dan lebihmu, dan mencintaimu dengan sabar seperti dulu. Dengan berjanji kamu tidak akan mematahkan hatiku lagi.” aku menatapmu dengan harapan.
Kamu berhenti berjalan. Kau melihat mataku dengan tersenyum. Kau menyingkirkan rambut yang menghalangi pipiku dan menarik wajahku untuk maju.
“Bunga, ingat ini. Kita bukan Mantan. Kita hanya dua orang muda yang menanti waktu kembali agar bisa bersama dan menua berdua.” Lalu aku mengangguk dengan pipi memerah.
Kau mencium bibirku. Bukan menampar mu karena tiba-tiba, namun aku malah terbawa hangatnya kecupan itu. Ini bukan akhir dari segalanya. Kamu memang satu-satunya sejak dulu. Meski dia pernah menjadi pengganti mu sesaat.
Kita menuai rindu yang busuk karena waktu. Tapi senja tetap menjadi mata yang membuat milikmu jingga. Angin tak henti meniupkan kata yang tersimpan di relung hati. Kamu dan aku ingin tetap berlama-lama. Menunggu hujan yang tak kunjung datang.
Setelah ini, aku akan kembali menggenggam tanganmu. Dan kau akan kembali merapikan apa-apa yang hilang semenjak kau beranjak. Kemudian, kita mengubah rindu menjadi cumbu yang candu. Karena disitulah, aku merasa asa menjadi nyata.

END.
#RST2016

Kamis, 02 Juni 2016

Cinta Bukan Hanya Ketika Dia Hidup



Raina Masih Kekasihku.
Aku memang tidak percaya pada apa yang terjadi. Tepat sebelum dia benar-benar pergi dari kehidupanku selamanya. Bagaimana dia bisa meninggalkanku secepat ini. Dan bagaimana aku mengabaikannya selama ini.
Aku benar-benar tidak bisa berhenti merindukannya. Bahkan setelah berhari-hari. Walau dia menyuruhku lupa, tapi cinta yang tumbuh ini selalu jadi alasan kenapa aku tetap ingat.
“Lihat aku baik-baik hari ini.”
Aku melakukannya dengan memperhatikan setiap lekuk wajah yang Tuhan ciptakan untuknya. Jika benar-benar diperhatikan dia memang wanita yang cantik dan manis. Bodohnya aku terlambat menyadari semuanya selama ini.
“Semua berawal dari aku yang menyukaimu. Maaf karena selama ini sudah seperti penganggu bagi hidup damaimu. Tapi selama ini aku tidak pernah menyesal sudah mencintai dan menyayangimu sedalam ini. Dan maaf juga sudah membuat kamu merasa kasihan padaku yang kemudian harus terpaksa berada disampingku.”
Aku masih belum mengerti maksud dari kata-katanya, yang jelas dari saat itu aku sudah bisa sepenuhnya menerima dia. Walau 8 bulan terakhir aku menyia-nyiakannya, tapi sesudah hari itu aku akan lebih perhatian lagi padanya. Dan akan kubawa serta hatiku padanya.
“Maafin juga aku selama ini yah Ra, mulai sekarang aku…”
“Mmmm, aku juga befikiran hal yang sama. Kita seharusnya tidak seperti ini. aku seharusnya lebih dulu menjauh darimu. Bahkan lebih awal sebelum aku tau hatimu tidak benar-benar padaku.” Apa yang sebenarnya dia bicarakan?
“Ra, aku nggak ngerti?”
“Kamu sudah bisa menemukan yang lebih baik lagi Ben. Kita sudah bisa menyudahi semuanya hari ini.”
“Aku nggak…”
“Tapi sebelum semuanya berakhir, aku mau kita menghabiskan hari ini sama-sama. Boleh yah? Terakhir?”
Aku tau maksud dia kali ini. Dia sudah tidak bisa  lagi terus bersabar dengan sikapku yang sudah kelewat dingin padanya selama ini. Karena sikapku sudah jauh menyakiti hatinya.
“Aku baru-baru ini beli mobil, mau jadi orang pertama yang jadi penumpang istimewaku?” dan dia tersenyum sambil mengangguk.
Aku paham kalau hatinya hanya ingin di perlakukan lebih baik. Bahkan harusnya aku menghargai perasaannya dari dulu. karena dia selalu ada untukku. Memberikan nafas yang sebenarnya dia korbankan dari dirinya sendiri.
Dia menungguku membuka hati selama ini. dia terus bersabar padaku dan sikap pegecutku ini. dia sudah jelas memberikan kesempatan padaku meski orag yang lebih baik sudah menunggunya.
Dan tepat pada hari itu, aku sudah merasa duniaku akan lebih berantakan jika aku kehilangannya. Saat dalam perjalanan, hatiku sudah tidak menentu memikirkan bagaimana jika aku tanpanya?
Dia adalah manusia yang memberiku semangat selama ini. Walau wajahku tidak pernah menunjukan betapa aku sangat membutuhkan dia, tapi aku yakin dia paham bahwa aku lebih dari sekedar membutuhkan dia.
“Kamu mau bawa aku kemana?”
“Aku mau ajak kamu ke tempat kita ketemu pertama kali.” sejenak dia tertegun yang lama-lama berubah menjadi wajah tersipu. Aku senang melihatnya tersenyum malu seperti itu.
Toko buku di salah satu mall adalah tempat awal kami bertemu. Dia yang melihatku terlebih dahulu dan kami berkali-kali bertemu di mall yang sama. Aku adalah lelaki yang sedang patah hati. Karena sebelum bertemu dengannya aku telah putus dengan mantanku.
Dia memperkenalkan diri saat kami bertemu lagi di salah satu caffe di mall itu – lagi. Saat itu, dia melihat ku menyanyikan sebuah lagu di caffe itu. Aku hanya bernyanyi pada saat ingin menumpahkan perasaan yang tidak bisa dikatakan.
Mengapa tiba-tiba, kau minta putus dariku..
Tak sanggup hati ini, mendengar keputusanmu….
Oh Tuhan tolonglah, ku cinta dirinya
Tak mampu diriku, lupakan dirinya
Oh Tuhan berikan aku kekuatan
Agar ku dapat melupakan
Semua cinta yang tlah dia khianati…
Saat itu aku kembali duduk di mejaku dan membuka sebuah buku yang baru ku beli. Saat sedang meminum pesananku, dia datang dari samping kiriku. “Raina” katanya saat itu dengan menyulurkan lengan kanannya. “Benny” kataku selanjutnya.
Kami berbincang-bincang karena kebetulan buku yang sedang ku baca adalah buku yang pernah dia baca. Saat itu aku hanya menanggapinya biasa saja. Tapi sepertinya, dia lebih dari itu.
“Ben, aku denger lagi ada buku baru keluaran mas Joddy Hulma, penulis yang kamu suka.”
“Jatuh Hati dengan Kata Terlambat? Aku udah beli kemarin.”
“Isinya bagus?” dan aku hanya mengangguk.
Dia melihat sekeliling toko dan dia mengajakku mengelilingi mall ini. Dia tidak mengenggam lenganku lagi seperti yang selalu dia usahakan saat sedang berjalan denganku. Meski saat itu aku berpura-pura tidak peka dan melepaskan genggaman hangatnya.
“Ke caffe itu yuk?” dia menunjuk caffe saat awal kami berkenalan.
Kami menjadi dekat karena dia merupakan pendengar yang baik. Dan aku benar-benar tidak bisa peka pada perasaannya. Aku meminta bantuannya untuk mengantarku bertemu dengan mantan pacarku yang bertunangan dengan pacar barunya.
“Ra, aku mau kamu jadi pacarku, hanya saja bisakah kita bertemu ke acara mantan pacarku dan kita membuatnya cemburu?”
Aku mungkin melukai perasaannya saat itu, hanya saja dia mengabulkan keinginanku dan menjalankan misi. Mantan pacarku benar-benar menjadi marah karena cemburu. Bagaimana tidak, Reina ku ajak naik mobil Hummer walaupun hanya pinjaman dari teman.
“Kamu mau pesen apa?” aku memang tidak biasa menanyakan ini bahkan saat kami makan berdua. Biasanya aku langsung memesan makanan pesanan ku sendiri, dan dia memilih pesanannya sendiri.
“Milkshake coklat.” Aku bilang pada writers untuk membuat menu yang sama 2 gelas.
“Ini.” aku memberinya sekotak hadiah yang sudah aku persiapkan dari kemarin.
“Cincin?” dia balik bertanya.
“Modelnya simple kaya kesukaan kamu. Dilingkarannya aku kasih nama aku sama kamu. Karena aku nggak suka pake cincin jadi aku pake bandulan kalung. Nih.” Aku menunjukannya.
“Tapi Ben..”
“Sini aku pakein.” Dan aku memasangnya di jari manis tangan kirinya. Dia tersenyum sambil melihat cincin itu.
“Terimakasih.” Katanya dan aku mengangguk.
Saat itu, ada sebuah panggung akustik dan aku tertarik untuk naik ke panggung. Aku memang tidak bisa membahagiakannya selama ini. Namun, pada awal aku membuka hati dan awal dia menutup hati, aku ingin membuat dia menggagalkan maksudnya pergi dariku.
“Aku juga punya hadiah yang lain buat kamu.” Writers tadi datang dengan 2 gelas milkshake pesanan kami.
“Hadiah apa?”
“Kamu Cuma perlu diem disini dan dengerin aku, oke?” diapun mengangguk dan aku pergi ke samping panggung itu.
Aku berdiri di atas panggung dengan sebuah gitar akustik di tanganku. Sebeum ku mulai, aku ingin menyampaikan sesuatu padanya.
“Cek.. selamat malam semuanya. Hari ini sangat berat sekali untuk saya tapi mungkin menjadi salah satu hari yang membahagiakan bagi kalian semua yang menikmatinya. Hari ini, saya sudah bisa membuka hati saya setulusnya untuk dia yang selama ini berusaha meyakinkan saya bahwa dialah yang lebih baik dari semua yang terbaik.” Aku berfikir sejenak.
“Raina, saya minta maaf untuk semua hal yang sudah saya lakukan padamu. Saya benar-benar pengecut karena tidak bisa merabai perasaan kamu selama berbulan-bulan ini. tapi Rain.. saya benar-benar menyesal dan mau kamu masih menjadi bagian terpenting untuk saya.” Dan aku memetik gitar.

Nananana..nananana..
Tiada pernahku duga kau kan tiba
Menghapus semua luka yang kurasa
Membiarkan hatimu jatuh dipelukanku
Memaksa nuraniku tuk jatuh cinta
Sudah cukup waktuku mengenalmu
Ku ingin membawamu lebih jauh
Membiarkan asmara bicara sejujurnya
Melabuhkan rindu diantara kita…
Hatiku hilang didasar samudera, cinta
Ku temukan kembali saat kau menyinari hidupku..
Bagiku kaulah yang membuat dunia indah
Mewarnai hari-hariku
Sempurnalah jiwaku bahagia bersamamu..
(Adera – Bahagia Bersamamu)
Semua orang yang ada di caffe itu bertepuk tangan dan aku melihat Raina menangis sambil tersenyum. Aku turun panggung dan menuju kemeja, saat duduk aku langsung menggenggam jemarinya.
“Kenapa kamu merubah pendirian kamu?”
“Pendirian aku bukan sikap dingin sama kamu. Tapi bagaimana aku harus mengenal kamu dulu. jatuh cinta itu nggak mudah Raina. Dan kamu yang udah ngeyakinin aku. Gimana? Masih mau pergi juga?”
Aku tau dia sudah tidak bisa mempercayai apapun lagi dariku. Walau dia sering bicara bahwa perasaannya tersimpan rapih di hatinya. Dan aku selalu percaya itu.
“Kita pulang yuk Ben.”
“Kok pulang?”
“Aku nggak enak badan deh kayaknya. Aku butuh istirahat.”
“Ya udah kita pulang yah.”
Aku menggenggam jemarinya. Aku ingin dia juga merasakan bahwa sekarang aku benar-benar berjalan padanya. Aku tidak bisa melepaskan orang yang paling mencintaiku. Kesalahan masa laluku adalah kesalahannya. Aku yakin Raina berbeda dari yang pernah aku temukan.
Karena Raina itu seperti hujan yang aku butuhkan saat aku menangis. Dia mampu menutupi kemalut lukaku. Dan dia adalah wanita penyabar juga lembut.
“Kita berhenti di pinggir jalan itu Ben.” Ini masih beberapa meter lagi ke rumahnya.
“Aku harus anterin kamu sampai ke rumah Rain.”
“Nggak usah, aku udah tau kok apa yang akan terjadi setelah ini.” dia menggenggam jemariku dan aku menggenggamnya.
“Benny?” aku melihat matanya.
“Terimakasih sudah mau membuka hati padaku hari ini. terimakasih karena kamu sudah bisa meyakinkan hatimu bahwa aku tidak seperti masa lalumu. Tapi, sejujurnya. Aku sama saja seperti dia yang meninggalkanmu walau faktornya berbeda.” Aku sangat tidak mengerti dengan apa saja yang sudah dia katakana.
“Setelah hari ini. lupakan aku dan hiduplah dengan kebahagiaanmu yang lain. Kebahagian tanpa aku didalamnya. Kamu juga harus menjadi kebahagiaan untuk orang lain. Kamu harus menjadi manusia yang bisa terus tumbuh menjadi lebih baik lagi. dan jangan jadikan aku sebagai alasan kamu terpuruk dan berhenti bermimpi.”
“Raina, jangan bilang kamu..”
“Maaf Ben, kamu harus bisa lupain aku dengan cepat. Aku pamit.”
Dan dia melepaskan genggamannya kemudian turun dari mobil. Aku benar-benar tidak bisa membiarkan hal ini terjadi. Hatiku mencintainya, sejujurnya sejak saat itu. Saat aku masih terluka dengan perih yang menyebar. Tapi dia tetaplah cinta yang pelan-pelan aku perhatikan.
“Rain, tunggu.” Dia berhenti berjalan.
Aku memeluknya dari belakang. “Tolong pertimbangkan ini kembali. Aku nggak bisa kalo harus ngelepasin kamu.”
Dia berbalik dan mencium bibirku sekilas. Dia mengusap air mata dipipiku. Saat itu, aku melihat ‘akhir’ dimatanya. Dan dia begitu cantik saat ku pandang. Wajahnya jauh lebih bersinar dari sinarnya yang biasa ku lihat.
Dia tidak menjawab sepatah katapun dan melanjutkan langkahnya meninggalkan aku yang hanya mampu melihat punggungnya. Saat itu aku tau dia menangis, karena dia mengeluarkan sapu tangan. Warna sapu tangan itu biru muda sepert yang pernah aku berikan. Hey – itu memang sapu tangan dariku.
Sapu tangan itu jatuh dan terbawa angina ke tengah jalan raya. Dia berusaha mengambilnya dan ingin ku bantu. Saat itu niatku urung karena dia berhasil membawa sapu tangan itu di genggamannya.
Yaa… sesaat sebelum dia kehilangan nyawa dan kehidupannya. Mobil taxi yang kebetulan melintas dari belokan tidak bisa melihat dengan jelas Raina yang sedang berjalan di tengah jalan. Aku hanya bisa berteriak sekeras mungkin saat pada akhirnya taxi itu menabrak lutut Raina yang membuatnya terbang menghantam kaca dan terpental lagi kedepan. Kepala Raina mendarat tepat di trotoar pejalan kaki. Seseorang dengan cepat menelfon ambulan.
Saat aku berlari ke arahnya, jalan di penuhi dengan darah dimana-mana. Bahkan kaca taxi yang menabraknya ada cipratan darah. Kakinya bengkok, kepala dan telinganya berdarah, cincin yang aku hadiahkan terlumuri darah, namun tangannya masih mengepal sapu tangan yang terbang tadi.
Tuhan, ini tidak benar. Harusnya dia sedang berjalan ke rumahnya, berkemas, tidur, lalu melupakanku. Bukan dengan cara seperti ini. Tuhan, aku mohon kembalikan dia ke keadaannya satu menit yang lalu. Aku tidak akan memintanya kembali mencintaiku tapi biarkan dia tetap ada di dunia ini.
Saat ku peluk samar-samar ku dengar kata yang terbata darinya “Ben..ny, aku sa..yang kkk..kamu, sampai aku hidd..dup kembali, da..an mati kemud..dian.” Lalu nafasnya sudah berhenti sampai disana.
“Nggak ! nggak ! Rainaaaaa ! plis bangun, aku mohon. Please Tuhan jangan dia ! jangan dia !! RAINA BANGUN !!”
Seolah mimpi yang benar-benar terjadi, aku tetap mendekapnya dan menghalangi darah yang terus keluar dari kepalanya. Tidak ! dia tidak boleh mati. Aku tidak memberinya izin pergi. Tidak !!
Seseorang menepuk bahuku saat aku sedang duduk disebuah caffe dengan laptop di hadapanku. Aku tidak beralih fokus dan seseorang itu memaksaku melihatnya dengan membalikkan wajahku.
“Benny kok di panggil nggak nengok.” Dia adalah teman lamaku.
“Kirana? Hey apa kabar?” dia adalah salah satu wanita yang pernah aku sukai dulu.
“Baik.. Kok sendiri aja?”
“Iyah, lagi santai sambil ngerjain projek nih. Kamu sejak kapan di Indonesia?”
“Sejak seminggu yang lalu. Emm Ben?”
“Yap?” aku tetap fokus pada pekerjaanku.
“Aku denger pacar kamu…”
“Iyah dia meninggal, kecelakaan.”
“Maaf, tapi kamu baik-baik aja kan?” Kirana memang sering perhatian padaku, tapi aku tau maksud dia kali ini.
“I’m fine. Lagian aku juga nggak ngerasa sendiri kok.”
“Jadi sekarang Benny si cowo jomblo udah dewasa menghadapi kenyataan yah?” dia mengelus-ngelus pundakku.
“Siapa bilang aku jomblo?”
“Loh emang kamu udah nemuin lagi yang baru?” aku melihat ke arah bandul cincin yang ada didepan dadaku.
“Dia masih ada di hatiku. Aku masih belum bisa melupakan dia. Lagi pula kami belum putus.”
“Jadi?” sepertinya harapan besarnya harus dia tunggu seperti yang Raina lakukan dulu.
“Yaahh, aku masih menganggap Raina sebagai kekasihku. Bahkan ketika raganya tidak bisa berada disisiku.” Dan coffe itu habis ku teguk.
Dan mulai sekarang, dunia juga harus tau betapa aku mencintai cinta yang mencintaiku. Walau kami harus terpisah untuk jarak yang tidak bisa terbilangkan. Walau sampai kapanpun dia tidak akan kembali menjadi Raina yang aku tunggu. Tapi aku hanya berdoa agar  Tuhan menjaganya sebaik-baik dia menjaga manusia yang lebih dulu pergi sebelum dia.
Cinta ini tidak akan pergi kemanapun. Dia akan ku jaga untuk tetap ada di tempatnya. Walau suatu saat ada penghuni baru yang mengetuk hatiku lagi, tapi kamu masih punya tempat tersendiri dalam hatiku. Semoga ada lagi wanita yang menerimaku sebaik kamu.
Jendela di sampingku menayangkan pemandangan indah. Awan putih dan langit yang cerah seperti wajahmu kala itu. Maaf karena tidak bisa berjanji melupakanmu cepat-cepat. Bagiku yang mencintaimu dengan lambat, melupakanmu juga seperti itu. Walau aku tidak akan pernah bisa melupakanmu dengan benar.
Aku percaya kamu akan menjaga cinta itu sampai kelak kehidupan kedua mempertemukan lagi kita. Maaf, karena dulu sudah pernah melemahkan perjuanganmu. Penyesalan yang membuatku tidak akan lupa bahwa kelak kamulah yang akan aku cari pada kesempatan kedua. Hiduplah dengan bahagia disana Raina.

End.
#RST2016