16 Maret, saat dimana aku menguatkan perasaanku kembali
padamu. Pernah dulu aku begitu memendam karena tidak tahu harus berbuat apa
terhadap perasaanku. Namun setelah melewati berbagai hal, kau menemuiku dan
menawarkan telapak tanganmu untuk ku genggam.
Dengan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi aku
berusaha untuk menjalaninya saja. Aku meraih tanganmu dan perlahan menggenggam
erat jemarimu. Kau berani memasukanku kedalam kisah hidupmu, mengapa aku tidak?
Namun hari-hari sulit berganti dan memaksa untuk dilalui. Dengan fikiran yang kadang kalut dan
hati yang takut. Aku pernah kecewa begitu dalam karena pernah mempercayakan
harapan pada manusia. Sampai saatnya kau datang dan membuatku kembali harus
percaya bahwa hidup tak selamanya sama.
Aku bahagia bisa melewati banyak hal selama bersamamu. Aku
senang diberi pengetahuan selama aku berbincang denganmu. Aku juga suka caramu
menilai apa saja yang kau lihat dan yang kamu ketahui. Sebagai seorang
pendengar, aku memahami apa yang kamu sampaikan.
Namun, rasa untuk membandingkan antara aku dan dia selalu
saja ada. Kita memang tidak pernah benar-benar membicarakan dia. Bagaimana
perjalanan kamu dan dia, apa saja yang pernah kalian lakukan, janji apa saja
yang kalian tautkan, dan lain sebagainya. Tapi aku selalu merasa bukan apa-apa
dibandingkan dengan dia yang sudah lebih dulu mengenalmu.
Kau benar, kisah kita biar kita saja yang jalani. Aku juga
tidak ingin banyak mengetahui tentang kamu dan dia. Tapi tetap saja rasa
bersalah selalu muncul di ulu hatiku. Ketika dia berusaha meyakinkanku bahwa
kamu adalah miliknya, dan aku diam saja sebab keputusan kembali lagi pada kamu
yang memulai semuanya.
Aku tidak memaksa membuka handphonemu hanya untuk mengetahui
hal yang tidak aku ketahui. Dan aku juga tidak ingin memaksa membuka laptop
yang mungkin saja isinya adalah foto kalian berdua selama beberapa tahun ini. Aku
mengerti batas privasi meskipun kamu adalah kekasihku
Mungkin, aku tidak lebih dewasa dari dia. Umurnya lebih tua
dariku dan sudah pasti pola fikirnya lebih matang dariku. Pengalamannya dalam
hidup sudah lebih dulu dari pada aku yang baru memulai semuanya. Mungkin dia
tidak pernah melakukan kesalahan dalam hal apapun, berbeda denganku yang
segalanya harus benar-benar ku benahi agar jalan hidupku tetap lancar.
Aku terheran-heran saat melihat dia berjalan seolah
menghindariku. Padahal aku tak ingin melakukan apapun padanya, bahkan kalau
bisa aku dan dia berteman saja. Meskipun tak akan mudah berbagi cerita tentang
orang yang sama.
Seperti kata bung Fiersa, “Jadi selama ini, saat aku
berharap, mungkin saja kau dan dia sedang bermalam mingguan. Saat aku terbuai,
mungkin saja kalian sedang bergandengan tangan. Saat aku hendak membantu
masalahmu, sudah ada dirinya yang menjadi pahlawan untukmu.” Mungkinkah kita
seperti itu juga?
Saat kau berjanji menjadikanku satu, saat itu aku juga
berfikir mungkin kau mengatakan hal yang sama terhadapnya. Saat kau menatapku
seolah kau tak ingin aku pergi dari sampingmu, mungkin hal itu juga yang kau
lakukan saat kau menatapnya. Atau bahkan peluk yang aku rasakan juga dia
rasakan saat bersamamu.
Saat semua orang mengetahui tentang kita, apa kata mereka
tentang foto yang kau apload di media sosialmu yang pada kenyataanya itu bukan
aku seperti mereka lihat? Saat kita sering menghabiskan waktu bersama alasan
apa yang kau berikan padanya?
Sayang, banyak pertanyaan yang ada di kepalaku saat kau
tersenyum padaku. Dan banyak kata yang ingin aku ungkapkan saat tangan kita
saling menggenggam. Mungkin kau akan paham saat melihat balasan senyumku
padamu. Dan mungkin kau juga merasakan saat aku terdiam dalam pelukanmu.
Aku tetap mencitaimu meskipun dia sudah tau tentang kita.
Ini bukan keegoisan kita, namun rasa tetaplah penyempurna kisah hidup kita.
Banyak hal yang tidak aku ketahui, namun bersamamu segala yang kita lewati
menjadi pelajaran. Bagaimana mungkin aku bisa melepaskanmu juga?
Jika memang benar kau meyakini aku adalah akhir dari
pencarianmu lalu kenapa kau masih menyimpan 2 hati dalam tubuhmu? Sayang,
kenyataan kau melihat aku atau dia baik-baik saja itu tidak benar. Salah satu
pasti ada yang terluka. Tapi sebagai pribadi yang merasakannya, aku seperti
orang yang terluka karena tak bisa melakukan apapun hanya karena aku menghargai
perasaannya.
Kau masih menjaga perasaannya. Kau masih menemuinya dan
menenangkan hatinya. Aku mengetahui semuanya dan bersikap biasa saja. Tapi jauh
dari hal itu, aku sangat tidak baik-baik saja. Bukan karena cemburu kau menomor
satukan dia. Hanya saja aku kebingungan dengan hal apa yang harus aku lakukan
agar tidak membuatnya tersakiti terus-menerus.
Kau yang seharusnya menegaskan untuk membuatku tetap ada
atau bahkan membuatku hilang saja. Namun kau tidak melakukannya.
Aku bukan tidak mau melakukannya, hanya saja jantungku masih
belum siap menahan sakit ketika harus melepaskan manusia yang bisa ku lihat
namun tak bisa ku bisiki kata cinta. Sejujurnya aku sangat tidak siap. Iya, aku
paham kata-kataku berbelit disini. Karena aku memang kebingungan sendiri.
Kita masihlah awal untuk sebuah hubungan, dan kamu sudah
banyak menawarkan harapan. Aku ingin percaya, ingin sekali. Namun selama ada
dia di hatimu, aku masih belum bisa meyakini itu. Sebab bagaimanapun, janji dan
mimpi hanya perihal kau dan aku tanpa siapapun didalamnya.
Sekarang, biarkan kita melewati ini semua. Namun aku tetap
memiliki batas waktu pada percayaku. Kamu bisa menggunakan waktu itu untuk
berfikir. Karena hidup adalah pilihan sayang.
Maaf karena selama ini aku tidak cukup berani untuk menjabarkan hal
yang sepatutnya kau ketahui seperti perasaanku. Karena bagiku, mungkin beberapa
rasa mungkin lebih baik dibiarkan menjadi rahasia. Bukan untuk diutarakan,
namun untuk disyukuri keberadaanya.
Aku mencintaimu, bahkan saat aku belum juga mengetahui di mana sebenar-benarnya hatimu bermukim.
#RST2017