Hujan datang di antara perasaan ku
yang sebenarnya tidak menentu. Entah apa yang terjadi atau mungkin yang akan
terjadi. Ini semacam perasaan takut kehilangan. Ratusan kali aku lihat layar
handphone ku tapi tak ada satupun pemberitahuan darimu. Kesal mulai menjulur
dihatiku.
“Neng, duduk atuh kamu teh. Nggak alus mondar-mandir kaya
satpam komplek nyari temen catur. Sok gera bari duduk.” Ibu kos sepertinya
memperhatikan tingkah anehku ini.
“Iya bu, saya Cuma lagi bingung aja.”
“Lamun bingung mah mending diceritain atuh dari pada dipake
mondar-mandir. Kalah beuki pusing nanti mah ah.” Dia mendekat kearahku.
“Mungkin Cuma
perasaan saya saja sih bu. Saya merasa tidak enak hati tapi saya tidak tau apa
yang terjadi. Tangan juga gemetaran dan lutut seperti tidak ada tulangnya.”
“Euleuh geuning bisa gitu yah? Coba tanyain mamah papahnya
atuh Neng?”
“Udah bu, mereka bilang nggak apa-apa kok.” Dan perasaanku
jauh lebih tertuju pada kamu yang seharian ini tanpa kabar.
“Ah sugan the aya naon si Neng mah. Eta mah Cuma perasaan
aja Neng. Jangan di ambil pusing yah.” Dan aku hanya bisa tersenyum dan
mengangguk.
Tapi ini – saat aku melihat jam
dinding di kamar kost ku. Sudah lebih dari isya dan kamu tidak membalas pesanku
satupun. Tuhan..
Kring..
cepat-cepat aku melihat handphone ku. Ah hanya Trea – sahabat karibku,
pacarnya sahabat pacarku.
“Hallo?”
“Hallo Zi? Ziaaa?” kenapa dia panik begini?
“Iya Tre? Kenapa ih kok panik gini? Kenapa?”
“Lo udah dapet kabar dari Bima? Gue lost contact sama Jimmy
dari tadi siang. Bilangnya Cuma ke pantai doang, tapi jam segini dia belum
ngabarin juga.”
“Hah? Apa kamu bilang? Pantai? Mereka pergi ke pantai?”
“Loh Zii? Bima nggak ngasih tau lo?” Aku benar-benar naik
darah sekarang.
“Mereka berangkat sama siapa aja Tre?”
“Bima, Jimmy, Harun sama si Kito anak yang baru gabung itu.
Mereka berangkat pake mobilnya Kito. Duh Zia, asli gue khawatir.”
“Gue bahkan nggak di kasih tau Tre. Apalagi kabar. Perasaan
gue juga nggak enak dari tadi.”
“Ini nggak bakal kejadian apa-apa kan Zii? Duh kalo lo
bawa-bawa perasaan lo gue suka jadi parno nih. Feeling lo kan bener terus.”
Yap, feeling ku memang tidak pernah salah dan sekarang, dari pada ingin marah
aku malah ingin kamu cepat-cepat mengabariku Bim.
“Kita tunggu aja ya Tre, mudah-mudahan kali ini firasat gue
salah. Doain aja.”
“Iya Zii amin. Gue tutup yah.”
“Iyah. Kalo dapet kabar kasih tau yah.”
“Iya Zia, lo juga.” Tuttuttutt..
Aku bener-bener bakal mukul pantat kamu dengan keras kalau
sesuatu hal beneran terjadi.
Aku Azahra Tiara, lebih akrab dipanggil Zia. Aku mahasiswi
Sastra semester 4 dan punya pacar mahasiswa Ilmu Teknologi semester 4 juga.
Kita beda Universitas tapi dulu satu sekolah. Kita udah pacaran kurang lebih 5
tahun. Bima Rahaga adalah sahabat sekaligus teman hidupku selama ini. Karena
aku anak satu-satunya jadi aku udah nganggap dia juga kakak sendiri. dan untuk
saat ini, aku nggak siap buat menanggapi hal apapun yang terjadi sama dia.
Ting.. sebuah
pesan masuk.
Maaf nggak ngabarin
kamu tadi, aku takut nggak dikasih izin buat pergi. tapi ini aku lagi dijalan
mau pulang dari pantai sama anak-anak. Jangan marah yah. Besok kita beli baso
terus nonton. Ok !
Aku nggak peduli sama tawaran yang lain aku maunya dia
pulang dengan selamat. Hanya itu. Tapi perasaanku tetap tidak bisa berkata demikian.
Akupun membalasnya :
Bilangin sama supirnya buat hati-hati. Simpen no aku di daftar cepat no 1 !
jangan banyak Tanya dan lakuin aja. Aku tunggu kamu di rumah. Nggak di
mana-mana. Cepet pulang aku kangen !
Dan perasaan itu semakin menggebu-gebu saat dia membalasnya.
Iya sayang udah kok.
Eemmm yang kangen. I do love you and more ! Bima sayang Zia yah :*
₪
Aku mencoba
memejamkan mata pada pukul 20.17 dan tidak bisa benar-benar tidur dengan
tenang. Entah apa yang mendorongku untuk mengenakan jaket dan membawa dompet di
saku. Aku sendiri bingung. Tidak akan pernah ada manusia yang mau tertidur
dengan dompet di saku baju tidurnya.
Aku tertawa
sendiri tapi tidak juga menyimpan serta dompetku dimeja. Aku berniat menyeduh
susu sampai akhirnya ada telfon masuk dan aku kehilangan rangsangan saat akan
mengambil gelas. Aku mengangkatnya setelah gelas dan susu itu berantakan di
lanatai. Aaahh~
“Hallo Bim? Udah
nyampe?”
“Hallo selamat
malam? Apa anda mengenal laki-laki yang memiliki handphone ini?” sekali lagi ku
lihat layar nya dan memang nama Bimbim yang tertera disana.
“Oh iya pak ini
ponsel pacar saya. Ada apa ya pak?”
“Maaf nona kami
hanya ingin memberitahu kan bawa mobil yang di kendarai kekasih anda
bertabrakan dengan sebuah truk oleng di persimpangan jalan utara dan para
penumpang di larikan ke UGD RS.Harapan Sehat.”
Sreett.. serpihan kaca yang sedang coba ku bereskan
menggores telapak tanganku.
“Baik pak, saya
segera kesana.”
Aku tidak peduli
sedalam apa aku tersayat. Aku tidak peduli seberapa marah aku padamu. Aku tidak
akan peduli seberapa deras hujan diluar. Aku hanya ingin Tuhan bersamaku
sekarang.
Menyelamatkanmu dari semua kemungkinan yang terjadi. Kita masih punya
mimpi yang belum kita selesaikan Bima. Aku mohon baik-baik sajalah.
“PAK TAKSI !!”
aku menghentikan taksi dengan mencegatnya dan bukan dengan cara baik-baik yang
kau ajarkan dulu.
“Ya ampun Neng !
Mun katabrak eta kumaha? Ke si Mamang nu disalahin mah !”
“Maaf pak. Saya
ingin di antar ke Rs. Harapan Sehat. Tolong cepat ya pak !”
“Uuuh pantesan
wae buru-buru ah si neng mah. Sok atuh di pake sabuk pengamanna.” Dan aku
menurut.
Dulu, saat mamah
masuk rumah sakit dan aku ketakutan setengah mati. Kau ada menjadi penenang
sampai aku bisa kuat menghadapi semuanya. Dulu kamu selalu jadi peluk yang hangat
untuk kerapuhanku. Dan menjadi pundak yang tegar untuk semua masalahku.
Bima ! rasakan
aku sekarang. Aku benar-benar gemetar hebat dan tidak ada manusia satupun yang
mampu membuat aku baik-baik saja.
Maaf karena
pernah memiliki fikiran untuk kembali pada mantanku dulu. maaf pernah berfikir
bahwa lebih baik kamu tidak ada saat aku sedang benar-benar kesal padamu. Dan
maaf pernah seegois itu pada pertengkaran hebat kita yang pada akhirnya kamu
membuat aku percaya lagi.
Bima, aku tidak
mengizinkan kamu mati hari ini. kita masih harus menikah dan memberi cucu
perempuan untuk mamah mu dan cucu laki-laki untuk papahku. Bima aku mohon
kuatlah.
“Berapa pak?”
“27 ribu neng.”
Aku memberi 30
ribu dan tidak lari secepat mungkin. Aku tidak suka rumah sakit. Aku mau kita
pulang. Aku akan menjemputmu. Tunggu Bima tunggu.
“Sus maaf mau
Tanya korban kecelakaan truk dan mobil biasa dimana yah?”
“mereka masih di
UGD mba. Di sebelah kanan.” Tuhan, ini pertama kalinya aku kesini.
“Bisa tolong
antarkan saya sus? Saya benar-benar gemetaran.”
“Oh mari mba.”
Pintu ini, kata
suster itu aku tidak boleh masuk. Lalu bagaimana aku bisa menarikmu keluar?
Dia bilang
tabrakan hebat itu menimbulkan percikan api juga. Bagaimana tidak aku duduk
dilantai saat ini? aku tidak malu dengan ingus yang bercampur dengan air
mataku. Aku tidak peduli dengan orang-orang yang bermata iba melihatku. Aku
kehabisan suara untuk berteriak. Aku kehabisan tenaga untuk menyeretmu keluar.
“HARUUUUNNNN.”
Suara ibu-ibu itu membuatku menoleh.
Itu tante Nila
mamah Harun dan suami barunya. Aku yakin orang tuamu tidak bisa datang Bima.
Mereka sedang tertidur lelap dikota yang berbeda.
“Yukitoooooo.”
Seorang laki-laki tua dan wanita muda datang. Mungkin ayah dan kakaknya. Atau
ayah dan mama mudanya? Entahlah.
Aku melupakan
satu hal. Ku rabai saku jaketku dan mendial nomor Tread. Aku harus bilang apa?
“Hallo Zia? Udah
dapet kabarnya?” aku menarik ingusku dan bicara sekuat yang aku bisa.
“Tre.. mobilnya…”
Terdengar Trea memecahkan sesuatu juga disana. “Mobilnya kecelakaan.”
Aku benar-benar
sudah bicara sekuat yang aku bisa. Dan hanya 4 kata yang bisa keluar dengan
jelas.
“Sekarang mereka
dimana Zi? HAH?”
“Rs. Harapan
Sehat. UGD.”
Panggilan
terputus. Bukan hanya dia, aku juga merasa duniaku mati seketika. Seperti tidak
ada penyemangat, seperti kehilangan harapan.
₪
Dokter keluar
dengan menurunkan masker dan membuka sarung tangan plastiknya.
Wali mereka
bergelombol dan aku sedang berusaha berdiri dengan lutut yang nyaris seperti
tidak bertulang.
“2 orang
mengalami kritis yang parah dan 2 orang lainnya memiliki 75% kemungkinan sadar
lebih cepat. Sepertinya 2 orang yang memiliki kemungkinan ini duduk di jok
belakang sehingga tidak terlalu parah.”
Aku kembali
terkulai di lantai. Dokter sialan ! dia tidak melihat usahaku berdiri apa?
Bahkan aku masih dalah posisi membungkuk harus tergeletak lagi ambruk.
Aku hanya merasa
kedinginan dan mereka mengangkatku ke sebuah kursi kurasa setelah itu aku tidak
ingat apapun.
Tuhan aku mohon berilah aku
kekuatan untuk bisa tetap tegar. Tuhan, kumohon.
Aku kembali
berjalan tertatih ke arah ruangan UGD. Melihat ayah Harun yang menggenggam erat
jarinya yang lain.
“Zia?” aku
tersenyum.
“Mereka sudah
dipindahkan ke ICU.” Aku melihat arah ruang ICU. Dan memberi semangat pada ayah
Harun.
Saat memasuki
ruangan, ada lagi beberapa ruangan disana. Kasihan Bima sendirian.
Aku memasuki
ruangan Bima dan duduk di sampingnya. Aku ingin menggenggam tangannya, tapi aku
takut dia bangun cepat-cepat. Saat melihat wajahnya yang baru saja bersih dari
darah membuatku ingin mencakarnya juga. Aku lega karena Bima masih bisa
selamat, walau pada akhirnya dia akan sejanak lupa padaku.
Aku berjalan
keluar untuk membeli makanan dan minuman ang kemudian melihat Trea menangis
sendiri di luar ruangan Jimmy.
“Tre?” aku
memegang pundaknya yang gemetar.
“Dokter bilang
Jimmy orang yang duduk di depan. Dan kemungkinan selamatnya sangat kecil. Zii?
Aku harus bagaimana? Kenapa firasatmu tidak bisa kau tahan saja.” Aku
memeluknya.
“Maaf karena aku
juga tidak bisa berbuat apa-apa. Karena sekarang yang bisa kita lakukan hanya
berdoa dan biarkan Tuhan membuat semuanya baik-baik saja.”
“Bagaimana kalau
Tuhan mengambil Jimmy lebih cepat? Bagaimana kalau aku tidak bisa melihatnya
lagi?”
“Kamu bilang, aku
harus menyimpan dalam-dalam apapun yang aku fikirkan saat panik. Dan sekarang,
kamupun harus melakukannya. Semoga saja Jimmy kembali bangun dan kembali pada
kita lagi.” diapun mengangguk di pelukanku.
₪
Saat kembali dari
minimarket di depan rumah sakit aku melihat suster dan dokter sedang memeriksa
keadaanya lagi. Tuhan, semoga dia kembali lagi bersamaku dan hari-hari indah
kami.
“Keadaannya
membaik. Tolong di temani ya dik.” Akupun menganguk.
Aku menyimpan
makanan yang mungkin dia inginkan saat dia tersadar lagi. aku sudah memberi
tahu keluarganya tentang keadaannya dan meminta doa mereka saja, disini biar
aku yang menjaganya. Aku juga meminta doa mamah dan papahku. Semoga kamu bisa
Tuhan mendengar doa mereka dan mengabulkannya.
Ku genggam tangan
yang biasanya menggenggamku. Dia terlihat pucat dan lemah. Kenapa juga kamu
harus pergi kesana tanpa mengabariku? Ini adalah alasan kenapa aku tidak bisa
membiarkanmu pergi jauh-jauh dariku. Kamu fikir khawatir adalah hal yang bisa
disepelekan?
Kamu pernah marah
besar saat aku pulang dari kampus dengan ojek. Padahal aku memilih pengendaranya
yang sesuai perkataanmu. Lalu, kalau kejadiannya seperi ini. aku harus seperti
apa?
Kalau saja
tangisanku bisa membuatmu bangun aku akan menangis sederas mungkin. Dan kalau
saja pukulanku bisa memuatmu lebih baik seperti waktu itu, mungkin aku akan
memukulmu sekencang mungkin.
Saat-saat seperti
ini, aku mulai memikirkan hal-hal paling indah dari kita. Bagaimana kamu
membuatku tertawa sepanjang percakapan kita saat aku bersedih karena papah. Aku
mulai memikirkan betapa sayangnya aku padamu da kamu padaku. Aku ingat tingkah
lucumu yang membuat orang yang menyukaiku dengan fanatic pergi begitu saja. Dan
bagaimana usahaku menjauhkan kamu dari adik kelas yang mengejar-ngejarmu.
Aku selalu saja
merasa menyesal kalau harus ingat betapa dalam pertengkaran kita, aku selalu
memintamu pergi. dan aku juga selalu menyesal karena dalam kesalku aku selalu
saja berharap mantanku lah yang ada untukku. Padahal disisi lain, kamulah yang
selalu ada untukku dan mengabulkan semua permintaanku yang tidak pernah papah
kabulkan.
Kamu sayang
padaku. Itu yang selalu kamu katakana saat mengawali chat atau mengakhiri
percakapan. Kamu adalah laki-laki paling berharga untukku. Kamu bisa mengerti
manusia paling egois pada keinginannya ini. kamu yang mengajarkan aku untuk
egar dan selalu berfikir positif. Dan sekarang aku sudah bisa melakukannya. Aku
kuat karena kamu.
₪
Matamu bergerak
seperti akan terbuka. Jarimu mulai memperlihatkan reaksi. Tuhan terimakasih.
Segera setelah aku menekan tombol panggilan dokter, merekapun datang.
“Syukurlah dia
sudah sadar lebih cepat. Dia sadar lebih awal.” Aku melihatnya dan dia terlihat
seperti kebingungan.
“Dok, apa dia
baik-baik saja?”
“Kita tunggu
sebentar yah.” Diapun memeriksanya lagi.
Terima kasih
karena sudah mau kembali melihatku lagi, walau dengan tatapan berbeda.
Terimakasih sudah menguatkan diri dan hidup kembali.
“Nanti temui saya
di ruang dokter ya dik.” Akupun mengangguk.
Tuhan,
terimakasih sudah mengizinkan dia memperbaiki hidupnya lagi. Aku mememeluknya dengan erat dan dia hanya
diam.
“Terimakasih
sudah kembali.”
“Maaf sudah
membuat kamu khawatir.” Gaya bahasa Bima seharusnya tidak seperti ini.
Aku berhenti
memeluknya dan menatap wajahnya. Dia tersenyum dengan senyumanyang sama.
“Dokter tadi
bilang, kamu adalah orang yang sangat berharga. Dan dia bilang kamu sangat
khawatir terjadi apa-apa dengan saya.”
Aku menangis
lagi. seakan belum lelah Tuhan melihat kerapuhanku. Aku melihat nya dan dia
melihatku. Dia mengelus pipiku dan menghapus air mataku. Dia seperti biasanya,
namun tidak seperti dia biasanya.
“Kamu tunggu
disini yah. Aku mau nemuin dokter yang tadi dulu.” dia mengangguk.
Sebenarnya, apa
yang sedang Tuhan rencanakan padaku? Apa yang Tuhan ingin lihat dariku?
Ketegaran? Atau bahkan kerapuhan ku?
Tok..tok..
“Masuk.” Aku
membuka pintu dan bau obatpun menjalar.
“Saya wali dari Bima Rahaga.”
“Oh baiklah, silahkan duduk.” Aku mengangguk.
“Jadi begini dik. Bersyukurlah kalau Bima masih mendapat kesempatan
75% untuk bisa tersadar lebih cepat. Namun saya rasa benturan di tulang
belakang nya akan membuat dia amnesia sederhana.”
“Maksudnya amnesia sederhana dok?” suaraku bergetar.
“Saya rasa dia mengalami lupa ingatan namun tidak permanen.” Aku
bergetar hebat. Rasanya sudah semua air mata aku keluarkan untuk menangisi
kejadian malam ini. Tuhan kenapa malam begitu lama sekarang?
“berapa lama dia akan amnesia?”
“Saat benturan keras, ini sering terjadi. Biasanya hanya sementara.
Tidak akan lebih dari 1 bulan dari kejadian. Namun akan lebih baik jika dia
memiiki daya ingat yang tinggi. Dia bisa kembali normal dalam 3 hari.” Aku
mulai bernafas lega.
“Untuk pasien yang lainnya?”
“saya rasa untuk pasien bernama Kito dan Jimmy akan sangat kecil
kemungkinan untuk selamat. Sebab Jimmy dan Kito mendapat lebih dari 4 tulang
yang patah. Terlebih banyak syaraf yang terhimpit dan pembekuan darah
dimana-mana. Kalau untuk pasien Harun, saya rasa dia akan mengalami kebutaan
sementara. Jika Bima terbentur di bagian belakang kalau Harun di bagian pelipis
ata dan mengenai syaraf matanya. Ini benar-benar tabrakan yang hebat.”
Aku tidak bisa menutup mulut saat mendengar kronologi pasien. Tidak
ada yang lebih baik aku rasa. Sekarang, bagaimana perasaan Trea saat ‘mungkin’
mengetahui kesempatan selamat Jimmy tidaklah memungkinkan.
Tapi Tuhan, aku mohon kau tetap bersama kami dan mungkinkanlah segala
hal yang kami inginkan.
“Kalau begitu
saya permisi dok.” Dan dia pun mempersilahkan aku pergi.
Kenapa lorong ini
terasa panjang? Kenapa rumah sakit ini begitu dingin dan sepi? Kenapa juga
Tuhan harus seperti ini padaku? Dan kenapa aku selalu menyalahkan Tuhan?
Kreeetttt.. pintu kamar Bima seperti sulit dibuka.
Atau aku yang sudah kehabisan tenaga?
Dia sedang
bersandar dengan remot tivi di lengannya. Dia tertawa seperti tidak ada
kejadian apapun yang menimpanya. Untuk orang yang sudah lebih dari 5 tahun
dengannya, melihat dia seperti ini membuat aku ingin berteriak sekencang
mungkin.
Bagaimana tidak?
Bagaimana kalau dia lupa bahwa akulah manusia yang dia perjuangkan selama ini?
bagaimana kalau dia tidak mau lagi memelukku? Tuhan, buat aku tegar.
“Kamu sudah
kembali?” aku tersenyum.
“Kok udah liat
tivi lagi? enggak pusing?”
“Maaf, tapi saya
bosan.”
“kamu nggak biasa
bilang ‘saya’ kamu sering bilangnya ‘aku’. Jangan kaku gini yah? Aku nggak
biasa.”
“Oooh. Maaf yah.”
Dia tersenyum.
“Kamu lapar?” dan
pipiku basah lagi.
“Sepertinya iya. Hehe”
“Aku kupasin apel
mau? Atau mau makan bubur manis?”
“Apel aja.” Dan
aku kupaskan buah kesukaannya itu.
“Oh ya, nama kamu
siapa?” deggg..
“Aku Zia, Azahra
Tiara. Ingat?” dia diam sejenak.
“Sepertinya
pernah dengar.” Aku tersenyum.
“Apa saja yang
kamu lupa? Aku tau banyak tentang kamu.”
“Namaku? Asalku?
Kenapa aku ada disini? Siapa kamu bagiku? Dan hal-hal yang lain?”
“Kamu Bima
Rahaga, kita dari kota yang sama dan disini kita Cuma kuliah. Kamu kecelakaan.
Dan aku pacar kamu dari 5 tahun yang lalu…….” Dan aku menceritakan semuanya.
Kadang dia terdiam, kadang dia tertawa, kadang air matanya jatuh dan kadang dia
ikut membasuh air mataku.
Kisah kami tidak
sedikit. Dan aku menceritakan semuanya. Sampai akhirnya dia memelukku.
“Maaf karena
tidak bisa ingat hari ini. maaf karena aku masih lupa bagaimana kita. Tapi, aku
akan berusaha ingat.”
Aku tersenyum,
karena apapun yang dia katakana aku yakin dia akan melakukannya.
“Kamu harus kuat,
kamu harus sembuh. Besok kita akan lihat keadaan teman kamu yang lainnya. Yah?”
“Siaaapp.” Dia
tersenyum manis seperti biasanya. Tuhan, setidaknya aku masih bisa melihat
tatapan dan senyumannya. Terimakasih.
“Sekarang kamu
istirahat yah, ayo tidur.” Dia membaringkan badannya dan aku menutup tubuhnya
dengan selimbut. Aku duduk disampingnya dan menggenggam tangannya. Dia
melihatku lalu tersenyum.
“kenapa liatin
aku kaya gitu?”
“Kayaknya aku
emang beruntung yah punya kamu? Pasti dulu aku bahagia terus deh?”
“Iyah, kamu
adalah orang paling bahagia.”
“Haaahhh, kamu
cantik. Terimakasih sudah mau setia menungu aku dikeadaan seperti ini.”
“Yes I’am.” Dan
kamipun sama-sama melupakan lelah mala mini.
₪
Dunia kembali
terang saat aku membuka mata. Suara-suara di rumah sakit mulai gaduh. Dan suara
belangkar dorong yang berpadu dengan lantai poslen jadi ciri khas disini.
“Jimmy Noooo !!
please Jimmy !!” samar-samar ku dengar suara histeris dari luar sana. Aku
melihat Bima yang masih tertidur tenang. Ku lihat perutnya. Syukurlah masih
kembang kempis.
Aku keluar.
“Treaaaa !!”
“Zii Jimmy di
bawa pergi.” dia duduk di lantai. Mengingatkan aku pada sulitnya menjalani
malam tadi.
“Dia di bawa ke
ruang operasi lagi Zia.” Badannya bergetar hebat.
“Trea sini-sini
bangun.” Aku memeluknya.
“Zia, apa yang
bakal terjadi sama Jimmy.” Dia menangis keras di pundakku.
“Sabar sayang,
sekarang berdoa aja dulu sama Tuhan. Semoga Tuhan memberikan yang terbaik.”
“Gue nggak
sanggup Zii.”
“Kamu udah telfon
keluarga Jimmy?” dia mengangguk.
“Mereka lagi di
jalan.”
“Ya udah sekarang
kamu istirahat dulu. dari semalem nggak tidur kan? Yuk ke ruangan Bima?”
“Bima udah
sadar?”
“Iyah udah.” Dia
menangis lagi.
“Tuhkaaaannnn..
kenapa Jimmy nggak mau sadar juga Zii? Harusnya kan mereka sadar barengan.”
“Tapi Bima lupa
ingatan Tre.” Dia diam.
“Yuk nunggunya di
ruangan Bima aja?” dan diapun menurut.
Kami masuk ke
ruangan Bima, dan dia baru saja akan mengambil minum.
“Bimaaaa.” Trea
memeluk Bima. Bima diam.
“Bima, ini Trea
pacar Jimmy sahabat kamu. Sahabat kita.”
“Hay. Maaf ku
nggak inget apa-apa. Kata dokter aku amnesia tapi nggak tau juga.”
“Jimmy belum
sadar Bim, Jimmy malah di ajak ke ruang operasi. Dia nggak sayang sama gue.”
Bima menepuk
pundak Trea. Dia masih sepeduli dulu. walau dia sedang dalam keadaan
memprihatinkan juga.
“Kamu harus kuat,
beri dia kekuatan dengan doa. Aku rasa dia akan mendengar dari tidurnya.
Seperti aku yang mendengar doa Zia dan kembali tersadar.” Aku tersenyum.
“Ya udah Tre,
kamu tidur dulu tuh di sofa. Nanti kalau ada apa-apa aku bangunin yah.” Dia
setuju.
“Kamu mau makan
Yang?” Bima tidak menggubris. “Bimaa?”
“Iyah?” dia
menengok.
“Aku nanya kok
nggak di jawab?”
“Aku fikir nggak
ngobrol sama aku. Iyah, kayaknya aku laper.”
Aku mengambil
bubur yang sudah disediakan untuk pasien. Aku tidak yakin Bima akan suka. Sebab
rasanya bukan selera Bima.
“Ini, aaaaaa.”
Dia membuka mulutnya.
“Zia?” aku
bergumam. “Rasana nggak enak. Maksudnya nggak ada rasanya. Pait.”
“Mau aku tambahin
bumbu? Kebetulan kemarin aku beli Masako. Aku tau kamu nggak bakal suka makanan
hambar.” Diapun mengangguk.
Saat sedang
memberinya makan, dia menatapku dan sesekali tersenyum. Aku membiarkannya
seperti itu, siapa tau dia bisa mengingat sesuatu. Ada hal yang aku syukuri
dibalik hilang ingatannya. Setidaknya, dia akan sejanak melupakan traumanya
dari kecelakaan itu. Dia akan sejanak lupa kalau Jimmy – sahabat karibnya,
sedang berjuang di ruang operasi sana.
Kalau saja dia
tersadar, kalau saja dia tau apa yang terjadi. Aku tidak yakin dia akan
sebaik-baik saja seperti ini. walau pada akhirnya dia akan menangisi apa yang
pergi dari sisinya dan apa yang hilang dari genggamannya.
Setelah ini, dia
harus mengerti bahwa Tuhan adalah benar-benar pemilik semesta dan isinya. Juga
pada tanganNya lah semua skenario ini dijalankan.
“Kenyang Zi.” Aku
berhenti menyuapinya.
“Oh ya, aku
melihat keadaan korban lain dulu yah?” dia menahan lenganku.
“Aku ikut.” Aku
tersenyum.
“Kalau gitu, aku
minjem kursi roda dulu yah.” Dia mengangguk dan menunggu.
Saat keluar dari
ruangan, orang tua Harun sedang berada diluar dengan dokter. Aku mendekati
mereka, dan ibu harun memelukku. Aku paham duka yang terselip diantara bahagia
ini. Kami bahagia mereka bisa selamat dari maut. Namun dampak yang mereka bawa,
membuat hati orang-orang yang menyayangi mereka sangat terluka.
“Sus, saya mau
bawa Bima keliling. Boleh pinjam kursi rodanya?”
“Silahkan dik.
Syukurlah Bima sudah pulih dengan cepat. Walau efek nya sangat menyulitkan bagi
kita juga. Tapi yah, setidaknya itu hanya sementara.”
“Iyah sus,
terimakasih.”
“Mau saya bantu?
Mari.”
“Hehe, sekali
lagi terimakasih ya sus.” Suster itu hanya tersenyum.
Da bercerita
bahwa diapun pernah merasakan hal yang sama. Namun saat itu kekasihnya sama
sekali tidak di beri kesempatan menginap diruang pasien. Tuhan langsung
mengambilnya begitu saja. Aku paham perasaan itu.
“Wah, tampannya
Bima kalau sudah bangun.” Bima pun tersenyum.
“Kalian pasangan
serasi. Pertahankan yah?” aku hanya bisa tertawa kecil. Karena bertahan
bersamanyaadalah suatu keharusan.
“Pelan-pelan
Bim.” Dia pun duduk di kursi roda.
“Dik? Perempuan
dikursi itu bukannya wali dari Jimmy yang sekarang sedang di operasi tulang
leher dan iganya yah?”
“Iyah sus, kasian
semalaman mungkin dia tidak tidur. Jadi saya biarkan dia istirahat disini.”
“Dia akan bahagia
setelah ini, karena kebetulan Jimmy maih bisa diselamatkan walau nanti hasilnya
tidak sama.” Kami keluar dari ruangan, dan aku mendorong kursi roda Bima menuju
ruangan sahabat-sahabatnya.
“Syukurlah. Oh ya
sus, pasien Kito itu kemana yah?”
“Loh adik tidak
tau? Subuh tadi kan Kito sudah dibawa pulang jasadnya?”
Aku kaget
setengah mati. Bimapun melihat kearahku. Aku menutup telinga Bima dan aku
menangis. Mereka baru saja bersama satu bulan yang lalu. Mereka kenal karena
Kito adalah pecinta lensa seperti Bima. Dan mereka akrab karena Bima yang
mengedit foto Kito waktu itu.
“Kito itu yang
menyupir mobil kan Zii?” aku hanya mampu mencium ubun-ubun Bima. Dia memegangi
kepalanya.
“Loh Bim?
Kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
Aku tahu dia bohong. “Ayo kita lihat yang lainnya.”
“Permisi sus.”
Dan suster itu hanya mengangguk.
Aku membawanya ke
ruangan Harun. Orangtua Harun kaget karena Bima sudah bisa di ajak keluar
ruangan.
“Syukurlah Bima..
akhirnya.” Bima melihat ke arahku.
“Mereka orangtua
Harun. Ini mamanya ini papanya. “ Bima tersenyum pada mereka.
“Itu aHarun baru
saja diberi obat tidur. Tadi dia tidak bisa tenang setelah mengetahui keadaanya
walaupun kami sudah bilang itu tidak akan lama.”
“Harun pasti
baik-baik saja.” Bima menguatkan mereka.
“Kami harap juga
seperti itu.”
Kami mendeati
Harun yang di ikat tangannya dengan tali. Harunpun terbagun.
“Anj** kenapa
masih aja gelap? Katanya Cuma bentaran ! Maaahhh.” Suaranya bergetar. Akupun
menangis kembali. Bima menyentuh tangannya.
“Har, ini aku
Bima.”
“Bim? Bima? Lo
masih bisa liat? Bim? Lo baik-baik aja?”
“Aku bisa liat
Har, tapi aku nggak bisa inget apapun. Maaf juga aku nggak bisa kenal kamu
dengan baik. Tapi aku yakin kita bisa melewati semua ini.”
“Astaga…”
“Harun, kamu kuat
yah. Pelan-pelan semuanya akan kembali lagi seperti semula. Kamu sama Bima
beruntung masih bisa diselamatkan. Jadi semangat yah.”
“Tapi Ziii…” dia
menangis. Kapas yang menghalangi matanya basah.
Ternyata, yang
membuat dia buta adalah syaraf yang terhimpit membuat matanya bengkak.
“Kami kan selalu
berdoa untuk kesembuhan kalian. Jangan takut tidak kembali. Tetaplah yakin kamu
bisa. Seperti aku yang selalu yakin kalau Bima juga akan mengingat semuanya
lagi.” dan Bima tersenyum mnatapku.
“Kita pamit dulu
yah Harun. Mari Om, Tante.”
“Iyah Zia.”
Harusnya kita
tidak disini hari ini. harusnya kita sedang berada di tempat makan yang kamu
janjikan. Harusnya sekarang aku menggandeng tanganmu dan tidak mendorongmu di
kursi roda dengan perasaanmu yang masih canggung padaku.
“Zia?”
“Hmmm?” aku
memberhentikannya di lorong dekat sebuah kursi, dan aku duduk di kursi
tersebut.
“Aku belum siap
melihat Jimmy.” Aku mengerutkan dahi. Apa
dia sudah ingat?
“Aku tidak yakin
aku akan benar-benar ingat. Kalau saja dia memang sahabat karibku. Pastinya aku
akan menangis dan tidak bisa menerima
apa yang terjadi padanya. Seharusnya seperi itu kan?”
“Bima, ingat
kata-kataku kali ini. aku paham betul kamu dan dia sulit dipisahkan. Saat aku
tidak ingin bertemu denganmu, kamu menemuinya dan dia meyakinkan aku kalau kamu
tidak bersalah. Kalian sangat dekat dan sering tidur dengan kasur yang sama.
Tapi, apapun yang terjadi padanya. Kamu tidak seharusnya menyalahkan dirimu
sendiri. kalian hidup bersama. Tapi bukan berarti takdir kalian harus sama.”
Dia mendengarkan dengan baik seperti biasa.
“Kamu akan
menghadapi dunia kamu sendiri , begitupun Jimmy. Tidak ada yang harus disesali
jika Tuhan berkata lain. Aku kuat saat kamu dalam masa kritis. Kamu selamat
karena doa terkuatku. Sekarang, jika kamu ingin dia selamat juga. Kamu harus
mendoakan yang terbaik untuknya. Walau kamu masih belum mengerti apa yang
terjadi. Walau kamu masih belum mengingat apapun. Kamu harus tetap mengikuti
kata hatimu.”
“Hatiku merasakan
bahwa kamu dan dia adalah orang yang berharga. Meskipun aku belum bisa ingat,
tapi ada perasaan khawatir saat mengetahui kalau Jimmy tidak baik-baik saja.”
“Wajibmu saat ini
hanya berdoa. Untuk dirimu sendiri dan dia.”
“Zia, terimakasih
sudah mau menemaniku. Saat dalam hal tersulit nantipun, aku tidak akan
meninggalkan kamu.”
“Kamu memang
harus seperti itu.” Kami berpelukan untuk mengurangi kekhawatiran hari ini.
₪
Aku menemani Trea
menemui dokter yang mengoperasi Jimmy. Bima tidur dengan tenang di kamarnya
setelah menerima telfon dari mamanya. Beliau sangat khawatir namun tidak bisa
datang kemari. Yah, itulah keluarga Bima. Yang lebih mengutamakan pekerjaan
ketimbang keselamatan anaknya. Tapi Bima tidak pernah mengeluh. Baginya, meskipun
salah namun itulah cara orang tua Bima menunjukan rasa kasih sayang mereka.
Dengan memberikan apapun yang Bima butuhkan, itu sudah cukup.
“Jimmy sudah bisa
dijenguk. Operasi pemasangan alat pada tulangnya berhasil. Dan alur
pernafasannya pun sudah mulai stabil.”
“Alhamdulillah.”
Trea memelukku erat. Akhirnya, kami tidak kehilangan lagi.
“Terimakasih
dokter.”
“Sama-sama.
Mari.” Kami mengangguk dan tersenyum.
“Sana temani
Jimmy. Kalau bangun jangan langsung dikagetin dengan tangisan kamu yang
berisik. Jangan dipeluk kenceng-kenceng juga. Ada alat didalam tubuhnya.” Trea
tersenyum.
“Makasih udah
nemenin gue. Dan makasih udah kuat bersama.”
“Iyah. Semangat
Trea ! sekarang semua kembali lagi sama cara kamu jaga dia. Orang tuanya juga
udah ada disini kan?”
“Iyah. Maaf belum
bisa nemenin lo sama Bima. Nanti kalau di ruangan immy penuh dan dia udah
sadar. Gue bakal kasih tau lo.” Akupun mengangguk dan pergi.
Seharian ini.
Tuhan memberikan kekuatan yang luar biasa untuk kami. Bima, do you believe it? We're gonna make it now !
₪
Satu bulan dari
kejadian. Aku melewati hari demi hari dengan menemani Bima di rumah sakit.
Pergi ke kampus dan ulang cepat-cepat dengan membawa makanan pesanan Bima.
Walau dia masih saja canggung padaku. Tapi dia tetap tidak mau membuatku sedih.
Dia pernah
menangis hebat karena kesakitan di bagian kepala belakangnya. Aku panik untuk
yang kedua kalinya. Dia di periksa oleh dokter dan aku menunggu diluar. Saat
itu Duniaku terguncang lagi. Jimmy di bawa ke rumahsakit yang lebih lengkap
waktu itu. Jadi tidak ada siapapun yang menemaniku.
Tapi sekarang
semuanya sudah baik-baik saja. Dan aku sudah bisa membawanya pulang. Jadwal
kampusku kali ini sampai jam 11 siang dan aku akan langsung meluncur ke rumah
sakit. Semua pakaian Bima sudah di packing tadi malam, jadi nanti aku bisa
langsung membawanya pulang.
“Bima udah siap
pulang?”
“Kita pulang
kemana Zii?”
“Ke kosan kamulah
masa ke kosan aku?”
“Berarti nanti
aku nggak bisa ditengokin kamu lagi?”
“Sementara aku
bakal nitipin kamu di ibu kost jadi aku bisa jengukin kamu bebas. Lagian kamu
kan nggak lumpuh juga.” Aku memasukan barang yang belum sempat aku masukan.
“Katanya ibu kost
ku galak.”
“Kata siapa?”
“Jimmy.”
“Sayang, ibu kost
kamu itu yang terbaik. Dia itu cs aku banget ! tiap kali aku kesana dia seneng
tuh. Dan kamu akan dibikinin nasi goring tiap kali kamu nggak makan.”
“Emang aku sering
bawa kamu ke kostan yah?”
“Sering. Kalau
kita lagi males jalan-jalan biasanya aku bakal beli belanjaan dan kita masak
bareng sama ibu kost kamu. Soalnya aku kan nggak punya ibu kost.”
“Emang kamu diem
dimana?”
“Di kontrakan
sayang. Sama temen-temen aku kan. Kita ngontrak rumah. Kamarnya ada 4. Satu
kamar buat 2 orang juga cukup. Tapi semenjak temen satu kamar aku wisuda aku
jadi sendirian di kamar.”
“Oooohh.” Dia
menghabiskan susunya.
“Eh bentar.” Saat
menghapus bekas susu di sudut bibirnya. Aku melihat wajahnya dengan jelas.
Wajah pucat yang berseri-seri. Aku rindu tatapan lugu kamu.
Muuaacch.. What?
“Kamu kok nyium
aku sih?” aku mencubit tangannya.
“Semenjak aku
amnesia. Aku ngerasa jadi orang asing. Kalau di tivi itu kan yang pacaran
biasanya ciuman.” Dia mengatakan dengan wajah polosnya.
“Tapi kan nggak
dengan keadaan kayak gini juga.” Pipiku memerah.
“Ya udah yuk
pulang.” Aku membawa kopernya dan dia berjalan keluar duluan. Nggak peka !
“Waah. Bima sudah
mau pulang lagi.”
“Iyah sus, sudah
kangen suasana luar.”
“Eh ini, ada yang
minta nomor handphone mu.” Apaaa?
“Aduh maaf tapi
saya tidak ingat. Lagi pula hp saya ada di…”
“Maaf sus, Hp
Bima saya rusakin karena banyak foto cewe bugilnya. Terus bima juga nyimpen
foto-foto homo. Bima ini pecinta bokep deh pokoknya. Jangan mau.”
“Ah yang bener
mba?” dia bergidik dan menarik lagi kertasnya.
“Iyah. Saya kenal
Bima kan udah lama. Haha. Kita permisi ya sus. Mari.” Dan suster itupun menemui
suster genit yang selama ini mengurus Bima juga. Suster muda yang baru koast
mungkin.
“Kamu kok bilang
aku pecinta bokep sih?”
“Kamu nggak tau?”
“Nggak, perasaan
aku nggak suka hal yang begituan?”
“Oooohh, udah
inget yah?”
“Eng..engg..
enggak kok. Cuma kamu bikin aku malu depan suster itu.”
“Biarin, karena
kamu juga dulu ngelakuin hal yang sama. Inget as aku di kejar-kejar sama fans
fanatik yang ngebet banget jadi pacar aku? Kamu bikin dia ngejauh dengan kata
yang paling jitu.”
“Kata apa?”
“Kamu bilang ke
dia kalau aku udah nggak perawan lagi. kamu gila tau nggak. Gimana kalau satu
kampus tau ? kan berabe?”
“Mungkin kalaupun
iya, orang-orang bakal tau kalau kamu udah nggak perawannya itu sama aku.
Lagian kita juga kan mau nikah ini. gitukan?”
“Hah.. terserah.
Tapi waktu itu kamu bikin malu aku setengah mati !”
“Maaf yah.”
Kamipun tertawa bersama untuk melupakan semuanya.”
₪
Satu bulan lagi
akhirnya berlalu. Kami masih seperti biasa melewati masa-masa yan tersisa
bersama. Harun sudah bisa melihat, namun Bima masih tidak bisa mengingat. Dia
bahkan masih lupa kemana kita biasanya pergi dihari minggu. Aku sendiri takut
dia lupa kapan kita anniversary. Mungkin di tahun ini, aku dan dia hanya akan
menghabiskan seharian dirumah saja.
Besok adalah hari
yang terhitung hubungan kami yang ke 6 tahun. Hebatnya, dia tidak bisa
mengingat tanggal-tangal penting.
“Besok kamu mau
kemana?”
“Entahlah,
memangnya?” dia hanya menatap layar laptopnya dan melihat-lihat foto yang
berfolder-folder itu.
“enggak ada acara
kan?”
“Kayaknya
enggak.”
“ini dimakan dulu
supnya nanti keburu dingin.”
“Iya bentar.”
“Iiiihh Bima !”
Aku menutup paksa laptopnya.
“Ih Zia ! aku tuh
baru lagi ketemu sama laptop aku. Emang kamu nggak mau aku cepet-cepet inget
apa?”
“Tau ah.” Aku
melangkah keluar.
“Lah kok marah
sih Zii?” tapi dia tidak mengikutiku.
Aku pulang dengan
perasaan kesal yang menyedihkan. Kenapa juga aku harus kesal pada orang yang
tidak tau apa-apa? Kenapa juga aku harus marah padanya? Dia hanya tidak tau apa
masalahnya. Kadang aku memang sebodoh ini.
Tengah malam tadi
dia menelfonku tapi tidak ku angkat karena sudah tertidur. Biarlah, dia harus
lebih keras lagi mengingat.
“Zia !! ada yang
nyariin lo tuh di gerbang?”
“Siapa?”
“Cowo lo !”
Aku buru-buru
menemuinya. Saat selangkah lagi menuju senyumanna, aku sadar aku sedang kesal
padanya. Aku terhenti dan hendak memutar badan sesaat sebelum dia memegang
tanganku.
“Jangan marah
gitu dong. Yuk naik.”
“Kemana?”
“Udah ikut aja.
Ini pertama kali kan aku bawa kamu naik mobil?” dia pun tersenyum. Anehnya, ada
perasaan yang tiba-tiba saja lega.
“Kemana dulu? aku
takut tiba-tiba nyusruk lagi.”
“Oke, sekarang
kita ngikutin firasat kamu. Baik atau buruk?”
Aku merasakan
akan ada hal baik. “Okee.” Aku naik ke dalam mobil nya.
“Inget buat pakai sabuk pengaman.” Aku melakukannya.
Sebelum pergi, dia menyuruhku membawa pakaian ganti dan aku ikut saja.
Aku pamit pada anak-anak kontrakan dan menghubungi mamah terlebih dahulu.
Dia membawaku belanja cemilan terlebih dahulu ke minimarket.
Diperjalanan dia memutar lagu favorit kami. Lagu-lagu full album dari One
Direction. Disini aku mulai merasakan hal aneh. Dia tidak bicara apapun padaku
dan fokus menyetir. Sesekali ku suapi dia dengan makanan ringan.
“Kita mau nginep dimana Bim?”
“Di rumah sodaranya temen.”
Aku memeluk tubuhku sendiri. “Nggak boleh macem-macem.”
“Haha, jangan mikir yang aneh-aneh dong Zii. Ini bukan waktunya.”
“Tapi kan kamu selalu aja punya fikiran-fikiran negative.”
“Ya tapi aku nggak senekad itu.”
Yeeeepp. Kata-kata ini membuatku terbelalak. Ini adalah kata-kata yang
selalu dia ucapkan kalau aku mengira dia akan melakukan hal aneh padaku.
“Bima?”
“Kenapa Zii?”
“Eh enggak jadi.”
Beberapa jam kemudian kami sampai disebuah rumah kecil di atas bukit.
Pemandangan dari sini lumayan indah. Tapi dari tadi ada yang mengganjal
difikiranku.
“Eh, nak Bima. Mari masuk.”
“Iya bu. Yuk.” Dia menggandeng tanganku.
“Silahkan. Nanti Aden datang kesininya nyusul katanya. ini kamar mu
dan Aden. Ini kamar adik itu.” Dia menunjukku dan tersenyum. Aku membalas
senyumannya.
“Ada lagi yang dibutuhkan nak Bima sebelum ibu pergi?”
“Oh tidak bu. Saya nyaman dengan tempatnya. Dapurnya disebelah sana
kan?”
“Iya nak. Masih disebelah sana kok. Mari dik, ibu tinggal dulu.”
“Oh iya ibu silahkan.”
Bima masuk ke kamar yang disediakan untuknya. Dan aku membereskan
barang bawanku di kamar yang ibu adi sediakan untukku. Aku tidak tau maksud
bima mengajakku kemari. Hanya saja, ini mungkin akan menjadi hari tenang untuk
kami berdua.
Aku masuk ke kamar Bima. Dia sedang merapikan pakaian nya ke dalam
lemari.
“Yang, masa kita disini berdua?”
“Nggak, nanti juga ada temanku kok.”
“Jadi kita bertiga? Aku perempuannya sendiri?”
“Haha, iyah !” dia memasang wajah mesum yang membuatku bergidik.
Aku keluar dari kamarnya menuju halaman. Sebentar lagi sunset. Dan dari sini akan terlihat jelas.
“Zia ! bantuin aku pasang kursi sama unggun ini yuk.” Aku
menghampirinya.
“Kita mau bikin unggun?” dia mengangguk. “Mau bakar singkong?”
“Kamu aneh banget deh. Masa iya tempat keren gini bakarnya singkong?
Beef dong !”
“Ohhh, syukurlah. Tapi kita kan tadi Cuma beli cemilan, beef nya dari
mana? Apa udah ada di kulkas?”
“Nanti di bawain temen aku.” Aku pun membantunya memasang kursi lipat
dan menata kayu untuk api unggun.
Aku membawa tikar dan menggelarnya di antara rumput yang kemudian
duduk menatap sunset. Bima duduk disampingku.
“Zia kangen Bima enggak?”
“Kenapa Bima tiba-tiba bilang gitu?”
“Kangen nggak?”
“Iyah, kangen bangetttttt ! aku kangen Bima yang nggak canggung sama
aku. Aku juga kangen Bima yang dulu.” dia duduk di atas pahaku.
“Zia maafin aku yah.”
“Ko malah minta maaf?”
“Yaa, maaf karena aku terlambat inget. Tapi setidaknya aku masih punya
waktu buat bilang…” dia diam.
“Bilang apa?” aku mengusap keningnya.
“Happy anniversary yang ke 6 tahunnya sayang.”
Aku tertegun dan diam seketika. Apa dia sudah ingat sepenuhnya? Apa
dia sudah bisa mengingatku?
“Bima? Kamu?”
“Maaf udah buat kamu khawatir. Maaf juga udah buat kamu nunggu lama.
Aku nggak ada maksud buat berlama-lama seperti itu. Aku Cuma sedang menikmati
perhatian kamu sepenuhnya.”
“Kamu !!!!” aku memukul lengan nya. “Kamu nggak tau apa betapa
tersiksanya perasaan aku selama ini? betapa aku nggak suka dengan kecanggungan
kita? Betapa aku kangen kita yang dulu, yang banyak cerita dan nggak
diem-dieman. Kamu jahat tau nggak !!”
“Maaf sayang maaf !” aku menangis. Antara lega dan kesal aku tidak
bisa menyembunyikannya dalam tangis bahagia ini.
“Aku nggak mau ngobrol sama kamu lagi. aku mau marah aja.” Dia bangun
dan memelukku.
“Bima sayang Zia kok. Sayang banget !! maaf yah.” Dia mencium
ubun-ubunku.
Sesaat kemudian aku merasakan ada yang datang.
“Ekhem. Jadi gue udah bisa nggak pura-pura diluar negri lagi nih?” aku
menengok.
“Astaga? Treaaaaaa !!” aku bangun dan berlari kearahnya. Namun
terhenti saat Jimmy melangkah dari belakangnya.
“Oh Tuhan.” Aku hampir saja jatuh.
“Zia, ih ati-ati dong ! ngagetin aja !” tangan Jimmy masih dililiti
perban.
“Diem kamu ! aku benci kalian semua !” aku duduk di tanah dan
menangis. Tuhan memberikan keajaiban hari ini.
“Aaahh, Zia maafin gue.” Trea memelukku dan aku menangis tak percaya
dipundaknya.
“Kita udah dari seminggu yang lalu ngerencanain ini. semua berawal
dari Bima yang nemuin kita pas pulang. Dia udah inget semuanya dari sejak dia
keluar dari rumah sakit. Dan saat Jimmy
pulang dia ngerencanain ini semua deh. Maaf karena terlalu lama bikin lo
khawatir.”
“Kalian nggak tau kan segimana aku tersiksanya sama keadaan ini. Aku
tuh kangen di peluk Bima. Aku juga pengen cerita sama dia kalo aku punya banyak
masalah selama dia hilang ingatan. Aku nggak mungkin cerita kan dalam keadaan
Bima kayak gini?” aku mengusap air mataku. “Kamu juga Tre, susah banget
dihubungin.”
“Sorry Zii, Trea gue rekrut jadi pengasuh gue selama gue kayak gini.”
Dia mengacung-ngacung lengan yang dia perban.
Bima membuatku berdiri lagi. dia memelukku erat dan mencium keningku
berkali-kali. aku paham kenapa dia seperti ini. Aku tidak akan pernah takut
menghadapi keadaan seperti apapun lagi. bahkan saat merasa sendiran. Bima
selalu ada meski dalam wujud yang berbeda.
“Mulai sekarang kamu bisa cerita semuanya sama aku. Jangan ada yang
sampai terlewat. Kamu udah bisa mukul aku dan nyubit aku sekarang. Tapi aku
mohon. Jadilah Zia yang kemarin-kemarin. Zia yang bisa menahan amarah. Zia yang
bisa tetap sabar dengan semua keadaan. Zia yang manis dan nggak gampang marah.
Itu bikin hari-hari aku bahagia banget.”
“Oh, jadi kamu bahagia liat aku tertekan? Hah?”
“Zia pleeeeeease.” Dan aku tersenyum.
“Aku nggak janji, Cuma yaaaa.. bisa aku coba.” Dan diapun memelukku
lagi. akupun merasa hal yang sama ketika aku tidak banyak marah seperti
kemarin. Dia lebih baik lagi walau sifat malasnya tidak pernah berubah.
Lalu, kita semua menghabiskan waktu bersama disini. Menghangatkan
badan yang sudah dingin tanpa pelukan. Saling berpelukan didepan api asmara.
Bintang malam inipun yang menjadi salah satu bagian dari cerita panjang kami.
Bagaimana kami melewati masa-masa sulit ini.
Tuhan membuatku tegar dengan semua hal yang sudah dilewati. Kami
bahagia dengan hasilnya sekarang. Dan di bukit ini, Bima mengikatku dengan
sebuah cincin yang akihrnya melingkar dijari manisku. Setelah meyakinkan
hatinya, setelah membuat aku menjadi wanita yang lebih baik lagi. Dia memintaku
untuk tetap berada disampingnya. Jimmy dan Trea menjadi saksi kami melingkarkan
janji disini.
Dia menelfon kedua orang tuaku untuk meminta izin mengikat diri dan
hatiku untuknya. Selanjutnya dia akan membawa keluarganya menemui keluargaku
dan kami merencanakan sebuah pernikahan.
Pada malam yang panjang ini. aku berterimakasih kepada malam panjang yang
lainnya. Terimakasih juga kepada Tuhan yang membuat aku bahagia hari ini.
sisanya, giliranku menjaga apa saja yang sudah Tuhan titipkan untukku.
Mamah dan papah memberikan restu mereka pada Bima dengan menitipkan
serta aku padanya. Mereka percaya bahwa Kasih sayang Bima hampir sama dengan
kasih sayang mereka. Bimalah yang meyakinkan mereka bahwa Bima memang pantas
untukku.
End.