Terpopuler

Selasa, 24 Mei 2016

Kenapa Dunia Tidak Memilih Aku?



My World is YOU !
Yang aku tahu, melupakan tidak semuadah saat awal aku jatuh cinta. Sebab, melupakan bukan hanya perihal kamu. Tapi aku juga harus membiasakan lagi hal-hal yang sudah biasa aku lakukan bersamamu. Aku harus membiasakan berjalan tanpa gengaman tanganmu. Aku harus biasa berangkat kemanapun sindirian. Aku harus terbiasa tanpa candaanmu. Aku harus terbiasa tanpa pelukan hangatmu saat rapuh. Aku juga harus bisa terbiasa tanpa kabar dan obrolan ringanmu. 

Tidak mudah melupakan bahwa kita pernah jatuh lalu terbangun bersama. Tak mudah juga melupakan tempat-tempat yang biasa kita datangi. Aku harus lupa bahwa kita pernah berteduh disebuah kios kosong saat hujan, harus kulupakan semua jadwal indah yang aku buat untukmu. 

Saat aku ingat, perasaanku akan terasa tercabik-cabik. Dan saat aku mencoba lupakanpun, hatiku semacam beku dan aku tetap menangis. Sebenarnya tidak harus seperti ini. namun kamu benar-benar mengambil sebagian andil dalam hidupku. Aku ingin mengatakan ‘aku bisa tanpamu’ lalu bahagia setelah itu. Namun pada kenyataannya aku tetap terluka lgi dan lagi karena mencoba pergi darimu. 

Seandainya mama dan papamu paham betapa akupun akan berusaha membahagiakanmu. Seandainya mama dan papamu mengerti bahwa aku adalah manusia paling mencintai kamu, mungkin mereka akan membiarkan aku yang pada akhirnya duduk disampingmu dalam akad itu. 

Entah apa yang salah denganku. Saat pergi ke supermarket, aku selalu ingat bahwa kamulah yang mendorong keranjang belanjaan untukku dan memilih belanjaan sehat. Saat pergi ke mall, aku selalu ingat bahwa kamulah yang akan memilihkan baju yang layak aku pakai dan sepatu juga barang yang bisa aku pakai lainnya. Dan sekarang aku harus melakukan semuanya sendirian. 

Saat film baru tayang dibioskop, kau akan mengajak ku duduk di barisan belakang agar gambarnya terlihat jelas dan kita bisa memakan makanan kita dengan leluasa. Tapi kini, aku memilih duduk paling pojok. Agar tidak ada yang tau bahwa aku menangis terbawa ingatan. 

Saat kita pergi untuk dinner, kau akan mengajakku ketempat sederhana dan berakhir dengan suasana hati yang sangat istimewa. Tapi sekarang, aku tidak bisa merasakan apapun lagi. membeli makanan dan membawanya pulang.

Segila inikah aku saat kehilanganmu? Kenapa begitu menyenangkan menjadi dirinya yang sekarang selalu memeluk tubuhmu dalam tidur dan bangunmu? Kenapa begitu membahagiakan menjadi dia yang menemanimu sesudah kamu menjadi manusia sempurna? 

Tapi, setega inikah mama dan papamu padaku yang sudah membantu terpuruk dan rapuhnya kamu? Aku butuh berteriak untuk mengeluarkanmu dalam ingatanku. Hanya saja, satu-satunya yang tersisa dari kamu adalah ingatan indah tentang kita. 

Kini, kita hanya bisa saling mengenang meski sulit untukku agar tidak rindu. Meski ragu untukku agar tidak butuh kamu. Duniaku adalah kamu, lalu bagaimana jika kamu sekarang tidak bersamaku? Hah~ ini hanya masalah waktu. Semoga saja setelah ini, aku bisa tenang dengan ingatan yang lupa.

#Rst

HOLD ON !



Hujan datang di antara perasaan ku yang sebenarnya tidak menentu. Entah apa yang terjadi atau mungkin yang akan terjadi. Ini semacam perasaan takut kehilangan. Ratusan kali aku lihat layar handphone ku tapi tak ada satupun pemberitahuan darimu. Kesal mulai menjulur dihatiku.

“Neng, duduk atuh kamu teh. Nggak alus mondar-mandir kaya satpam komplek nyari temen catur. Sok gera bari duduk.” Ibu kos sepertinya memperhatikan tingkah anehku ini. 

“Iya bu, saya Cuma lagi bingung aja.”

“Lamun bingung mah mending diceritain atuh dari pada dipake mondar-mandir. Kalah beuki pusing nanti mah ah.” Dia mendekat kearahku.


 “Mungkin Cuma perasaan saya saja sih bu. Saya merasa tidak enak hati tapi saya tidak tau apa yang terjadi. Tangan juga gemetaran dan lutut seperti tidak ada tulangnya.”

“Euleuh geuning bisa gitu yah? Coba tanyain mamah papahnya atuh Neng?”

“Udah bu, mereka bilang nggak apa-apa kok.” Dan perasaanku jauh lebih tertuju pada kamu yang seharian ini tanpa kabar.

“Ah sugan the aya naon si Neng mah. Eta mah Cuma perasaan aja Neng. Jangan di ambil pusing yah.” Dan aku hanya bisa tersenyum dan mengangguk.

Tapi ini – saat aku melihat jam dinding di kamar kost ku. Sudah lebih dari isya dan kamu tidak membalas pesanku satupun. Tuhan..

Kring.. cepat-cepat aku melihat handphone ku. Ah hanya Trea – sahabat karibku, pacarnya sahabat pacarku.


“Hallo?”

“Hallo Zi? Ziaaa?” kenapa dia panik begini?

“Iya Tre? Kenapa ih kok panik gini? Kenapa?”

“Lo udah dapet kabar dari Bima? Gue lost contact sama Jimmy dari tadi siang. Bilangnya Cuma ke pantai doang, tapi jam segini dia belum ngabarin juga.”

“Hah? Apa kamu bilang? Pantai? Mereka pergi ke pantai?”

“Loh Zii? Bima nggak ngasih tau lo?” Aku benar-benar naik darah sekarang.

“Mereka berangkat sama siapa aja Tre?” 

“Bima, Jimmy, Harun sama si Kito anak yang baru gabung itu. Mereka berangkat pake mobilnya Kito. Duh Zia, asli gue khawatir.”

“Gue bahkan nggak di kasih tau Tre. Apalagi kabar. Perasaan gue juga nggak enak dari tadi.”

“Ini nggak bakal kejadian apa-apa kan Zii? Duh kalo lo bawa-bawa perasaan lo gue suka jadi parno nih. Feeling lo kan bener terus.” Yap, feeling ku memang tidak pernah salah dan sekarang, dari pada ingin marah aku malah ingin kamu cepat-cepat mengabariku Bim.

“Kita tunggu aja ya Tre, mudah-mudahan kali ini firasat gue salah. Doain aja.”

“Iya Zii amin. Gue tutup yah.” 

“Iyah. Kalo dapet kabar kasih tau yah.”

“Iya Zia, lo juga.” Tuttuttutt..

Aku bener-bener bakal mukul pantat kamu dengan keras kalau sesuatu hal beneran terjadi.

Aku Azahra Tiara, lebih akrab dipanggil Zia. Aku mahasiswi Sastra semester 4 dan punya pacar mahasiswa Ilmu Teknologi semester 4 juga. Kita beda Universitas tapi dulu satu sekolah. Kita udah pacaran kurang lebih 5 tahun. Bima Rahaga adalah sahabat sekaligus teman hidupku selama ini. Karena aku anak satu-satunya jadi aku udah nganggap dia juga kakak sendiri. dan untuk saat ini, aku nggak siap buat menanggapi hal apapun yang terjadi sama dia.

Ting.. sebuah pesan masuk.

Maaf nggak ngabarin kamu tadi, aku takut nggak dikasih izin buat pergi. tapi ini aku lagi dijalan mau pulang dari pantai sama anak-anak. Jangan marah yah. Besok kita beli baso terus nonton. Ok !

Aku nggak peduli sama tawaran yang lain aku maunya dia pulang dengan selamat. Hanya itu. Tapi perasaanku tetap tidak bisa berkata demikian.

Akupun membalasnya : Bilangin sama supirnya buat hati-hati. Simpen no aku di daftar cepat no 1 ! jangan banyak Tanya dan lakuin aja. Aku tunggu kamu di rumah. Nggak di mana-mana. Cepet pulang aku kangen ! 

Dan perasaan itu semakin menggebu-gebu saat dia membalasnya.
Iya sayang udah kok. Eemmm yang kangen. I do love you and more ! Bima sayang Zia yah :* 


Aku mencoba memejamkan mata pada pukul 20.17 dan tidak bisa benar-benar tidur dengan tenang. Entah apa yang mendorongku untuk mengenakan jaket dan membawa dompet di saku. Aku sendiri bingung. Tidak akan pernah ada manusia yang mau tertidur dengan dompet di saku baju tidurnya.
Aku tertawa sendiri tapi tidak juga menyimpan serta dompetku dimeja. Aku berniat menyeduh susu sampai akhirnya ada telfon masuk dan aku kehilangan rangsangan saat akan mengambil gelas. Aku mengangkatnya setelah gelas dan susu itu berantakan di lanatai. Aaahh~

“Hallo Bim? Udah nyampe?”

“Hallo selamat malam? Apa anda mengenal laki-laki yang memiliki handphone ini?” sekali lagi ku lihat layar nya dan memang nama Bimbim yang tertera disana.

“Oh iya pak ini ponsel pacar saya. Ada apa ya pak?”

“Maaf nona kami hanya ingin memberitahu kan bawa mobil yang di kendarai kekasih anda bertabrakan dengan sebuah truk oleng di persimpangan jalan utara dan para penumpang di larikan ke UGD RS.Harapan Sehat.”

Sreett.. serpihan kaca yang sedang coba ku bereskan menggores telapak tanganku.

“Baik pak, saya segera kesana.”

Aku tidak peduli sedalam apa aku tersayat. Aku tidak peduli seberapa marah aku padamu. Aku tidak akan peduli seberapa deras hujan diluar. Aku hanya ingin Tuhan bersamaku sekarang. 

Menyelamatkanmu dari semua kemungkinan yang terjadi. Kita masih punya mimpi yang belum kita selesaikan Bima. Aku mohon baik-baik sajalah.

“PAK TAKSI !!” aku menghentikan taksi dengan mencegatnya dan bukan dengan cara baik-baik yang kau ajarkan dulu.

“Ya ampun Neng ! Mun katabrak eta kumaha? Ke si Mamang nu disalahin mah !”

“Maaf pak. Saya ingin di antar ke Rs. Harapan Sehat. Tolong cepat ya pak !”

“Uuuh pantesan wae buru-buru ah si neng mah. Sok atuh di pake sabuk pengamanna.” Dan aku menurut.

Dulu, saat mamah masuk rumah sakit dan aku ketakutan setengah mati. Kau ada menjadi penenang sampai aku bisa kuat menghadapi semuanya. Dulu kamu selalu jadi peluk yang hangat untuk kerapuhanku. Dan menjadi pundak yang tegar untuk semua masalahku.

Bima ! rasakan aku sekarang. Aku benar-benar gemetar hebat dan tidak ada manusia satupun yang mampu membuat aku baik-baik saja.

Maaf karena pernah memiliki fikiran untuk kembali pada mantanku dulu. maaf pernah berfikir bahwa lebih baik kamu tidak ada saat aku sedang benar-benar kesal padamu. Dan maaf pernah seegois itu pada pertengkaran hebat kita yang pada akhirnya kamu membuat aku percaya lagi. 

Bima, aku tidak mengizinkan kamu mati hari ini. kita masih harus menikah dan memberi cucu perempuan untuk mamah mu dan cucu laki-laki untuk papahku. Bima aku mohon kuatlah.

“Berapa pak?”

“27 ribu neng.”

Aku memberi 30 ribu dan tidak lari secepat mungkin. Aku tidak suka rumah sakit. Aku mau kita pulang. Aku akan menjemputmu. Tunggu Bima tunggu.

“Sus maaf mau Tanya korban kecelakaan truk dan mobil biasa dimana yah?”

“mereka masih di UGD mba. Di sebelah kanan.” Tuhan, ini pertama kalinya aku kesini.

“Bisa tolong antarkan saya sus? Saya benar-benar gemetaran.”

“Oh mari mba.”

Pintu ini, kata suster itu aku tidak boleh masuk. Lalu bagaimana aku bisa menarikmu keluar?
Dia bilang tabrakan hebat itu menimbulkan percikan api juga. Bagaimana tidak aku duduk dilantai saat ini? aku tidak malu dengan ingus yang bercampur dengan air mataku. Aku tidak peduli dengan orang-orang yang bermata iba melihatku. Aku kehabisan suara untuk berteriak. Aku kehabisan tenaga untuk menyeretmu keluar.

“HARUUUUNNNN.” Suara ibu-ibu itu membuatku menoleh. 

Itu tante Nila mamah Harun dan suami barunya. Aku yakin orang tuamu tidak bisa datang Bima. Mereka sedang tertidur lelap dikota yang berbeda.

“Yukitoooooo.” Seorang laki-laki tua dan wanita muda datang. Mungkin ayah dan kakaknya. Atau ayah dan mama mudanya? Entahlah. 

Aku melupakan satu hal. Ku rabai saku jaketku dan mendial nomor Tread. Aku harus bilang apa? 

“Hallo Zia? Udah dapet kabarnya?” aku menarik ingusku dan bicara sekuat yang aku bisa.

“Tre.. mobilnya…” Terdengar Trea memecahkan sesuatu juga disana. “Mobilnya kecelakaan.”

Aku benar-benar sudah bicara sekuat yang aku bisa. Dan hanya 4 kata yang bisa keluar dengan jelas.

“Sekarang mereka dimana Zi? HAH?”

“Rs. Harapan Sehat. UGD.”

Panggilan terputus. Bukan hanya dia, aku juga merasa duniaku mati seketika. Seperti tidak ada penyemangat, seperti kehilangan harapan.

Dokter keluar dengan menurunkan masker dan membuka sarung tangan plastiknya.
Wali mereka bergelombol dan aku sedang berusaha berdiri dengan lutut yang nyaris seperti tidak bertulang.

“2 orang mengalami kritis yang parah dan 2 orang lainnya memiliki 75% kemungkinan sadar lebih cepat. Sepertinya 2 orang yang memiliki kemungkinan ini duduk di jok belakang sehingga tidak terlalu parah.”

Aku kembali terkulai di lantai. Dokter sialan ! dia tidak melihat usahaku berdiri apa? Bahkan aku masih dalah posisi membungkuk harus tergeletak lagi ambruk.

Aku hanya merasa kedinginan dan mereka mengangkatku ke sebuah kursi kurasa setelah itu aku tidak ingat apapun.
 Tuhan aku mohon berilah aku kekuatan untuk bisa tetap tegar. Tuhan, kumohon.

Aku kembali berjalan tertatih ke arah ruangan UGD. Melihat ayah Harun yang menggenggam erat jarinya yang lain. 

“Zia?” aku tersenyum.

“Mereka sudah dipindahkan ke ICU.” Aku melihat arah ruang ICU. Dan memberi semangat pada ayah Harun.

Saat memasuki ruangan, ada lagi beberapa ruangan disana. Kasihan Bima sendirian. 

Aku memasuki ruangan Bima dan duduk di sampingnya. Aku ingin menggenggam tangannya, tapi aku takut dia bangun cepat-cepat. Saat melihat wajahnya yang baru saja bersih dari darah membuatku ingin mencakarnya juga. Aku lega karena Bima masih bisa selamat, walau pada akhirnya dia akan sejanak lupa padaku. 

Aku berjalan keluar untuk membeli makanan dan minuman ang kemudian melihat Trea menangis sendiri di luar ruangan Jimmy. 

“Tre?” aku memegang pundaknya yang gemetar.

“Dokter bilang Jimmy orang yang duduk di depan. Dan kemungkinan selamatnya sangat kecil. Zii? Aku harus bagaimana? Kenapa firasatmu tidak bisa kau tahan saja.” Aku memeluknya.

“Maaf karena aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Karena sekarang yang bisa kita lakukan hanya berdoa dan biarkan Tuhan membuat semuanya baik-baik saja.”

“Bagaimana kalau Tuhan mengambil Jimmy lebih cepat? Bagaimana kalau aku tidak bisa melihatnya lagi?”

“Kamu bilang, aku harus menyimpan dalam-dalam apapun yang aku fikirkan saat panik. Dan sekarang, kamupun harus melakukannya. Semoga saja Jimmy kembali bangun dan kembali pada kita lagi.” diapun mengangguk di pelukanku.

Saat kembali dari minimarket di depan rumah sakit aku melihat suster dan dokter sedang memeriksa keadaanya lagi. Tuhan, semoga dia kembali lagi bersamaku dan hari-hari indah kami.

“Keadaannya membaik. Tolong di temani ya dik.” Akupun menganguk.

Aku menyimpan makanan yang mungkin dia inginkan saat dia tersadar lagi. aku sudah memberi tahu keluarganya tentang keadaannya dan meminta doa mereka saja, disini biar aku yang menjaganya. Aku juga meminta doa mamah dan papahku. Semoga kamu bisa Tuhan mendengar doa mereka dan mengabulkannya.

Ku genggam tangan yang biasanya menggenggamku. Dia terlihat pucat dan lemah. Kenapa juga kamu harus pergi kesana tanpa mengabariku? Ini adalah alasan kenapa aku tidak bisa membiarkanmu pergi jauh-jauh dariku. Kamu fikir khawatir adalah hal yang bisa disepelekan?

Kamu pernah marah besar saat aku pulang dari kampus dengan ojek. Padahal aku memilih pengendaranya yang sesuai perkataanmu. Lalu, kalau kejadiannya seperi ini. aku harus seperti apa?
Kalau saja tangisanku bisa membuatmu bangun aku akan menangis sederas mungkin. Dan kalau saja pukulanku bisa memuatmu lebih baik seperti waktu itu, mungkin aku akan memukulmu sekencang mungkin.

Saat-saat seperti ini, aku mulai memikirkan hal-hal paling indah dari kita. Bagaimana kamu membuatku tertawa sepanjang percakapan kita saat aku bersedih karena papah. Aku mulai memikirkan betapa sayangnya aku padamu da kamu padaku. Aku ingat tingkah lucumu yang membuat orang yang menyukaiku dengan fanatic pergi begitu saja. Dan bagaimana usahaku menjauhkan kamu dari adik kelas yang mengejar-ngejarmu. 

Aku selalu saja merasa menyesal kalau harus ingat betapa dalam pertengkaran kita, aku selalu memintamu pergi. dan aku juga selalu menyesal karena dalam kesalku aku selalu saja berharap mantanku lah yang ada untukku. Padahal disisi lain, kamulah yang selalu ada untukku dan mengabulkan semua permintaanku yang tidak pernah papah kabulkan. 

Kamu sayang padaku. Itu yang selalu kamu katakana saat mengawali chat atau mengakhiri percakapan. Kamu adalah laki-laki paling berharga untukku. Kamu bisa mengerti manusia paling egois pada keinginannya ini. kamu yang mengajarkan aku untuk egar dan selalu berfikir positif. Dan sekarang aku sudah bisa melakukannya. Aku kuat karena kamu.

Matamu bergerak seperti akan terbuka. Jarimu mulai memperlihatkan reaksi. Tuhan terimakasih. Segera setelah aku menekan tombol panggilan dokter, merekapun datang.

“Syukurlah dia sudah sadar lebih cepat. Dia sadar lebih awal.” Aku melihatnya dan dia terlihat seperti kebingungan.

“Dok, apa dia baik-baik saja?”

“Kita tunggu sebentar yah.” Diapun memeriksanya lagi. 

Terima kasih karena sudah mau kembali melihatku lagi, walau dengan tatapan berbeda. Terimakasih sudah menguatkan diri dan hidup kembali.

“Nanti temui saya di ruang dokter ya dik.” Akupun mengangguk.

Tuhan, terimakasih sudah mengizinkan dia memperbaiki hidupnya lagi.  Aku mememeluknya dengan erat dan dia hanya diam. 

“Terimakasih sudah kembali.”

“Maaf sudah membuat kamu khawatir.” Gaya bahasa Bima seharusnya tidak seperti ini. 

Aku berhenti memeluknya dan menatap wajahnya. Dia tersenyum dengan senyumanyang sama.
“Dokter tadi bilang, kamu adalah orang yang sangat berharga. Dan dia bilang kamu sangat khawatir terjadi apa-apa dengan saya.” 

Aku menangis lagi. seakan belum lelah Tuhan melihat kerapuhanku. Aku melihat nya dan dia melihatku. Dia mengelus pipiku dan menghapus air mataku. Dia seperti biasanya, namun tidak seperti dia biasanya.

“Kamu tunggu disini yah. Aku mau nemuin dokter yang tadi dulu.” dia mengangguk.

Sebenarnya, apa yang sedang Tuhan rencanakan padaku? Apa yang Tuhan ingin lihat dariku? Ketegaran? Atau bahkan kerapuhan ku?

Tok..tok..
“Masuk.” Aku membuka pintu dan bau obatpun menjalar.

“Saya wali dari Bima Rahaga.”

“Oh baiklah, silahkan duduk.” Aku mengangguk.

“Jadi begini dik. Bersyukurlah kalau Bima masih mendapat kesempatan 75% untuk bisa tersadar lebih cepat. Namun saya rasa benturan di tulang belakang nya akan membuat dia amnesia sederhana.”

“Maksudnya amnesia sederhana dok?” suaraku bergetar.

“Saya rasa dia mengalami lupa ingatan namun tidak permanen.” Aku bergetar hebat. Rasanya sudah semua air mata aku keluarkan untuk menangisi kejadian malam ini. Tuhan kenapa malam begitu lama sekarang?

“berapa lama dia akan amnesia?”

“Saat benturan keras, ini sering terjadi. Biasanya hanya sementara. Tidak akan lebih dari 1 bulan dari kejadian. Namun akan lebih baik jika dia memiiki daya ingat yang tinggi. Dia bisa kembali normal dalam 3 hari.” Aku mulai bernafas lega.

“Untuk pasien yang lainnya?”

“saya rasa untuk pasien bernama Kito dan Jimmy akan sangat kecil kemungkinan untuk selamat. Sebab Jimmy dan Kito mendapat lebih dari 4 tulang yang patah. Terlebih banyak syaraf yang terhimpit dan pembekuan darah dimana-mana. Kalau untuk pasien Harun, saya rasa dia akan mengalami kebutaan sementara. Jika Bima terbentur di bagian belakang kalau Harun di bagian pelipis ata dan mengenai syaraf matanya. Ini benar-benar tabrakan yang hebat.”

Aku tidak bisa menutup mulut saat mendengar kronologi pasien. Tidak ada yang lebih baik aku rasa. Sekarang, bagaimana perasaan Trea saat ‘mungkin’ mengetahui kesempatan selamat Jimmy tidaklah memungkinkan. 

Tapi Tuhan, aku mohon kau tetap bersama kami dan mungkinkanlah segala hal yang kami inginkan.

“Kalau begitu saya permisi dok.” Dan dia pun mempersilahkan aku pergi.

Kenapa lorong ini terasa panjang? Kenapa rumah sakit ini begitu dingin dan sepi? Kenapa juga Tuhan harus seperti ini padaku? Dan kenapa aku selalu menyalahkan Tuhan? 

Kreeetttt.. pintu kamar Bima seperti sulit dibuka. Atau aku yang sudah kehabisan tenaga?

Dia sedang bersandar dengan remot tivi di lengannya. Dia tertawa seperti tidak ada kejadian apapun yang menimpanya. Untuk orang yang sudah lebih dari 5 tahun dengannya, melihat dia seperti ini membuat aku ingin berteriak sekencang mungkin. 

Bagaimana tidak? Bagaimana kalau dia lupa bahwa akulah manusia yang dia perjuangkan selama ini? bagaimana kalau dia tidak mau lagi memelukku? Tuhan, buat aku tegar.

“Kamu sudah kembali?” aku tersenyum.

“Kok udah liat tivi lagi? enggak pusing?”

“Maaf, tapi saya bosan.”

“kamu nggak biasa bilang ‘saya’ kamu sering bilangnya ‘aku’. Jangan kaku gini yah? Aku nggak biasa.”

“Oooh. Maaf yah.” Dia tersenyum.

“Kamu lapar?” dan pipiku basah lagi.

“Sepertinya iya. Hehe”

“Aku kupasin apel mau? Atau mau makan bubur manis?”

“Apel aja.” Dan aku kupaskan buah kesukaannya itu. 

“Oh ya, nama kamu siapa?” deggg..

“Aku Zia, Azahra Tiara. Ingat?” dia diam sejenak.

“Sepertinya pernah dengar.” Aku tersenyum.

“Apa saja yang kamu lupa? Aku tau banyak tentang kamu.”

“Namaku? Asalku? Kenapa aku ada disini? Siapa kamu bagiku? Dan hal-hal yang lain?”

“Kamu Bima Rahaga, kita dari kota yang sama dan disini kita Cuma kuliah. Kamu kecelakaan. Dan aku pacar kamu dari 5 tahun yang lalu…….” Dan aku menceritakan semuanya. Kadang dia terdiam, kadang dia tertawa, kadang air matanya jatuh dan kadang dia ikut membasuh air mataku.
Kisah kami tidak sedikit. Dan aku menceritakan semuanya. Sampai akhirnya dia memelukku. 

“Maaf karena tidak bisa ingat hari ini. maaf karena aku masih lupa bagaimana kita. Tapi, aku akan berusaha ingat.”

Aku tersenyum, karena apapun yang dia katakana aku yakin dia akan melakukannya.

“Kamu harus kuat, kamu harus sembuh. Besok kita akan lihat keadaan teman kamu yang lainnya. Yah?”

“Siaaapp.” Dia tersenyum manis seperti biasanya. Tuhan, setidaknya aku masih bisa melihat tatapan dan senyumannya. Terimakasih. 

“Sekarang kamu istirahat yah, ayo tidur.” Dia membaringkan badannya dan aku menutup tubuhnya dengan selimbut. Aku duduk disampingnya dan menggenggam tangannya. Dia melihatku lalu tersenyum.

“kenapa liatin aku kaya gitu?”

“Kayaknya aku emang beruntung yah punya kamu? Pasti dulu aku bahagia terus deh?”

“Iyah, kamu adalah orang paling bahagia.”

“Haaahhh, kamu cantik. Terimakasih sudah mau setia menungu aku dikeadaan seperti ini.”
“Yes I’am.” Dan kamipun sama-sama melupakan lelah mala mini.
Dunia kembali terang saat aku membuka mata. Suara-suara di rumah sakit mulai gaduh. Dan suara belangkar dorong yang berpadu dengan lantai poslen jadi ciri khas disini. 

“Jimmy Noooo !! please Jimmy !!” samar-samar ku dengar suara histeris dari luar sana. Aku melihat Bima yang masih tertidur tenang. Ku lihat perutnya. Syukurlah masih kembang kempis.
Aku keluar. “Treaaaa !!”

“Zii Jimmy di bawa pergi.” dia duduk di lantai. Mengingatkan aku pada sulitnya menjalani malam tadi.

“Dia di bawa ke ruang operasi lagi Zia.” Badannya bergetar hebat.

“Trea sini-sini bangun.” Aku memeluknya.

“Zia, apa yang bakal terjadi sama Jimmy.” Dia menangis keras di pundakku.

“Sabar sayang, sekarang berdoa aja dulu sama Tuhan. Semoga Tuhan memberikan yang terbaik.”

“Gue nggak sanggup Zii.” 

“Kamu udah telfon keluarga Jimmy?” dia mengangguk.

“Mereka lagi di jalan.”

“Ya udah sekarang kamu istirahat dulu. dari semalem nggak tidur kan? Yuk ke ruangan Bima?”

“Bima udah sadar?”

“Iyah udah.” Dia menangis lagi.

“Tuhkaaaannnn.. kenapa Jimmy nggak mau sadar juga Zii? Harusnya kan mereka sadar barengan.” 

“Tapi Bima lupa ingatan Tre.” Dia diam.

“Yuk nunggunya di ruangan Bima aja?” dan diapun menurut.

Kami masuk ke ruangan Bima, dan dia baru saja akan mengambil minum.

“Bimaaaa.” Trea memeluk Bima. Bima diam.

“Bima, ini Trea pacar Jimmy sahabat kamu. Sahabat kita.”

“Hay. Maaf ku nggak inget apa-apa. Kata dokter aku amnesia tapi nggak tau juga.”

“Jimmy belum sadar Bim, Jimmy malah di ajak ke ruang operasi. Dia nggak sayang sama gue.”
Bima menepuk pundak Trea. Dia masih sepeduli dulu. walau dia sedang dalam keadaan memprihatinkan juga.

“Kamu harus kuat, beri dia kekuatan dengan doa. Aku rasa dia akan mendengar dari tidurnya. Seperti aku yang mendengar doa Zia dan kembali tersadar.” Aku tersenyum.

“Ya udah Tre, kamu tidur dulu tuh di sofa. Nanti kalau ada apa-apa aku bangunin yah.” Dia setuju.

“Kamu mau makan Yang?” Bima tidak menggubris. “Bimaa?”

“Iyah?” dia menengok. 

“Aku nanya kok nggak di jawab?”

“Aku fikir nggak ngobrol sama aku. Iyah, kayaknya aku laper.”

Aku mengambil bubur yang sudah disediakan untuk pasien. Aku tidak yakin Bima akan suka. Sebab rasanya bukan selera Bima.

“Ini, aaaaaa.” Dia membuka mulutnya.

“Zia?” aku bergumam. “Rasana nggak enak. Maksudnya nggak ada rasanya. Pait.”
“Mau aku tambahin bumbu? Kebetulan kemarin aku beli Masako. Aku tau kamu nggak bakal suka makanan hambar.” Diapun mengangguk. 

Saat sedang memberinya makan, dia menatapku dan sesekali tersenyum. Aku membiarkannya seperti itu, siapa tau dia bisa mengingat sesuatu. Ada hal yang aku syukuri dibalik hilang ingatannya. Setidaknya, dia akan sejanak melupakan traumanya dari kecelakaan itu. Dia akan sejanak lupa kalau Jimmy – sahabat karibnya, sedang berjuang di ruang operasi sana. 

Kalau saja dia tersadar, kalau saja dia tau apa yang terjadi. Aku tidak yakin dia akan sebaik-baik saja seperti ini. walau pada akhirnya dia akan menangisi apa yang pergi dari sisinya dan apa yang hilang dari genggamannya. 

Setelah ini, dia harus mengerti bahwa Tuhan adalah benar-benar pemilik semesta dan isinya. Juga pada tanganNya lah semua skenario ini dijalankan.

“Kenyang Zi.” Aku berhenti menyuapinya.

“Oh ya, aku melihat keadaan korban lain dulu yah?” dia menahan lenganku.

“Aku ikut.” Aku tersenyum.

“Kalau gitu, aku minjem kursi roda dulu yah.” Dia mengangguk dan menunggu.

Saat keluar dari ruangan, orang tua Harun sedang berada diluar dengan dokter. Aku mendekati mereka, dan ibu harun memelukku. Aku paham duka yang terselip diantara bahagia ini. Kami bahagia mereka bisa selamat dari maut. Namun dampak yang mereka bawa, membuat hati orang-orang yang menyayangi mereka sangat terluka. 

“Sus, saya mau bawa Bima keliling. Boleh pinjam kursi rodanya?”

“Silahkan dik. Syukurlah Bima sudah pulih dengan cepat. Walau efek nya sangat menyulitkan bagi kita juga. Tapi yah, setidaknya itu hanya sementara.” 
 
“Iyah sus, terimakasih.” 

“Mau saya bantu? Mari.”

“Hehe, sekali lagi terimakasih ya sus.” Suster itu hanya tersenyum.

Da bercerita bahwa diapun pernah merasakan hal yang sama. Namun saat itu kekasihnya sama sekali tidak di beri kesempatan menginap diruang pasien. Tuhan langsung mengambilnya begitu saja. Aku paham perasaan itu.

“Wah, tampannya Bima kalau sudah bangun.” Bima pun tersenyum.

“Kalian pasangan serasi. Pertahankan yah?” aku hanya bisa tertawa kecil. Karena bertahan bersamanyaadalah suatu keharusan.

“Pelan-pelan Bim.” Dia pun duduk di kursi roda. 

“Dik? Perempuan dikursi itu bukannya wali dari Jimmy yang sekarang sedang di operasi tulang leher dan iganya yah?”

“Iyah sus, kasian semalaman mungkin dia tidak tidur. Jadi saya biarkan dia istirahat disini.”

“Dia akan bahagia setelah ini, karena kebetulan Jimmy maih bisa diselamatkan walau nanti hasilnya tidak sama.” Kami keluar dari ruangan, dan aku mendorong kursi roda Bima menuju ruangan sahabat-sahabatnya.

“Syukurlah. Oh ya sus, pasien Kito itu kemana yah?”

“Loh adik tidak tau? Subuh tadi kan Kito sudah dibawa pulang jasadnya?”

Aku kaget setengah mati. Bimapun melihat kearahku. Aku menutup telinga Bima dan aku menangis. Mereka baru saja bersama satu bulan yang lalu. Mereka kenal karena Kito adalah pecinta lensa seperti Bima. Dan mereka akrab karena Bima yang mengedit foto Kito waktu itu. 

“Kito itu yang menyupir mobil kan Zii?” aku hanya mampu mencium ubun-ubun Bima. Dia memegangi kepalanya.

“Loh Bim? Kenapa?”

“Nggak apa-apa.” Aku tahu dia bohong. “Ayo kita lihat yang lainnya.”

“Permisi sus.” Dan suster itu hanya mengangguk.

Aku membawanya ke ruangan Harun. Orangtua Harun kaget karena Bima sudah bisa di ajak keluar ruangan. 

“Syukurlah Bima.. akhirnya.” Bima melihat ke arahku.

“Mereka orangtua Harun. Ini mamanya ini papanya. “ Bima tersenyum pada mereka.

“Itu aHarun baru saja diberi obat tidur. Tadi dia tidak bisa tenang setelah mengetahui keadaanya walaupun kami sudah bilang itu tidak akan lama.”

“Harun pasti baik-baik saja.” Bima menguatkan mereka.

“Kami harap juga seperti itu.”

Kami mendeati Harun yang di ikat tangannya dengan tali. Harunpun terbagun.

“Anj** kenapa masih aja gelap? Katanya Cuma bentaran ! Maaahhh.” Suaranya bergetar. Akupun menangis kembali. Bima menyentuh tangannya.

“Har, ini aku Bima.”

“Bim? Bima? Lo masih bisa liat? Bim? Lo baik-baik aja?”

“Aku bisa liat Har, tapi aku nggak bisa inget apapun. Maaf juga aku nggak bisa kenal kamu dengan baik. Tapi aku yakin kita bisa melewati semua ini.”

“Astaga…” 

“Harun, kamu kuat yah. Pelan-pelan semuanya akan kembali lagi seperti semula. Kamu sama Bima beruntung masih bisa diselamatkan. Jadi semangat yah.”

“Tapi Ziii…” dia menangis. Kapas yang menghalangi matanya basah.

Ternyata, yang membuat dia buta adalah syaraf yang terhimpit membuat matanya bengkak. 

“Kami kan selalu berdoa untuk kesembuhan kalian. Jangan takut tidak kembali. Tetaplah yakin kamu bisa. Seperti aku yang selalu yakin kalau Bima juga akan mengingat semuanya lagi.” dan Bima tersenyum mnatapku.

“Kita pamit dulu yah Harun. Mari Om, Tante.”

“Iyah Zia.”

Harusnya kita tidak disini hari ini. harusnya kita sedang berada di tempat makan yang kamu janjikan. Harusnya sekarang aku menggandeng tanganmu dan tidak mendorongmu di kursi roda dengan perasaanmu yang masih canggung padaku.

“Zia?” 

“Hmmm?” aku memberhentikannya di lorong dekat sebuah kursi, dan aku duduk di kursi tersebut.

“Aku belum siap melihat Jimmy.” Aku mengerutkan dahi. Apa dia sudah ingat?

“Aku tidak yakin aku akan benar-benar ingat. Kalau saja dia memang sahabat karibku. Pastinya aku akan menangis  dan tidak bisa menerima apa yang terjadi padanya. Seharusnya seperi itu kan?”

“Bima, ingat kata-kataku kali ini. aku paham betul kamu dan dia sulit dipisahkan. Saat aku tidak ingin bertemu denganmu, kamu menemuinya dan dia meyakinkan aku kalau kamu tidak bersalah. Kalian sangat dekat dan sering tidur dengan kasur yang sama. Tapi, apapun yang terjadi padanya. Kamu tidak seharusnya menyalahkan dirimu sendiri. kalian hidup bersama. Tapi bukan berarti takdir kalian harus sama.” Dia mendengarkan dengan baik seperti biasa. 

“Kamu akan menghadapi dunia kamu sendiri , begitupun Jimmy. Tidak ada yang harus disesali jika Tuhan berkata lain. Aku kuat saat kamu dalam masa kritis. Kamu selamat karena doa terkuatku. Sekarang, jika kamu ingin dia selamat juga. Kamu harus mendoakan yang terbaik untuknya. Walau kamu masih belum mengerti apa yang terjadi. Walau kamu masih belum mengingat apapun. Kamu harus tetap mengikuti kata hatimu.” 

“Hatiku merasakan bahwa kamu dan dia adalah orang yang berharga. Meskipun aku belum bisa ingat, tapi ada perasaan khawatir saat mengetahui kalau Jimmy tidak baik-baik saja.”

“Wajibmu saat ini hanya berdoa. Untuk dirimu sendiri dan dia.” 

“Zia, terimakasih sudah mau menemaniku. Saat dalam hal tersulit nantipun, aku tidak akan meninggalkan kamu.”

“Kamu memang harus seperti itu.” Kami berpelukan untuk mengurangi kekhawatiran hari ini.

Aku menemani Trea menemui dokter yang mengoperasi Jimmy. Bima tidur dengan tenang di kamarnya setelah menerima telfon dari mamanya. Beliau sangat khawatir namun tidak bisa datang kemari. Yah, itulah keluarga Bima. Yang lebih mengutamakan pekerjaan ketimbang keselamatan anaknya. Tapi Bima tidak pernah mengeluh. Baginya, meskipun salah namun itulah cara orang tua Bima menunjukan rasa kasih sayang mereka. Dengan memberikan apapun yang Bima butuhkan, itu sudah cukup.

“Jimmy sudah bisa dijenguk. Operasi pemasangan alat pada tulangnya berhasil. Dan alur pernafasannya pun sudah mulai stabil.”

“Alhamdulillah.” Trea memelukku erat. Akhirnya, kami tidak kehilangan lagi.
“Terimakasih dokter.”

“Sama-sama. Mari.” Kami mengangguk dan tersenyum. 

“Sana temani Jimmy. Kalau bangun jangan langsung dikagetin dengan tangisan kamu yang berisik. Jangan dipeluk kenceng-kenceng juga. Ada alat didalam tubuhnya.” Trea tersenyum.

“Makasih udah nemenin gue. Dan makasih udah kuat bersama.”

“Iyah. Semangat Trea ! sekarang semua kembali lagi sama cara kamu jaga dia. Orang tuanya juga udah ada disini kan?”

“Iyah. Maaf belum bisa nemenin lo sama Bima. Nanti kalau di ruangan immy penuh dan dia udah sadar. Gue bakal kasih tau lo.” Akupun mengangguk dan pergi.

Seharian ini. Tuhan memberikan kekuatan yang luar biasa untuk kami. Bima, do you believe it? We're gonna make it now !

Satu bulan dari kejadian. Aku melewati hari demi hari dengan menemani Bima di rumah sakit. Pergi ke kampus dan ulang cepat-cepat dengan membawa makanan pesanan Bima. Walau dia masih saja canggung padaku. Tapi dia tetap tidak mau membuatku sedih. 

Dia pernah menangis hebat karena kesakitan di bagian kepala belakangnya. Aku panik untuk yang kedua kalinya. Dia di periksa oleh dokter dan aku menunggu diluar. Saat itu Duniaku terguncang lagi. Jimmy di bawa ke rumahsakit yang lebih lengkap waktu itu. Jadi tidak ada siapapun yang menemaniku. 

Tapi sekarang semuanya sudah baik-baik saja. Dan aku sudah bisa membawanya pulang. Jadwal kampusku kali ini sampai jam 11 siang dan aku akan langsung meluncur ke rumah sakit. Semua pakaian Bima sudah di packing tadi malam, jadi nanti aku bisa langsung membawanya pulang.

“Bima udah siap pulang?”

“Kita pulang kemana Zii?”
 
“Ke kosan kamulah masa ke kosan aku?”

“Berarti nanti aku nggak bisa ditengokin kamu lagi?”

“Sementara aku bakal nitipin kamu di ibu kost jadi aku bisa jengukin kamu bebas. Lagian kamu kan nggak lumpuh juga.” Aku memasukan barang yang belum sempat aku masukan. 

“Katanya ibu kost ku galak.”

“Kata siapa?”

“Jimmy.”

“Sayang, ibu kost kamu itu yang terbaik. Dia itu cs aku banget ! tiap kali aku kesana dia seneng tuh. Dan kamu akan dibikinin nasi goring tiap kali kamu nggak makan.”

“Emang aku sering bawa kamu ke kostan yah?”

“Sering. Kalau kita lagi males jalan-jalan biasanya aku bakal beli belanjaan dan kita masak bareng sama ibu kost kamu. Soalnya aku kan nggak punya ibu kost.” 

“Emang kamu diem dimana?”

“Di kontrakan sayang. Sama temen-temen aku kan. Kita ngontrak rumah. Kamarnya ada 4. Satu kamar buat 2 orang juga cukup. Tapi semenjak temen satu kamar aku wisuda aku jadi sendirian di kamar.” 

“Oooohh.” Dia menghabiskan susunya.

“Eh bentar.” Saat menghapus bekas susu di sudut bibirnya. Aku melihat wajahnya dengan jelas. Wajah pucat yang berseri-seri. Aku rindu tatapan lugu kamu.

Muuaacch.. What?

“Kamu kok nyium aku sih?” aku mencubit tangannya.

“Semenjak aku amnesia. Aku ngerasa jadi orang asing. Kalau di tivi itu kan yang pacaran biasanya ciuman.” Dia mengatakan dengan wajah polosnya.

“Tapi kan nggak dengan keadaan kayak gini juga.” Pipiku memerah.

“Ya udah yuk pulang.” Aku membawa kopernya dan dia berjalan keluar duluan. Nggak peka !

“Waah. Bima sudah mau pulang lagi.” 

“Iyah sus, sudah kangen suasana luar.”

“Eh ini, ada yang minta nomor handphone mu.” Apaaa?

“Aduh maaf tapi saya tidak ingat. Lagi pula hp saya ada di…”

“Maaf sus, Hp Bima saya rusakin karena banyak foto cewe bugilnya. Terus bima juga nyimpen foto-foto homo. Bima ini pecinta bokep deh pokoknya. Jangan mau.”

“Ah yang bener mba?” dia bergidik dan menarik lagi kertasnya.

“Iyah. Saya kenal Bima kan udah lama. Haha. Kita permisi ya sus. Mari.” Dan suster itupun menemui suster genit yang selama ini mengurus Bima juga. Suster muda yang baru koast mungkin.

“Kamu kok bilang aku pecinta bokep sih?”

“Kamu nggak tau?”

“Nggak, perasaan aku nggak suka hal yang begituan?”

“Oooohh, udah inget yah?”

“Eng..engg.. enggak kok. Cuma kamu bikin aku malu depan suster itu.”

“Biarin, karena kamu juga dulu ngelakuin hal yang sama. Inget as aku di kejar-kejar sama fans fanatik yang ngebet banget jadi pacar aku? Kamu bikin dia ngejauh dengan kata yang paling jitu.”

“Kata apa?”

“Kamu bilang ke dia kalau aku udah nggak perawan lagi. kamu gila tau nggak. Gimana kalau satu kampus tau ? kan berabe?”

“Mungkin kalaupun iya, orang-orang bakal tau kalau kamu udah nggak perawannya itu sama aku. Lagian kita juga kan mau nikah ini. gitukan?”

“Hah.. terserah. Tapi waktu itu kamu bikin malu aku setengah mati !”

“Maaf yah.” Kamipun tertawa bersama untuk melupakan semuanya.”

Satu bulan lagi akhirnya berlalu. Kami masih seperti biasa melewati masa-masa yan tersisa bersama. Harun sudah bisa melihat, namun Bima masih tidak bisa mengingat. Dia bahkan masih lupa kemana kita biasanya pergi dihari minggu. Aku sendiri takut dia lupa kapan kita anniversary. Mungkin di tahun ini, aku dan dia hanya akan menghabiskan seharian dirumah saja. 

Besok adalah hari yang terhitung hubungan kami yang ke 6 tahun. Hebatnya, dia tidak bisa mengingat tanggal-tangal penting. 

“Besok kamu mau kemana?”

“Entahlah, memangnya?” dia hanya menatap layar laptopnya dan melihat-lihat foto yang berfolder-folder itu.

“enggak ada acara kan?”

“Kayaknya enggak.” 

“ini dimakan dulu supnya nanti keburu dingin.”

“Iya bentar.”

“Iiiihh Bima !” Aku menutup paksa laptopnya.

“Ih Zia ! aku tuh baru lagi ketemu sama laptop aku. Emang kamu nggak mau aku cepet-cepet inget apa?”

“Tau ah.” Aku melangkah keluar.

“Lah kok marah sih Zii?” tapi dia tidak mengikutiku.

Aku pulang dengan perasaan kesal yang menyedihkan. Kenapa juga aku harus kesal pada orang yang tidak tau apa-apa? Kenapa juga aku harus marah padanya? Dia hanya tidak tau apa masalahnya. Kadang aku memang sebodoh ini.

Tengah malam tadi dia menelfonku tapi tidak ku angkat karena sudah tertidur. Biarlah, dia harus lebih keras lagi mengingat.

“Zia !! ada yang nyariin lo tuh di gerbang?”

“Siapa?”

“Cowo lo !”

Aku buru-buru menemuinya. Saat selangkah lagi menuju senyumanna, aku sadar aku sedang kesal padanya. Aku terhenti dan hendak memutar badan sesaat sebelum dia memegang tanganku.
“Jangan marah gitu dong. Yuk naik.”

“Kemana?” 

“Udah ikut aja. Ini pertama kali kan aku bawa kamu naik mobil?” dia pun tersenyum. Anehnya, ada perasaan yang tiba-tiba saja lega.

“Kemana dulu? aku takut tiba-tiba nyusruk lagi.”

“Oke, sekarang kita ngikutin firasat kamu. Baik atau buruk?”

Aku merasakan akan ada hal baik. “Okee.” Aku naik ke dalam mobil nya.

“Inget buat pakai sabuk pengaman.” Aku melakukannya.

Sebelum pergi, dia menyuruhku membawa pakaian ganti dan aku ikut saja. Aku pamit pada anak-anak kontrakan dan menghubungi mamah terlebih dahulu.

Dia membawaku belanja cemilan terlebih dahulu ke minimarket. Diperjalanan dia memutar lagu favorit kami. Lagu-lagu full album dari One Direction. Disini aku mulai merasakan hal aneh. Dia tidak bicara apapun padaku dan fokus menyetir. Sesekali ku suapi dia dengan makanan ringan.

“Kita mau nginep dimana Bim?”

“Di rumah sodaranya temen.”

Aku memeluk tubuhku sendiri. “Nggak boleh macem-macem.”

“Haha, jangan mikir yang aneh-aneh dong Zii. Ini bukan waktunya.”

“Tapi kan kamu selalu aja punya fikiran-fikiran negative.”

“Ya tapi aku nggak senekad itu.”

Yeeeepp. Kata-kata ini membuatku terbelalak. Ini adalah kata-kata yang selalu dia ucapkan kalau aku mengira dia akan melakukan hal aneh padaku.

“Bima?”

“Kenapa Zii?”

“Eh enggak jadi.”

Beberapa jam kemudian kami sampai disebuah rumah kecil di atas bukit. Pemandangan dari sini lumayan indah. Tapi dari tadi ada yang mengganjal difikiranku.

“Eh, nak Bima. Mari masuk.”

“Iya bu. Yuk.” Dia menggandeng tanganku.

“Silahkan. Nanti Aden datang kesininya nyusul katanya. ini kamar mu dan Aden. Ini kamar adik itu.” Dia menunjukku dan tersenyum. Aku membalas senyumannya.

“Ada lagi yang dibutuhkan nak Bima sebelum ibu pergi?”

“Oh tidak bu. Saya nyaman dengan tempatnya. Dapurnya disebelah sana kan?”

“Iya nak. Masih disebelah sana kok. Mari dik, ibu tinggal dulu.”

“Oh iya ibu silahkan.”

Bima masuk ke kamar yang disediakan untuknya. Dan aku membereskan barang bawanku di kamar yang ibu adi sediakan untukku. Aku tidak tau maksud bima mengajakku kemari. Hanya saja, ini mungkin akan menjadi hari tenang untuk kami berdua.

Aku masuk ke kamar Bima. Dia sedang merapikan pakaian nya ke dalam lemari.

“Yang, masa kita disini berdua?”

“Nggak, nanti juga ada temanku kok.”

“Jadi kita bertiga? Aku perempuannya sendiri?”

“Haha, iyah !” dia memasang wajah mesum yang membuatku bergidik. 

Aku keluar dari kamarnya menuju halaman. Sebentar lagi sunset. Dan dari sini akan terlihat jelas.

“Zia ! bantuin aku pasang kursi sama unggun ini yuk.” Aku menghampirinya.

“Kita mau bikin unggun?” dia mengangguk. “Mau bakar singkong?”

“Kamu aneh banget deh. Masa iya tempat keren gini bakarnya singkong? Beef dong !”

“Ohhh, syukurlah. Tapi kita kan tadi Cuma beli cemilan, beef nya dari mana? Apa udah ada di kulkas?”

“Nanti di bawain temen aku.” Aku pun membantunya memasang kursi lipat dan menata kayu untuk api unggun.

Aku membawa tikar dan menggelarnya di antara rumput yang kemudian duduk menatap sunset. Bima duduk disampingku. 

“Zia kangen Bima enggak?” 

“Kenapa Bima tiba-tiba bilang gitu?”

“Kangen nggak?”

“Iyah, kangen bangetttttt ! aku kangen Bima yang nggak canggung sama aku. Aku juga kangen Bima yang dulu.” dia duduk di atas pahaku.

“Zia maafin aku yah.”

“Ko malah minta maaf?”

“Yaa, maaf karena aku terlambat inget. Tapi setidaknya aku masih punya waktu buat bilang…” dia diam.

“Bilang apa?” aku mengusap keningnya.

“Happy anniversary yang ke 6 tahunnya sayang.”

Aku tertegun dan diam seketika. Apa dia sudah ingat sepenuhnya? Apa dia sudah bisa mengingatku?
“Bima? Kamu?”

“Maaf udah buat kamu khawatir. Maaf juga udah buat kamu nunggu lama. Aku nggak ada maksud buat berlama-lama seperti itu. Aku Cuma sedang menikmati perhatian kamu sepenuhnya.”

“Kamu !!!!” aku memukul lengan nya. “Kamu nggak tau apa betapa tersiksanya perasaan aku selama ini? betapa aku nggak suka dengan kecanggungan kita? Betapa aku kangen kita yang dulu, yang banyak cerita dan nggak diem-dieman. Kamu jahat tau nggak !!”

“Maaf sayang maaf !” aku menangis. Antara lega dan kesal aku tidak bisa menyembunyikannya dalam tangis bahagia ini.

“Aku nggak mau ngobrol sama kamu lagi. aku mau marah aja.” Dia bangun dan memelukku.

“Bima sayang Zia kok. Sayang banget !! maaf yah.” Dia mencium ubun-ubunku.

Sesaat kemudian aku merasakan ada yang datang.

“Ekhem. Jadi gue udah bisa nggak pura-pura diluar negri lagi nih?” aku menengok.

“Astaga? Treaaaaaa !!” aku bangun dan berlari kearahnya. Namun terhenti saat Jimmy melangkah dari belakangnya. 

“Oh Tuhan.” Aku hampir saja jatuh.

“Zia, ih ati-ati dong ! ngagetin aja !” tangan Jimmy masih dililiti perban.

“Diem kamu ! aku benci kalian semua !” aku duduk di tanah dan menangis. Tuhan memberikan keajaiban hari ini.

“Aaahh, Zia maafin gue.” Trea memelukku dan aku menangis tak percaya dipundaknya.

“Kita udah dari seminggu yang lalu ngerencanain ini. semua berawal dari Bima yang nemuin kita pas pulang. Dia udah inget semuanya dari sejak dia keluar dari rumah sakit.  Dan saat Jimmy pulang dia ngerencanain ini semua deh. Maaf karena terlalu lama bikin lo khawatir.”

“Kalian nggak tau kan segimana aku tersiksanya sama keadaan ini. Aku tuh kangen di peluk Bima. Aku juga pengen cerita sama dia kalo aku punya banyak masalah selama dia hilang ingatan. Aku nggak mungkin cerita kan dalam keadaan Bima kayak gini?” aku mengusap air mataku. “Kamu juga Tre, susah banget dihubungin.”

“Sorry Zii, Trea gue rekrut jadi pengasuh gue selama gue kayak gini.” Dia mengacung-ngacung lengan yang dia perban.

Bima membuatku berdiri lagi. dia memelukku erat dan mencium keningku berkali-kali. aku paham kenapa dia seperti ini. Aku tidak akan pernah takut menghadapi keadaan seperti apapun lagi. bahkan saat merasa sendiran. Bima selalu ada meski dalam wujud yang berbeda.

“Mulai sekarang kamu bisa cerita semuanya sama aku. Jangan ada yang sampai terlewat. Kamu udah bisa mukul aku dan nyubit aku sekarang. Tapi aku mohon. Jadilah Zia yang kemarin-kemarin. Zia yang bisa menahan amarah. Zia yang bisa tetap sabar dengan semua keadaan. Zia yang manis dan nggak gampang marah. Itu bikin hari-hari aku bahagia banget.”

“Oh, jadi kamu bahagia liat aku tertekan? Hah?”

“Zia pleeeeeease.” Dan aku tersenyum.

“Aku nggak janji, Cuma yaaaa.. bisa aku coba.” Dan diapun memelukku lagi. akupun merasa hal yang sama ketika aku tidak banyak marah seperti kemarin. Dia lebih baik lagi walau sifat malasnya tidak pernah berubah. 

Lalu, kita semua menghabiskan waktu bersama disini. Menghangatkan badan yang sudah dingin tanpa pelukan. Saling berpelukan didepan api asmara. Bintang malam inipun yang menjadi salah satu bagian dari cerita panjang kami. Bagaimana kami melewati masa-masa sulit ini.

Tuhan membuatku tegar dengan semua hal yang sudah dilewati. Kami bahagia dengan hasilnya sekarang. Dan di bukit ini, Bima mengikatku dengan sebuah cincin yang akihrnya melingkar dijari manisku. Setelah meyakinkan hatinya, setelah membuat aku menjadi wanita yang lebih baik lagi. Dia memintaku untuk tetap berada disampingnya. Jimmy dan Trea menjadi saksi kami melingkarkan janji disini. 

Dia menelfon kedua orang tuaku untuk meminta izin mengikat diri dan hatiku untuknya. Selanjutnya dia akan membawa keluarganya menemui keluargaku dan kami merencanakan sebuah pernikahan.
Pada malam yang panjang ini. aku berterimakasih kepada malam panjang yang lainnya. Terimakasih juga kepada Tuhan yang membuat aku bahagia hari ini. sisanya, giliranku menjaga apa saja yang sudah Tuhan titipkan untukku. 

Mamah dan papah memberikan restu mereka pada Bima dengan menitipkan serta aku padanya. Mereka percaya bahwa Kasih sayang Bima hampir sama dengan kasih sayang mereka. Bimalah yang meyakinkan mereka bahwa Bima memang pantas untukku.

End.