Aku tidak pernah menyangka awal
pertemuan kita bisa berakhir dengan rasa.
Saat itu, aku melihatmu duduk di
kursi paling depan di deretan antara orang-orang penting itu. aku tidak mau
perduli tentang siapa kamu dan kenapa kamu ada di sana. Aku hanya tau kamu
orang yang berpengaruh di balik acara saat itu.
Aku kurang paham dengan jalan
cerita kita, karena aku tidak pernah memikirkan kamu dulu. Tidak seperti
sekarang, yang menjadikan khayalan tentangmu menari-menari di setiap malamnya
dalam lamunanku.
Saat itu, hal yang pertama kali
aku sadari adalah kamu duduk di depanku. Hanya saja, kepedulianku belum sebesar
ini. Sapaanmu saat itu, aku tidak mau peduli. Sampai akhirnya kau menitip salam
pada salah seorang kakak tingkat ku di malam acara waktu itu.
Aku mulai tidak mengerti dengan
kamu, mencari jalan yang sebenarnya konyol hanya untuk tau tentangku lebih
lanjut. Namun, kau berhasil menarik perhatianku. Meskipun banyak perkataan yang
membuat ku enggan mendekatimu tapi aku percaya jika rasa itu bisa tumbuh
diantara kita, mereka yang berkata bisa apa?
Aku mulai ingin mendekatimu. Aku
mulai bertanya-tanya tentangmu. Aku mulai ingin lebih akrab dengan kamu. Dan
kamu benar-benar mengalihkan duniaku. Saat aku tau lebih banyak tentangmu,
mereka semua menceritakan tentang semua kekuranganmu. Namun, aku tak ingin
mempercayai itu. Yang aku mau hanya kamu dan semua yang ada padamu. Kurang dan
lebihnya, kita koreksi saja nanti.
Aku terpikat pada cara pandangmu
tentang dunia. Bagaimana tenangnya kamu menghadapi masalahmu, dan tidak
memperlihatkannya pada orang-orang. aku suka caramu bertanggung jawab dan
dewasa.
Suatu hari nanti, meski kita
berbeda. Biarkan aku mencintai dan dicintai olehmu dengan merasakan betapa
bahagianya bisa hidup berdampingan denganmu. Jangan pergi dan biarkan aku jatuh
cinta berkali-kali padamu.
Saat ku bangun harapan denganmu.
Tiba-tiba saja pondasi yang baru saja akan aku kokohkan runtuh. Mendengar bahwa
hatimu sudah ada yang mengisi membuatku sangat hancur. Aku yang tidak
membiasakan diri berada di antara dua manusia, merasa sangat terpukul. Aku
hanya tidak ingin egois dengan perasaan dan membuat hati yang lain terluka.
Rasanya, cukup aku saja yang berangan lalu dihempaskan. Jangan dia yang sudah
membuat mimpinya lebih jauh denganmu patah.
Meskipun terluka setiap fikiranku
merabai hadirmu, harapanku tetap tak bisa luntur meskipun sekarang genggamanmu
bukanlah aku. Kau sudah lebih dulu jatuh cinta pada orang selain aku. Aku tidak
pernah mau tau perempuan mana yang sudah menemanimu lebih dulu, namun aku tetap
tidak bisa memendam. Semakin dalam aku memendam, semakin besar harapanku padamu
ku agungkan. Melebihi harapan itu egoku lah yang akan memaksa diri ini
merebutmu dari manusia mana saja yang memilikimu.
Rasa bersalahku hadir
bertubi-tubi di antara raut wajahmu. Kata rindu yang terlalu sering kau ucapkan
membuat aku benar-benar jatuh hati padamu. Bahkan berkali-kali. namun
sayangnya, aku tak bisa berlama-lama dengan perasaan itu. aku sudah membuat
komitmen dengan hatiku.
Tersakiti, biarlah sendirian.
Jangan mengorbankan perasaan orang. biarlah aku yang merasakan pahitnya menjauh
darimu. Karena rasa rapuhku yang tak pernah bisa jauh dari sapaan atau
perhatianmu. Sebab sungguh, jatuh cintaku rumit padamu.
Maka dengan sangat, aku meminta
maaf padamu. Pemilik senyum terindah yang pernah aku cintai dan masih akan aku
sayangi. Maaf karena aku menjauh dari perasaan terdalamku. Meski hati tetap
teguh menunggumu namun untuk kali ini aku ingin mengabaikan itu. Berbahagialah
dengan dia yang sudah jauh lebih dulu denganmu. Hanya saja jangan mencari yang
baru karena aku masihlah padamu. Aku sembunyi, di balik perasaan sakit aku
masihlah rindu. Rindu yang tujuannya hanya kamu.
Semoga di setiap kali aku mengadu
pada penciptamu, dia bisa menyampaikannya padamu bagaimana aku. Sebab cinta
tetalah kamu, hadiah yang tidak pasti Tuhan berikan namun selalu aku semogakan.