Semua Hanya Masalah Cara.
Saat ini, hujan datang disebelah
kaca jendela. Secangkir kopi yang ku pesan 30menit yang lalu sudah mulai tidak
hangat lagi. Kenapa hujan harus sederas ini sampai membasahi pipiku? Apa jendelanya
bolong? Tapi saat aku pegang, kacanya tetap utuh. Apa atapnya rembes?
Hah~ ternyata aku memang sebodoh
itu. Aku tidak menyadari bahwa itu adalah air mataku sendiri. Pantas saja aku
tidak pernah dirindukan. Pantas saja dalam hubungan ini aku yang berjuang sendiri,
ternyata aku memang bodoh dalam segala hal.
Terlambat untuk menyadari bahwa
menyayanginyapun adalah tindakan bodoh. Kami sama-sama disibukan dengan urusan
masing-masing. Entah itu kuliah ataupun pekerjaan. Dalam hal ini, akulah yang
paling tidak bisa menahan rindu.
Seberapa kalipun aku meminta
bertemu, jawabannya selalu sama. “Bisa nggak kamu ngerti kerjaan aku Ve? Aku kayak
gini tuh buat kamu juga nantinya.” Dan aku selalu benar-benar percaya bahwa
kerja kerasnya adalah untukku.
Walau aku sering melihatnya pergi
dengan teman-temannya dan tanpa aku. Walau dia sering menghabiskan uangnya
dengan teman-temannya dari pada denganku. Tapi aku mencoba mengerti bahwa dulu,
sebelum dia menjadi seperti sekarang. Dia pernah berbaik hati padaku. Itu adalah
momen awal kami pacaran dan dia adalah lelaki paling pengertian. Hingga waktu
mengajaknya berubah.
Aku merenung bersama hujan. Kenapa dia
bisa berubah tidak baik seperti itu. Aku sedang tidak ingin berlagak bodoh
lagi. Aku harus mempertimbangkan semuanya. Aku menghitung berapa kali dia
berbohong padaku. Aku menghitung berapa kali dia mengabaikanku. Semuanya sulit
terhitung dengan jari.
Kemudian muncul pemikiran-pemikiran
aneh dikepalaku, biasanya aku tidak pernah berfikiran seperti ini. Apa dia sudah
memiliki kekasih yang baru? Apa dia sudah tidak menyayangiku? Atau dia hanya
tidak bisa berkata jujur?
Saat hujan mulai mereda. Nafasku justru
mulai membara mengingat betapa idiotnya aku. Kutembus rintikan hujan yang
menyelundupkan air mataku diantaranya. Aku tidak bisa menunggu waktu kapan aku
dan kamu bisa bertemu. Jika kamu yang tidak bisa mendekat kearahku, biar aku
yang berlari ke arahmu.
Aku muak menunggu. Aku tidak bisa
lagi hanya mengoceh betapa aku rindu kamu, dan sikapmu yang dulu. Bagaimana aku
bisa membiarkanmu berubah seperti itu? Jangan berbohong lagi kali ini, kumohon.
Atau aku benar-benar akan menamparmu.
Handphone nya tak pernah dia angkat
jika dilayar itu tertera namaku. Itu yang pernah temannya katakana padaku, tapi
saat itu aku berfikir mungkin dia hanya tidak ingin membuatku khawatir. Atau mungkin
dia sedang tidak ingin mendengar rengekanku. Aku mencoba mempercayai itu.
Hingga aku menemukannya disebuah
taman kota beserta teman-temannya dan beberapa perempuan. Aku tidak tau siapa
perempuan-perempuan itu. Mungkin maincast mungkin crew baru. Dia hanya
mengikuti sebuah komunitas, aku tau karena aku juga. Tapi belakangan ini tugas
kampusku padat, dan dia tidak pernah menjemputku lagi.
Kucoba menelfonnya sekali lagi,
berharap dia bisa mengerti aku kali ini.
“Pak tunggu sebentar yah.” Sopir taxi
yang baik, ku harap dia juga bisa mengerti.
“Hallo.” Terdengar suaranya yang
menjauh dari keramaian.
“Hai, kamu lagi dimana beib?”
“Aaa..aku lagi ada dikosan, kenapa?”
“Dikosan?” aku membayar supir taxi
itu dan turun mendekatinya.
“Kosan mana?”
“Kosan akulah masa kosan cewe?” aku
berhenti beberapa meter darinya, ingin tau sampai dimana dia akan terus
membohongiku.
“Kayaknya kamu emang lagi dikosan
cewe deh. Soalnya banyak suara cewe yang lagi ketwa gitu.” Aku berbelok ke arah
teman-temannya dan tidak mendekatinya. Dia berjalan cukup jauh dari keramaian,
entahlah apa maksudnya.
“Haaiii.
Sstt” aku memberi isyarat pada teman-temannya.
“Enggak kok Ve. Kamu sendiri lagi
dimana?”
“Aku lagi jalan nih.”
“Oh ya udah jalan dulu aja. Hati-hati
yah.” Dan dia menutup telfonku tanpa sempat aku jawab.
Dia kembali ketempatnya kurasa. Karena
temannya yang berada di depanku melambai-lambai dengan isyarat “Lo mati broooo.” Tapi mungkin dia tidak
mengerti dan malah memegang bahuku.
“Kenapa broo maincast nya udah
dateng?”
“Hai.” Dan dia tertegun.
Aku bingung harus bagaimana. Entah menangis
atau marah atau benar-benar menamparnya.
Aku sendiri sudah tidak bisa menahan ledakkan yang muncul diulu hatiku. Dia tidak
bicara, teman-temannya diam. Hanya ada satu perempuan yang tidak aku ketahui
namanya mulai berlagak asistennya.
“Bang? Kok malah bengong ih? Haha udah
yuk siap-siap. Sini gue bantu pasang alatnya.” Dengan sikap genitnya.
Aku tidak bisa berkata apapun. Inikah
jawaban yang tidak perlu aku pertanyakan?
“Bang? Yaelaaah. Lo kalo ada
apa-apa cerita kali. emang ada yang salah ya guys sama maincast nya?” dia
memegang pipi Yoga dan melihat kearahku.
Aku membuang muka. Sesak rasanya. Aku
memang bodoh, tapi apa aku setolol ini?
“Novia diem ! dia itu pacarnya Yoga !” Rio
mempertegas.
“A..apa?”
Aku mulai angkat bicara saat Yoga menatap wajahku. Aku mendekat kearahnya. Matanya
sayu, seolah meminta maaf namun tak bisa ia ucapkan.
“Cobalah berkata jujur, ‘Aku tidak
merindukanmu karena aku sibuk’ itu lebih baik didengar. jangan malah berkata ‘mengertilah,
semua yang aku lakukan demi masa depan’ itu lebih menyakitkan untuk didengar.” Aku
sudah tidak bisa menahan air mataku.
Tuhan, demi apapun aku menyayanginya. Dia menggenggam
tanganku, aku berusaha merasakan kehangatan yang aku rindukan sedari dulu. Sekali
lagi kulihat matanya.
Yoga bukan tipikal laki-laki yang banyak
bicara. Bahkan dia tidak akan banyak bicara walaupun harus. Dia paling takut
bicara didepan umum. Dia tidak bisamengatakan maksud yang sebenarnya.
“Dan saat kamu berbohong, aku berasa mau
gila.” Yoga, kumohon mengerti.
“Maaf, aku Cuma..”
“Aku tau kamu nggak mau buat aku khawatir,
tapi setidaknya aku juga butuh kamu. Seerapa banyak hal yang nggak kamu tau
tentang aku sekarang. Aku bukannya mau dijadiin prioritas loh, Cuma lihat
sekarang aja aku malah nggak bisa percaya lagi sama kamu.”
Dia memelukku saat itu. Sebenarnya, dia
juga mencintaiku. Itu yang aku tau. Dia bahkan bisa melakukan apa saja untuk
bertemu denganku. Hanya, dia tidak bisa meninggalkan pekerjaan yang memang
sudah menjadi bagian hidupnya juga.
“Aku juga mau ketemu kamu Ve. Tapi, aku
takut ganggu kamu. Sedangkan aku punya waktu ketemu kamunya dijam-jam yang
emang kamunya lagi sibuk. Dan saat kamu ada waktu, malah aku yang lagi dikejar
deadline.”
Aku mengelus pipinya. “Kenapa nggak
ngejelasin dari awal?”
“Kamu kan tau aku nggak bisa bilang. Aku bisanya
mendem aja.”
“Tapi kan kamu nggak perlu bohong ataupun
menghindar dari aku?”
Dia diam.
“Apa ada yang lain?”
Dia menggeleng. “Aku juga nggak tau, yang
aku maksud nggak menghindar kok. Cuma kadang emang lagi males aja.”
“Tuh kan, kamu harusnya belajar jujur dong
sama aku dan sama diri kamu sendiri. Jangan bikin aku gila Cuma karena mikirin
kamu.”
“Maaf Ve.”
“Kamu janji nggak bakal gini lagi?”
“Iyah aku janji.”
Semua masalah bisa diselesaikan dengan
baik-baik bukan? Tidak dengan cara egois. Keegoisanku mencintainya lebih besar
dari pada keegoisanku saat aku marah padanya. Aku masih bisa memaafkannya untuk
apa saja hal yang salah darinya.
“Aku mau memperbaiki Kita.” Itu katanya.
“Aku sayang kamu.” Dan dia mengecup
keningku.
Dan aku percaya, selalu ada jalan pada
hubungan yang memang Tuhan niatkan untuk bersattu. Aku juga percaya pada Tuhan
tanpa batas. Walau mungkin memang air mata dan hujan sama-sama sulit ditahan.
End.
#RST2016