Terpopuler

Sabtu, 30 April 2016

Belum Juga Padam



X…
Jika ku gali kembali, perasaanku padamu tidak pernah sepadam dililin yang kutiup. Perasaan itu seperti api di dalam tungku yang semakin ku tiup semakin bara.
Kamu, yang menjadi bagian dari hidup sahabatku. Hari ini bertambah umur. Semoga menjadi laki-laki yang bertanggung jawab dan ahagia. Meskipun aku ikut bahagia untuk perayaan ulangtahunmu hari ini.
Jauh dilubuk hatiku, aku ingin menjadi dia. Menemanimu duduk dibagian jok depan dalam mobil, berbincang dengan keluargamu, dan menjadi seseorang yang kau genggam didepan mereka semua.
Sebenarnya, belum ada kata sudah untuk perasaanku padamu. Semakin aku diam semakin aku ingin membisikannya padamu. Jika saja aku tidak menyayangi sahabatku, jika saja yang kau pilih bukan dia. Mungkin sudah ku teriakan rasa ini dihatimu.
Lima tahun dengan menyembunyikan rasa yang tidak juga bisa ku ceritakan pada siapapun. Bahkan sampai saat ini, kamu masih bagian dari rahasia.
Sebenarnya, saat kau kecup keningnya atau dia mengecup kilas pipimu. Ada yang tercekat disini. Ada perasaan yang merobek-robek ulu hatiku. Kamu tidak perlu tau sekeras apa aku membuatnya seolah baik-baik saja. Kamu hanya perlu tau, dia tidak lebih baik memperhatikanmu dari pada aku.
Dia hanya bisa menuntutmu untuk menjadi lelaki yang lebih baik. Dia tidak mau menerima kekuranganmu yang mudah mengalah. Aku selalu bersedih karena itu.
Ceritamu yang hanya kau ceritakan padaku, bisakah kamu melihat bahwa aku tidak ingin mendengar namanya dari mulutmu? Aku ingin kamu membicarakan mimpimu saja – tanpa dia.
Dan saat pemikiran-pemikiran itu tiba di bibirku. Aku sadar bahwa aku sudah seperti monster yang memeluk erat sahabatku untuk menusuk lebih dalam jantungnya.
Aku tidak ingin egois dengan perasaanku padamu. Ini, kurasa hanya sementara saja.
Sejujurnya, ada rasa terimakasihku padanya. Aku berterima kasih pada sahabatku karena masih menjaga hubungan kalian. Karena setidaknya aku masih bisa melihatmu. Sering melihatmu dan mendengar keluh kesahmu dan membaginya denganku, aku berterimakasih untuk itu.
Berbahagialah. Bahagiaku melihatmu bahagia meski dengannya.

#RST

Minggu, 17 April 2016

Endapan Rindu.



Semua Hanya Masalah Cara.
Saat ini, hujan datang disebelah kaca jendela. Secangkir kopi yang ku pesan 30menit yang lalu sudah mulai tidak hangat lagi. Kenapa hujan harus sederas ini sampai membasahi pipiku? Apa jendelanya bolong? Tapi saat aku pegang, kacanya tetap utuh. Apa atapnya rembes?
Hah~ ternyata aku memang sebodoh itu. Aku tidak menyadari bahwa itu adalah air mataku sendiri. Pantas saja aku tidak pernah dirindukan. Pantas saja dalam hubungan ini aku yang berjuang sendiri, ternyata aku memang bodoh dalam segala hal.
Terlambat untuk menyadari bahwa menyayanginyapun adalah tindakan bodoh. Kami sama-sama disibukan dengan urusan masing-masing. Entah itu kuliah ataupun pekerjaan. Dalam hal ini, akulah yang paling tidak bisa menahan rindu.
Seberapa kalipun aku meminta bertemu, jawabannya selalu sama. “Bisa nggak kamu ngerti kerjaan aku Ve? Aku kayak gini tuh buat kamu juga nantinya.” Dan aku selalu benar-benar percaya bahwa kerja kerasnya adalah untukku.
Walau aku sering melihatnya pergi dengan teman-temannya dan tanpa aku. Walau dia sering menghabiskan uangnya dengan teman-temannya dari pada denganku. Tapi aku mencoba mengerti bahwa dulu, sebelum dia menjadi seperti sekarang. Dia pernah berbaik hati padaku. Itu adalah momen awal kami pacaran dan dia adalah lelaki paling pengertian. Hingga waktu mengajaknya berubah.
Aku merenung bersama hujan. Kenapa dia bisa berubah tidak baik seperti itu. Aku sedang tidak ingin berlagak bodoh lagi. Aku harus mempertimbangkan semuanya. Aku menghitung berapa kali dia berbohong padaku. Aku menghitung berapa kali dia mengabaikanku. Semuanya sulit terhitung dengan jari.
Kemudian muncul pemikiran-pemikiran aneh dikepalaku, biasanya aku tidak pernah berfikiran seperti ini. Apa dia sudah memiliki kekasih yang baru? Apa dia sudah tidak menyayangiku? Atau dia hanya tidak bisa berkata jujur?
Saat hujan mulai mereda. Nafasku justru mulai membara mengingat betapa idiotnya aku. Kutembus rintikan hujan yang menyelundupkan air mataku diantaranya. Aku tidak bisa menunggu waktu kapan aku dan kamu bisa bertemu. Jika kamu yang tidak bisa mendekat kearahku, biar aku yang berlari ke arahmu.
Aku muak menunggu. Aku tidak bisa lagi hanya mengoceh betapa aku rindu kamu, dan sikapmu yang dulu. Bagaimana aku bisa membiarkanmu berubah seperti itu? Jangan berbohong lagi kali ini, kumohon. Atau aku benar-benar akan menamparmu.
Handphone nya tak pernah dia angkat jika dilayar itu tertera namaku. Itu yang pernah temannya katakana padaku, tapi saat itu aku berfikir mungkin dia hanya tidak ingin membuatku khawatir. Atau mungkin dia sedang tidak ingin mendengar rengekanku. Aku mencoba mempercayai itu.
Hingga aku menemukannya disebuah taman kota beserta teman-temannya dan beberapa perempuan. Aku tidak tau siapa perempuan-perempuan itu. Mungkin maincast mungkin crew baru. Dia hanya mengikuti sebuah komunitas, aku tau karena aku juga. Tapi belakangan ini tugas kampusku padat, dan dia tidak pernah menjemputku lagi.
Kucoba menelfonnya sekali lagi, berharap dia bisa mengerti aku kali ini.
“Pak tunggu sebentar yah.” Sopir taxi yang baik, ku harap dia juga bisa mengerti.
“Hallo.” Terdengar suaranya yang menjauh dari keramaian.
“Hai, kamu lagi dimana beib?”
“Aaa..aku lagi ada dikosan, kenapa?”
“Dikosan?” aku membayar supir taxi itu dan turun mendekatinya.
“Kosan mana?”
“Kosan akulah masa kosan cewe?” aku berhenti beberapa meter darinya, ingin tau sampai dimana dia akan terus membohongiku.
“Kayaknya kamu emang lagi dikosan cewe deh. Soalnya banyak suara cewe yang lagi ketwa gitu.” Aku berbelok ke arah teman-temannya dan tidak mendekatinya. Dia berjalan cukup jauh dari keramaian, entahlah apa maksudnya.
“Haaiii. Sstt” aku memberi isyarat pada teman-temannya.
“Enggak kok Ve. Kamu sendiri lagi dimana?”
“Aku lagi jalan nih.”
“Oh ya udah jalan dulu aja. Hati-hati yah.” Dan dia menutup telfonku tanpa sempat aku jawab.
Dia kembali ketempatnya kurasa. Karena temannya yang berada di depanku melambai-lambai dengan isyarat “Lo mati broooo.” Tapi mungkin dia tidak mengerti dan malah memegang bahuku.
“Kenapa broo maincast nya udah dateng?”
“Hai.” Dan dia tertegun.
Aku bingung harus bagaimana. Entah menangis  atau marah atau benar-benar menamparnya. Aku sendiri sudah tidak bisa menahan ledakkan yang muncul diulu hatiku. Dia tidak bicara, teman-temannya diam. Hanya ada satu perempuan yang tidak aku ketahui namanya mulai berlagak asistennya.
“Bang? Kok malah bengong ih? Haha udah yuk siap-siap. Sini gue bantu pasang alatnya.” Dengan sikap genitnya.
Aku tidak bisa berkata apapun. Inikah jawaban yang tidak perlu aku pertanyakan?
“Bang? Yaelaaah. Lo kalo ada apa-apa cerita kali. emang ada yang salah ya guys sama maincast nya?” dia memegang pipi Yoga dan melihat kearahku.
Aku membuang muka. Sesak rasanya. Aku memang bodoh, tapi apa aku setolol ini?
 “Novia diem ! dia itu pacarnya Yoga !” Rio mempertegas.
“A..apa?”
Aku mulai angkat bicara saat  Yoga menatap wajahku. Aku mendekat kearahnya. Matanya sayu, seolah meminta maaf namun tak bisa ia ucapkan.
“Cobalah berkata jujur, ‘Aku tidak merindukanmu karena aku sibuk’ itu lebih baik didengar. jangan malah berkata ‘mengertilah, semua yang aku lakukan demi masa depan’ itu lebih menyakitkan untuk didengar.” Aku sudah tidak bisa menahan air mataku.
Tuhan, demi apapun aku menyayanginya. Dia menggenggam tanganku, aku berusaha merasakan kehangatan yang aku rindukan sedari dulu. Sekali lagi kulihat matanya.
Yoga bukan tipikal laki-laki yang banyak bicara. Bahkan dia tidak akan banyak bicara walaupun harus. Dia paling takut bicara didepan umum. Dia tidak bisamengatakan maksud yang sebenarnya.
“Dan saat kamu berbohong, aku berasa mau gila.” Yoga, kumohon mengerti.
“Maaf, aku Cuma..”
“Aku tau kamu nggak mau buat aku khawatir, tapi setidaknya aku juga butuh kamu. Seerapa banyak hal yang nggak kamu tau tentang aku sekarang. Aku bukannya mau dijadiin prioritas loh, Cuma lihat sekarang aja aku malah nggak bisa percaya lagi sama kamu.”
Dia memelukku saat itu. Sebenarnya, dia juga mencintaiku. Itu yang aku tau. Dia bahkan bisa melakukan apa saja untuk bertemu denganku. Hanya, dia tidak bisa meninggalkan pekerjaan yang memang sudah menjadi bagian hidupnya juga.
“Aku juga mau ketemu kamu Ve. Tapi, aku takut ganggu kamu. Sedangkan aku punya waktu ketemu kamunya dijam-jam yang emang kamunya lagi sibuk. Dan saat kamu ada waktu, malah aku yang lagi dikejar deadline.”
Aku mengelus pipinya. “Kenapa nggak ngejelasin dari awal?”
“Kamu kan tau aku nggak bisa bilang. Aku bisanya mendem aja.”
“Tapi kan kamu nggak perlu bohong ataupun menghindar dari aku?”
Dia diam.
“Apa ada yang lain?”
Dia menggeleng. “Aku juga nggak tau, yang aku maksud nggak menghindar kok. Cuma kadang emang lagi males aja.”
“Tuh kan, kamu harusnya belajar jujur dong sama aku dan sama diri kamu sendiri. Jangan bikin aku gila Cuma karena mikirin kamu.”
“Maaf  Ve.”
“Kamu janji nggak bakal gini lagi?”
“Iyah aku janji.”
Semua masalah bisa diselesaikan dengan baik-baik bukan? Tidak dengan cara egois. Keegoisanku mencintainya lebih besar dari pada keegoisanku saat aku marah padanya. Aku masih bisa memaafkannya untuk apa saja hal yang salah darinya.
“Aku mau memperbaiki Kita.” Itu katanya.
“Aku sayang kamu.” Dan dia mengecup keningku.
Dan aku percaya, selalu ada jalan pada hubungan yang memang Tuhan niatkan untuk bersattu. Aku juga percaya pada Tuhan tanpa batas. Walau mungkin memang air mata dan hujan sama-sama sulit ditahan.
End.

#RST2016

Kamis, 14 April 2016

Sebelum dengan Jarak…




Seorang lelaki yang sedang mengemasi baju kedalam koper sedang kebingungan menemukan kata yang pas untuk sebuah kata perpisahan. Dia, adalah salah satu lelaki yang tumbuh dengan tidak bisa menemukan kata-kata perihal mengungkapkan. Bahkan, untuk kisah percintaannyapun dia masih belum bisa menyampaikan segala maksud dan tujuannya pada pasangannya.
Didepan sebuah meja rias, duduk seorang perempuan yang belum kuasa memakai lipstick dibibirnya. Menemani tanpa jenuh dan tumbuh bersama tanpa menuntut apapun adalah hal terbaik yang dia lakukan dalam menjalani hubungannya. Hanya, takdir berkata lain pada cerita yang sudah mereka rangkai selama 2 setengah tahun terakhir.
Wanita dan lelaki itu, katakanlah mereka adalah pasangan yang sulit dijelaskan. Gloveu dan Rainaldy.
Dalam perjalanan SMA nya, mereka adalah sahabat yang sangat akrab dan saling keterikatan. Glo yang notabennya cerewet dan aktif, berbanding terbalik dengan Aldy yang calm dan pendiam. Glo menyukai sastra sejak dia SMP dan Aldy menyukai ilmu teknologi sejak dia mengenal dunia computer.
Seperti bahasa pemrograman yang sulit dimengerti, bahasa Aldy pun demikian. Aldy sangat sulit mengatakan kata-kata verbal bahkan menemukan topic pembicaraan selain masalah teknologi. Namun, rasa bersyukurnya yang menemukan Glo membuatnya lebih percaya diri bahwa masih ada manusia yang bisa mengerti dia.
Selama kebersamaannya, Aldy paham bahwa dia tidak ingin sekedar menjadi sahabat Glo. Dia ingin membahagiakannya, dia ingin menjaganya, dia ingin Glo memahami bahwa ada rasa yang lebih dari perasaan seorang sahabat. Namun lagi-lagi keterbatasan Rainaldy dalam mengungkapkan kata membuat kisah diantara mereka menjadi tergaris-garis.
Namun, pada kepekaan seorang wanita mengenai perasaan, Glo mulai memberanikan diri untuk memulai. Dan meskipun malu, namun itu membuat keadaan hati Aldy sedikit membaik.
Disebuah ladang dandelion yang baru saja tumbuh, ketika Aldy dan Glo merebahkan tubuh dengan arah yang berbeda. Percakapan yang mengubah hidup ereka dimulai.
“Dy, selama kebersamaan kita ini.. apa kamu nggak menyadari ada perasaan ganjil diantara kita?”
Aldi menguatkan diri untuk mencoba mengungkapkan. Dia tau dia tidak semunafik itu. Dia tahu betul tentang artinya sebuah kesempatan. Jika disia-siakan, dia tidak bisa menggenggam untuk yang keselanjutnya. Tapi, dia hanya tidak ingin ada perpisahan dari apa yang sudah dia mulai.
“Glo, aku mungkin lelaki yang tidak paham bagaimana caranya mengungkapkan perasaan. Tapi sama kamu aku menemukan kenyamanan.”
“Jadi?” dan kata itu yang membuat otak Aldy berfikir lebih keras.
“Tapi Glo, aku masih sulit memahami betapa bayangan kehilangan kamu nantinya sangat tidak pernah ingin menjadi kenyataan dihidup aku. Kalau kita fikirkan hari ini saja, bagaimana jika aku memiliki mimpi yang panjang bersamamu?”
Entah debu yang datang dari arah mana, tapi saat itu mata Glo terasa berair dan pipinya mendingin.
“Kita bisa memiliki hubungan sebagai apapun yang kita mau. Tapi kamu harus percaya Glo, bahwa aku adalah lelaki yang hanya ingin kamu.”
“Aldy, aku ingin percaya bahwa semua yang kita lewati itu tidak akan sia-sia. Kamu inspirasi bagiku dan begitupun sebaliknya. Menerima kekurangan masing-masing dan tumbuh bersama adalah hal yang membahagiakan bagiku. Tapi apa aku bisa mempercayai bahkan pada lelaki sepertimu?”
“aku pernah mengutip sebuah kata dari seorang orangtua, ‘Lelaki dewasa pasti tau, hatinya milik siapa’ kurang lebih seperti itu. Dan aku juga ingin menjadi lelaki dewasa yang selalu memegang perkataannya dan tetap menjaga apa saja yang sudah dia genggam hari ini. Meskipun kita menjalani kisah ini tanpa aku yang bilang ‘I love you’ tapi setidaknya kita sudah paham tentang perasaan kita masing-masing.”
Glo paham hal yang mungkin tidak oranglain paham. Glo menyayangi Aldy, itu yang dia tau dan juga sebaliknya. Kadang, perasaan yang tidak bisa kau rangkai sempurna, masih bisa dimengerti oleh manusia yang tulus bersamamu. Garis besarnya, orang yang tepat bersamamu.
Hingga waktu terus berjalan dan mempertemukan mereka pada titik kebingungan. Kata “tidak ingin pisah” yang benar-benar tidak diinginkan terjadi akhirnya datang. Saat Glo melepaskan mimpi untuk melanjutkan sekolah ke luar kota karena dia hanya tidak ingin Aldy lepas dari gengamannya, justru malah merenggut paksa Aldy yang menjauh dari jangkauan Glo.
Aldy ingin tetap tinggal, hanya dia ingin Glo mengerti bahwa mimpi tidak bisa ditahan oleh siapapun dan karena apapun. Selagi masih bisa dicapai maka capailah, oleh karena itu Aldy harus melakukannya. Meskipun itu adalah masa-masa tersulit Aldy dan Glo, tapi mereka bisa merasakan betapa keberadaan adalah hal yang sangat berharga.
Perempuan dengan shortdress berwarna biru donker dan tas slimbag dibahu sedang menunggu lelaki yang sebentar lagi anggang dari genggamannya. Saat menunggu disalah satu resto dibandara, dengan sebuah cold coffe di tangan. Fikiran dan ketakutanpun datang. Dimana sebuah kepercayaan menjadi sebuah pertanyaan, bahkan ketika sebuah hubungan sudah tidak bisa lagi dipertahankan. Kemungkinan-kemungkinan itu, dengan waktu yang panjang dan suasana yang sulit dijelaskan apakah masih bisa ikatan antara Glo dan Aldy diperjuangkan?
Glo hanya perlu percaya bahwa Aldy adalah manusia yang akan selalu menepati janjinya. Lalu dia membulatkan tekad untuk tetap bersetia menunggu Rainaldy kembali. Dan pada saat yang sama, seorang lelaki dengan koper abu-abu dan baju biru muda datang. Hatinya kembali berdegup dengan pemikiran yang lancang membuat air mata seseorang yang paling cinta tidak bisa ditahan.
Kebingungan melanda kedua belah pihak. Yang paling menusuk adalah pada perasaan Rainaldy yang sebenarnya tidak ingin seinci pun jauh dengan Gloveu.
“Lalu, bagaimana setelah ini?” Aldy menatap Glo dengan harapan yang lebih baik.
        Glo sudah memantapkan hai perihal bersetia pada Aldy. Dan yang harus Glo lakukan dibalik sikap canggung ini adalah pemberian motivasi pada Aldy agar hal yang dia lalui bisa baik-baik saja.
                “Aku akan selalu percaya kemanapun arah angin membawa langkah kakimu. hanya, aku meminta satu hal pada manusia yang selalu aku gantungkan setiap harapannya. suatu saat, ketika waktu sudah memperbolehkan aku dan kamu kembali, aku ingin kamu yang sudah berubah. bukan menjadi kamu yang tidak pandai mengartikan perasaan. atau perubahanmu pada hal yang mungkin mengganti gayamu hari ini. aku hanya ingin kamu berubah, menjadi seorang laki-laki yang pandai mengungkapkan perasaannya. tidak peduli pada siapapun dia berani berkata, tapi aku percaya lelaki ku. dia akan tetap menjaga lisan yang akan dia utarakan hanya pada satu orang jika itu tentang cinta. karena kamu juga sudah mengutip sebuah kata yang aku percayai juga, bahwa "lelaki dewasa mengerti hatinya milik siapa."
                Mencari pandangan yang lain dan mengedipkan mata berkali-kali, hasil yang sama bahwa orang yang selalu ada didepan Aldy adalah Glo.
                Wanita yang berani menunggu laki-laki penuh mimpi dengan kesetiannya menanti sebuah perubahan yang lebih baik. Glo, hanya ingin Aldy lebih dewasa dan lebih berani. saat Glo merelakan jarak menjauhkan lingkup genggamannya dengan Aldy, yang Glo minta hanyalah sebuah kepastian bahwa mimpi tentang masa depan yang pernah mereka rangkai bersama akan mereka wujudkan bersama pula.
                “Aku berjanji akan kembali.” Dengan langkah mundur.
                “Dan aku berjanji akan tetap menanti dan menemanimu.” Melambaikan tangan.
                “Aku akan tetap tumbuh baik bersamamu.” Membalas lambaian tangan.
“Dan kita akan selalu tumbuh menjadi orang yang dewasa bersama.”
                “I’m gonna back then and find you ! cause you are the reason why I’m going to come back.”
                “yes you are.”
“GLOVEU !! I DO LOVE YOU AND MORE !!”
“RAIN !! ME TOO !!”
        Dan pada ucapan Aldy yang terakhir sebelum burung besi itu membawanya, membuat kepercayaan itu akan selalu tumbuh dan tetap menguatkan Glo agar tetap menjadikannya pilihan terakhir Glo – pun pada Rainaldy sendiri.

END.

#RST12016

Senin, 11 April 2016

PADAMU, PEMILIK SUARA YANG INGIN SELALU AKU DENGARKAN



KAMU, YANG DIRINDUKAN.

Sebuah buku dan headset yang menempel diteligaku membuatku lupa bahwa sore ini adalah hujan damai. Sesekali tersadar dengan melirik ke sampingku, seorang lelaki sedang focus dengan laptop yang menampilkan filmnya. Aku tersenyum saat dia melihatku dan membuat simpul senyumnya.
Aku memahami arti kebahagiaan yang memang membahagiakan. Dia tidak pernah meninggalkanku atau membiarkanku sendiri. Meskipun dengan kegemaran masing-masing perihal menikmati hujan, tapi kami tetap sama-sama merasakannya. Kehangatan kasih sayang, semua itu ada waktunya.
Tapi dibalik itu, dengan pemikiran yang berjalan-jalan saat aku mendengar musik yang pernah ku dengar tentang manusia sebelum dia juga buku yang ku baca yang beralur tentang masa lalu. Membuatku mengingat sebuah masa. Seharusnya ini tidak terjadi. Seharusnya aku menghargai perasaannya dengan tidak mengkhianatinya dengan pemikiranku.
Sesosok bayangan masalalu itu muncul, ditambah dengan kenangannya. Mati sudah asa dan rasaku. Tapi dia tidak pernah memberatkan atau mentidak bolehkan setiap ingatan yang aku punya. Dia tidak pernah mengekang untuk apapun yang aku lakukan, asalkan kami tetap saling berbagi.
Bayangan yang pertama kali muncul adalah kenangan pahit itu. Tentang tangisanku yang paling deras. Tentang semua hal yang terjadi, termasuk foto-foto yang membuatku cemburu dan mati rasa saat itu juga.
Aku membuka halaman demi halaman. Tangannya mengelus-elus rambutku. Dengan jarak sedekat itu. Dia tidak pernah menyadari bahwa aku memikirkan hal lain yang bukan dia. Membuka halaman demi halaman tentang masalalu dan bukan tentang buku yang sedang aku baca. Bagai mana ini bisa aku biarkan, sementara dia mulai memikirkan tentang bagaimana kita di masa depan.
Yang hanya bisa aku lakukan adalah mengamininya. Dan aku berbaring dipahanya hanya ingin bergelayut manja. Perasaan yang seharusnya tidak bergelayut pada bayangan yang lain. Bagaimana aku bisa tidak ketakutan sedangkan bayangan itu membuat mataku merasa benar-benar melihatnya di depanku.
Beberapa kali memejamkan, membuka, memejamkan dan melakukannya berkali-kali. sayanganya aku mulai terjebak pada fatamorgana itu sendiri. Ini kesalahanku sayang, sungguh.
Saat aku meninggalkannya dulu bersama kesalahannya, aku lupa dengan bayangannya. Aku tidak membuang bayangannya bersama manusia itu. Hingga pada akhirnya aku harus lebih sering terpenjara bersama luka dan remang-remang raut wajahnya.
Aku ingin menyentuhnya, itu yang aku rasakan. Menanyakan kabarnya selayak manusia yang lama terpisah dan akan memulai percakapan dengan “Hai” dan senyuman. Aku hanya tidak bisa menangkap senyumannya. Aku rasa itu tidak perlu, semakin manis yang aku lihat maka akan semakin pahit yang aku rasakan. Aku hanya bisa menyadari bahwa dia hanya bayangan yang tidak akan menjadi nyata.
Aku pernah merangkai mimpi bersamanya. Walaupun belum sempurna, akhirnya mimpi itu harus aku kemas bersama sampah yang sudah harus aku buang. Dia tidak bisa menjadi salah satu dari bagian masa depanku. Dia, hanya seonggok masa lalu. 
Manusia itu tidak pernah tahu bahwa aku pernah meraung memanggil ibu dalam bungkam karena kesakit hatian yang belum pernah siapapun berikan padaku. Aku juga pernah berteriak dalam diam ketika memanggil ayah karena sikapnya yang selalu menganggapku tak ada.
Aku pernah bertanya pada Tuhan tentang, apa aku diciptakan hanya sebagai mainan jenuhnya? Atau aku hanya dihadirkan sebagai figuran saja dihidupnya? Aku tau ini tidak berarti apa-apa. Hanya aku selalu berfikir, sekejam itukah kamu dulu? Kamu, yang memilih bertahan dengan ketidak pekaanmu.
Aku bukan manusia yang begitu saja terpuruk. Dan aku tidak bisa diperlakukan seperti itu. Tapi kemunafikanku tidak bisa aku pelihara lama-lama. Aku benar-benar mencintainya ! sebajingan itu kah dia pada manusia yang hanya tau tentang membahagiakan dia? Aku selalu berusaha menuruti apapun maunya. Tanpa terkecuali.
Aku menangis sepanjang malam untuk tawa yang tak bisa aku buat seperti mereka yang selalu membuatnya terlihat lebih baik dibanding bersamaku. Aku juga menangis atas kemarahannya setiap kali aku tidak bisa menjadi wanita yang dia inginkan.
Pada saat itu aku memang wanita bodoh. Seharusnya aku lebih tau bahwa lelaki yang benar-benar mencintai perempuannya, dia tidak akan menuntut apapun atas segala sesuatu yang menjadi kebiasaannya. Aku tidak melakukan kejahatan atau melanggar norma. Tapi dia selalu seperti ingin menamparku dengan kata-kata yang dia coba sembunyikan dengan tatapan yang bahkan tak bisa aku jelaskan.
Hubungan kami kaku, mungkin lebih dari itu. Aku ingat saat dia memelukku dan berharap aku memeluknya. Aku sangat jatuh cinta, hanya saja aku tidak bisa memahami kenapa aku malah berjalan mundur dan bukan berlari memeluknya atau menciumnya dengan panas. Aku tidak melakukannya, karena aku tau aku menyayanginya. Sudah cukup.
Cerita ini terlalu berbahaya untuk manusia labil sepertiku. Aku tidak bisa merasakan hal selain rindu. Apa yang harus aku lakukan sekarang?
Hujan ini semakin deras membanjiri hatiku. Dan perlahan aku tenggelam dalam keadaan mengingat masa lalu. Dia selalu ada dalam perjalananku saat bertamasya pada tempat berupa kenangan.
Aku mencari sebuah buku. Ku biarkan dia terfokus kembali dengan tayangan tentang perang dilayar laptopnya. Mencari sebuah pena yang mungkin bisa membantuku menuangkan kegelisahan ini. Aku mengambil jarak agar dia yang aku sayangi saat ini tidak terluka seperti yang aku rasakan dulu. Aku hanya ingin menjaga perasaannya karena sungguh dialah orang yang aku cintai sekarang.
Aku menulis pada secarik kertas tentang dia masalaluku. Hanya sebuah kata yang mungkin memang sangat ingin aku ucapkan.
“PADAMU, PEMILIK SUARA YANG INGIN SELALU AKU DENGARKAN. AKU RINDU.”
Hanya itu dan aku bisa menuangkan kegelisahanku dengan baik. Tidak ada lagi bayangannya dan tidak ada lagi fatamorgana itu. Aku sudah memahami semuanya dengan setiap abjad yang bisa dibaca oleh siapa saja. Namun tidak bisa mudah dimengerti bahkan pada kamu, lelaki yang aku maksud itu.
End.
#RST2016