Terpopuler

Sabtu, 16 Januari 2016

TERUNTUK KAMU, RAHASIAKU


Aku adalah seorang perempuan yang selalu berdusta untuk sebuah perasaan yang selalu aku sembunyikan. Sedangkan kamu adalah orang yang selalu hidup dalam khayalan. Aku jatuh cinta pada tatapanmu waktu itu, juga sampai kamu menutupkan matamu.
 Keindahanmu hanya mampu aku rasakan dengan senyuman yang diam-diam terukir disudut bibir ini. Meski sering menatapmu dengan tajam, namun yang aku rasakan adalah kelembutan.
Aku mendustakanmu dalam peluhku. Aku yang melululantahkan perasaanku sendiri. Cinta itu aku tanam dan aku siram dalam diam. Aku terhalang oleh sosok yang begitu sering mengerti aku. Jauh sebelum aku mengenal kamu. Meskipn aku yang menemukan tatapan itu lebih dulu dari pada dia.
Kekecewaan sempat merambat dan membuatku merasa semua ini terlalu sulit untuk dipermasalahkan. Dia mencintaimu. Itu yang sering dia katakan padaku. Dan kau juga merasakan hal yang sama padanya, dan bukan padaku.
Sesedih itu aku hingga tak dapat membedakan mana senyum palsu dan yang mana senyumku. Tentang kamu, tidak pernah ada yang tahu itu. Karena sesungguhnya aku, adalah orang yang paling mau kamu.
Pertamakali dengan perasaan ini, aku merasa bahagia. Dia menjadi temanku disetiap hari dan menjadi alasanku mencari wajahmu disetiap sudut ruangan itu. Aku selalu mencarimu dimanapun tempat yang sering kamu singgahi, walau sedang bersamanya.
Hingga akhirnya aku tertusuk duri asmaraku sendiri. Kau menjadikannya teman hidupmu. Memintanya mendampingimu didepan lensa mataku yang syarapnya terhubung denga otakku dan merangsang sampai ke ulu hatiku. Ingatkah kau aku meyakinkan sahabatku sesuai permintaanmu?
Aku melakukannya karena kamu. Saat dia menganggukkan kepala aku meremas jemariku dan berharap aku terbangun saat itu. Tapi hasilnya, dunia tetap saja berjalan. Dia semakin mencintaimu dan kamu yang tetap ingin menjaganya.
Walau akhirnya dia tidak perduli lagi denganmu, walau sering dia tidak ingin lagi mencarimu, walau dia selalu berbohong padamu, dan meski dia tidak membahagiakanmu. Kamu tetap ingin bersamanya. Aku berfikir kenapa tidak aku yang menggantikannya? Tapi kamu ingin raganya dan bukan ragaku.
Aku faham betul kamu, dengan mimpi-mimpimu, dengan sejuta harapanmu. Kamu bilang telingaku dirancang Tuhan untuk selalu bersedia menemani siapapun membicarakan keluh kesahnya termasuk kamu. Walau dalam rencana kehidupanmu, kamu selipkan dia didalam masa depanmu.
Sering kali aku tertawa melihat betapa bodohnya aku, yang tidak pernah bisa berkata tanpa dusta. “Kamu harus berusaha menjaganya, dia sangat mencintaimu.” Dengan terjemahan seperti : Apa kamu tidak lihat? Dia tidak mencintaimu secinta aku padamu.
Tapi aku yakin, cinta memang menjaga. Aku menunggu dengan putaran roda dunia. Dalam gelap, aku rasakan kertas dan pena. Tanganku merenung hingga terguratlah namamu. Ini bukan yang aku maksud. Tapi wajahmu memang ada dikelopak mataku. Sejahat inikah aku?
Rasanya ingin ku bunuh rasa ini juga segala pemikiran tentangmu yang lebih sering muncul dari pada pemikiranku tentang negara ini.
Seharusnya aku sakit hati dan pergi, tapi aku tetap saja ingin kamu. Tanpa menyakiti sahabatku, tanpa menyisakan dia dalam hatimu. Tapi aku terlalu egois jika itu terjadi.
Kamu selalu menelfonku sepuluh kali dalam sehari, hanya untuk menanyakan dia. Dan aku terkekeh geli dengan jantung yang tak pernah bisa diam saat aku mendengar suaramu. Walau sering tercekat nafasku saat kamu menyebut namanya dan bukan namaku.
Semestinya hatimu sesensitif kulit bayi. Agar kamu bisa sadar ada cinta rahasia yang aku bungkam didada.
Pernah sekali kamu bersandar pada pundakku dan berkata “kenapa disampingnya tidak senyaman saat aku ada disampingmu?”
Semuanya jelas, karena dia tidak menginginkanmu seingin aku padamu. Kamu tidak pernah mengerti makna dari kata “Hay” ku yang sering terdengar nyaring saat pertama kali tefonmu ku angkat. Dan kamu tidak tahu makna dari kata “bye” ku  yang terdengar lesu saat percakaan kita selesai. Kamu tidak mengerti serindu apa aku padamu. Jauh dari sesakit apa aku melihatmu merangkul pundaknya dan bukan aku.
Bertahun-tahun dengan rahasia ini, aku masih saja hidup. Bahkan aku menciptakan kamu didunia baruku. Dengan berbagai cerita dan puisi yang aku tulis sendiri. Kemanapun kamu, dan dengan siapapun kamu. Kamu tetap rahasiaku. Tidak pernah sedikitpun terbongkar orang lain selain Tuhan.
Seseorang berkata “Cinta akan menjadi akhir jika kita harus terkait dengan ikatan”. Aku mengerti, sampai aku tak mau itu terjadi. Mencukupkan kamu sebagai khayalan saja.
Sampai akhir cerita. Kamu dan dia berpisah karena orang ketiga. Bukan aku, sungguh. Sahabatku mencintai oranglain yang bukan kamu. Tapi dari tatapan itu, aku tetap melihat sorotan saat pertama kita saling bertemu. Tidak ada rancu, tidak ada ragu. Hatiku absurd seketika. Inikah saatnya?
Ku tawarkan diri untuk menemani sekedar mencari suasana hati yang lebih baik, dan kau bilang tidak perlu. Sempat menyakiti perasaanku. Padahal waktu itu, adalah hari terakhir aku bisa menemanimu.
Sahabatku datang padaku saat burung bermesin itu akan membawaku berkelana. Ku titipkan secarik kertas padanya untukmu. Dan kamu masih rahasia. Dia tidak tahu sepenting apa kamu untukku. Aku berdusta dengan berkata itu adalah hutangku padamu. Yang nyatanya itu adalah isi hatiku untukmu.
Dia berjanji memberikannya padamu tepat setelah aku terbang melewati hamparan kapas putih yang tidak pernah jatuh. Aku berpelukan, dia juga mengenalkanku pada seseorang yang kini menggantikan posisimu. Aku tersenyum dan berkata “aku pasti kembali, dan tetaplah bertukar cerita agar tak ada kegugupan saat kita bertemu nanti” dia mengangguk dan aku pergi.
Aku sudah berada di udara, melintasi setengah dunia ini dan menata perasaanku agar lebih siap untuk sebuah keadaan baru. Aku merasakan mungkin kamu sudah membuka isi tulisanku.
Aku ingin kamu mengerti bahwa aku selalu merahasiakan ini darimu, hanya karena aku sangat menyayangi sahabatku – juga kamu. Pilihan ada ditanganmu, menunggu atau berlalu. Maaf aku memulai sebelum kamu, tapi aku takut kehilangan kesempatan menatap mata itu.
Bacalah, meski tidak hari ini kamu mengerti, aku harap kelak kamu akan pahami. Ini aku yang sebenarnya. Sepatah kata, yang mungkin dapat kamu maknai perkataannya.

Teruntuk yang aku rahasiakan keberadaanya :
Kata R untuk Rindu
Menyelipkan satu maksud dariku padamu
Kata C untuk Cinta
Memiliki makna dariku untukmu
Aku berdusta untuk kediamanku
Aku mengoceh pada kesunyianku
Aku memiliki mu dalam relung khayal asmaraku
Aku mengaku rindu
Dengan mengatakan ‘tidak seperti itu’
Aku mengatakan cinta
Dengan berkata ‘mungkin bukan itu’
Aku merahasiakanmu dengan rasa ini
Agar suatu saat kamu mengerti
Cintaku mampu baik-baik saja padamu
Untuk waktu yang tak pernah kamu tau
Ingatlah aku pernah menyayangimu
Suatu saat nanti
Peluk aku saat aku kembali dan katakan apa maumu
Atau jangan temui aku dimanapun itu
Karena aku takut mencintaimu lagi
Lebih dalam dari rahasiaku kali ini

Dan saat aku membuka halaman demi halaman pada buku Diary ku, aku menemukan secarik surat berwarna merah kesukaanku. Disana ada sebuah foto dan kertas. Foto kau dan aku saat berada di sebuah tempat audisi bernyanyi. Foto ini sahabatku yang mengambilnya. Kita sama-sama tersenyum disana, betapa terkejutnya aku menyadari maksud dari tatapan kita.
Waktu itu, kita menyanyikan lagu Taylor Swift ft. Ed Sheeran – Everything Has Changed. Kamu yang meminta kita membawakannya, kamu bilang kita sama-sama menyukai Taylor Swift, dan sahabatku lebih suka Ellie Goulding.
Dan kita memenangkannya, menjadi juara ke 2 ‘The Best Couple’ hingga membuatku semakin merahasiakan cinta ini dan kamu. Ingin ku peluk kamu waktu itu, walau akhirnya kamu hanya mengacak-ngacak pelan poniku dengan senyuman yang membuatku selalu jatuh cinta padamu.
Dan secarik kertas itu aku baca, entah sejak kapan surat ini ada disana namun tulisan sederhanamu tertera disana. Sempat aku tak percaya dengan apa yang ada di sana. Mencari kata-kata yang mungkin bisa ku cerna. Namun semuanya tetap saja membuatku menjadi mabuk cinta, kamu menulis :
Teruntuk rahasia yang kutunggu kejujurannya:
Perasaan yang seharusnya aku berikan padamu
Waktu yang seharusnya aku tuangkan untukmu
Dan cinta yang seharusnya aku tahu itu kamu
Maaf terlambat untuk mengerti
Tapi bisakah kita membuka rahasia dihatiku saat ini?
Aku tak bisa melepaskan hati yang ingin ku miliki sekarang
Walaupun aku rahasia untuk bertahun-tahun lamanya
Tapi sekarang, aku ingin menunggumu kembali
Memelukmu dengan erat
Dan menanyakan
Sesulit apakah pengorbananmu selama ini?
Ceritakan rahasia yang Tuhan tahu padaku
Bersabarlah, rahasiakan aku sedalam kau mampu
Dan biarkan aku mencintaimu sedalam itu.

Saat aku kembali nanti, aku akan menyanyikan seratus lagu yang aku nyanyikan, menuliskan seribu puisi yang aku rahasiakan, dan sejuta kata-kata yang akan aku utarakan.

END..


#RST (2016)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar