Aku adalah seorang perempuan yang selalu berdusta
untuk sebuah perasaan yang selalu aku sembunyikan. Sedangkan kamu adalah
orang yang selalu hidup dalam khayalan. Aku jatuh cinta pada tatapanmu waktu
itu, juga sampai kamu menutupkan matamu.
Keindahanmu
hanya mampu aku rasakan dengan senyuman yang diam-diam terukir disudut bibir
ini. Meski sering menatapmu dengan tajam, namun yang aku rasakan adalah
kelembutan.
Aku mendustakanmu dalam peluhku. Aku yang
melululantahkan perasaanku sendiri. Cinta itu aku tanam dan aku siram dalam
diam. Aku terhalang oleh sosok yang begitu sering mengerti aku. Jauh sebelum
aku mengenal kamu. Meskipn aku yang menemukan tatapan itu lebih dulu dari pada
dia.
Kekecewaan sempat merambat dan membuatku merasa semua
ini terlalu sulit untuk dipermasalahkan. Dia mencintaimu. Itu yang sering dia
katakan padaku. Dan kau juga merasakan hal yang sama padanya, dan bukan padaku.
Sesedih itu aku hingga tak dapat membedakan mana
senyum palsu dan yang mana senyumku. Tentang kamu, tidak pernah ada yang tahu
itu. Karena sesungguhnya aku, adalah orang yang paling mau kamu.
Pertamakali dengan perasaan ini, aku merasa bahagia.
Dia menjadi temanku disetiap hari dan menjadi alasanku mencari wajahmu disetiap
sudut ruangan itu. Aku selalu mencarimu dimanapun tempat yang sering kamu
singgahi, walau sedang bersamanya.
Hingga akhirnya aku tertusuk duri asmaraku sendiri.
Kau menjadikannya teman hidupmu. Memintanya mendampingimu didepan lensa mataku
yang syarapnya terhubung denga otakku dan merangsang sampai ke ulu hatiku.
Ingatkah kau aku meyakinkan sahabatku sesuai permintaanmu?
Aku melakukannya karena kamu. Saat dia menganggukkan
kepala aku meremas jemariku dan berharap aku terbangun saat itu. Tapi hasilnya,
dunia tetap saja berjalan. Dia semakin mencintaimu dan kamu yang tetap ingin
menjaganya.
Walau akhirnya dia tidak perduli lagi denganmu, walau
sering dia tidak ingin lagi mencarimu, walau dia selalu berbohong padamu, dan
meski dia tidak membahagiakanmu. Kamu tetap ingin bersamanya. Aku berfikir
kenapa tidak aku yang menggantikannya? Tapi kamu ingin raganya dan bukan
ragaku.
Aku faham betul kamu, dengan mimpi-mimpimu, dengan
sejuta harapanmu. Kamu bilang telingaku dirancang Tuhan untuk selalu bersedia
menemani siapapun membicarakan keluh kesahnya termasuk kamu. Walau dalam
rencana kehidupanmu, kamu selipkan dia didalam masa depanmu.
Sering kali aku tertawa melihat betapa bodohnya aku,
yang tidak pernah bisa berkata tanpa dusta. “Kamu harus berusaha menjaganya,
dia sangat mencintaimu.” Dengan terjemahan seperti : Apa kamu tidak lihat? Dia
tidak mencintaimu secinta aku padamu.
Tapi aku yakin, cinta memang menjaga. Aku menunggu
dengan putaran roda dunia. Dalam gelap, aku rasakan kertas dan pena. Tanganku
merenung hingga terguratlah namamu. Ini bukan yang aku maksud. Tapi wajahmu
memang ada dikelopak mataku. Sejahat inikah aku?
Rasanya ingin ku bunuh rasa ini juga segala pemikiran
tentangmu yang lebih sering muncul dari pada pemikiranku tentang negara ini.
Seharusnya aku sakit hati dan pergi, tapi aku tetap
saja ingin kamu. Tanpa menyakiti sahabatku, tanpa menyisakan dia dalam hatimu.
Tapi aku terlalu egois jika itu terjadi.
Kamu selalu menelfonku sepuluh kali dalam sehari,
hanya untuk menanyakan dia. Dan aku terkekeh geli dengan jantung yang tak
pernah bisa diam saat aku mendengar suaramu. Walau sering tercekat nafasku saat
kamu menyebut namanya dan bukan namaku.
Semestinya hatimu sesensitif kulit bayi. Agar kamu
bisa sadar ada cinta rahasia yang aku bungkam didada.
Pernah sekali kamu bersandar pada pundakku dan berkata
“kenapa disampingnya tidak senyaman saat aku ada disampingmu?”
Semuanya jelas, karena dia tidak menginginkanmu
seingin aku padamu. Kamu tidak pernah mengerti makna dari kata “Hay” ku yang
sering terdengar nyaring saat pertama kali tefonmu ku angkat. Dan kamu tidak
tahu makna dari kata “bye” ku yang
terdengar lesu saat percakaan kita selesai. Kamu tidak mengerti serindu apa aku
padamu. Jauh dari sesakit apa aku melihatmu merangkul pundaknya dan bukan aku.
Bertahun-tahun dengan rahasia ini, aku masih saja
hidup. Bahkan aku menciptakan kamu didunia baruku. Dengan berbagai cerita dan
puisi yang aku tulis sendiri. Kemanapun kamu, dan dengan siapapun kamu. Kamu
tetap rahasiaku. Tidak pernah sedikitpun terbongkar orang lain selain Tuhan.
Seseorang berkata “Cinta akan menjadi akhir jika kita
harus terkait dengan ikatan”. Aku mengerti, sampai aku tak mau itu terjadi.
Mencukupkan kamu sebagai khayalan saja.
Sampai akhir cerita. Kamu dan dia berpisah karena
orang ketiga. Bukan aku, sungguh. Sahabatku mencintai oranglain yang bukan
kamu. Tapi dari tatapan itu, aku tetap melihat sorotan saat pertama kita saling
bertemu. Tidak ada rancu, tidak ada ragu. Hatiku absurd seketika. Inikah
saatnya?
Ku tawarkan diri untuk menemani sekedar mencari
suasana hati yang lebih baik, dan kau bilang tidak perlu. Sempat menyakiti
perasaanku. Padahal waktu itu, adalah hari terakhir aku bisa menemanimu.
Sahabatku datang padaku saat burung bermesin itu akan
membawaku berkelana. Ku titipkan secarik kertas padanya untukmu. Dan kamu masih
rahasia. Dia tidak tahu sepenting apa kamu untukku. Aku berdusta dengan berkata
itu adalah hutangku padamu. Yang nyatanya itu adalah isi hatiku untukmu.
Dia berjanji memberikannya padamu tepat setelah aku
terbang melewati hamparan kapas putih yang tidak pernah jatuh. Aku berpelukan,
dia juga mengenalkanku pada seseorang yang kini menggantikan posisimu. Aku
tersenyum dan berkata “aku pasti kembali, dan tetaplah bertukar cerita agar tak
ada kegugupan saat kita bertemu nanti” dia mengangguk dan aku pergi.
Aku sudah berada di udara, melintasi setengah dunia
ini dan menata perasaanku agar lebih siap untuk sebuah keadaan baru. Aku
merasakan mungkin kamu sudah membuka isi tulisanku.
Aku ingin kamu mengerti bahwa aku selalu merahasiakan
ini darimu, hanya karena aku sangat menyayangi sahabatku – juga kamu. Pilihan
ada ditanganmu, menunggu atau berlalu. Maaf aku memulai sebelum kamu, tapi aku
takut kehilangan kesempatan menatap mata itu.
Bacalah, meski tidak hari ini kamu mengerti, aku harap
kelak kamu akan pahami. Ini aku yang sebenarnya. Sepatah kata, yang mungkin dapat
kamu maknai perkataannya.
Teruntuk yang aku rahasiakan
keberadaanya :
Kata
R untuk Rindu
Menyelipkan
satu maksud dariku padamu
Kata
C untuk Cinta
Memiliki
makna dariku untukmu
Aku
berdusta untuk kediamanku
Aku
mengoceh pada kesunyianku
Aku
memiliki mu dalam relung khayal asmaraku
Aku
mengaku rindu
Dengan
mengatakan ‘tidak seperti itu’
Aku
mengatakan cinta
Dengan
berkata ‘mungkin bukan itu’
Aku
merahasiakanmu dengan rasa ini
Agar
suatu saat kamu mengerti
Cintaku
mampu baik-baik saja padamu
Untuk
waktu yang tak pernah kamu tau
Ingatlah
aku pernah menyayangimu
Suatu
saat nanti
Peluk
aku saat aku kembali dan katakan apa maumu
Atau
jangan temui aku dimanapun itu
Karena
aku takut mencintaimu lagi
Lebih
dalam dari rahasiaku kali ini
Dan saat aku membuka halaman demi halaman pada buku Diary
ku, aku menemukan secarik surat berwarna merah kesukaanku. Disana ada sebuah
foto dan kertas. Foto kau dan aku saat berada di sebuah tempat audisi
bernyanyi. Foto ini sahabatku yang mengambilnya. Kita sama-sama tersenyum
disana, betapa terkejutnya aku menyadari maksud dari tatapan kita.
Waktu itu, kita menyanyikan lagu Taylor Swift ft. Ed
Sheeran – Everything Has Changed. Kamu yang meminta kita membawakannya, kamu bilang
kita sama-sama menyukai Taylor Swift, dan sahabatku lebih suka Ellie Goulding.
Dan kita memenangkannya, menjadi juara ke 2 ‘The Best
Couple’ hingga membuatku semakin merahasiakan cinta ini dan kamu. Ingin ku
peluk kamu waktu itu, walau akhirnya kamu hanya mengacak-ngacak pelan poniku
dengan senyuman yang membuatku selalu jatuh cinta padamu.
Dan secarik kertas itu aku baca, entah sejak kapan
surat ini ada disana namun tulisan sederhanamu tertera disana. Sempat aku tak
percaya dengan apa yang ada di sana. Mencari kata-kata yang mungkin bisa ku
cerna. Namun semuanya tetap saja membuatku menjadi mabuk cinta, kamu menulis :
Teruntuk rahasia yang kutunggu kejujurannya:
Perasaan
yang seharusnya aku berikan padamu
Waktu
yang seharusnya aku tuangkan untukmu
Dan
cinta yang seharusnya aku tahu itu kamu
Maaf
terlambat untuk mengerti
Tapi
bisakah kita membuka rahasia dihatiku saat ini?
Aku
tak bisa melepaskan hati yang ingin ku miliki sekarang
Walaupun
aku rahasia untuk bertahun-tahun lamanya
Tapi
sekarang, aku ingin menunggumu kembali
Memelukmu
dengan erat
Dan
menanyakan
Sesulit
apakah pengorbananmu selama ini?
Ceritakan
rahasia yang Tuhan tahu padaku
Bersabarlah,
rahasiakan aku sedalam kau mampu
Dan
biarkan aku mencintaimu sedalam itu.
Saat aku
kembali nanti, aku akan menyanyikan seratus lagu yang aku nyanyikan, menuliskan
seribu puisi yang aku rahasiakan, dan sejuta kata-kata yang akan aku utarakan.
END..
#RST (2016)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar