Dirumah, aku memiliki kucing peliharaan yang jinak. Dia selalu menungguku pulang. Dia menemaniku tidur dikamar, dia mengibas-ngibaskan ekornya saat aku hendak memberinya makan. Suatu saat, aku memperhatikannya sedang berlarian di pekarangan. Dia terlihat bahagia dengan sesekali berlari kearahku kemudian melompat kepangkuanku. Aku hanya bisa mengusapnya dengan perasaan nyaman.
Aku berfikir, saat dia hilang dan tak bisa pulang. Siapa yang akan merasa paling bersedih? Tentu aku sebagai orang yang selalu dia tunggu, dia temani, aku sebagai orang yang menjadi tempat dia bisa bermanja. Saat dia hilang, akulah orang yang paling tersakiti, akulah orang yang paling bersedih, dan orang yang paling merindukannya suatu saat nanti.
Tapi, bukankah dia juga merasakan hal yang sama? Dia akan ketakutan dan mencari pertolongan. Pada saat itu pastilah dia meminta pada Tuhan supaya aku bisa menemukannya. Dia mungkin tidak bisa terlihat menangis, tapi dalam nalurinya dia resah karena ingin pulang. Dia ingin berlari kearahku, melompat kepangkuanku kemudian mendapat elusan yang bisa membuatnya nyaman. Bahkan saat dia jauh dariku, saat itu mungkin yang ia tunggu adalah aku. Karena dimanapun dia berada, ia selalu ingin menemukan aku.
Kemudian aku memikirkan bagaimana jika semua itu terjadi dan aku hanya bisa bersedih tanpa mau mencarinya? Bagaimana jika aku hanya bisa diam saat ternyata dia malah ditemukan oleh oranglain dan akhirnya membuat dia nyaman hingga tak ingin kembali padaku. Bagaimana jika aku melihat dia sudah bahagia dengan majikannya yang baru dan aku berniat untuk membawanya kembali? Akankah dia kembali bahagia denganku? Akankah dia mau untuk kembali? Kalaupun dia tak mau untuk kembali padaku, apa aku rela melihat dia bahagia di pangkuan yang lain.
Saat aku sadar, aku tahu bahwa semua itu tak akan terjadi jika aku menjaganya. Memanjakannya melebihi siapapun yang mampu melakukan hal itu padanya. Dia hanya perlu aku jaga hingga aku takkan pernah kehilangannya.
Namun, bagaimana jika sebenarnya yang aku maksudkan adalah aku dan kamu? Bukan, aku yang terbawa hanyut oleh rasa sakit hatiku hingga akhirnya aku sampai pada keadaan ini. Kehilanganmu dengan sempurna. Bagaimana mungkin aku bisa mengatakan itu sempurna? Haha, karena ini adalah kecintaan dan kesalahanku yang terbesar.
Aku kehilangan genggamanmu saat hendak memaknai cinta. Aku menunggumu di ujung harapanku. Aku berharap kau mau mencariku dan mengatakan bahwa segala yang kau lakukan salah. Dan kau akan meminta kesempatan itu sekali lagi padaku. Kemudian dengan senang hati aku akan menjadi satu untuk dirimu. Kita akan kembali dengan cerita yang baru. Kau tak perlu banyak menghilang dan aku tak perlu banyak cemburu. Semudah itu jika kau ingin kita kembali.
Sebab, sampai saat inipun aku tak pernah mampu untuk menyamaratakan perasaan saat dia sudah lebur ketika kau pecahkan. Namun namamu tetap yang terbaik untuk memenuhi doa-doaku di pagi dan malam hari. Tubuh hangat itu yang selalu aku tunggu untuk memeluk asa ku yang gigil.
Kau, tak bisakah kau merasakan sakit juga saat kehilanganku? Tak bisakah kau berfikir bahwa kau menginginkanku melebihi saat awal kita bertemu? Tak bisakah meski itu pura-pura diawal, setidaknya sampai kau lupa bahwa kau sedang berpura-pura.
Harapanku tentangmu tak pernah mati disana, diruang yang berantakan karena rindu. Kau selalu ada disetiap aku berhenti bernafas. Setidaknya kamu adalah alasanku untuk tak sekedar berhenti, melainkan hidup kembali.
Tetaplah berada didunia ini hingga kau mengerti hanya aku yang memenuhi segala inginmu dan mencukupi segala butuhmu. Semogaku yang utama adalah agar kau tak benar-benar mencintai siapapun didunia ini selain aku.
Blog ini berisi tentang Catatan berupa Cerita Pendek ataupun Cerita Roman juga perasaan Rst yang hanya mampu diungkapkan lewat sebuah tulisan. #HappyReading
Terpopuler
-
Aku adalah seorang perempuan yang selalu berdusta untuk sebuah perasaan yang selalu aku sembunyikan. Sedangkan kamu adalah orang yang sel...
-
Dalam hubungan, nggak ada yang namanya semua harus lo atau semuanya harus gue. Yang bener adalah semuanya harus kita. Perasaan itu ngga...
-
SERIBU EMPAT RATUS EMPAT PULUH Hari Tanpamu. Kasih.. Aku hanya seorang manusia yang Tuhan ciptakan untuk terus bertahan dalam p...
-
Diakhir sekolah ini, akhir juga perasaan ku padanya. 3 tahun sudah aku bersamanya dan segala macam cerita di dalamnya. Dulu, saat perta...
-
Akhir-akhir ini, aku lebih sering memeluk ibu. Mencium pipi, kening bahkan bibirnya tanpa ragu. Ibu selalu tersenyum karena melihat rau...
-
Aku tahu tidak mudah menjadi dua orang dengan perbedaan. Tapi aku mau kita tetap saling berdampingan. Kau, tidak perlu menjadi oranglai...
-
Sejujurnya aku tidak memahami perihal konspirasi alam semesta dalam hidupku. Apalagi perihal perasaanku. Aku hanya wanita dengan a...
-
Aku tidak pernah menyangka awal pertemuan kita bisa berakhir dengan rasa. Saat itu, aku melihatmu duduk di kursi paling depan di...
-
Surat Cinta Terakhirku. Aku menyadari bahwa hakikat manusia bertemu kemudian berpisah itu sudah pasti jelas terjadi. Hanya, semua masalah ...
-
16 Maret, saat dimana aku menguatkan perasaanku kembali padamu. Pernah dulu aku begitu memendam karena tidak tahu harus berbuat apa t...
Minggu, 12 Agustus 2018
Sesuatu Yang Aku Suka
Dari dulu aku selalu bertanya-tanya. Kenapa aku selalu menangis karena sesuatu yang sebetulnya tidak terlalu harus di tangisi. Seperti, saat lampu dimatikan dan suasana menjadi gelap, atau saat kucing tetangga yang biasa main ke rumah tiba-tiba mati karena makan tanaman beracun, atau karena jariku seperti jari laki-laki, dan aku juga pernah menangisi kepergian seseorang yang sebenarnya tidak terlalu aku kenal.
Aku sering menangis sebenarnya. Bahkan saat orang lain membicarakanku di belakang atau saat sedang dibohongi. Aku bisa saja menangis. Saat takut dan gugup, saat akan di cabut gigi, saat tanganku terjepit pintu mobil, atau saat aku kehilangan buku diary. Tapi kenyataanya aku menangis sembunyi-sembunyi. Kadang sambil memeluk guling, atau bersembunyi di balik tembok, atau menyalakan air di kamar mandi kemudian menangis. Aku enggan menangis dan terlihat oleh orang lain. Makannya, ada beberapa orang yang kaget ketika melihat aku menangis. Ya, hanya beberapa orang saja. Tidak semua.
Namun, saat kepergianmu. Aku menangis berlarut-larut. Aku lupa untuk bersembunyi saat menangis. Sebab setelah kepergianmu, sesakku tak mengenal ruang dan waktu. Tolong aku untuk itu.
Kau bilang, aku kekanakan. Memang, aku selalu tidak bisa merubah sesuatu yang itu. Sebab aku anak satu-satunya yang bahkan oleh mama dan papa saja segala inginku masih sering mereka usahakan. Namun faktanya, aku tidak sekanak-kanakan itu saat menjalani sebuah hubungan yang memang pasanganku lebih kekanak-kanakan dariku.
Entah apa sebenarnya yang membuatku tak bisa untuk melepaskan diri. Mungkin karena kamu lebih banyak sejalan dengan apa yang aku yakini. Seperti halnya sesekali kita bertukar pikiran, bertengkar kemudian saling berpelukan. Hal seperti itu saja yang kita lakukan, aku suka.
Karena aku tidak suka pasangan yang selalu menuruti perkataanku, seseorang yang selalu menemani kemanapun aku pergi, seseorang yang meng-iya kan perkataanku yang salah, seseorang yang mengutamakan aku dari keluarganya, seseorang yang tidak mau lepas dari pandanganku, seseorang yang terus menerus mengutanakan duniaku, seseorang yang apapun terserah padaku, dan aku tidak suka seseorang yang segala halnya ia lakukan sendiri.
Aku butuh orang yang memperbaiki sikap atau perkataanku yang salah. Aku butuh seseorang yang meminta pendapatku dan bertukar pikiran, aku suka seseorang yang sibuk bekerja dan membiarkan aku menyibukan diri dengan pekerjaanku, seseorang yang mencintai keluarganya dan belajar mencintai keluargaku juga, aku suka seseorang yang mau berbaur dengan teman-temannya tapi tetap tidak melupakan aku begitu saja, aku suka pasangan yang menerima duniaku dan mengajakku berbagi dunianya juga, akupun suka dengan seseorang yang mau melakukan sesuatu hal denganku, entah itu sulit atau mudah baginya. Aku hanya ingin dianggap sebagai rekan yang istimewa, bukan seorang ratu yang dipuja. Dengan keinginanku yang seperti itu apakah aku terlalu kekanakan?
Aku mau bertengkar kemudian mencari jalan keluar bersama atau saling berpelukan sesudahnya. Aku mau diajak bercerita tentang apapun yang ada diisi kepalanya. Aku ingin menjadi seseorang yang pertama dia kirim pesan "Tunggu aku pulang". Aku senang diajak ketempat manapun yang ingin ia singgahi. Aku orang yang bisa sebahagia itu saat membayangkan hal-hal sederhana dalam suatu hubungan. Bukankah dalam islam laki-laki adalah imam ? Terutama laki-laki yang mampu memimpin dan bertanggung jawab, siapa yang tidak ingin memiliki pasangan seperti itu?
Aku sering menangis sebenarnya. Bahkan saat orang lain membicarakanku di belakang atau saat sedang dibohongi. Aku bisa saja menangis. Saat takut dan gugup, saat akan di cabut gigi, saat tanganku terjepit pintu mobil, atau saat aku kehilangan buku diary. Tapi kenyataanya aku menangis sembunyi-sembunyi. Kadang sambil memeluk guling, atau bersembunyi di balik tembok, atau menyalakan air di kamar mandi kemudian menangis. Aku enggan menangis dan terlihat oleh orang lain. Makannya, ada beberapa orang yang kaget ketika melihat aku menangis. Ya, hanya beberapa orang saja. Tidak semua.
Namun, saat kepergianmu. Aku menangis berlarut-larut. Aku lupa untuk bersembunyi saat menangis. Sebab setelah kepergianmu, sesakku tak mengenal ruang dan waktu. Tolong aku untuk itu.
Kau bilang, aku kekanakan. Memang, aku selalu tidak bisa merubah sesuatu yang itu. Sebab aku anak satu-satunya yang bahkan oleh mama dan papa saja segala inginku masih sering mereka usahakan. Namun faktanya, aku tidak sekanak-kanakan itu saat menjalani sebuah hubungan yang memang pasanganku lebih kekanak-kanakan dariku.
Entah apa sebenarnya yang membuatku tak bisa untuk melepaskan diri. Mungkin karena kamu lebih banyak sejalan dengan apa yang aku yakini. Seperti halnya sesekali kita bertukar pikiran, bertengkar kemudian saling berpelukan. Hal seperti itu saja yang kita lakukan, aku suka.
Karena aku tidak suka pasangan yang selalu menuruti perkataanku, seseorang yang selalu menemani kemanapun aku pergi, seseorang yang meng-iya kan perkataanku yang salah, seseorang yang mengutamakan aku dari keluarganya, seseorang yang tidak mau lepas dari pandanganku, seseorang yang terus menerus mengutanakan duniaku, seseorang yang apapun terserah padaku, dan aku tidak suka seseorang yang segala halnya ia lakukan sendiri.
Aku butuh orang yang memperbaiki sikap atau perkataanku yang salah. Aku butuh seseorang yang meminta pendapatku dan bertukar pikiran, aku suka seseorang yang sibuk bekerja dan membiarkan aku menyibukan diri dengan pekerjaanku, seseorang yang mencintai keluarganya dan belajar mencintai keluargaku juga, aku suka seseorang yang mau berbaur dengan teman-temannya tapi tetap tidak melupakan aku begitu saja, aku suka pasangan yang menerima duniaku dan mengajakku berbagi dunianya juga, akupun suka dengan seseorang yang mau melakukan sesuatu hal denganku, entah itu sulit atau mudah baginya. Aku hanya ingin dianggap sebagai rekan yang istimewa, bukan seorang ratu yang dipuja. Dengan keinginanku yang seperti itu apakah aku terlalu kekanakan?
Aku mau bertengkar kemudian mencari jalan keluar bersama atau saling berpelukan sesudahnya. Aku mau diajak bercerita tentang apapun yang ada diisi kepalanya. Aku ingin menjadi seseorang yang pertama dia kirim pesan "Tunggu aku pulang". Aku senang diajak ketempat manapun yang ingin ia singgahi. Aku orang yang bisa sebahagia itu saat membayangkan hal-hal sederhana dalam suatu hubungan. Bukankah dalam islam laki-laki adalah imam ? Terutama laki-laki yang mampu memimpin dan bertanggung jawab, siapa yang tidak ingin memiliki pasangan seperti itu?
Minggu, 03 Juni 2018
Awal Juni Dan Rasa Pahit
Surat Cinta Terakhirku.
Aku menyadari bahwa hakikat manusia bertemu kemudian berpisah itu sudah pasti jelas terjadi. Hanya, semua masalah tergantung waktunya saja. Aku paham juga bahwa kita seharusnya saling jatuh cinta untuk waktu yang lama, namun Tuhan tidak pernah membuat hidup seseorang terus seperti itu. Manusia harus merasakan sakit, kehilangan, kesedihan, marah, kecewa, pun dengan bahagia dan tawanya.
Hari itu, saat dimana kamu memilih menemuiku untuk terakhir kali, sembari bermaksud untuk melepaskan genggaman tanganku. Dalam hati aku memilih kau tak pernah tahu arah rumahku. Sebab aku tidak pernah siap untuk kehilangan kamu dalam bentuk apapun. Bagiku, kamu hilang tanpa kabar saja aku sudah panik, apalagi jika kamu pergi? Apa jadinya perasaanku?
Kesadaranku yang kesekian kalinya adalah kamu pergi karena ulahku yang sulit menjelaskan bagaimana duduk permasalahan yang sebenarnya. Dalam hal ini, aku kalah dengan mulutku yang sulit untuk mengucap kebenarannya. Kebenaran tentang maksud dari semua ini. meskipun begitu, aku tetap mengerti mengapa kamu lebih memilih pergi. Sebab, jikapun itu aku yang berada diposisimu, aku akan tetap memilih hal yang sama. Pergi, hilang dan lupakan.
Tapi sekali lagi aku tidak bisa jika harus tanpamu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika suatu hari nanti aku bahagia tapi bukan denganmu, atau kau yang lebih dulu bahagia namun bukan mengatas namakan aku. Bahkan setiap aku membayangkan hal itu, aku tidak pernah sanggup.
Aku ingat lagi saat aku memohon untuk kau maafkan saja aku dan kita kembali menjalani hari seperti biasa, tanpa harus berakhir seperti itu. Jujur, entah mengapa saat kamu mengatakan kita harus berpisah, rasanya ada separuh nafas yang Tuhan ambil dariku. Aku tidak bisa bernafas tenang dan air mata mulai berjatuhan. Saat itu aku sadar aku benar-benar tidak menerima keputusanmu.
Semalaman aku mencoba menumpahkan semua yang menyesakkan ulu hati. Aku mencoba untuk tidak peduli dengan teguran orang diluar kamar yang menyuruhku untuk melakukan berbagai hal. Saat itu yang ku mau hanya kau kembali. Aku sedang tidak ingin berbasa-basi dengan perasaanku. Aku butuh menjadi diriku saat itu. Aku, yang memiliki ego tinggi untuk sebuah masalah. Meski malam itu juga, aku tidak menemukan diriku sendiri.
Lalu hari berganti, dipagi hari aku masih menangis saat mengingat betapa bodoh aku hari kemarin. Aku menghitung seberapa banyak aku kehilangan mimpi karena melewatkan malam demi malam tanpa mau satu menitpun untuk memejamkan mata. Aku tidak peduli hal apapun lagi dalam hidupku, aku hanya butuh mengenali diriku lagi.
Namun sejalan dengan waktu yang terus bergulir, otakku akhirnya mau berfungsi lagi. Logikaku mulai berjalan sesuai dengan keadaan. Kini aku menemukan diriku, seseorang yang pantang mengasihani diri sendiri. Aku dan otakku mulai mencari cara bagaimana agar aku mampu merapikan kembali serpihan hati yang sudah luluh lantah karena ulahku sendiri. Sebab, hatiku pun harus paham tentang kepercumaan yang akan terjadi.
Kemudian, aku ingat satu persatu kejadian dari awal kita yakin untuk memulai ini. Aku ingat semua kenangan indah, pun pahitnya. Aku semakin memiliki alasan untuk setidaknya mulai menerima keadaan. Mungkin di akhir masalah ini adalah salahku, namun sejatinya dari awal aku tidak pernah benar-benar pergi darimu meski kita ada dalam keadaan palingg tidak menyenangkan.
Katakanlah kau pun pernah melakukan kesalahan, berkali-kali tentang hal yang tidak aku suka. Lantas, aku mampu membenahi hati dan menerimamu kembali. Mungkin kali ini — meskipun aku tidak tahu kamu akan setangguh aku, adalah bagianmu meyakinkan diri.
Sebab aku hanya mampu percaya, jika itu memang atas dasar cinta, kau tidak akan mempersilahkan siapapun menjadi bagian dari kita. Karena sebenci apapun kita apada satu sama lain, jika kita percaya rasa sayang itu ada, maka kita akan kembali utuh untuk menumbuhkan ego yang tak pernah sudi saling kehilangan.
Namun, jika memang apa yang aku harapkan ini hanya sekedar angan dan Tuhan tidak bisa meng-iya-kan. Tak apalah bagiku melihat kamu baik-baik saja disana. Dengan kata lain, aku akan mencoba menguatkan hatiku. Sebab aku tahu, barangkali Tuhan cemburu jika aku terlalu cinta pada mahluknya.
Aku menyadari bahwa hakikat manusia bertemu kemudian berpisah itu sudah pasti jelas terjadi. Hanya, semua masalah tergantung waktunya saja. Aku paham juga bahwa kita seharusnya saling jatuh cinta untuk waktu yang lama, namun Tuhan tidak pernah membuat hidup seseorang terus seperti itu. Manusia harus merasakan sakit, kehilangan, kesedihan, marah, kecewa, pun dengan bahagia dan tawanya.
Hari itu, saat dimana kamu memilih menemuiku untuk terakhir kali, sembari bermaksud untuk melepaskan genggaman tanganku. Dalam hati aku memilih kau tak pernah tahu arah rumahku. Sebab aku tidak pernah siap untuk kehilangan kamu dalam bentuk apapun. Bagiku, kamu hilang tanpa kabar saja aku sudah panik, apalagi jika kamu pergi? Apa jadinya perasaanku?
Kesadaranku yang kesekian kalinya adalah kamu pergi karena ulahku yang sulit menjelaskan bagaimana duduk permasalahan yang sebenarnya. Dalam hal ini, aku kalah dengan mulutku yang sulit untuk mengucap kebenarannya. Kebenaran tentang maksud dari semua ini. meskipun begitu, aku tetap mengerti mengapa kamu lebih memilih pergi. Sebab, jikapun itu aku yang berada diposisimu, aku akan tetap memilih hal yang sama. Pergi, hilang dan lupakan.
Tapi sekali lagi aku tidak bisa jika harus tanpamu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika suatu hari nanti aku bahagia tapi bukan denganmu, atau kau yang lebih dulu bahagia namun bukan mengatas namakan aku. Bahkan setiap aku membayangkan hal itu, aku tidak pernah sanggup.
Aku ingat lagi saat aku memohon untuk kau maafkan saja aku dan kita kembali menjalani hari seperti biasa, tanpa harus berakhir seperti itu. Jujur, entah mengapa saat kamu mengatakan kita harus berpisah, rasanya ada separuh nafas yang Tuhan ambil dariku. Aku tidak bisa bernafas tenang dan air mata mulai berjatuhan. Saat itu aku sadar aku benar-benar tidak menerima keputusanmu.
Semalaman aku mencoba menumpahkan semua yang menyesakkan ulu hati. Aku mencoba untuk tidak peduli dengan teguran orang diluar kamar yang menyuruhku untuk melakukan berbagai hal. Saat itu yang ku mau hanya kau kembali. Aku sedang tidak ingin berbasa-basi dengan perasaanku. Aku butuh menjadi diriku saat itu. Aku, yang memiliki ego tinggi untuk sebuah masalah. Meski malam itu juga, aku tidak menemukan diriku sendiri.
Lalu hari berganti, dipagi hari aku masih menangis saat mengingat betapa bodoh aku hari kemarin. Aku menghitung seberapa banyak aku kehilangan mimpi karena melewatkan malam demi malam tanpa mau satu menitpun untuk memejamkan mata. Aku tidak peduli hal apapun lagi dalam hidupku, aku hanya butuh mengenali diriku lagi.
Namun sejalan dengan waktu yang terus bergulir, otakku akhirnya mau berfungsi lagi. Logikaku mulai berjalan sesuai dengan keadaan. Kini aku menemukan diriku, seseorang yang pantang mengasihani diri sendiri. Aku dan otakku mulai mencari cara bagaimana agar aku mampu merapikan kembali serpihan hati yang sudah luluh lantah karena ulahku sendiri. Sebab, hatiku pun harus paham tentang kepercumaan yang akan terjadi.
Kemudian, aku ingat satu persatu kejadian dari awal kita yakin untuk memulai ini. Aku ingat semua kenangan indah, pun pahitnya. Aku semakin memiliki alasan untuk setidaknya mulai menerima keadaan. Mungkin di akhir masalah ini adalah salahku, namun sejatinya dari awal aku tidak pernah benar-benar pergi darimu meski kita ada dalam keadaan palingg tidak menyenangkan.
Katakanlah kau pun pernah melakukan kesalahan, berkali-kali tentang hal yang tidak aku suka. Lantas, aku mampu membenahi hati dan menerimamu kembali. Mungkin kali ini — meskipun aku tidak tahu kamu akan setangguh aku, adalah bagianmu meyakinkan diri.
Sebab aku hanya mampu percaya, jika itu memang atas dasar cinta, kau tidak akan mempersilahkan siapapun menjadi bagian dari kita. Karena sebenci apapun kita apada satu sama lain, jika kita percaya rasa sayang itu ada, maka kita akan kembali utuh untuk menumbuhkan ego yang tak pernah sudi saling kehilangan.
Namun, jika memang apa yang aku harapkan ini hanya sekedar angan dan Tuhan tidak bisa meng-iya-kan. Tak apalah bagiku melihat kamu baik-baik saja disana. Dengan kata lain, aku akan mencoba menguatkan hatiku. Sebab aku tahu, barangkali Tuhan cemburu jika aku terlalu cinta pada mahluknya.
Langganan:
Postingan (Atom)