Terpopuler

Minggu, 03 Juni 2018

Awal Juni Dan Rasa Pahit

Surat Cinta Terakhirku.

Aku menyadari bahwa hakikat manusia bertemu kemudian berpisah itu sudah pasti jelas terjadi. Hanya, semua masalah tergantung waktunya saja. Aku paham juga bahwa kita seharusnya saling jatuh cinta untuk waktu yang lama, namun Tuhan tidak pernah membuat hidup seseorang terus seperti itu. Manusia harus merasakan sakit, kehilangan, kesedihan, marah, kecewa, pun dengan bahagia dan tawanya.
Hari itu, saat dimana kamu memilih menemuiku untuk terakhir kali, sembari bermaksud untuk melepaskan genggaman tanganku. Dalam hati aku memilih kau tak pernah tahu arah rumahku. Sebab aku tidak pernah siap untuk kehilangan kamu dalam bentuk apapun. Bagiku, kamu hilang tanpa kabar saja aku sudah panik, apalagi jika kamu pergi? Apa jadinya perasaanku?
Kesadaranku yang kesekian kalinya adalah kamu pergi karena ulahku yang sulit menjelaskan bagaimana duduk permasalahan yang sebenarnya. Dalam hal ini, aku kalah dengan mulutku yang sulit untuk mengucap kebenarannya. Kebenaran tentang maksud dari semua ini. meskipun begitu, aku tetap mengerti mengapa kamu lebih memilih pergi. Sebab, jikapun itu aku yang berada diposisimu, aku akan tetap memilih hal yang sama. Pergi, hilang dan lupakan.
Tapi sekali lagi aku tidak bisa jika harus tanpamu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika suatu hari nanti aku bahagia tapi bukan denganmu, atau kau yang lebih dulu bahagia namun bukan mengatas namakan aku. Bahkan setiap aku membayangkan hal itu, aku tidak pernah sanggup.
Aku ingat lagi saat aku memohon untuk kau maafkan saja aku dan kita kembali menjalani hari seperti biasa, tanpa harus berakhir seperti itu. Jujur, entah mengapa saat kamu mengatakan kita harus berpisah, rasanya ada separuh nafas yang Tuhan ambil dariku. Aku tidak bisa bernafas tenang dan air mata mulai berjatuhan. Saat itu aku sadar aku benar-benar tidak menerima keputusanmu.
Semalaman aku mencoba menumpahkan semua yang menyesakkan ulu hati. Aku mencoba untuk tidak peduli dengan teguran orang diluar kamar yang menyuruhku untuk melakukan berbagai hal. Saat itu yang ku mau hanya kau kembali. Aku sedang tidak ingin berbasa-basi dengan perasaanku. Aku butuh menjadi diriku saat itu. Aku, yang memiliki ego tinggi untuk sebuah masalah. Meski malam itu juga, aku tidak menemukan diriku sendiri.
Lalu hari berganti, dipagi hari aku masih menangis saat mengingat betapa bodoh aku hari kemarin. Aku menghitung seberapa banyak aku kehilangan mimpi karena melewatkan malam demi malam tanpa mau satu menitpun untuk memejamkan mata. Aku tidak peduli hal apapun lagi dalam hidupku, aku hanya butuh mengenali diriku lagi.
Namun sejalan dengan waktu yang terus bergulir, otakku akhirnya mau berfungsi lagi. Logikaku mulai berjalan sesuai dengan keadaan. Kini aku menemukan diriku, seseorang yang pantang mengasihani diri sendiri. Aku dan otakku mulai mencari cara bagaimana agar aku mampu merapikan kembali serpihan hati yang sudah luluh lantah karena ulahku sendiri. Sebab, hatiku pun harus paham tentang kepercumaan yang akan terjadi.
Kemudian, aku ingat satu persatu kejadian dari awal kita yakin untuk memulai ini. Aku ingat semua kenangan indah, pun pahitnya. Aku semakin memiliki alasan untuk setidaknya mulai menerima keadaan. Mungkin di akhir masalah ini adalah salahku, namun sejatinya dari awal aku tidak pernah benar-benar pergi darimu meski kita ada dalam keadaan palingg tidak menyenangkan.
Katakanlah kau pun pernah melakukan kesalahan, berkali-kali tentang hal yang tidak aku suka. Lantas, aku mampu membenahi hati dan menerimamu kembali. Mungkin kali ini — meskipun aku tidak tahu kamu akan setangguh aku, adalah bagianmu meyakinkan diri.
Sebab aku hanya mampu percaya, jika itu memang atas dasar cinta, kau tidak akan mempersilahkan siapapun menjadi bagian dari kita. Karena sebenci apapun kita apada satu sama lain, jika kita percaya rasa sayang itu ada, maka kita akan kembali utuh untuk menumbuhkan ego yang tak pernah sudi saling kehilangan.
Namun, jika memang apa yang aku harapkan ini hanya sekedar angan dan Tuhan tidak bisa meng-iya-kan. Tak apalah bagiku melihat kamu baik-baik saja disana. Dengan kata lain, aku akan mencoba menguatkan hatiku. Sebab aku tahu, barangkali Tuhan cemburu jika aku terlalu cinta pada mahluknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar